Chapter Seven
Kayak Kakak
POV: Kira
Makrab divisi diadakan di rumah makan lesehan pinggir sungai, dua puluh menit dari kampus, dan Bagas menyebutnya “makrab” padahal tidak ada yang menginap dan tidak ada yang diakrabkan.
“Ini konsolidasi,” katanya di grup. “Ini penting.”
“Ini kamu pengen makan gratis,” balas Sisil.
“Ini konsolidasi yang kebetulan ada makannya.”
Empat puluh orang datang. Divisi acara, divisi perlengkapan, divisi humas, sebagian anak dari kepanitiaan lain yang tidak diundang tapi datang karena mendengar ada ayam bakar. Tikar digelar di tiga saung yang menghadap sungai. Suaranya ribut sejak menit pertama.
Aku sampai jam enam kurang sepuluh.
Aku selalu sampai lebih awal ke tempat-tempat seperti ini, bukan karena rajin, tapi karena kalau datang belakangan kamu harus masuk ke dalam ruangan yang sudah punya bentuk, dan mencari tempat duduk di ruangan yang sudah punya bentuk itu melelahkan.
Jam enam lewat tiga, hp-ku bergetar.
Haru
ra kamu di mana
aku udah otw
eh bukan, aku baru mau otw. bentar
Aku sedang duduk di saung tengah, dengan gelas teh di depanku, memandangi sungai yang warnanya cokelat.
Aku mengetik:
Aku udah di jalan.
Motorku terparkir delapan meter dari tempat aku duduk. Aku bisa melihatnya dari situ.
Aku tidak tahu kenapa aku mengetik itu. Tidak ada gunanya. Tidak ada yang akan berubah kalau aku menulis aku udah sampai, dan tidak ada yang akan menang atau kalah.
Mungkin karena kalau aku bilang sudah sampai, dia akan bertanya kenapa aku sampai sejam lebih awal, dan aku tidak punya jawaban yang bisa aku ucapkan dengan wajah datar.
Atau mungkin karena setelah tiga tahun, empat kata itu sudah bukan informasi lagi. Sudah jadi bunyi. Seperti orang yang bilang “iya” di telepon padahal lawan bicaranya belum selesai bicara.
Haru datang jam tujuh kurang, diboncengi Gita, dan langsung masuk ke saung tengah sambil mengeluh tentang lalu lintas dengan volume yang membuat empat puluh orang menoleh.
Dia duduk di sebelahku karena tempat di sebelahku kosong.
Tempat di sebelahku selalu kosong. Bukan karena orang menghindar; karena aku duduk di ujung, dan orang mengisi dari tengah.
“Ayamnya udah dateng?”
“Belum.”
“Ya ampun. Aku laper banget.”
“Ada kerupuk.”
“Kerupuk itu bukan makanan, Ra. Kerupuk itu hiburan.”
Dia tetap makan tiga.
Tama datang dua puluh menit kemudian bersama anak-anak perlengkapan. Dia masuk ke saung yang berbeda, saung kanan, dan duduk di sana, dan tidak menyeberang.
Aku melihat Haru melihat itu. Bahunya turun satu senti, lalu naik lagi, dan dia tertawa lebih keras pada lelucon Wildan yang sebenarnya tidak lucu.
Ayam bakarnya datang jam setengah delapan dan selama dua puluh menit tidak ada yang bicara serius tentang apa pun.
Lalu piring-piring mulai kosong, dan orang mulai bersandar, dan mulailah bagian dari acara seperti ini yang tidak pernah direncanakan siapa pun: bagian di mana empat puluh orang yang kekenyangan mulai mencari bahan omongan.
Bahannya selalu sama.
“Kak Bagas kapan jadian?”
“Aku fokus organisasi.”
“Bohong.”
“Aku fokus organisasi DAN aku ditolak dua kali semester ini, dan dua hal itu berhubungan.”
Ledakan tawa. Bagas mengangkat tangan seperti petinju yang kalah tapi bangga.
Lalu berpindah ke Sisil, yang menjawab dengan satu kalimat yang begitu datar sampai tidak ada yang berani melanjutkan. Lalu ke Wildan, yang menceritakan sesuatu tentang teman SMA-nya selama empat menit tanpa sampai ke intinya.
Lalu seorang anak baru — namanya Rara, divisi humas, semester dua, duduk di seberang dengan gelas es jeruk di tangan — menunjuk ke arah kami dengan dagunya.
“Kak Haru sama Kak Kira pacaran, ya?”
Saung tengah tidak langsung diam. Tidak ada yang seperti itu di kehidupan nyata; tidak ada hening dramatis. Yang ada adalah tiga orang mendengar, lalu lima orang bertanya “apa? apa?”, lalu Bagas mengulanginya dengan suara keras karena Bagas selalu mengulangi hal-hal dengan suara keras.
“RARA NANYA HARU SAMA KIRA PACARAN APA NGGAK.”
Sekarang empat puluh orang mendengar.
Aku sedang memegang gelas teh. Aku tidak menaruhnya. Aku juga tidak mengangkatnya. Aku cuma memegangnya, dan menyadari bahwa aku sedang memegangnya, dan berpikir bahwa aku harus melakukan sesuatu yang wajar dengan tangan ini dalam tiga detik ke depan.
Di sebelahku, Haru tertawa.
Bukan tawa gugup. Tawa yang tulus, yang keluar dari perut, tawa yang biasa dia keluarkan kalau ada yang mengatakan hal konyol tentang hal yang sudah jelas.
Dan sambil tertawa, dia melingkarkan lengannya ke pinggangku.
Bukan merangkul bahu. Pinggang — tangannya masuk di belakang punggungku, telapaknya bertumpu di sisi kiri pinggangku, dan dia menarikku ke arahnya sepuluh senti seperti orang menarik guling.
“Kira?” katanya, masih tertawa. “Nggak lah. Dia tuh kayak kakak.”
Empat puluh orang tertawa.
Bagas menggebrak tikar. Wildan mengulang kalimatnya sambil menunjuk aku. Rara menutup mulutnya dan bilang maaf-maaf-kirain. Gita mengeluarkan suara “oooh” yang panjang. Seseorang di saung kiri berteriak menanyakan apa yang lucu dan mendapat penjelasan yang membuat saung kiri ikut tertawa.
Aku tertawa juga.
Ini bagian yang paling aku ingat dari malam itu, dan bukan bagian yang lain.
Aku menoleh sedikit ke arahnya, mengangkat sudut mulut, mengeluarkan bunyi dari tenggorokan yang berbunyi seperti tawa pendek, dan berkata:
“Adeknya nakal.”
Dan itu membuat orang tertawa lebih keras, dan Haru memukul lenganku sambil bilang “IH”, dan dia tidak melepaskan tangannya dari pinggangku selama mungkin dua puluh detik berikutnya, dan selama dua puluh detik itu aku duduk sangat diam supaya dia tidak melepaskannya.
Aku ikut tertawa. Aku bahkan menambahkan lelucon supaya tawanya lebih panjang. Aku memperpanjang momen yang sedang menghancurkan aku karena momen itu satu-satunya bentuk kedekatan yang tersedia malam itu.
Kalau ada bagian dari tiga tahun itu yang benar-benar aku sesali, bukan menunggunya di parkiran, bukan memutar lewat Wijaya, bukan mengantar dia ke tempat orang lain.
Yang aku sesali adalah kalimat “adeknya nakal”.
Karena tidak ada yang memaksaku mengucapkannya. Karena itu bukan sesuatu yang dia lakukan padaku. Itu aku, dengan sadar, ikut memasang batu terakhir di tembok itu, supaya semua orang di saung itu tertawa dan tidak ada yang melihat aku terlalu lama.
Acara bubar jam sembilan lewat.
Aku ikut membereskan, seperti biasa. Mengumpulkan gelas, menggeser tikar, membantu Bu pemilik warung menghitung jumlah piring supaya cocok dengan nota. Bagas menghitung uang patungan dan kurang tiga puluh ribu dan aku menutupnya tanpa bilang, dan dia tidak sadar, dan itu tidak penting.
Haru pulang bersama Gita.
“Ra, aku bareng Gita ya. Kamu nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa.”
“Hati-hati.”
“Iya.”
Dia melambai. Dia sudah setengah jalan ke motor Gita waktu dia berbalik dan berteriak, cukup keras untuk didengar orang-orang yang masih di parkiran:
“MAKASIH YA KAK. DEDEK SAYANG KAKAK.”
Beberapa orang tertawa lagi. Gita menariknya.
Aku mengangkat tangan.
Aku yang terakhir pergi, karena aku yang menunggu Bu pemilik warung selesai menghitung.
Waktu aku sampai di motor, Sisil masih di parkiran, berdiri di samping motornya sendiri dengan helm di tangan, jelas sudah bisa pulang sejak sepuluh menit yang lalu dan tidak pulang.
“Kira.”
“Hm.”
Dia memasang helmnya. Menutup kacanya. Lalu membukanya lagi.
“Tadi,” katanya. “Yang di saung.”
“Kenapa.”
Sisil bukan orang yang berbasa-basi, dan malam itu dia mencoba, dan gagal, dan aku bisa melihat dia memutuskan untuk berhenti mencoba.
“Nggak semua orang ketawa,” katanya.
Aku menaruh tas di jok.
“Aku ketawa,” kataku.
“Iya.” Dia menyalakan motornya. “Itu yang aku maksud.”
Dia pergi duluan.
Aku berdiri di parkiran rumah makan lesehan itu selama beberapa saat, di bawah lampu yang dikerumuni laron, dan mendengar suara sungai yang tadi tertutup oleh empat puluh orang dan sekarang tidak tertutup apa-apa.
Lalu aku pulang, ke utara, melewati perempatan yang lampu merahnya sembilan puluh detik.
Malam itu aku dapat hijau.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku dapat hijau, dan aku melewatinya tanpa berhenti, dan entah kenapa itu yang membuat dadaku terasa aneh sepanjang sisa jalan pulang.
- 1 Empat Menit
- 2 Parkiran
- 3 Es Teh Punya Orang
- 4 Jaket yang Nggak Jadi
- 5 Konsultan
- 6 Obat buat Orang Lain
- 7 Kayak Kakak reading
- 8 Sopir
- 9 Dua Jam Hujan
- 10 Dibaca Besoknya
- 11 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 12 Kursi Kosong
- 13 Sabana Fest
- 14 Jadian
- 15 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 16 Baik-baik Saja
- 17 Ada yang Kurang
- 18 Tama
- 19 Papan Taruhan
- 20 Aku Udah di Jalan
- 21 Ngeroyok
- 22 Seminggu
- 23 Buku Catatan
- 24 Hujan (Lagi)
- 25 Kenapa Baru Sekarang?
- 26 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 27 Giliran
- 28 Papan Taruhan Jilid Dua
- 29 Jaket
- 30 Aku Males
- 31 Es Teh
- 32 Yang Aku Nggak Tahu
- 33 Konsultan (Lagi)
- 34 Aku Udah di Jalan