Chapter Twenty Four
Hujan (Lagi)
POV: Haru
Aku tidak membawa jas hujan hari itu.
Aku ingin sekali menulis bahwa aku sudah belajar, bahwa setelah semua ini aku jadi orang yang mengecek ramalan cuaca sebelum keluar rumah.
Tidak. Aku tetap orang yang sama. Langitnya cerah jam sepuluh pagi dan aku keluar dengan tas dan satu map dan tidak memikirkan apa pun.
Jam empat sore, langitnya sudah hitam.
Aku sedang di gedung serbaguna, mengurus surat izin penggunaan tempat, dan waktu aku keluar dari ruang administrasi hujannya sudah turun begitu besar sampai halaman depan kelihatan seperti dilihat lewat kaca yang disiram.
Aku berdiri di teras.
Ada belasan orang lain yang juga berdiri di teras, dan semuanya mengeluarkan hp, dan aku ikut mengeluarkan hp, dan kami semua berdiri di sana seperti burung di kabel listrik.
Aku mengecek aplikasi ojek. Tidak ada yang mau. Aku mencoba lagi. Dibatalkan.
Motorku ada di parkiran timur, sembilan puluh meter dari teras ini, dan aku tidak punya jas hujan, dan kalau aku lari ke sana aku akan basah sebelum sampai dan tetap basah sepanjang dua puluh menit perjalanan pulang.
Aku menunggu.
Jam lima, hujannya belum berkurang.
Jam setengah enam, orang-orang di teras mulai berkurang karena dijemput satu per satu, dan aku berdiri di sana sambil memikirkan sesuatu yang tidak enak, yaitu: aku tidak punya siapa-siapa untuk dihubungi.
Bukan karena aku tidak punya teman. Gita ada. Sisil ada. Bagas ada, meskipun menakutkan.
Tapi ada perbedaan antara punya orang yang bisa dihubungi dan punya orang yang sudah ada di jalan sebelum kamu sempat menghubunginya, dan aku baru mengerti perbedaan itu tiga bulan setelah orang yang kedua berhenti melakukannya.
Mobil Avanza abu-abu itu masuk ke halaman jam enam kurang.
Aku mengenalinya sebelum aku sempat berpikir. Aku tidak tahu kenapa aku hafal mobil itu — mobil abu-abu tahun dua ribu sepuluh yang sama dengan ribuan mobil lain — tapi aku hafal, dan aku hafal sejak sebelum aku sadar aku hafal.
Mobilnya berhenti di area bongkar muat.
Pintunya terbuka dan dia turun sambil menarik tudung jaket ke kepala, lalu membuka pintu belakang dan mengeluarkan gulungan besar yang dibungkus plastik.
Spanduk.
Aku berdiri di teras dan melihat dia berjalan bolak-balik empat kali dalam hujan, membawa barang, kehujanan sepenuhnya sejak trip kedua karena tudung jaket tidak berguna dalam hujan seperti itu.
Aku tidak memanggil.
Aku ingin mencatat itu, karena tiga minggu sebelumnya aku pasti memanggil. Aku pasti berteriak namanya dari teras dan melambai dan dia akan datang.
Aku berdiri diam dan membiarkan dia menyelesaikan pekerjaannya.
Dia menandatangani sesuatu di tangan anak perlengkapan, mengembalikan pulpen, dan berbalik ke arah mobil.
Lalu dia melihatku.
Dia berhenti.
Sembilan meter. Hujan di antara kami. Dia di bawah kanopi bongkar muat, aku di teras, dan sembilan meter itu terbuka penuh tanpa atap sama sekali.
“Kamu nggak bawa jas hujan?” katanya, setengah berteriak.
“Enggak!”
“Motor kamu di mana?”
“Timur!”
Dia melihat ke arah parkiran timur. Lalu ke aku. Lalu ke langit, singkat, cara orang menilai berapa lama hujan akan bertahan.
Dan kemudian terjadi sesuatu yang aku pikirkan setiap hari selama dua minggu berikutnya.
Dia bergerak.
Bukan berjalan. Bergerak — satu langkah cepat ke depan, keluar dari kanopi, dan tangan kanannya sudah naik ke ritsleting jaketnya, dan dia sudah menariknya turun sepuluh sentimeter.
Dia mau melepas jaketnya.
Dia mau berlari sembilan meter dalam hujan sambil melepas jaket untuk diberikan ke orang yang berdiri kering di bawah teras.
Dan di tengah langkah kedua, dia berhenti.
Berhenti seperti orang yang menabrak kaca. Kakinya berhenti, tangannya berhenti di ritsleting, dan seluruh badannya diam di tengah hujan selama mungkin dua detik.
Lalu dia menurunkan tangannya.
Dia menarik ritsleting jaketnya kembali ke atas, pelan, sampai penuh.
Dan dia berdiri di sana, basah kuyup, sembilan meter dari aku, dan aku bisa melihat dari cara bahunya turun bahwa yang barusan itu bukan keputusan. Itu perlawanan.
Tubuhnya bergerak lebih cepat dari dia.
Tiga tahun refleks tidak hilang dalam tiga bulan, dan malam itu aku melihat orang berkelahi dengan tubuhnya sendiri di tengah hujan, dan kalah, lalu menang, dan tidak ada yang lebih menyakitkan daripada menonton itu dari jarak sembilan meter.
Dia berjalan ke mobil.
Aku pikir dia akan pergi. Aku sudah menyiapkan diri untuk itu — aku sudah menyusun kalimat di kepala tentang bagaimana itu adil dan bagaimana aku pantas mendapatkannya.
Dia membuka pintu penumpang, mengambil sesuatu dari bawah jok, dan menutup pintunya.
Lalu dia berjalan sembilan meter dalam hujan, ke teras, dan berhenti di anak tangga paling bawah.
Payung lipat. Hitam. Sudah agak rusak di satu jari-jarinya.
Dia menyerahkannya.
“Ini.”
“Kira—“
“Bawa aja.”
“Terus kamu gimana?”
“Aku bawa mobil.”
Aku memegang payung itu dengan dua tangan.
Air menetes dari rambutnya ke keningnya dan dia mengusapnya dengan punggung tangan, sekali, gerakan yang sudah aku lihat ratusan kali dan tidak pernah aku perhatikan.
“Kira, aku—“
“Aku harus balik. Masih ada satu order lagi.”
Dan dia berbalik.
Dia tidak menunggu aku turun. Dia tidak mengantarku ke parkiran timur. Dia tidak berdiri di situ sampai aku aman.
Dia berjalan ke mobilnya, masuk, menyalakan mesin, dan keluar dari halaman.
Aku berdiri di teras memegang payung lipat hitam dan menonton lampu belakang mobil itu hilang di tikungan.
Aku menyeberang ke parkiran timur pakai payung itu dan tetap basah dari lutut ke bawah.
Aku duduk di atas motor selama beberapa menit tanpa menyalakannya, di bawah kanopi parkir sepeda yang cuma menutupi setengah.
Aku baru sadar, sambil duduk di situ, bahwa ini kanopi yang sama.
Aku tidak tahu itu waktu itu. Aku baru tahu berbulan-bulan kemudian, waktu dia akhirnya menceritakan malam itu dengan lengkap dan menyebutkan kanopi sisi timur yang cuma menutupi setengah. Tapi aku sudah merasakan sesuatu yang aneh di tempat itu bahkan sebelum aku tahu, dan aku tidak akan pernah bisa menjelaskan bagian itu.
Aku mengeluarkan buku tulis dari tas.
Sampulnya biru dan sudah agak melengkung karena dibawa ke mana-mana selama dua minggu.
Aku membuka halaman kosong dan menulis, dengan pulpen yang tintanya bermasalah karena kertasnya lembap:
Dia masih mau ngasih payung.
Aku menatap kalimat itu.
Lalu aku menulis di bawahnya:
Dia nggak mau nungguin aku pake payungnya.
Dan di bawahnya lagi, dan ini yang membuat aku duduk di parkiran itu sampai jam tujuh:
Kebaikannya masih ada. Yang hilang harapannya.
Aku menelepon Gita jam sembilan malam.
“Dia hampir ngasih jaketnya,” kataku.
“Terus?”
“Terus dia berhenti.”
Gita diam di ujung sana.
“Ru.”
“Hm.”
“Itu bagus.”
“BAGUS?”
“Iya.” Suaranya tenang seperti biasa. “Kamu tau kenapa dia berhenti?”
“Karena dia udah nggak mau ngurusin aku.”
“Bukan.”
“Terus?”
“Karena dia masih mau,” kata Gita. “Kalau dia udah nggak mau, dia nggak perlu berhenti. Dia tinggal nggak gerak.”
Aku duduk di lantai kamar dengan hp di telinga dan tidak bisa bicara selama beberapa detik.
“Orang nggak perlu ngerem kalau nggak lagi jalan, Ru.”
Aku tidak tidur sampai jam satu.
Bukan karena senang. Aku ingin jujur soal itu — aku tidak pulang malam itu sambil merasa menang. Yang aku rasakan justru lebih berat dari sebelumnya.
Karena kalau Gita benar, artinya orang itu masih menginginkan sesuatu, dan dia sedang menahannya dengan seluruh tenaga yang dia punya, setiap kali dia melihat aku.
Artinya setiap kali kami bertemu, dia berkelahi.
Aku sudah menghabiskan tiga tahun membuat orang itu menunggu tanpa dia pernah mengeluh sekali pun.
Dan sekarang aku sedang menghabiskan dua minggu terakhirnya membuat dia harus melawan dirinya sendiri setiap kali aku muncul.
Aku duduk di kasur jam satu pagi dan untuk pertama kalinya aku memikirkan sesuatu yang tidak pernah aku pertimbangkan sejak Januari:
Mungkin hal paling baik yang bisa aku lakukan untuk orang itu adalah berhenti.
Berhenti betulan. Bukan seminggu. Berhenti, membiarkan dia berangkat tanggal sembilan, dan tidak pernah muncul lagi.
Aku memikirkannya sampai jam dua.
Lalu aku membuka buku tulis biru itu di halaman terakhir, dan menulis satu baris, dan kalimat itulah yang membuat aku memutuskan untuk tidak berhenti — dan yang, tanpa aku tahu waktu itu, akan dibaca orang lain sembilan bulan kemudian:
Kalau aku pergi sekarang, dia bakal mikir dia bener soal semua orang.
Dua belas hari.
- 1 Empat Menit
- 2 Parkiran
- 3 Es Teh Punya Orang
- 4 Jaket yang Nggak Jadi
- 5 Konsultan
- 6 Obat buat Orang Lain
- 7 Kayak Kakak
- 8 Sopir
- 9 Dua Jam Hujan
- 10 Dibaca Besoknya
- 11 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 12 Kursi Kosong
- 13 Sabana Fest
- 14 Jadian
- 15 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 16 Baik-baik Saja
- 17 Ada yang Kurang
- 18 Tama
- 19 Papan Taruhan
- 20 Aku Udah di Jalan
- 21 Ngeroyok
- 22 Seminggu
- 23 Buku Catatan
- 24 Hujan (Lagi) reading
- 25 Kenapa Baru Sekarang?
- 26 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 27 Giliran
- 28 Papan Taruhan Jilid Dua
- 29 Jaket
- 30 Aku Males
- 31 Es Teh
- 32 Yang Aku Nggak Tahu
- 33 Konsultan (Lagi)
- 34 Aku Udah di Jalan