Chapter Twenty Nine
Jaket
POV: Kira
Delapan Februari.
Aku berangkat besok pagi jam tujuh, dari terminal, dengan dua koper dan satu ransel, dan seluruh sisa hidupku sudah masuk ke tujuh kardus yang dititipkan di gudang belakang kos Fajar.
Malam terakhir.
Anak-anak sekre mengadakan sesuatu yang Bagas sebut “pelepasan” dan yang sebenarnya cuma dua puluh orang duduk di halaman belakang gedung serbaguna dengan tikar, gorengan, dan satu speaker portabel yang baterainya habis jam delapan.
Aku tidak minta diadakan apa-apa. Aku sudah bilang tidak usah, tiga kali, dan tiga kali Bagas menjawab “ini bukan buat kamu, ini buat kita” yang mana adalah kalimat paling licik yang pernah aku dengar karena tidak ada cara menolaknya.
Jam sembilan, hujan.
Halaman belakang gedung serbaguna punya satu tenda kecil yang tidak pernah dibongkar sejak Sabana Fest — rangka besi dengan terpal biru, ukuran empat kali empat, yang dipasang untuk tempat parkir motor panitia dan tidak pernah dibongkar karena tidak ada yang merasa itu tugasnya.
Dua puluh orang berlari ke bawah tenda itu dalam empat detik.
Yang terjadi berikutnya adalah kekacauan biasa: gorengan diselamatkan, tikar digulung setengah dan tetap basah, speaker portabel diangkat tinggi-tinggi oleh Wildan seolah-olah barang itu masih menyala.
Dan setelah lima menit, orang mulai pulang.
Bukan karena bosan. Karena hujan seperti itu artinya kalau tidak pulang sekarang, kalian akan terjebak sampai jam dua belas.
Bagas pulang jam setengah sepuluh sambil memelukku terlalu lama dan berkata “jangan mati” yang menurutnya adalah kalimat perpisahan yang keren.
Sisil pulang tanpa memeluk siapa pun. Dia berhenti di depanku, menyerahkan sebuah amplop cokelat, dan berkata:
“Jangan dibuka sekarang.”
“Apa ini?”
“Arsip.” Dia memasang helm. “Kamu bakal butuh. Nanti.”
Jam sepuluh, tinggal kami berdua.
Kami duduk di bawah tenda biru itu, di atas satu-satunya bagian tikar yang masih kering, dengan hujan yang menghantam terpal begitu keras sampai kami harus bicara lebih dekat untuk saling mendengar.
Haru memeluk lututnya.
“Ra.”
“Hm.”
“Aku dingin.”
Dan aku — tanpa satu detik pun berpikir, tanpa menimbang, tanpa memutuskan apa pun — membuka ransel yang ada di sebelahku dan mengeluarkan hoodie abu tua.
Aku baru menyadari apa yang aku lakukan setelah benda itu ada di tanganku.
Haru menatapnya.
“Itu—“
“Iya.”
“Kamu bawa?”
Aku memandangi kain di tanganku.
Aku berhenti membawanya bulan November. Aku ingat persis; aku mengeluarkannya dari tas malam itu, menjemurnya di depan kipas, dan besoknya tidak memasukkannya lagi. Itu satu-satunya hal yang aku lakukan dengan sadar sepanjang bulan itu.
Selama tiga bulan berikutnya benda itu ada di paku belakang pintu kamarku.
Dan tiga hari lalu, waktu aku memasukkan barang ke kardus, aku memasukkannya ke tumpukan yang aku beri tulisan KASIH ORANG — karena hoodie longgar yang sudah pudar di lengan bukan barang yang dibawa ke tempat baru.
Lalu aku mengeluarkannya lagi malam ini, dari kardus itu, dan memasukkannya ke ransel sebelum berangkat ke pelepasan.
Aku tidak memikirkan alasannya waktu melakukannya.
“Aku bawa,” kataku.
Dia mengambilnya dan memakainya.
Kebesaran, tentu saja. Lengannya menutupi setengah telapak tangannya. Dia menggulungnya dua kali dan gagal dan membiarkannya, dan aku pernah melihat pemandangan yang persis sama delapan bulan lalu dengan jaket denim orang lain.
“Ra.”
“Hm.”
“Ini yang dulu itu, kan?”
Aku tidak menjawab.
“Jaket yang tiap hari kamu bawa di tas,” katanya. “Yang kamu taruh di kursi aku sambil pura-pura mau ngambil air.”
“Kamu udah bilang itu waktu itu.”
“Aku tau. Aku nanya lagi.” Dia menoleh ke aku. “Karena waktu itu kamu nggak jawab.”
Hujan menghantam terpal.
“Iya,” kataku.
“Berapa lama?”
“Haru.”
“Berapa lama, Ra.”
Aku menghitung, karena kepalaku memang begitu, dan karena angkanya sudah ada sejak dulu dan tidak pernah aku ucapkan ke siapa pun.
“Dua ratus enam puluh tujuh kali,” kataku.
Dia menoleh sepenuhnya.
“Kamu ngitung.”
“Aku nggak sengaja ngitung. Aku cuma tau.”
“Dua ratus enam puluh tujuh kali kamu bawa jaket ke sekre buat aku.”
“Iya.”
“Terus berapa kali aku pakai?”
Dan di sinilah aku hampir tidak menjawab, karena angka yang satu ini adalah angka yang selama tiga tahun aku pakai untuk menyakiti diri sendiri pada malam-malam tertentu.
“Delapan,” kataku.
Dia menutup mulutnya dengan lengan hoodie itu.
“Delapan?”
“Delapan.”
“Dari dua ratus enam puluh tujuh?”
“Iya.”
“Terus dua ratus lima puluh sembilan sisanya?”
“Balik ke tas,” kataku. “Terus aku bawa lagi besoknya.”
Dia menangis.
Bukan yang menggerung. Yang diam-diam, yang cuma kelihatan dari bahunya, dan yang dia coba tutupi dengan menunduk ke lututnya.
Aku tidak tahu harus bagaimana.
Ini bagian yang aku ingat paling jelas dari seluruh malam itu, dan yang aku ceritakan ke dia berbulan-bulan kemudian dan membuatnya tertawa sampai sesak: aku duduk di sebelah orang yang menangis karena aku, dan tanganku terangkat sepuluh sentimeter dan berhenti, karena aku sudah tiga tahun melatih tangan ini untuk tidak menyentuhnya kecuali ada gunanya.
Lalu aku ingat bahwa aku boleh sekarang.
Aku ingat itu. Secara sadar. Seperti orang yang mengecek apakah pintu sudah dibuka kuncinya.
Aku menaruh tanganku di punggungnya.
“Maaf,” katanya, sengau.
“Kenapa minta maaf?”
“Karena aku nangis padahal yang harusnya nangis kamu.”
“Aku udah.”
Dia mengangkat kepalanya.
“Kapan?”
“Waktu di kos. Yang kamu ada di situ.”
“Itu nggak keitung, kamu diem aja.”
“Itu keitung.”
Dia tertawa — satu kali, basah, jelek sekali — dan mengusap wajahnya dengan lengan hoodie abu tua itu, dan aku memikirkan bahwa selama tiga tahun benda itu tidak pernah punya kegunaan apa pun, dan malam itu akhirnya punya, dan kegunaannya adalah lap ingus.
“Ra.”
“Hm.”
“Aku nggak bakal balikin ini.”
“Oke.”
“Aku serius. Ini bukan pinjem.” Dia menarik ritsleting hoodie itu sampai ke atas, sampai setengah wajahnya tenggelam, dan menatapku dari dalamnya. “Kamu udah bawa dua ratus enam puluh tujuh kali. Sekarang udah nyampe. Nggak bisa dibalikin.”
“Oke.”
“Kamu nggak protes?”
“Aku emang bawa buat kamu.”
Dia diam.
Hujan mulai berkurang sedikit, dari yang menghantam jadi yang menderu.
“Kira.”
“Hm.”
“Besok jam tujuh.”
“Iya.”
“Aku nggak bakal ke terminal.”
Aku menoleh.
“Kenapa?”
“Karena aku bakal nangis di terminal, dan kamu bakal ngerasa harus benerin itu, terus kamu naik bus sambil ngerasa nggak enak selama tiga jam.” Dia mengangkat bahu di dalam hoodie yang kebesaran. “Itu bukan cara aku mau ngelepas kamu.”
Aku memandanginya.
“Kamu udah mikirin ini.”
“Semalem.”
“Sampai jam berapa?”
“Jam tiga.”
Dan aku duduk di bawah tenda biru itu dan menyadari, dengan cara yang membuat dadaku terasa penuh sampai sesak, bahwa orang di sebelahku baru saja memikirkan aku sampai jam tiga pagi tanpa aku minta, tanpa aku tahu, dan tanpa niat memberitahuku kalau aku tidak bertanya.
Tiga tahun aku melakukan itu untuk seseorang.
Ini pertama kalinya ada yang melakukannya untuk aku.
“Haru.”
“Hm.”
“Aku boleh nanya sesuatu?”
“Boleh.”
Dan aku bertanya, dan ini pertanyaan paling bodoh yang pernah aku ajukan seumur hidup, dan aku mengajukannya karena aku memang tidak tahu:
“Kalau aku mau cium kamu, aku harus izin dulu nggak?”
Dia menatapku selama dua detik penuh.
Lalu dia mengeluarkan bunyi yang setengah tawa setengah erangan dan menjatuhkan dahinya ke bahuku.
“KIRA.”
“Apa.”
“Kamu tuh—“ Dia mengangkat kepalanya. Matanya masih merah dan sekarang dia tertawa dan itu kombinasi yang membuat aku tidak bisa berpikir jernih. “Kamu tuh nggak boleh nanya kayak gitu.”
“Kenapa?”
“Karena jadi kayak rapat.”
“Aku nggak tau caranya.”
“Nggak ada caranya.”
“Pasti ada caranya.”
“Kira Adiatma,” katanya, dan dia menegakkan badan, dan dia memegang kerah jaketku dengan dua tangan seperti orang yang membetulkan kerah — persis seperti dulu, persis, gerakan yang sama yang sudah dia lakukan tiga puluh kali di depan orang banyak tanpa arti apa pun — “kamu nggak perlu izin.”
Dan dia menarik kerah itu.
Hujan masih turun waktu kami berhenti.
Aku tidak akan menulis lebih banyak dari itu, karena sebagian hal memang bukan untuk ditulis, dan karena aku sudah menghabiskan seluruh buku ini menceritakan hal-hal yang tidak pernah aku ceritakan ke siapa pun dan aku berhak menyimpan satu.
Yang bisa aku katakan cuma ini.
Selama tiga tahun aku menghitung segalanya. Menit, jam, jarak, jumlah pesan, jumlah pertanyaan, jumlah jaket.
Dan malam itu, di bawah tenda terpal biru di halaman belakang gedung serbaguna, dengan hujan yang menutupi seluruh suara lain di dunia, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun — aku tidak menghitung apa pun.
Dia mengantarku pulang.
Dia yang menyetir, aku yang di belakang, memakai helm hitam yang dulu punyaku dan sekarang disimpan di rumahnya.
Di depan kos, dia tidak mematikan mesin.
“Aku nggak turun ya,” katanya. “Kalau aku turun, aku bakal nangis.”
“Oke.”
“Ra.”
“Hm.”
“Enam bulan itu cepet.”
“Enam bulan itu lama.”
“IYA,” katanya, setengah teriak, “IYA LAMA BANGET, TAPI AKU LAGI BERUSAHA.”
Aku berdiri di halaman kos dengan ransel di bahu.
“Haru.”
“Apa.”
“Makasih ya.”
“Buat apa?”
Dan aku menyebutkan satu. Cuma satu, karena kalau aku menyebut lebih dari satu aku tidak akan bisa masuk ke dalam rumah.
“Buat dateng ke kosku malam itu,” kataku, “padahal kamu udah tau aku bakal nolak.”
Dia menarik hoodie abu tua itu sampai menutupi separuh wajahnya.
Lalu dia menyalakan lampu sein — sein, di gang kosong, jam sebelas malam, ke arah kanan yang bahkan tidak ada belokannya — dan pergi.
Besoknya jam tujuh pagi aku naik bus, dan tidak ada yang mengantar, dan itu persis seperti yang kami sepakati.
Di terminal, sebelum berangkat, aku membuka amplop cokelat dari Sisil.
Isinya tujuh lembar foto papan tulis.
Dan di lembar terakhir, di belakangnya, Sisil menulis dengan pulpen:
Aku ngitung juga. Selama ini. Cuma aku nggak pernah bilang.
Selamat jalan, Kira.
- 1 Empat Menit
- 2 Parkiran
- 3 Es Teh Punya Orang
- 4 Jaket yang Nggak Jadi
- 5 Konsultan
- 6 Obat buat Orang Lain
- 7 Kayak Kakak
- 8 Sopir
- 9 Dua Jam Hujan
- 10 Dibaca Besoknya
- 11 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 12 Kursi Kosong
- 13 Sabana Fest
- 14 Jadian
- 15 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 16 Baik-baik Saja
- 17 Ada yang Kurang
- 18 Tama
- 19 Papan Taruhan
- 20 Aku Udah di Jalan
- 21 Ngeroyok
- 22 Seminggu
- 23 Buku Catatan
- 24 Hujan (Lagi)
- 25 Kenapa Baru Sekarang?
- 26 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 27 Giliran
- 28 Papan Taruhan Jilid Dua
- 29 Jaket reading
- 30 Aku Males
- 31 Es Teh
- 32 Yang Aku Nggak Tahu
- 33 Konsultan (Lagi)
- 34 Aku Udah di Jalan