Chapter Seventeen
Ada yang Kurang
POV: Haru
Namaku Haru dan aku orangnya berisik, dan aku tahu itu, dan aku sudah lama berhenti minta maaf soal itu.
Aku suka mengurus acara. Aku suka ruangan yang penuh orang. Aku suka bagian di mana semuanya hampir gagal lalu tidak jadi gagal, dan semua orang berteriak, dan setelahnya kami makan bareng jam sebelas malam dan tertawa soal hal yang tiga jam lalu hampir membuat kami menangis.
Aku bagus dalam hal itu. Aku tidak bilang aku bagus dalam banyak hal, tapi dalam hal itu aku bagus.
Yang tidak aku sadari sampai bulan Januari tahun itu adalah bahwa selama tiga tahun, aku bagus dalam hal itu di dalam sebuah ruangan yang seseorang bereskan setiap malam sebelum aku datang.
Kepanitiaan baru dibentuk minggu pertama Januari.
Aku ketua umum sekarang. Bukan divisi acara lagi — ketua umum, nama di paling atas struktur, tanda tangan di semua surat.
Aku senang. Aku betul-betul senang. Aku menelepon ibuku dan berteriak di telepon dan ibuku bilang jangan lupa makan.
Rapat perdana hari Rabu jam empat sore.
Aku membuat daftar nama untuk struktur kepengurusan tiga hari sebelumnya, malam-malam, sambil makan mi instan di kos. Aku menuliskannya di aplikasi catatan, per divisi, dan aku mengetiknya dengan cepat karena aku sudah tahu siapa cocok di mana.
Perlengkapan: Wildan, Fajar, dua anak baru.
Humas: Rara, dan tiga orang dari angkatan bawah.
Bendahara: Sisil, tidak ada opsi lain, tidak akan pernah ada opsi lain.
Acara: Bagas, meskipun Bagas berbahaya.
Teknis dan produksi: ...
Aku berhenti mengetik.
Kursorku berkedip di sebelah tanda titik dua selama mungkin sepuluh detik.
Lalu aku mengetik TBD dan lanjut ke divisi berikutnya, dan menyelesaikan seluruh daftarnya, dan menutup laptop, dan tidur.
Aku ingat itu. Aku ingat sepuluh detik itu.
Dan aku ingat bahwa yang aku pikirkan waktu itu bukan ke mana Kira, melainkan nanti aku cari orangnya.
Itu yang paling aku benci dari diriku sendiri kalau aku mengingat bulan-bulan itu. Bukan bahwa aku tidak sadar.
Tapi bahwa dia berubah dari nama menjadi posisi kosong, dan aku bahkan tidak merasakan pergantiannya.
Rapat perdana itu kacau, dan aku menghabiskan dua minggu berikutnya meyakinkan diriku bahwa rapat perdana memang selalu kacau.
Beberapa hal yang terjadi hari itu.
Aku sampai di sekre jam empat kurang lima dan pintunya terkunci. Aku berdiri di depan pintu dua puluh menit sambil menelepon empat orang sebelum akhirnya ingat bahwa kunci cadangan ada di pos satpam. Rapat mulai jam setengah lima.
Tidak ada air minum. Galon habis. Tidak ada yang membawa air karena tidak ada yang tahu galonnya habis, karena galonnya biasanya sudah terisi sebelum ada yang menyadari bahwa galonnya sempat kosong.
Proyektor tidak menyala. Wildan mengurusnya selama dua puluh lima menit. Ternyata kabelnya masuk ke port yang salah.
“Kok kamu lama banget sih,” kataku, sambil tertawa, karena aku memang sedang tertawa.
Wildan tidak tertawa.
“Aku nggak tau portnya yang mana,” katanya.
“Kan tinggal—“ Aku menunjuk. “Yang itu.”
“Iya. Sekarang aku tau.” Dia melipat kabelnya. “Tadi enggak.”
AC-nya masih bocor. Sudah setahun. Sudah dilaporkan enam kali sekarang. Sudut kiri dekat pintu belakang dingin sekali dan mejaku ada di sudut kiri karena dekat stopkontak.
Jam enam, aku mulai kedinginan.
Aku menyilangkan lengan dan menyelipkan telapak tangan ke ketiak, dan melanjutkan rapat, dan jariku mulai kaku sekitar jam setengah tujuh sehingga aku mengetik lebih lambat dari biasanya.
Rapat selesai jam tujuh lewat.
Aku pulang, sampai kos, mandi air panas, dan baru waktu handuknya masih di kepala aku berdiri di tengah kamar dan berpikir: kok tadi dingin banget ya.
Bukan pertanyaan yang aku lanjutkan.
Aku menganggapnya cuaca.
Selama tiga minggu berikutnya, hidupku berjalan dengan cara yang aku sebut “lagi apes”.
Aku memakai kata itu berulang-ulang dan tidak ada yang membantahnya. Aku lagi apes. Bulan ini emang lagi apes. Ya ampun apes banget.
Ini yang aku sebut apes:
Aku kehujanan tiga kali dalam dua minggu. Setiap kali karena aku keluar tanpa jas hujan dan langitnya masih cerah waktu aku berangkat.
Aku terlambat ke rapat dosen pembimbing karena ojek onlineku dibatalkan dua kali dan aku tidak punya rencana cadangan.
Aku memesan es teh di kantin dan meminumnya dan gigi geraham kananku berdenyut sampai sepuluh menit, dan aku duduk di meja pojok dekat tiang sambil memegang pipi, dan gelas es teh itu tetap ada di depanku sampai selesai karena tidak ada yang mengambilnya.
Aku membeli banner ke percetakan yang salah — yang di Jalan Ronggolawe, yang harganya delapan belas persen lebih mahal — karena aku tidak tahu percetakan mana yang biasa kami pakai. Nomornya ada di kontak Bagas dan Bagas sedang tidak bisa dihubungi.
Aku memasang backdrop terlalu awal, empat hari sebelum acara, dan kainnya melengkung kena angin malam dan harus dipasang ulang.
Aku menyusun rundown yang tumpang tindih dua puluh menit di bagian tengah dan tidak ada yang menyadarinya sampai hari-H.
Dan setiap kali salah satu dari itu terjadi, aku bilang aku lagi apes, dan orang-orang bilang iya ya kamu lagi sial banget, dan kami melanjutkan.
Tidak ada satu orang pun — termasuk aku — yang berkata bahwa lima belas hal buruk berturut-turut itu bukan nasib.
Lima belas hal itu adalah lima belas hal yang selama tiga tahun tidak pernah sampai ke aku, karena ada yang menahannya sebelum sampai.
Gita mengatakannya hari Kamis, di kos aku, jam sepuluh malam, sambil duduk di lantai memakan keripik dari bungkus yang dia bawa sendiri.
Aku sedang mengeluh. Aku sudah mengeluh selama mungkin dua puluh menit. Tentang backdrop, tentang rundown, tentang percetakan yang mahal, tentang Wildan yang lambat, tentang semuanya.
Aku berhenti untuk minum.
Dan Gita berkata, tanpa mengangkat wajahnya dari bungkus keripik:
“Kamu tau kan semua yang kamu keluhin dari tadi tuh dulu kerjaannya Kira.”
Aku menaruh gelas.
“Ya nggak semua.”
“Sebutin yang bukan.”
Aku membuka mulut.
Aku menutupnya lagi.
“Ya kan sekarang dia bukan panitia,” kataku. “Kepengurusannya udah selesai. Wajar dong.”
“Wajar.” Gita mengangguk. “Terus kamu ngeluh ke aku kenapa?”
“Aku kan cuma—“
“Kamu ngeluh karena kamu ngerasa ada yang salah.” Dia melipat bungkus keripiknya. “Dan kamu udah tiga minggu nyari kata buat itu, dan kata yang kamu temuin adalah ‘apes’.”
Aku diam.
Ada hal tentang Gita yang perlu kalian tahu: dia tidak pernah menaikkan suaranya. Tidak pernah, dalam empat tahun kami berteman. Dia mengatakan hal-hal yang paling menyakitkan dengan volume orang yang sedang membaca daftar belanja.
“Ru,” katanya. “Aku mau nanya sesuatu dan aku pengen kamu jawab beneran.”
“Apa.”
“Sebutin satu hal tentang Kira.”
“Hah?”
“Satu hal. Apa aja. Yang bukan tentang kamu.”
Aku menatapnya.
“Maksudnya gimana sih.”
“Ya gitu.” Gita menghitung dengan jari. “Dia anak mana. Dia kerja di mana. Dia tinggal di mana. Dia mau lanjut ke mana. Dia sukanya apa. Dia takut apa. Ulang tahunnya kapan.”
“Dia Teknik Industri.”
“Oke. Satu. Lanjut.”
Aku duduk di lantai kamarku sendiri dan tidak bisa melanjutkan.
Aku mencoba. Aku ingin kalian tahu bahwa aku mencoba, dan bahwa mencoba itulah bagian yang paling buruk, karena setiap kali aku hampir menemukan sesuatu, aku memeriksanya dan ternyata isinya aku.
Dia selalu datang cepat kalau aku panggil — itu tentang aku.
Dia tahu aku tidak bisa minum dingin — itu tentang aku.
Dia bisa memperbaikin proyektor — itu tentang sekre.
Dia sabar — itu bukan fakta, itu kesan.
“Dia...” Aku menarik napas. “Dia orangnya diem.”
“Itu bukan hal. Itu deskripsi luar.”
“Gita.”
“Aku nggak lagi ngehukum kamu.”
“Rasanya kayak gitu.”
“Aku tau.” Dia menyandarkan punggung ke dipan. “Tapi ini bukan hukuman, Ru. Ini cuma daftar. Dan daftarnya kosong. Dan yang bikin aku nggak enak bukan daftarnya kosong—“
Dia berhenti.
“Apa,” kataku.
“Yang bikin aku nggak enak adalah kamu baru sadar daftarnya kosong sekarang. Setelah dia nggak ada. Karena selama dia ada, kamu nggak pernah perlu daftar itu.”
Gita pulang jam sebelas.
Aku merapikan bungkus keripik, mencuci dua gelas, dan duduk di kasur.
Lalu aku membuka hp untuk membuktikan bahwa Gita salah.
Aku betul-betul melakukan itu. Aku membuka hp dengan niat mencari bukti, karena aku yakin — aku sangat yakin — bahwa di dalam tiga tahun percakapan kami pasti ada banyak hal tentang dia. Pasti ada. Kami mengobrol setiap hari. Kami mengobrol jam dua pagi menunggu spanduk. Dia pernah cerita macam-macam.
Aku akan menggulir ke atas, dan menemukannya, dan besok aku akan mengirim tangkapan layar ke Gita dan menulis NIH.
Aku membuka aplikasinya.
Aku mengetik namanya di kolom pencarian.
Chatnya muncul di paling atas. Foto profilnya masih yang lama, foto motor, diambil dari atas, entah kenapa.
Aku menekannya.
Layarnya putih.
Aku mengerjap. Aku menariknya ke bawah untuk memuat ulang, dua kali, tiga kali. Aku keluar dari aplikasi dan membukanya lagi. Aku mengecek apakah aku sedang berada di akun yang benar, yang mana bodoh sekali, karena aku cuma punya satu akun.
Kosong.
Tidak ada pesan pertama dari 28 Maret semester dua. Tidak ada malam-malam menunggu spanduk. Tidak ada foto langit. Tidak ada ratusan makasih ya yang aku kirim dan yang selalu dijawab iya.
Cuma nama, foto motor, dan kolom pesan putih dengan kursor berkedip.
Aku duduk di kasur dengan hp di tangan selama waktu yang tidak aku hitung.
Yang pertama muncul di kepalaku bukan sedih. Aku ingin jujur soal itu, karena kalau aku bilang aku langsung menangis, aku sedang membuat diriku terdengar lebih baik dari yang sebenarnya.
Yang pertama muncul adalah marah.
Kok dia hapus?
Selama mungkin satu menit penuh, aku duduk di situ dan merasa dizalimi. Aku menyusun kalimat di kepala. Kamu hapus chat kita? Serius? Kayak anak SMA? Aku hampir mengetiknya.
Lalu, pelan sekali, seperti orang yang mendengar bunyi dari kamar sebelah dan baru menyadari bunyi itu sudah ada sejak tadi, pertanyaan lain masuk.
Orang menghapus tiga tahun percakapan bukan karena marah.
Marah itu meledak dan selesai. Marah itu memblokir, lalu membuka blokir dua hari kemudian.
Orang menghapus tiga tahun percakapan kalau dia tahu, tentang dirinya sendiri, bahwa selama percakapan itu masih ada, dia akan membacanya lagi.
Dan orang tidak takut membaca sesuatu lagi kecuali membaca itu menyakitinya.
Aku menaruh hp di kasur.
Aku duduk di sana, di kamar kos yang lampunya masih menyala, dengan seluruh isi kepalaku berhenti untuk pertama kalinya sejak berminggu-minggu, dan satu kalimat sangat pendek datang dan berdiri di tengah dan tidak mau pergi:
Sejak kapan sakit?
Aku tidak tahu jawabannya.
Aku bahkan tidak tahu harus mulai menghitung dari mana.
- 1 Empat Menit
- 2 Parkiran
- 3 Es Teh Punya Orang
- 4 Jaket yang Nggak Jadi
- 5 Konsultan
- 6 Obat buat Orang Lain
- 7 Kayak Kakak
- 8 Sopir
- 9 Dua Jam Hujan
- 10 Dibaca Besoknya
- 11 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 12 Kursi Kosong
- 13 Sabana Fest
- 14 Jadian
- 15 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 16 Baik-baik Saja
- 17 Ada yang Kurang reading
- 18 Tama
- 19 Papan Taruhan
- 20 Aku Udah di Jalan
- 21 Ngeroyok
- 22 Seminggu
- 23 Buku Catatan
- 24 Hujan (Lagi)
- 25 Kenapa Baru Sekarang?
- 26 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 27 Giliran
- 28 Papan Taruhan Jilid Dua
- 29 Jaket
- 30 Aku Males
- 31 Es Teh
- 32 Yang Aku Nggak Tahu
- 33 Konsultan (Lagi)
- 34 Aku Udah di Jalan