Chapter Thirty Two
Yang Aku Nggak Tahu
POV: Kira
Malam terakhir cuti, Haru memberiku kantong plastik.
“Buat anak-anak mes,” katanya. “Ada keripik sama kopi sachet. Sama satu bungkus buat kamu sendiri, jangan dibagi, aku tulis namanya.”
“Ru, ini berat.”
“Bawa aja.”
“Bus aku jam lima subuh.”
“BAWA AJA.”
Aku membawanya.
Kantong plastik itu aku taruh di lantai kamar — kamar sementara di kos Fajar, kamar kosong yang biasanya dipakai untuk menyimpan barang, yang mereka bersihkan tiga hari untuk aku selama cuti dan yang mereka sebut “kamar tamu” dengan bangga meskipun tidak ada kasurnya dan aku tidur di kasur lipat.
Jam dua belas lewat, aku mulai memasukkan barang ke ransel.
Aku mengeluarkan isi kantong plastik itu untuk disusun supaya muat.
Keripik. Empat bungkus. Kopi sachet, satu renceng. Satu bungkus keripik lagi dengan tulisan spidol INI PUNYA KIRA JANGAN DIKASIH SIAPA-SIAPA dengan tiga tanda seru.
Dan di dasarnya, di bawah semuanya, terselip di antara dinding plastik dan tumpukan keripik, ada buku tulis bersampul biru.
Aku tahu buku apa itu.
Aku sudah melihatnya sebelumnya — di trotoar depan percetakan, bulan Januari, waktu dia mengeluarkannya dari tas dan aku bertanya itu apa dan dia bilang “buku”.
Aku tidak pernah melihat isinya.
Aku duduk di lantai kamar kosong itu jam setengah satu pagi dengan ransel setengah terisi dan buku itu di pangkuanku, dan aku tidak membukanya selama mungkin empat menit.
Aku memeriksa kantong plastiknya lagi untuk memastikan tidak ada catatan, tidak ada tulisan baca ini, tidak ada apa pun yang menjadikan ini permintaan.
Tidak ada.
Dan itu — aku baru mengerti belakangan — itu sangat Haru. Dia tidak akan pernah menyerahkannya ke tanganku sambil bilang bacalah. Dia akan menaruhnya di dasar kantong plastik berisi keripik dan membiarkan aku memutuskan sendiri.
Aku membukanya.
Halaman pertama.
Kira Adiatma.
12 Juli.
Di bawah namanya, tulisannya lebih kecil, jelas ditambahkan belakangan dengan pulpen yang berbeda:
jangan bikin acara. tapi tetap ucapin.
Aku menatap tiga baris itu lama sekali.
Aku ulang tahun tanggal dua belas Juli. Tahun ini aku akan berumur dua puluh tiga dan aku akan berada di Cikarang dan tidak ada satu orang pun di sana yang tahu.
Sekarang ada satu orang di kota lain yang tahu, dan sudah menuliskan instruksi untuk dirinya sendiri tentang cara memperlakukan tanggal itu.
Aku membalik halaman.
Halaman kedua isinya daftar yang dicoret.
Teknik Industri (?) — tanda tanyanya dicoret, diganti tanda centang.
Anak kos (?) — dicoret. Di sebelahnya: Griya Asri gang 3. Sebelahan sama Bowo. Tembok tipis.
~~Suka ngopi~~ — dicoret dua kali, keras, sampai kertasnya agak sobek. Di bawahnya, huruf kapital semua: TEH. PANAS. SETENGAH GULA.
~~Nggak suka rame~~ — dicoret dengan satu garis, dan di sebelahnya, dengan huruf kecil:
aku nggak tau. aku cuma tau dia selalu dateng.
Aku menutup buku itu.
Aku duduk di lantai kamar kosong itu dengan buku tertutup di pangkuan selama mungkin dua menit, dan aku tidak akan menjelaskan kenapa, karena kalau kalian pernah membaca kalimat yang isinya adalah dirimu yang ditulis dengan jujur oleh orang yang salah selama tiga tahun dan sekarang sedang membetulkannya satu per satu, kalian tidak butuh penjelasan.
Aku membukanya lagi.
Ada empat belas halaman.
Aku akan menuliskan beberapa, karena tidak mungkin semuanya, dan karena beberapa di antaranya bukan urusan siapa-siapa.
Nggak bisa makan pedas. Sama sekali. (bukan “kurang suka”)
STOP NUKER PIRING.
Bapak meninggal waktu dia SMP. Jangan tanya lebih. Kalau dia mau cerita, dia cerita.
Ibu di Purworejo. Nama: Bu Sri. (aku belum pernah nanya nama, aku tanya Fajar. INI TERAKHIR KALI AKU NANYA ORANG LAIN.)
Kerja di percetakan Mas Yudi dari semester 3. Aku pernah pesen banner di tempat lain, lebih mahal 18%, terus aku ngeluh soal harganya DI DEPAN DIA.
Kalau nyusun kertas dia ngetuk 3x. Selalu 3. Aku belum tau kenapa.
Dia ngitung dalam hati kalau lagi kerja.
Dia nggak pernah duduk pas shift. 3 jam. Nggak sekali pun.
Kalau dia bilang “nggak apa-apa” itu bukan artinya nggak apa-apa. Itu artinya dia nggak mau kamu ngerasa nggak enak. BEDA.
Aku berhenti di baris itu.
Aku sudah mengucapkan dua kata itu ratusan kali seumur hidupku, ribuan mungkin, sejak SMP, sejak sebelum aku kenal siapa pun di kota ini.
Tidak ada satu orang pun yang pernah membongkarnya.
Aku membalik halaman.
Ada satu halaman yang berbeda dari semuanya.
Halaman kesembilan. Di bagian atasnya ditulis dengan huruf besar dan digarisbawahi:
HAL YANG AKU NGGAK TAU DAN AKU BARU TAU BELAKANGAN
Dan di bawahnya, daftar bernomor.
1. Dia keterima magang bulan OKTOBER. Bukan Desember. Oktober.
2. Dia mau cerita ke aku duluan. Bukan ke ibunya.
3. Dia nunggu 3 minggu buat cerita langsung.
4. Dia mau cerita di warung nasgor Cendana, karena dia tau aku bakal teriak.
5. Dia ngecek warungnya buka hari Minggu apa enggak.
Dan setelah nomor lima, tulisannya berubah. Lebih miring, lebih cepat, dan ada bekas air yang membuat tintanya melebar di dua tempat.
6. terus hujan.
7. dia nunggu 2 jam 25 menit.
8. aku pulang duluan sebelum hujan gede. rambut aku kering.
9. besoknya aku nanya “kamu nggak nunggu lama kan????” pake 4 tanda tanya.
10. dia jawab “nggak apa-apa”.
11. dia nggak pernah cerita lagi sampai bulan Februari. tiga bulan. dan selama tiga bulan itu aku nggak nanya sekali pun.
Di bawah nomor sebelas, di ruang kosong yang tersisa di halaman itu, ada satu kalimat yang ditulis dengan huruf sangat kecil, seperti orang yang menulis sambil berharap tulisannya tidak terbaca:
aku nggak akan pernah bisa ganti yang ini.
Aku menutup buku itu untuk kedua kalinya.
Aku duduk di lantai kamar kosong di kos Fajar, jam satu lewat, dengan bus jam lima subuh dan ransel yang belum selesai diisi.
Dan aku menyadari sesuatu tentang bulan November yang tidak pernah aku pikirkan sampai malam itu.
Selama tiga bulan, aku menyimpan malam hujan itu sebagai bukti.
Aku memakainya. Setiap kali aku ragu, setiap kali aku hampir kembali, setiap kali aku hampir mengetik sesuatu — aku mengeluarkan malam itu dari saku dan membacanya lagi, dan malam itu selalu memberi jawaban yang sama: dia tidak akan pernah lihat.
Aku memakai malam itu untuk membuktikan sesuatu tentang orang lain.
Dan sekarang orang itu menuliskan malam yang sama, nomor satu sampai sebelas, dengan urutan yang lebih lengkap daripada yang pernah aku ceritakan, di halaman kesembilan buku tulis lima ribuan.
Bukti itu sudah tidak berlaku.
Dan aku tidak tahu harus meletakkan di mana tiga bulan yang aku habiskan dengan memegangnya.
Aku membalik ke halaman terakhir yang ada tulisannya.
Halaman empat belas. Tanggalnya ditulis di pojok: 24 Januari.
Aku menghitung. Itu hari hujan di gedung serbaguna. Hari aku hampir melepas jaketku dan berhenti di tengah langkah kedua.
Di halaman itu cuma ada empat baris.
Dia masih mau ngasih payung.
Dia nggak mau nungguin aku pake payungnya.
Kebaikannya masih ada. Yang hilang harapannya.
Dan yang terakhir, di paling bawah, ditulis dengan tinta yang berbeda lagi, jelas ditambahkan pada waktu yang lain, mungkin jam dua pagi seperti yang dia ceritakan:
Kalau aku pergi sekarang, dia bakal mikir dia bener soal semua orang.
Aku duduk di lantai itu sampai jam dua.
Aku tidak menangis. Aku ingin menuliskannya dengan jujur — aku tidak menangis malam itu, dan bukan karena kuat. Karena ada hal-hal yang terlalu besar untuk keluar lewat pintu sekecil itu.
Aku cuma duduk, dengan punggung di dinding, memegang buku tulis bersampul biru yang harganya lima ribu dua ratus.
Dan yang aku pikirkan bukan bahwa dia menyayangiku.
Yang aku pikirkan adalah: dia menuliskan kalimat terakhir itu di malam ketika dia yakin dia sudah kalah.
Dua puluh empat Januari. Sebelum warkop. Sebelum kos. Sebelum aku datang ke pintunya jam dua belas malam naik ojek.
Malam itu dia sedang mempertimbangkan untuk mundur — dia bilang begitu sendiri, berbulan-bulan kemudian, sambil menutup wajahnya karena malu — dan dia tetap bertahan bukan karena berharap menang.
Dia bertahan supaya aku tidak berangkat ke Cikarang sambil membawa kesimpulan bahwa tidak ada satu orang pun yang akan repot.
Itu bukan mengejar.
Aku tidak punya nama untuk itu sampai sekarang.
Jam dua lewat, aku memakai jaket, keluar dari kamar, dan berjalan ke halaman.
Fajar sedang duduk di teras merokok, karena Fajar selalu terjaga di jam yang salah.
“Ra? Bus kamu jam lima.”
“Aku keluar bentar.”
“Ke mana jam segini?”
Aku sudah membuka aplikasi ojek.
“Aku nggak lama.”
Fajar memandangku, lalu memandang hp di tanganku, lalu mematikan rokoknya.
“Ra.”
“Hm.”
“Motor Bowo di depan. Kuncinya di paku belakang pintu.”
“Aku nggak—“
“Ambil aja,” katanya, dan masuk ke dalam. “Dia tidurnya kayak orang mati. Balikin sebelum subuh.”
Aku sampai di kosnya jam tiga kurang.
Lampu kamarnya mati.
Dan aku berdiri di trotoar seberang — trotoar yang sama, di bawah tiang listrik yang sama — dan untuk sekitar tiga puluh detik aku berdiri di sana dan tidak melakukan apa-apa, seperti orang yang sedang mengulang kesalahan lama.
Lalu aku menyeberang dan mengetuk.
Butuh waktu lama.
Lebih lama dari yang pertama, karena kali ini dia benar-benar tidur.
Pintunya terbuka sepuluh sentimeter. Matanya setengah tertutup, rambutnya menempel di satu sisi wajahnya, dan dia memakai hoodie abu tua yang lengannya menutupi setengah telapak tangannya.
Dia memakai hoodie itu untuk tidur.
“Ra?” Suaranya sengau. “Bus kamu jam—“
Aku mengangkat buku tulis bersampul biru itu.
Dia melihatnya.
Dia bangun sepenuhnya dalam waktu setengah detik, dan wajahnya berubah, dan dia langsung mengulurkan tangan.
“Ya ampun, itu— aku nggak sengaja masukin, aku—“
Aku tidak menyerahkannya.
Aku melangkah masuk sepuluh sentimeter dan memeluknya.
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Dia juga tidak, setelah dua kalimat pertama yang tidak selesai.
Kami berdiri di ambang pintu kamar kos jam tiga kurang lima belas menit, di gang yang sepi, dengan lampu teras yang dikerumuni laron, dan aku memeluknya dengan buku tulis bersampul biru masih di tanganku di belakang punggungnya.
Lama.
Aku tidak menghitung berapa lama, dan itu bukan kebetulan.
Dia menangis di suatu titik di tengahnya — aku tahu dari bahunya, dan dari hoodie di bahuku yang jadi basah — dan aku tidak mengatakan tidak apa-apa, dan aku tidak menyuruhnya berhenti, dan aku tidak mencoba memperbaiki apa pun.
Aku cuma berdiri di situ dan membiarkan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memegang orang yang sedang menangis tanpa langsung mencari cara supaya dia berhenti.
Waktu akhirnya kami melepaskan, dia menarik lengan hoodie itu ke matanya dan berkata, sengau dan jelek dan sempurna:
“Kamu baca yang halaman sembilan?”
“Iya.”
“Aku nulis itu sambil nangis. Jelek banget tulisannya.”
“Aku bisa baca.”
“Kamu marah?”
Aku menyerahkan buku itu kembali ke tangannya.
“Enggak,” kataku. “Tapi tulis satu lagi.”
“Apa?”
Dan aku memberi tahu dia apa yang harus ditulis, dan dia menulisnya di halaman lima belas keesokan harinya dan mengirim fotonya ke aku waktu aku sudah di dalam bus:
12. dia bilang: yang nomor 11 udah lunas. jangan ditulis lagi.
- 1 Empat Menit
- 2 Parkiran
- 3 Es Teh Punya Orang
- 4 Jaket yang Nggak Jadi
- 5 Konsultan
- 6 Obat buat Orang Lain
- 7 Kayak Kakak
- 8 Sopir
- 9 Dua Jam Hujan
- 10 Dibaca Besoknya
- 11 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 12 Kursi Kosong
- 13 Sabana Fest
- 14 Jadian
- 15 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 16 Baik-baik Saja
- 17 Ada yang Kurang
- 18 Tama
- 19 Papan Taruhan
- 20 Aku Udah di Jalan
- 21 Ngeroyok
- 22 Seminggu
- 23 Buku Catatan
- 24 Hujan (Lagi)
- 25 Kenapa Baru Sekarang?
- 26 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 27 Giliran
- 28 Papan Taruhan Jilid Dua
- 29 Jaket
- 30 Aku Males
- 31 Es Teh
- 32 Yang Aku Nggak Tahu reading
- 33 Konsultan (Lagi)
- 34 Aku Udah di Jalan