Chapter Fourteen
Jadian
POV: Kira
Empat hari kemudian, jam sepuluh malam, Bagas mengirim pesan ke grup.
Aku sedang di percetakan, shift malam, menunggu mesin selesai mencetak dua ratus lembar undangan pernikahan orang yang tidak aku kenal. Mesin itu butuh sebelas menit per seratus lembar dan aku sudah hafal bunyinya, jadi aku tahu persis kapan boleh duduk.
Hp-ku bergetar di atas meja. Lalu bergetar lagi. Lalu bergetar sembilan kali beruntun, yang berarti grup.
Bagas: GUYS
Bagas: GUYYYYS
Bagas: ADA YANG MAU AKU UMUMIN TAPI BUKAN AKU YANG BERHAK NGUMUMIN
Sisil: ya udah jangan diumumin
Bagas: TAPI AKU NGGAK KUAT
Wildan: apaan sih
Bagas: [foto]
Aku membuka fotonya.
Diambil dari samping, agak jauh, jelas diambil diam-diam. Kantin dekat gedung arsitektur. Dua orang duduk berhadapan di meja kayu. Yang satu memakai kemeja abu-abu. Yang satu lagi menopang dagu dengan satu tangan dan tertawa.
Tangan mereka bertaut di atas meja.
Wildan: WOI
Wildan: WOOOOOI
Rara: KAKKKK
Rara: SEJAK KAPAN
Bagas: SEJAK SABTU MALEM. PAS ACARA. DI BELAKANG PANGGUNG.
Bagas: AKU LIAT SENDIRI TAPI AKU DIEM AJA SELAMA EMPAT HARI KAYAK PRIA TERHORMAT
Sisil: empat hari itu rekor kamu
Bagas: AKU TAU
Sabtu malam. Di belakang panggung.
Aku ada di balkon lantai dua sampai jam sebelas malam.
Jarak dari balkon lantai dua ke belakang panggung mungkin empat puluh meter. Aku duduk di sana, minum es teh yang tidak terlalu manis, menyadari bahwa dadaku tidak sakit, dan merasa itu malam terbaik semester itu.
Ternyata itu terjadi di bawah kakiku.
Mesin cetak berbunyi klik dua kali, tanda seratus lembar selesai.
Aku berdiri, mengganti kertas, menekan tombol, dan duduk lagi.
Grup itu berjalan selama satu jam empat puluh menit tanpa aku.
Tiga puluh dua orang. Ada yang mengirim stiker. Ada yang menandai Haru berkali-kali sampai Sisil menyuruh berhenti. Ada yang bertanya kapan traktirannya. Ada yang mengungkit kejadian di makrab dan mengaku sudah menduga sejak lama.
Jam sebelas lewat, Haru masuk ke grup.
Haru: BAGAS AKU BUNUH KAMU
Haru: aku belum ngomong ke siapa-siapa
Bagas: JADI BENER YA
Haru: ......iya
Haru: iya.
Haru: IYA. UDAH. PUAS?
Ledakan.
Empat puluh pesan dalam tiga menit. Aku menggulirnya sampai bawah dan membacanya semua, karena aku tidak tahu harus melakukan apa lagi dengan tanganku sementara mesin cetak berjalan.
Aku membaca kalimat iya. itu tiga kali.
Titik di belakangnya. Bukan tanda seru. Haru tidak pernah memakai titik.
Aku tidak tahu apa artinya dan aku memutuskan untuk berhenti mencari artinya, karena aku sudah menghabiskan tiga tahun mencari arti di dalam tanda baca orang, dan itu satu-satunya keahlian dalam hidupku yang tidak menghasilkan apa pun.
Chat pribadinya masuk jam dua pagi.
Empat jam setelah semua orang tahu.
Haru
hehe
๐
Cuma itu.
Satu kata yang bukan kata, dan satu emotikon monyet menutup mata.
Aku sedang berbaring di kasur waktu itu. Mesin cetak sudah selesai jam dua belas, aku sudah pulang, sudah mandi, sudah berbaring, dan sudah dua jam menatap langit-langit yang catnya mengelupas di sudut dekat lemari.
Layar hp menyala di sebelah kepalaku dan menerangi setengah kamar.
Aku mengangkatnya.
Aku mengetik:
Selamat ya. Aku ikut seneng. Tama orang baik, dan kamu pantes dapet yang baik. Semoga langgeng.
Aku membacanya.
Lalu aku menghapusnya, satu huruf demi satu huruf, sampai kolomnya kosong.
Bukan karena isinya salah. Semuanya benar. Tama memang orang baik โ aku sudah memeriksanya berkali-kali dan tidak menemukan celah, dan itu satu-satunya hal yang membuat semua ini bisa ditanggung.
Aku menghapusnya karena kalimat itu terlalu panjang.
Kalimat sepanjang itu punya suhu. Orang bisa merasakan berapa lama kamu menyusunnya. Dan kalau dia merasakan itu, dia akan tahu, dan kalau dia tahu, maka empat jam tadi โ empat jam antara grup dan chat pribadi โ akan berubah jadi sesuatu yang harus dia jelaskan.
Aku tidak ingin dia menjelaskan apa pun.
Bukan karena aku mulia. Karena kalau dia menjelaskan, aku akan mendengarkan, dan aku akan memaafkan, dan besoknya semuanya kembali ke tempat semula.
Aku mengetik lagi:
Selamat ya.
Aku menatapnya.
Masih terlalu panjang. Masih ada kata โyaโ di sana, dan โyaโ itu punya nada hangat.
Aku menghapus dua huruf.
Selamat.
Aku menekan kirim jam dua lewat sembilan menit.
Centangnya berubah biru dalam empat detik.
Haru
makasih ra ๐ฅน
eh kamu masih bangun?
Aku menatap layar itu selama mungkin dua puluh detik.
kamu kok akhir2 ini susah dicari sih
ra
besok makan bareng yuk. udah lama banget
Tiga chat. Enam menit. Jam dua pagi.
Ini yang aku pikirkan malam itu, dan aku ingin menuliskannya dengan tepat karena kalau salah sedikit saja artinya berubah:
Dia tidak sedang berpura-pura.
Dia benar-benar ingin makan bareng. Dia benar-benar merasa aku susah dicari dan benar-benar tidak suka itu. Kalau besok aku bilang iya, dia akan datang, dan dia akan senang, dan dia akan menceritakan semuanya dengan mata berbinar, dan dia akan menukar piring kami tanpa bertanya.
Dan aku akan duduk di sana dan mendengarkan, dan itu akan berlangsung dua jam, dan setelah dua jam itu aku akan pulang dan tidak bisa tidur.
Bukan karena dia jahat.
Karena tidak ada satu pun bagian dari dua jam itu yang akan berisi pertanyaan tentang aku. Dan aku tahu itu bukan tebakan, karena aku punya datanya: tiga tahun, ratusan makan siang, dan satu email yang aku terima dua bulan lalu yang masih tersimpan di folder yang tidak pernah aku buka lagi.
Aku mengetik: Besok aku shift.
yaudah lusa
Lusa juga.
ihh
yaudah kapan2 ya. jangan ilang.
Iya.
Setelah itu aku duduk di kasur, menyalakan lampu, dan membuka chat kami dari awal.
Aku ingin bilang aku tidak tahu kenapa aku melakukan itu, tapi aku tahu persis kenapa: aku ingin memeriksa apakah aku sudah membesar-besarkan semuanya di kepalaku.
Aku menggulir ke atas.
Butuh waktu lama. Tiga tahun percakapan. Jempolku pegal dua kali dan aku berhenti dan melanjutkan.
Aku sampai ke pesan pertama sekitar jam tiga.
28 Maret, semester dua
ini kira kan? aku haru, yang tadi di rapat. kata bagas kamu bisa benerin printer ๐
Iya. Aku ke sekre sekarang.
Aku membacanya beberapa kali.
Lalu aku menggulir turun, pelan, dan membaca sepanjang tiga tahun itu seperti orang membaca laporan.
Ini hasilnya. Aku menghitungnya sambil membaca, karena kepalaku memang begitu, dan aku sudah tidak bisa mencegahnya lagi.
Dia mengirim pesan pertama di sembilan puluh persen percakapan kami. Aku tidak pernah menghitungnya sebelum malam itu.
Dari sembilan puluh persen itu, sebagian besar dimulai dengan permintaan. Bukan permintaan besar. Bisa nggak. Tolong. Ra, kamu di mana.
Ada kalimat makasih sebanyak yang tidak bisa aku hitung. Ratusan. Dia selalu berterima kasih. Dia tidak pernah tidak berterima kasih.
Dan ada empat kali โ empat, dalam tiga tahun โ dia bertanya tentang aku.
kamu udah makan? (dua kali, keduanya waktu dia sendiri sedang makan)
kamu sakit ya? mukamu pucet (satu kali, dan aku bilang enggak, dan dia percaya)
kamu tuh capek nggak sih ngurusin aku terus (satu kali, sambil ketawa, dan sebelum aku sempat mengetik apa pun dia sudah mengirim empat chat tentang hal lain)
Aku menutup hp jam empat pagi.
Aku tidak menangis. Aku ingin mencatat itu bukan sebagai kebanggaan tapi sebagai fakta, karena kalau aku menangis malam itu mungkin semuanya lebih mudah.
Aku cuma duduk di kasur dengan lampu menyala sampai langit di luar berubah abu-abu.
Lalu aku membuka aplikasinya lagi, menekan nama itu, menahan, dan memilih hapus percakapan.
Ada kotak konfirmasi. Hapus percakapan ini?
Aku menekan hapus.
Bukan karena marah. Ini bagian yang paling penting dan paling sering salah dimengerti: aku tidak marah malam itu, tidak sedikit pun.
Aku menghapusnya karena selama tiga tahun, setiap kali aku merasa terlalu lelah untuk melanjutkan, aku selalu menggulir ke atas dan membaca ulang bagian-bagian yang bagus. Ada beberapa. Ada malam-malam jam dua pagi menunggu spanduk, ada percakapan panjang waktu neneknya meninggal, ada satu chat waktu dia mengirim foto langit dan menulis ini kayak kamu tanpa penjelasan apa pun, dan aku menyimpan chat itu seperti orang menyimpan struk.
Aku menghapusnya supaya tidak bisa aku baca lagi.
Karena satu-satunya cara berhenti adalah dengan tidak menyisakan tempat untuk kembali, dan aku sudah cukup mengenal diriku sendiri untuk tahu bahwa selama arsip itu ada, aku akan kembali membacanya, dan setiap kali membacanya aku akan menghitung ulang, dan setiap kali menghitung ulang aku akan menemukan alasan untuk bertahan satu minggu lagi.
Layarnya kosong.
Di atasnya cuma ada nama, dan foto profil, dan kolom pesan yang putih.
Aku mematikan lampu jam setengah lima dan tidur sampai siang, dan waktu bangun, hal pertama yang aku rasakan bukan sedih.
Yang aku rasakan adalah ringan, dan aku takut sekali pada perasaan itu, karena ringan artinya sesuatu sudah benar-benar dilepaskan, dan aku belum siap untuk tahu apa yang sudah aku lepaskan.
- 1 Empat Menit
- 2 Parkiran
- 3 Es Teh Punya Orang
- 4 Jaket yang Nggak Jadi
- 5 Konsultan
- 6 Obat buat Orang Lain
- 7 Kayak Kakak
- 8 Sopir
- 9 Dua Jam Hujan
- 10 Dibaca Besoknya
- 11 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 12 Kursi Kosong
- 13 Sabana Fest
- 14 Jadian reading
- 15 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 16 Baik-baik Saja
- 17 Ada yang Kurang
- 18 Tama
- 19 Papan Taruhan
- 20 Aku Udah di Jalan
- 21 Ngeroyok
- 22 Seminggu
- 23 Buku Catatan
- 24 Hujan (Lagi)
- 25 Kenapa Baru Sekarang?
- 26 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 27 Giliran
- 28 Papan Taruhan Jilid Dua
- 29 Jaket
- 30 Aku Males
- 31 Es Teh
- 32 Yang Aku Nggak Tahu
- 33 Konsultan (Lagi)
- 34 Aku Udah di Jalan