Chapter Twenty One
Ngeroyok
POV: Haru
Aku tidak berencana melakukannya.
Aku ingin mencatat itu di depan, meskipun aku sadar semua orang yang melakukan hal bodoh selalu memulai dengan kalimat yang sama.
Rencanaku sebenarnya sederhana: aku mau tahu kapan dia berangkat ke Cikarang. Tanggalnya. Cuma itu.
Aku tidak bisa bertanya langsung, karena kalau aku bertanya langsung dia akan tahu bahwa aku tahu, dan dia akan tahu bahwa aku tahu dari Bagas, dan itu berarti dia akan tahu bahwa aku tidak diberi tahu.
Jadi aku pergi ke kosnya.
Aku tahu alamatnya sekarang. Griya Asri, gang ketiga. Aku sudah melihatnya di peta cukup sering sampai hafal bentuk gangnya.
Sabtu sore, jam empat.
Aku berhenti di depan sebuah rumah dua lantai dengan cat kuning yang sudah lama tidak dicat ulang, pagar besi yang tidak dikunci, dan lima motor diparkir berjejer di halaman.
Ada papan kecil di pagar: KOS PUTRA — TERIMA BULANAN.
Aku mengetuk.
Dan seluruh sisa hari itu keluar dari kendaliku dalam waktu kurang dari empat puluh detik.
Yang membuka pintu adalah cowok bertubuh besar, memakai kaus dalam, memegang penggorengan.
Dia melihatku.
Lalu dia berteriak ke dalam rumah tanpa memutuskan kontak mata denganku:
“WOI. WOI. ADA CEWEK.”
“HAH?”
“ADA CEWEK DI DEPAN.”
“BOHONG.”
“SUMPAH.”
Ada bunyi seperti orang jatuh dari kursi.
Dalam waktu lima belas detik, ada empat orang di ambang pintu. Yang satu masih memegang sikat gigi. Yang satu memakai handuk di kepala. Yang satu — dan aku bersumpah ini benar — sedang memakai satu sepatu.
“Halo,” kataku.
Mereka tidak menjawab. Mereka saling pandang.
Lalu cowok berhanduk berkata, pelan, seperti orang di museum:
“Ini nyari siapa ya, Mbak?”
“Kira.”
Keheningan yang menyusul kalimat itu adalah keheningan paling total yang pernah aku hasilkan seumur hidup, dan aku sudah pernah membuat dua ratus orang diam di gedung serbaguna dengan satu ketukan mikrofon.
“KIRA?”
“KIRA?!”
“KIRA YANG MANA?”
“YA KIRA YANG ITU. MEMANGNYA ADA KIRA BERAPA DI SINI.”
“AKU CUMA MASTIIN.”
Namanya Fajar — yang berhanduk. Bowo — penggorengan. Deni — sikat gigi. Ipul — satu sepatu. Dan ada satu lagi yang tidak keluar sama sekali dan cuma berteriak dari lantai dua sepanjang sore itu, namanya Rangga, dan aku tidak pernah melihat wajahnya sampai hari ini.
Mereka mempersilakan aku duduk di ruang tamu yang isinya satu sofa panjang, satu kipas angin berdiri, dan setumpuk kardus.
Bowo membuatkan teh. Bowo membuatkan teh dengan sangat serius, dengan nampan, yang jelas sekali baru dikeluarkan dari lemari untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun karena ada debunya.
“Kira lagi kerja,” kata Fajar. “Shift sore. Sampai jam delapan.”
“Oh.”
“Tapi Mbak boleh nunggu.”
“Nggak usah, aku—“
“NUNGGU AJA,” teriak Rangga dari lantai dua.
“Rangga bilang nunggu aja,” kata Deni.
“Rangga siapa?”
“Nggak penting.”
Mereka duduk berjejer di lantai menghadap aku seperti panel juri.
“Jadi,” kata Fajar. “Mbak Haru, ya.”
Aku hampir menjatuhkan gelas.
“Kamu tau nama aku?”
Empat orang itu saling pandang dengan kecepatan yang mencurigakan.
“Enggak,” kata Fajar.
“Kamu barusan nyebut.”
“Nebak.”
“NEBAK?”
“Iya. Kebetulan.”
Dari lantai dua: “BOHONG BANGET.”
“RANGGA.”
Aku akan meringkas dua jam berikutnya, karena kalau aku ceritakan semuanya, bab ini tidak akan selesai.
Yang aku dapatkan dari empat orang itu, tanpa aku minta, dalam dua jam, adalah lebih banyak informasi tentang Kira daripada yang aku kumpulkan dalam tiga tahun.
Alarmnya jam setengah lima pagi. Setiap hari. Bahkan hari Minggu. Bowo tahu karena kamar mereka bersebelahan dan tembok kos itu tipis.
Dia tidak bisa makan pedas. Sama sekali. Deni pernah menantangnya makan mi level tiga dan Kira menghabiskannya lalu duduk diam selama empat puluh menit sambil berkeringat dan tidak mengaku.
Dia memperbaiki pompa air kos itu tiga kali, dan setiap kali ibu kos menawarkan potongan sewa dan setiap kali dia menolak.
Dia tidak pernah menceritakan apa pun tentang dirinya. Ini bagian di mana keempatnya sepakat tanpa perlu berdiskusi.
“Tiga tahun sekamar sebelahan,” kata Bowo, “aku baru tau dia keterima magang dari Ipul. Ipul tau dari ibu kos. Ibu kos tau karena Kira ngasih surat pemberitahuan mau kosongin kamar.”
“Surat,” kataku.
“Surat. Diketik. Ada tanda tangannya.” Ipul mengangguk. “Ibu kos sampe bingung. Katanya anak-anak lain kalau mau pindah tuh bilangnya lewat WhatsApp jam dua pagi.”
Aku memandang tumpukan kardus di sudut ruang tamu.
“Itu punya dia?”
“Iya.”
“Dia udah mulai beres-beres?”
“Dari minggu lalu.”
Aku memegang gelas teh yang sudah dingin.
“Tanggal berapa dia berangkat?”
Empat orang itu saling pandang lagi.
“Sembilan Februari,” kata Fajar.
Sembilan Februari.
Aku menghitungnya di kepala sebelum aku sempat menghentikan diriku, karena sekarang aku selalu menghitung.
Dua puluh tiga hari.
“Mbak.”
Fajar mencondongkan badan ke depan. Yang lain diam. Bahkan Rangga di lantai dua diam.
“Boleh nanya?”
“Boleh.”
“Mbak ke sini mau ngapain sebenernya?”
Aku membuka mulut untuk menjawab bahwa aku cuma ingin tahu tanggal keberangkatannya.
Dan aku tidak jadi, karena aku sedang duduk di ruang tamu kos orang, jam enam sore, minum teh yang dibuatkan orang asing, dan itu jelas bukan sesuatu yang dilakukan orang yang cuma ingin tahu tanggal.
“Aku mau minta maaf,” kataku.
“Ke Kira?”
“Iya.”
“Buat apa?”
Dan aku duduk di sofa itu dan tidak bisa menjawab.
Bukan karena tidak ada. Karena terlalu banyak, dan karena tidak satu pun dari mereka punya nama, dan karena kalau aku mulai menyebutkan satu per satu — parkiran, hujan, helm, es teh, tujuh jam di kota sebelah — mereka akan terdengar terlalu kecil.
Itu masalahnya. Semua yang harus aku minta maafkan terlalu kecil untuk disebutkan sendiri-sendiri, dan terlalu besar kalau dijumlahkan.
Fajar mengangguk pelan, seperti orang yang mendapat jawaban meskipun tidak ada jawaban.
“Mbak,” katanya. “Aku mau ngomong satu hal, terus aku diem.”
“Iya.”
“Dia pernah nggak masuk kerja satu kali. Tiga tahun, satu kali.” Fajar menggaruk lehernya. “Bukan sakit. Dia dateng ke percetakan, terus balik lagi ke kos, terus tidur seharian. Itu bulan November.”
Aku tahu tanggal apa itu sebelum dia melanjutkan.
“Aku nggak nanya,” kata Fajar. “Kita semua nggak nanya. Kita cuma inget karena itu satu-satunya kali.”
Motor Kira masuk ke halaman jam delapan lewat sepuluh.
Aku mendengar mesinnya dari dalam. Empat orang itu langsung berdiri seperti anak sekolah waktu guru masuk, dan Bowo membawa lari nampan ke dapur, dan Deni menendang sesuatu ke bawah sofa.
Pintu terbuka.
Kira masuk sambil melepas helm, memakai kaus percetakan, tangannya kotor tinta di sisi kanan.
Dia melihat aku.
Lalu dia melihat empat orang yang berdiri di ruang tamu dengan sikap yang jelas-jelas mencurigakan.
Lalu dia melihat gelas teh di meja.
Dan ini yang aku ingat, dan aku ingat dengan sangat jelas karena aku menyimpannya lama sekali: wajahnya tidak berubah sama sekali.
Tidak kaget. Tidak marah. Tidak senang.
Dia cuma berhenti bergerak, dua detik, di ambang pintu.
Lalu dia menutup pintu di belakangnya.
“Kalian ke atas,” katanya.
Empat orang itu naik dalam sembilan detik. Aku menghitungnya.
Dia tidak duduk.
Dia berdiri di dekat pintu, helm masih di tangan, dan aku duduk di sofa itu merasa tiba-tiba sangat, sangat kecil.
“Ra, aku—“
“Kamu dari jam berapa di sini?”
“Jam empat.”
“Empat jam.”
“Iya.”
Dia mengangguk pelan.
“Kamu udah ngobrol sama mereka empat jam.”
“Iya.”
“Nanya apa aja?”
Dan cara dia mengucapkan itu — datar, tanpa nada menuduh sedikit pun — jauh lebih buruk daripada kalau dia berteriak.
“Aku cuma pengen tau kamu berangkat tanggal berapa.”
“Kamu bisa nanya aku.”
“Aku takut.”
“Takut kenapa?”
“Takut kamu nggak jawab.”
Dia menaruh helmnya di atas kardus.
“Haru,” katanya. “Kamu tau nggak, ini yang ke berapa?”
“Ke berapa apa?”
“Kamu nyari tau tentang aku lewat orang lain.”
Aku diam.
“Bagas,” katanya. “Sisil. Sekarang anak kos aku.”
“Kira—“
“Aku nggak marah.” Dan dia betul-betul tidak. Itu bagian yang membuat aku ingin menangis di ruang tamu kos orang asing. “Aku cuma ngerasa capek banget, dan aku nggak tau kenapa, jadi aku mikirin sepanjang dari percetakan tadi. Dan aku baru ngerti pas masuk pintu.”
Dia menunjuk gelas teh.
“Tiga tahun kamu nggak pernah nanya aku apa-apa,” katanya. “Sekarang kamu nanya empat orang.”
“Aku nanya kamu sekarang.”
“Nggak.” Dia menggeleng, sekali. “Kamu nanya mereka, terus kamu bawa jawabannya ke aku. Itu beda.”
Aku berdiri.
“Terus aku harus gimana?” Suaraku naik, dan aku tidak bermaksud, dan aku menyesalinya begitu keluar. “Kamu nggak pernah cerita apa-apa. Sekali pun. Tiga tahun kamu nggak pernah bilang kamu kerja di mana, kamu tinggal di mana, kamu daftar magang—“
Aku berhenti.
Dia menunggu.
“Kamu nggak pernah nanya,” katanya, pelan.
“Kamu juga nggak pernah cerita!”
“Iya,” katanya. “Kita berdua salah. Aku nggak lagi bilang aku bener.”
Dan dia mengatakannya begitu tenang, begitu tanpa perlawanan, sehingga seluruh amarah yang baru saja aku bangun runtuh dalam dua detik dan tidak menyisakan apa-apa selain rasa malu.
Dia mengantarku sampai pagar.
Di halaman, di antara lima motor, dia berhenti.
“Sembilan Februari,” katanya.
“Aku udah tau.”
“Aku tau kamu udah tau.” Dia membuka pintu pagar. “Tapi sekarang kamu tau dari aku.”
Aku berdiri di gang itu dengan kunci motor di tangan.
“Kira.”
“Hm.”
“Boleh aku ke sini lagi?”
Dia memikirkannya. Itu yang paling menyakitkan — dia benar-benar memikirkannya, tiga atau empat detik, seperti orang yang menimbang barang.
“Boleh,” katanya. “Tapi jangan ke mereka lagi.”
“Iya.”
“Haru.”
“Iya?”
Dia berdiri di bawah lampu halaman yang dikerumuni laron, dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, dia menatapku lurus.
“Kalau kamu mau tau sesuatu tentang aku,” katanya, “nanya aku. Meskipun aku nggak jawab.”
Dia masuk.
Aku pulang, dan di sepanjang jalan aku memikirkan kalimat terakhir itu, dan baru sampai kos aku menyadari bahwa itu bukan penolakan.
Itu instruksi.
Dan aku menghabiskan sisa malam itu untuk menyadari sesuatu yang lebih buruk: aku sudah diberi instruksi, dan aku tetap tidak tahu harus bertanya apa, karena untuk bisa bertanya kamu harus tahu dulu ada apa yang belum kamu ketahui.
Dan daftar yang Gita minta tiga minggu lalu masih kosong.
- 1 Empat Menit
- 2 Parkiran
- 3 Es Teh Punya Orang
- 4 Jaket yang Nggak Jadi
- 5 Konsultan
- 6 Obat buat Orang Lain
- 7 Kayak Kakak
- 8 Sopir
- 9 Dua Jam Hujan
- 10 Dibaca Besoknya
- 11 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 12 Kursi Kosong
- 13 Sabana Fest
- 14 Jadian
- 15 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 16 Baik-baik Saja
- 17 Ada yang Kurang
- 18 Tama
- 19 Papan Taruhan
- 20 Aku Udah di Jalan
- 21 Ngeroyok reading
- 22 Seminggu
- 23 Buku Catatan
- 24 Hujan (Lagi)
- 25 Kenapa Baru Sekarang?
- 26 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 27 Giliran
- 28 Papan Taruhan Jilid Dua
- 29 Jaket
- 30 Aku Males
- 31 Es Teh
- 32 Yang Aku Nggak Tahu
- 33 Konsultan (Lagi)
- 34 Aku Udah di Jalan