Chapter Twenty Seven
Giliran
POV: Kira
Aku duduk di sofa itu selama satu jam empat puluh menit setelah dia pergi.
Aku tahu angkanya karena aku menghitungnya, karena kepalaku memang begitu, dan karena malam itu menghitung adalah satu-satunya kegiatan yang tersedia.
Yang aku pikirkan bukan penyesalan.
Aku ingin mencatat itu, karena kalau aku menulis bahwa aku langsung menyesal, aku sedang membuat malam itu jadi lebih sederhana dari yang sebenarnya.
Aku tidak menyesal. Aku yakin dengan yang aku katakan. Setiap kalimat yang aku ucapkan malam itu benar, dan aku sudah menyusunnya selama tiga hari, dan aku masih akan menyusunnya dengan cara yang sama kalau diulang.
Yang mengganggu bukan isinya.
Yang mengganggu adalah bahwa dia menyetujuinya.
Fajar pulang jam sepuluh.
Dia masuk sendirian — yang tiga lagi entah di mana, mungkin memang benar-benar keluar sekaligus untuk urusan yang kebetulan — dan berhenti di ambang pintu waktu melihat aku masih duduk di sofa dengan dua gelas teh dingin di meja.
Dia menaruh kantong plastiknya.
“Udah pulang, Mbaknya?”
“Udah.”
“Jam berapa?”
“Delapan lewat.”
Fajar melihat jam dinding. Sepuluh lewat sepuluh.
Dia duduk di lantai, menyandarkan punggung ke kardus, dan membuka bungkus gorengan yang dia bawa.
“Ra.”
“Hm.”
“Aku boleh nanya satu hal? Terus aku nggak bakal nanya lagi selamanya.”
“Boleh.”
Dia mengambil satu bakwan dan tidak memakannya.
“Dia minta kamu buat tinggal nggak?”
Aku memikirkannya.
“Enggak.”
“Dia nangis?”
“Enggak. Di sini enggak.”
“Dia minta kamu jangan berangkat?”
“Enggak.”
“Dia minta kamu pikirin lagi?”
“Enggak.”
Fajar mengangguk pelan, dan memakan bakwannya, dan mengunyah selama waktu yang terasa terlalu lama.
“Ra,” katanya, dengan mulut setengah penuh, tanpa sedikit pun kesan sedang mengatakan hal penting, “berarti dia dateng ke sini cuma buat ngasih kamu sesuatu.”
Aku menoleh.
“Maksudnya?”
“Ya orang kalau dateng buat minta, dia minta.” Fajar mengangkat bahu. “Dia nggak minta apa-apa. Berarti dia dateng buat ngasih.”
Dia berdiri, membawa gorengannya ke atas, dan berhenti di anak tangga pertama.
“Ngasih apa, aku nggak tau,” katanya. “Aku nggak dengerin. Sumpah. Kita di warung Bu Nah semua.”
Lalu dia naik.
Dan aku duduk di sofa itu selama empat puluh menit lagi.
Ini yang aku sadari, pelan sekali, seperti orang yang membaca ulang kalimat yang sama sampai artinya masuk.
Selama tiga tahun, setiap orang yang datang ke aku, datang untuk meminta.
Bukan sebagai keluhan. Itu memang perjanjiannya, dan aku yang menulis perjanjian itu sendirian, dan aku menandatanganinya setiap hari selama tiga tahun.
Aku bahkan tidak tahu bagaimana rasanya kalau orang datang untuk hal lain, karena tidak pernah ada.
Dan malam itu, di ruang tamu penuh kardus, aku memutar ulang seluruh dua jam yang baru saja terjadi dan mencari — sungguh-sungguh mencari, seperti orang memeriksa saku — bagian di mana dia meminta.
Tidak ada.
Dia mengatakan dia setuju dengan alasanku. Dia menghitung skenarionya sendiri dan menyimpulkan hal yang sama. Dia berterima kasih untuk tiga hal, dan dua di antaranya tidak pernah aku ceritakan ke siapa pun seumur hidupku, dan dia mengingatnya sendiri.
Lalu dia pergi duluan.
Dan bagian itu — bagian pergi duluan — adalah bagian yang tidak bisa aku lewati.
Karena aku tahu persis apa artinya. Aku sudah tiga tahun jadi orang yang berdiri di tempatnya sambil menonton orang lain pergi. Aku hafal bentuk punggung orang yang menjauh. Aku hafal bunyi motor yang hilang di ujung gang.
Dia tahu itu.
Dia baru tahu itu tiga minggu lalu, dan malam ini dia memakainya untuk satu-satunya hal yang bisa dia lakukan: dia memastikan bukan aku yang berdiri.
Dia ditolak, dan pada detik dia ditolak, hal yang dia pikirkan adalah supaya aku tidak perlu menonton orang pergi sekali lagi.
Aku berdiri dari sofa jam sebelas kurang.
Aku sudah menjual motorku.
Aku ingin kalian tahu itu, karena bagian berikutnya jadi konyol tanpa informasi ini.
Aku menjualnya sembilan hari sebelum berangkat karena di sana ada bus jemputan dan karena aku butuh uang deposit mes, dan itu keputusan yang masuk akal, dan itu tetap keputusan paling tidak tepat waktu yang pernah aku buat seumur hidup.
Jam sebelas malam. Kos Haru dua puluh menit naik motor.
Aku memesan ojek online.
Tidak ada yang menerima selama sebelas menit. Aku berdiri di halaman kos dengan hp di tangan, di antara empat motor yang bukan punyaku, dan menekan tombol pesan ulang setiap kali dibatalkan.
Yang ketiga menerima.
Dan aku duduk di belakang motor orang asing, memakai helm yang bau, jam setengah dua belas malam, menuju kos orang yang sembilan puluh menit sebelumnya aku tolak.
Perjalanannya empat puluh menit karena bapaknya menyetir pelan dan lewat jalan yang aku tidak pernah lewati.
Empat puluh menit.
Tiga tahun aku membuat orang percaya aku bisa sampai dalam empat menit. Dan sekarang, di satu-satunya malam di mana aku benar-benar ingin sampai cepat, aku duduk di boncengan orang asing selama empat puluh menit sambil menatap punggung jaket ojek yang ada tulisan promo di belakangnya.
Aku tidak mengirim chat.
Aku tidak menulis apa pun. Tidak aku ke sana, tidak kamu masih bangun, tidak apa-apa.
Sebagian karena aku tidak tahu harus menulis apa.
Dan sebagian — bagian yang lebih jujur — karena selama tiga tahun aku selalu mengabari sebelum datang, selalu, tanpa kecuali, supaya tidak merepotkan, supaya tidak mengagetkan, supaya kedatanganku selalu berbentuk sesuatu yang sudah disetujui lebih dulu.
Malam itu aku datang tanpa izin untuk pertama kalinya.
Kosnya sudah gelap.
Pagar depannya ditutup tapi tidak dikunci. Lampu teras menyala. Kamarnya di lantai satu, yang kedua dari kiri, dan aku tahu itu karena aku sudah mengantarnya ratusan kali dan tidak pernah sekali pun masuk.
Jendelanya masih menyala.
Aku berdiri di trotoar seberang selama mungkin dua menit.
Ini bagian yang paling tidak enak untuk aku tuliskan, jadi aku akan menulisnya cepat: aku hampir pulang.
Bukan karena ragu pada perasaannya. Karena aku menyadari, berdiri di trotoar jam dua belas kurang, bahwa aku sedang melakukan hal yang persis sama dengan yang aku lakukan selama tiga tahun.
Berdiri di seberang. Menonton jendela. Tidak memanggil.
Dan aku memutuskan, di trotoar itu, bahwa kalau aku pulang malam itu, aku akan pulang jadi orang yang sama, dan orang yang sama itu akan berangkat ke Cikarang tanggal sembilan dan akan baik-baik saja dan akan menghabiskan enam bulan berikutnya melakukan hal yang dia kuasai dengan sangat baik, yaitu tidak meminta apa-apa.
Aku menyeberang.
Aku mengetuk pintu kamarnya.
Butuh waktu lama.
Aku mendengar sesuatu jatuh di dalam. Lalu langkah. Lalu hening — hening yang panjang, dan aku tahu dia sedang berdiri di balik pintu.
Pintunya terbuka sepuluh sentimeter.
Matanya bengkak. Rambutnya berantakan. Dia memakai kaus yang jelas kaus tidur.
Kami saling menatap lewat celah sepuluh sentimeter itu selama beberapa detik.
“Kamu—“ Suaranya serak. “Motor kamu udah dijual.”
“Iya.”
“Terus kamu ke sini gimana?”
“Ojek.”
“Ojek.”
“Empat puluh menit.”
Dia membuka pintunya lebih lebar dan berdiri di ambang, dan aku bisa melihat dia sedang berusaha keras untuk tidak berharap, dan aku pernah melakukan hal yang sama persis setiap hari selama tiga tahun jadi aku mengenali bentuknya dari jauh.
“Kira, kalau kamu ke sini buat minta maaf—“
“Enggak.”
“Terus?”
“Aku mau nawar.”
Dia mengerjap.
“Nawar?”
“Iya.” Aku memasukkan tangan ke saku karena tanganku tidak tahu harus di mana. “Yang tadi aku bilang, semuanya bener. Aku nggak nyabut satu pun.”
“Oke.”
“Tapi aku salah di satu hal.” Aku menarik napas. “Aku bilang aku nggak bisa. Padahal yang bener, aku nggak bisa kalau caranya kayak dulu.”
Dia tidak bergerak.
“Jadi aku mau nawar cara yang lain,” kataku.
Ini yang aku katakan, dan aku sudah menyusunnya selama empat puluh menit di boncengan ojek, dan aku mengucapkannya dengan urutan yang salah karena aku gugup.
Satu: aku tidak akan jadi orang yang selalu ada.
Aku tidak bisa. Bukan tidak mau — tidak bisa. Kalau aku jadi orang itu lagi, dalam enam bulan aku akan kosong lagi, dan aku sudah tahu rasanya kosong dan aku tidak mau kembali ke sana.
Dua: gantian.
Kalau dia yang meminta hari ini, besok aku yang meminta. Kalau aku yang menjemput minggu ini, minggu depan dia. Kalau ada yang harus menunggu, ditulis, dan giliran berikutnya orang yang satunya.
“Ditulis?” katanya.
“Ditulis.”
“Kamu serius mau nyatet?”
“Iya.”
“Kira, itu—“ Dia mengusap wajahnya dengan dua tangan. “Itu nggak romantis banget.”
“Aku tau.”
“Itu kayak jadwal piket.”
“Iya.”
Dan dia tertawa — sekali, pendek, setengah tersedak — dan langsung menutup mulutnya dengan tangan karena jam dua belas malam dan tetangga kosnya tidur.
Tiga, dan ini yang paling sulit aku ucapkan:
“Aku bakal ngerasa nggak enak,” kataku. “Terus. Tiap hari. Tiap kali kamu yang ngelakuin sesuatu buat aku, aku bakal ngerasa harus bales lebih besar. Itu udah kayak penyakit. Aku nggak bisa matiin.”
“Terus?”
“Terus aku butuh kamu buat nyuruh aku diem,” kataku. “Kalau aku mulai nawarin sesuatu yang nggak kamu minta, kamu bilang ‘nggak usah’. Dan aku bakal nurut. Meskipun aku nggak mau.”
Dia berdiri di ambang pintu, dan matanya yang sudah bengkak jadi lebih bengkak, dan dia mengangguk tanpa bicara karena jelas dia tidak bisa bicara.
“Terus tanggal sembilan?” katanya akhirnya.
“Aku tetep berangkat.”
“Iya. Harus.”
“Enam bulan.”
“Iya.”
“Dan aku nggak mau kamu chat aku tiap hari,” kataku, dan itu kalimat paling kasar yang pernah aku ucapkan ke dia dan aku mengucapkannya karena aku sudah berjanji akan jujur mulai malam itu.
Dia mengangguk lagi.
“Aku juga nggak mau,” katanya.
“Kenapa?”
“Karena kalau tiap hari, aku bakal jadi kerjaan kamu.” Dia menyeka matanya dengan lengan kaus. “Aku nggak mau jadi kerjaan kamu, Ra. Aku pengen jadi hal yang kamu tungguin.”
Aku berdiri di depan pintu kamar kos itu jam dua belas lewat, dan tidak bisa menjawab selama beberapa detik.
“Oke,” kataku.
“Oke?”
“Oke.”
Dan dia mengulurkan tangannya, dan menggenggam tanganku.
Bukan pergelangan. Bukan lengan baju. Tangan — jari-jarinya masuk di sela jariku, dan dia menggenggamnya, dengan sengaja, dan menariknya sedikit ke arahnya dan berhenti di situ.
Tiga tahun dia menyentuhku ratusan kali dan tidak satu pun berarti apa-apa.
Ini yang pertama.
Kami duduk di anak tangga teras sampai jam dua pagi, dan bicara pelan-pelan supaya tidak membangunkan siapa pun, dan sebagian besar isi pembicaraan itu bukan urusan siapa-siapa.
Tapi ada satu yang akan aku tulis.
Sekitar jam satu, dia bertanya:
“Ra, helm abu-abu itu masih ada?”
“Masih.”
“Kamu jual motornya tapi nggak jual helmnya?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku melihat ke arah gang yang kosong.
“Aku nggak kepikiran buat jual,” kataku.
Dan itu benar. Aku betul-betul tidak terpikir. Aku menjual motor, jaket riding, sarung tangan, dan kaca spion cadangan, dan aku memasukkan dua helm itu ke kardus bertuliskan KABEL DLL tanpa satu detik pun berpikir bahwa helm adalah barang yang dijual bersama motornya.
“Kamu bawa ke Cikarang?”
“Nggak muat.”
“Titip aku.”
Aku menoleh.
“Aku nggak punya motor buat dua orang,” katanya, sambil menatap lurus ke depan, dagunya di lutut. “Tapi enam bulan lagi kamu balik. Terus kamu beli motor lagi. Terus helmnya udah ada di aku.”
Dia mengangkat bahu.
“Jadi kamu nggak perlu nebak lagi.”
Aku duduk di anak tangga itu dan tidak bisa bicara selama waktu yang cukup lama, dan dia tidak memaksa, dan kami mendengarkan suara kucing berkelahi di gang sebelah sampai suaranya berhenti.
Sembilan hari.
Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, sembilan hari itu terasa terlalu sedikit karena ada yang mau aku kerjakan di dalamnya, bukan karena ada yang mau aku tunggu.
- 1 Empat Menit
- 2 Parkiran
- 3 Es Teh Punya Orang
- 4 Jaket yang Nggak Jadi
- 5 Konsultan
- 6 Obat buat Orang Lain
- 7 Kayak Kakak
- 8 Sopir
- 9 Dua Jam Hujan
- 10 Dibaca Besoknya
- 11 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 12 Kursi Kosong
- 13 Sabana Fest
- 14 Jadian
- 15 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 16 Baik-baik Saja
- 17 Ada yang Kurang
- 18 Tama
- 19 Papan Taruhan
- 20 Aku Udah di Jalan
- 21 Ngeroyok
- 22 Seminggu
- 23 Buku Catatan
- 24 Hujan (Lagi)
- 25 Kenapa Baru Sekarang?
- 26 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 27 Giliran reading
- 28 Papan Taruhan Jilid Dua
- 29 Jaket
- 30 Aku Males
- 31 Es Teh
- 32 Yang Aku Nggak Tahu
- 33 Konsultan (Lagi)
- 34 Aku Udah di Jalan