← Aku Udah di Jalan

Chapter Twelve

Kursi Kosong

POV: Kira

Rapat pleno itu diadakan setiap bulan dan wajib dihadiri semua koordinator.

Aku sudah hadir di dua puluh satu rapat pleno berturut-turut. Aku tahu angkanya karena Sisil membuat rekap kehadiran di akhir kepengurusan tahun lalu dan menempelkannya di papan, dan namaku ada di baris paling atas dengan angka dua puluh satu dari dua puluh satu, dan Bagas menuliskan “MANUSIA?” di sebelahnya pakai spidol.

Rapat pleno bulan ini hari Kamis jam empat sore.

Hari Kamis jam empat sore, aku ada di gedung jurusan, di lantai tiga, menunggu di depan ruang Pak Hendra untuk mendapatkan tanda tangan terakhir di formulir magang.

Pak Hendra ada di dalam. Aku bisa mendengar suaranya. Dia sedang menelepon, dan teleponnya sudah berjalan empat puluh menit, dan aku duduk di kursi plastik di koridor dengan map biru di pangkuan.

Jam empat, aku tidak mengirim chat apa pun ke grup.

Ini keputusan pertama yang benar-benar aku ambil dengan sadar sejak malam hujan itu, dan aku ingin mencatatnya dengan jujur: aku bisa mengirim chat.

Butuh empat detik. Maaf, hari ini aku nggak bisa hadir pleno, lagi urus berkas.

Aku sudah menyusun kalimatnya. Aku sudah membuka aplikasinya.

Lalu aku menutupnya lagi.

Bukan untuk menghukum siapa pun. Aku sudah bilang berkali-kali dan aku akan bilang lagi karena aku sendiri perlu mendengarnya: aku tidak sedang menghukum siapa pun.

Aku cuma ingin tahu.

Selama tiga tahun aku selalu mengabari. Setiap kali. Kalau telat lima menit aku mengabari. Kalau tidak bisa datang aku mengabari dua hari sebelumnya dan mencarikan pengganti. Aku begitu rajin mengabari sampai tidak ada satu orang pun yang pernah harus bertanya-tanya di mana aku.

Dan karena tidak ada yang pernah harus bertanya, aku tidak pernah tahu apakah mereka akan bertanya.

Ini satu-satunya cara mengetahuinya. Aku tidak bisa memikirkannya sampai selesai; harus dijalani.

Jadi aku duduk di kursi plastik itu, dan tidak mengirim apa pun, dan menunggu Pak Hendra selesai menelepon.


Ini yang terjadi di sekre pada jam empat sampai jam enam sore hari itu.

Aku tahu semuanya karena Sisil menceritakannya kepadaku dua minggu kemudian, dengan sangat detail, dengan cara orang yang sudah menyiapkan urutan kejadiannya karena tahu suatu hari akan ditanya.

Aku tidak pernah bertanya. Dia menceritakannya sendiri.

Rapat dimulai jam empat lewat sepuluh, karena Bagas belum datang.

Ada dua belas kursi yang disusun melingkar. Kursi di ujung, yang paling dekat pintu, kosong.

Kursi itu selalu kosong pada awal rapat, karena aku selalu datang dua menit sebelum mulai, karena aku selalu mampir ke kantin dulu untuk membeli galon isi ulang atau air mineral kalau stok sekre habis, dan stok sekre selalu habis.

Jam empat lewat lima belas, Sisil bertanya: “Kira mana?”

Haru, yang sedang membagikan lembar agenda, menjawab tanpa mengangkat kepala: “Kayaknya telat.”

Jam empat lewat empat puluh, agenda kedua selesai.

Sisil bertanya lagi: “Kira belum dateng.”

Bagas: “Dia nggak ngabarin di grup?”

Sisil: “Nggak ada.”

Bagas: “Aneh.”

Haru: “Mungkin lagi sibuk. Dia lagi ada urusan kayaknya akhir-akhir ini.”

Dan rapat berlanjut.

Sisil bilang, waktu menceritakannya, bahwa dia sempat mengeluarkan hp dan membuka kontakku, dan menatapnya selama mungkin lima detik, dan memasukkannya lagi.

“Kenapa nggak jadi?” tanyaku.

“Karena kalau aku yang nanyain, itu nggak ada artinya.”

Aku tidak menjawab, dan dia tidak menjelaskan lebih lanjut, dan kami berdua tahu persis apa yang dia maksud.


Jam lima lewat, agenda keempat: pembagian tugas hari-H.

Ini bagian yang biasanya paling lama, karena di sinilah semua hal yang tidak ada penanggung jawabnya muncul ke permukaan.

“Oke, siapa yang pegang teknis panggung?” tanya Haru.

Hening.

“Biasanya Kira,” kata Wildan.

“Iya, tapi kan—“ Haru berhenti. “Yaudah tulis Kira dulu.”

“Dia belum konfirmasi.”

“Dia nggak pernah nolak.”

Sisil bilang, waktu menceritakan bagian ini, bahwa dia mengangkat wajahnya dari laptop untuk melihat siapa yang bereaksi.

Tidak ada yang bereaksi.

Kalimat itu lewat begitu saja, di tengah rapat yang panjang dan gerah, dan orang-orang melanjutkan ke agenda berikutnya, dan tidak ada satu pun yang menganggap bahwa ada sesuatu yang aneh dengan menuliskan nama seseorang di daftar tugas karena orang itu tidak pernah menolak.

“Kamu marah waktu aku cerita itu?” tanya Sisil, dua minggu kemudian.

Aku memikirkannya dengan serius sebelum menjawab, karena dia bertanya dengan serius.

“Nggak,” kataku.

“Kenapa?”

“Karena dia bener.”

Sisil menatapku.

“Aku emang nggak pernah nolak,” kataku. “Selama tiga tahun. Kalau ada orang yang nggak pernah nolak, wajar dong kalau namanya ditulis duluan. Itu bukan salah dia. Itu data.”

“Kira.”

“Hm.”

“Itu kalimat paling sedih yang pernah aku denger dari orang yang lagi nggak sedih.”


Rapat selesai jam enam kurang.

Jam enam kurang, aku masuk ke ruang Pak Hendra, menyerahkan map biru, dan mendapatkan tanda tangan yang aku tunggu selama satu jam empat puluh menit.

“Cikarang, ya?” tanya Pak Hendra sambil menandatangani.

“Iya, Pak.”

“Berapa lama?”

“Enam bulan.”

“Mulai kapan?”

“Awal semester depan. Februari.”

Dia menutup pulpennya dan menyerahkan mapnya kembali.

“Ini bagus,” katanya. “Dua ratus tiga puluh pendaftar, kan?”

“Iya, Pak.”

“Kamu udah kasih tau orang tua?”

“Udah.”

“Temen-temen?”

Aku memasukkan map ke tas.

“Nanti,” kataku.


Aku keluar dari gedung jurusan jam enam lewat sepuluh dan berjalan ke parkiran.

Rutenya melewati depan sekre.

Aku tidak sengaja lewat situ, dan aku juga tidak berputar untuk menghindarinya, karena berputar untuk menghindari sesuatu adalah cara lain untuk mengakui bahwa sesuatu itu penting.

Pintunya terbuka. Lampunya menyala. Empat orang masih di dalam, membereskan kursi.

Aku bisa melihat Haru dari luar, berdiri di depan whiteboard yang sekarang berisi timeline acara, menghapus sesuatu dan menulis ulang.

Aku berjalan lewat.

Ada bagian dari diriku yang mengira akan ada sesuatu di dadaku pada momen itu — semacam tarikan, semacam dorongan untuk masuk. Aku sudah menyiapkan diri untuk menahannya.

Tidak ada apa-apa.

Aku berjalan lewat pintu sekre yang terbuka pada jarak empat meter, dan yang aku pikirkan adalah bahwa bensinku tinggal seperempat dan pom bensin di Jalan Wijaya biasanya antre kalau lewat jam tujuh.

Itu saja.

Aku sampai di parkiran, menyalakan motor, dan pulang lewat Wijaya, dan mengisi bensin, dan antre tujuh menit.


Gita menyusulku di pom bensin.

Aku tidak menyadarinya sampai dia berdiri di sebelah motorku waktu aku sedang memasang tutup tangki.

Gita dan aku tidak pernah bicara berdua. Tiga tahun, dan kami selalu berada di ruangan yang sama tanpa pernah menjadi dua orang yang berbicara.

“Kira.”

“Eh. Iya.”

Dia memegang helmnya di pinggang. Rambutnya masih basah keringat dari sekre.

“Kamu nggak dateng pleno.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Dan aku berdiri di pom bensin itu dengan tangan masih di tutup tangki, dan menyadari bahwa selama dua minggu terakhir aku sudah membayangkan pertanyaan ini datang dari satu orang tertentu, dan sudah menyiapkan tiga versi jawaban untuk orang tertentu itu, dan sekarang pertanyaannya datang dari orang yang salah dan aku tidak punya satu pun versi yang siap.

“Ada urusan,” kataku.

“Oke.”

Dia tidak mendesak. Dia cuma berdiri di situ, dan memasang helmnya, dan sebelum menutup kacanya dia berkata:

“Kursi kamu kosong dua jam.”

“Iya.”

“Aku ngeliatin itu dua jam.”

Dia menyalakan motornya.

“Dia nggak,” katanya.

Lalu dia pergi, dan aku berdiri di pom bensin di Jalan Wijaya selama beberapa saat sebelum menyadari bahwa mesin motorku masih menyala sejak tadi.