Chapter Twenty Eight
Papan Taruhan Jilid Dua
POV: Haru
Kami tidak mengumumkan apa pun.
Itu keputusan bersama, diambil jam satu pagi di anak tangga teras, dan alasannya sederhana: dia berangkat enam hari lagi dan aku tidak ingin enam hari itu dihabiskan untuk menjelaskan.
Kami bertahan selama tiga puluh empat jam.
Yang membocorkan bukan aku dan bukan dia.
Yang membocorkan adalah gelas teh.
Hari Kamis sore, rapat evaluasi di sekre. Dua belas orang, kursi melingkar, dan Bagas berdiri di depan whiteboard dengan spidol seperti biasa.
Kira datang karena aku memintanya datang — bukan sebagai panitia, karena dia bukan panitia, tapi karena dia mau berpamitan dan lebih efisien melakukannya sekaligus.
Dia duduk di kursi ujung dekat pintu.
Jam lima, aku ke dapur kecil di belakang untuk membuat minum, dan aku membuat dua belas gelas karena ada dua belas orang.
Aku membawanya keluar dengan nampan, membagikannya satu per satu, dan waktu sampai di kursi ujung dekat pintu aku menaruh gelas terakhir di depan Kira.
Teh panas.
Aku kembali duduk.
Dan Bagas — yang sedang menggambar sesuatu di whiteboard, yang membelakangi kami semua, yang seharusnya tidak melihat apa-apa — berhenti menggambar.
Dia berbalik pelan-pelan.
Dia melihat gelas di depan Kira.
“Itu teh.”
“Iya,” kataku.
“Kira minumnya kopi.”
Ruangan hening.
“Tiga tahun,” kata Bagas, dan suaranya naik satu oktaf per kata, “TIGA TAHUN kamu selalu beliin dia kopi. Aku inget. Aku inget karena kamu selalu bilang ‘aku hafal pesenan semua orang’.”
Aku merasakan wajahku panas.
“Aku salah selama tiga tahun,” kataku. “Dia nggak suka kopi.”
Bagas menjatuhkan spidolnya.
“KAMU SALAH SELAMA TIGA TAHUN?”
“Iya.”
“TERUS SEKARANG KAMU BENER?”
“Iya.”
“KENAPA SEKARANG KAMU BENER?”
Dan sebelum aku sempat menyusun kalimat yang aman, dari kursi ujung dekat pintu terdengar suara yang sangat pelan dan sangat datar:
“Dia nanya.”
Bagas berputar ke arah Kira.
“Nanya kapan?”
“Minggu lalu.”
“Nanya di mana?”
“Depan percetakan.”
“KENAPA KAMU DI DEPAN PERCETAKAN BERDUA MALEM-MALEM?”
“Bagas,” kata Sisil, tanpa mengangkat kepala dari laptopnya, “mereka pacaran.”
Ruangan meledak.
Aku tidak akan menceritakan dua puluh menit berikutnya secara rinci karena tidak ada yang layak dicatat dari dua puluh menit di mana dua belas orang berteriak sekaligus.
Yang perlu dicatat cuma tiga hal.
Pertama, Wildan berdiri dan keluar ruangan dan kembali empat puluh detik kemudian dengan wajah yang sangat serius dan berkata, “Aku harus jalan-jalan bentar,” lalu duduk lagi.
Kedua, Rara menangis. Tidak ada yang tahu kenapa. Rara sendiri tidak tahu kenapa. Dia bilang “aku nggak tau kenapa aku nangis” sambil menangis.
Ketiga, Sisil mengetik sesuatu di laptopnya selama seluruh kekacauan itu, dan waktu ditanya dia bilang, “Aku lagi ngerapiin evaluasi anggaran,” dan itu bohong, dan tiga hari kemudian dia menunjukkan padaku bahwa dia sedang mengetik tanggalnya di catatan arsipnya.
Kira duduk di kursi ujung selama seluruh kejadian itu dan tidak mengatakan satu kata pun.
Kalau kalian melihatnya dari jauh, kalian akan bilang dia tenang.
Aku tidak melihatnya dari jauh. Aku duduk empat kursi dari dia.
Telinganya merah.
Papan itu muncul hari Sabtu.
Aku masuk sekre jam empat sore dan Bagas sudah berdiri di depan whiteboard dengan spidol merah, dan timeline acara sudah dihapus setengah, dan di sisi kanan sudah ada tabel baru dengan judul huruf kapital dan garis bawah dua kali.
LOMBA TEBAK KIRA JILID 2
Di bawahnya:
ATURAN: Haru duduk di sebelah Kira. Kita hitung berapa detik sampai Kira salah tingkah.
TANDA SALAH TINGKAH: (1) telinga merah (2) ngelap tangan ke celana (3) ngomong “hm” tiga kali berturut-turut
“BAGAS.”
“Ini ilmiah.”
“INI PELECEHAN.”
“Ini arsip.” Bagas menunjuk kolom pertama, yang sudah terisi. “Kemarin aku uji coba. Kamu ambil kursi di sebelah dia pas rapat. Hasilnya sebelas detik.”
“Sebelas detik?”
“Sebelas. Detik.” Bagas menutup mata seperti orang yang sedang khusyuk. “Ru. Aku udah tiga tahun ngamatin manusia ini. Tiga tahun aku bikin papan buat ngukur kecepatan dia. Dan sekarang aku tau aku salah ngukur yang mana.”
Wildan mengangkat tangan.
“Aku taruhan tujuh detik.”
“Aku sembilan,” kata Rara.
“Empat,” kata Sisil.
“EMPAT?”
“Empat,” ulang Sisil. “Kalian belum liat kalau Haru yang duduknya deket banget.”
Kira datang jam lima.
Dia masuk sambil membawa kardus kecil — barang-barangnya yang masih tertinggal di laci sekre selama tiga tahun, yang dia datangi untuk diambil — dan berhenti di ambang pintu.
Dia melihat papan itu.
Dia membacanya dari atas sampai bawah.
Lalu dia menoleh ke arah dua belas orang yang semuanya duduk diam menatapnya dengan tampang yang berusaha keras terlihat normal.
“Oh,” katanya.
Dan dia duduk di kursi ujung dekat pintu, seperti biasa, dan mulai memindahkan isi laci ke kardus.
“KIRA,” kata Bagas.
“Hm.”
“Kamu nggak protes?”
“Nggak.”
“Kenapa nggak protes?”
Kira mengeluarkan obeng dari laci dan meletakkannya di kardus.
“Karena kalau aku protes, kalian bakal seneng,” katanya.
Sisil menaruh laptopnya.
“Dia bener,” katanya. “Semuanya, jangan seneng.”
“AKU NGGAK BISA NGGAK SENENG.”
Aku duduk di sebelahnya jam enam.
Aku tidak melakukannya untuk papan itu. Aku duduk di sebelahnya karena dia sedang membungkus lampu meja dengan koran dan tangannya penuh dan aku mau membantu memegangi.
Tapi kursinya sempit, dan sekre itu bekas gudang, dan kursi plastiknya berjejer terlalu rapat.
Lututku menyentuh lututnya.
Dia berhenti membungkus.
“Hm,” katanya.
Aku mendengar Bagas menahan napas dari seberang ruangan.
“Kira,” kataku, “kamu nggak apa-apa?”
“Hm.”
Bagas mulai mengetuk-ngetuk meja.
Aku mengambil koran dari tangannya dan jariku menyentuh jarinya, dan dia mengelap telapak tangannya ke celana — satu kali, cepat, refleks, gerakan yang mungkin sudah dia lakukan seumur hidupnya tanpa ada yang mencatat.
“Hm,” katanya, ketiga kalinya.
“TIGA,” teriak Bagas, berdiri. “TIGA! SEMUA TANDA! LENGKAP!”
“BAGAS DUDUK.”
“WILDAN CATAT WAKTUNYA.”
“AKU LUPA MULAI NGITUNG.”
“KAMU SATU-SATUNYA TUGAS KAMU CUMA NGITUNG.”
“AKU KAGET.”
Kira menutup kardusnya, pelan, dan menaruh selotip di atasnya, dan tidak melihat siapa pun.
Telinganya merah sampai ke belakang.
Aku tidak tahu kenapa aku mengatakannya.
Sungguh. Aku sudah memikirkan ini berkali-kali dan aku tetap tidak tahu apakah aku sadar atau tidak.
Rara bertanya — Rara yang tidak pernah tahu kapan harus berhenti bertanya, yang delapan bulan lalu bertanya hal yang persis sama di saung pinggir sungai — Rara bertanya:
“Kak Haru, dulu Kakak pernah bilang Kak Kira itu kayak kakak. Itu gimana ceritanya?”
Dan ruangan pelan-pelan diam.
Aku merasakan Kira berhenti bergerak di sebelahku.
Dan aku — karena aku selalu bercanda kalau gugup, karena tiga tahun tidak hilang dalam sebulan, karena mulutku selalu lebih cepat dari kepalaku — aku tertawa dan berkata:
“Iya. Dia tuh kayak kakak.”
Kalimat yang sama.
Ruangan yang sama.
Bedanya kali ini aku mendengar diriku sendiri mengucapkannya, dan aku mendengarnya dari sisi yang lain, dan aku merasakan seluruh isi perutku jatuh sebelum kalimat itu selesai.
Aku menoleh ke dia untuk minta maaf.
Dan dia sudah menoleh ke aku.
Dia menaruh selotip di meja.
Lalu dia mengangkat tangan kirinya, meletakkannya di sisi kepalaku, dan mencondongkan badan.
Dan mencium keningku.
Bukan cepat. Bukan malu-malu. Dia menahannya di situ selama mungkin tiga detik, dengan tangan di sisi kepalaku, di dalam ruangan berisi dua belas orang, di bawah papan tulis bertuliskan LOMBA TEBAK KIRA JILID 2.
Aku tidak bisa bergerak.
Waktu dia menjauh, dia berkata — pelan, cuma untuk aku, dengan wajah yang sepenuhnya datar:
“Bukan.”
Dan dunia kiamat.
Rara menjerit. Wildan jatuh dari kursi, benar-benar jatuh, dengan kursinya sekalian. Dua anak baru berlari keluar ruangan. Seseorang menjatuhkan gelas. Sisil menutup laptopnya dengan bunyi keras dan berkata, dengan volume normal di tengah kekacauan itu, “Aku menang. Empat detik. Tapi bukan detik yang kalian kira.”
Dan Bagas — Bagas berdiri di depan papan itu, memegang spidol, dan tidak berteriak sama sekali.
Dia berdiri di sana selama beberapa detik.
Lalu dia mengambil penghapus.
“Bagas?” kata Wildan dari lantai.
Bagas menghapus papan itu.
Dari kiri ke kanan, pelan, sampai bersih, termasuk judulnya, termasuk garis bawah dua kalinya.
“BAGAS KENAPA DIHAPUS.”
“Sistemnya nggak valid,” kata Bagas.
“Kenapa nggak valid?”
Dia meletakkan penghapus di rak spidol dan menepuk tangannya untuk membersihkan debu.
“Karena taruhannya cuma seru kalau yang ditebak orang yang nggak pernah dapet apa-apa,” katanya.
Ruangan diam.
Bagas berbalik, dan wajahnya memerah, dan dia langsung menunjuk semua orang sekaligus.
“KALIAN JANGAN LIATIN AKU.”
“Bagas kamu nangis?”
“AKU NGGAK NANGIS. INI DEBU SPIDOL.”
“Itu whiteboard.”
“DEBU WHITEBOARD.”
Kami pulang jam sembilan.
Di parkiran — di parkiran yang sama, di bawah lampu yang sama, tempat aku dulu melambai dan berteriak DEDEK SAYANG KAKAK di depan orang banyak — Kira berdiri di samping motorku sambil memegang kardus kecilnya.
“Ra.”
“Hm.”
“Yang tadi,” kataku. “Aku beneran nggak sengaja.”
“Aku tau.”
“Aku bakal berhenti ngomong itu.”
Dia memindahkan kardusnya ke tangan satunya.
“Jangan,” katanya.
“Hah?”
“Jangan berhenti.” Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, sudut mulutnya naik dengan cara yang jelas-jelas disengaja. “Aku suka jawabannya.”
Aku berdiri di parkiran itu dengan wajah yang panas sampai ke leher.
“Kira Adiatma.”
“Hm.”
“Kamu tuh baru jadian tiga hari.”
“Iya.”
“Kamu tuh dulu diem-diem aja.”
“Iya,” katanya, dan naik ke boncengan motorku, karena sekarang aku yang membawa dan dia yang di belakang. “Sekarang giliran aku.”
Empat hari.
- 1 Empat Menit
- 2 Parkiran
- 3 Es Teh Punya Orang
- 4 Jaket yang Nggak Jadi
- 5 Konsultan
- 6 Obat buat Orang Lain
- 7 Kayak Kakak
- 8 Sopir
- 9 Dua Jam Hujan
- 10 Dibaca Besoknya
- 11 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 12 Kursi Kosong
- 13 Sabana Fest
- 14 Jadian
- 15 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 16 Baik-baik Saja
- 17 Ada yang Kurang
- 18 Tama
- 19 Papan Taruhan
- 20 Aku Udah di Jalan
- 21 Ngeroyok
- 22 Seminggu
- 23 Buku Catatan
- 24 Hujan (Lagi)
- 25 Kenapa Baru Sekarang?
- 26 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 27 Giliran
- 28 Papan Taruhan Jilid Dua reading
- 29 Jaket
- 30 Aku Males
- 31 Es Teh
- 32 Yang Aku Nggak Tahu
- 33 Konsultan (Lagi)
- 34 Aku Udah di Jalan