← Aku Udah di Jalan

Chapter Twenty

Aku Udah di Jalan

POV: Haru

Butuh empat hari sebelum aku berani mengirim chat.

Empat hari itu aku habiskan untuk menyusun kalimat pembuka, dan aku menyusun kira-kira empat puluh versi, dan semuanya salah karena semuanya berbunyi seperti orang yang sedang meminta sesuatu.

ra bisa ketemu? — meminta.
ra aku mau ngomong — meminta.
ra ada waktu nggak? — meminta.

Aku baru menyadari, pada hari keempat, bahwa aku tidak punya satu pun format percakapan dengan orang itu yang tidak dimulai dengan aku membutuhkan sesuatu.

Tiga tahun, dan aku tidak punya cara untuk menyapa dia.

Akhirnya aku mengetik:

ra
aku mau traktir kamu makan
bukan karena apa2
aku jemput ya. sabtu jam 6.

Dikirim jam sebelas malam.

Dibaca jam tujuh pagi.

Oke.

Satu kata, dan aku membaca satu kata itu mungkin tiga puluh kali sepanjang hari Kamis dan Jumat, mencari sesuatu di dalamnya, dan tidak menemukan apa-apa, karena memang tidak ada apa-apa di dalam satu kata.


Sabtu.

Aku menyiapkan segalanya sejak siang.

Aku memilih tempat makan tiga hari sebelumnya — bukan warung nasi goreng Jalan Cendana, karena aku tidak sanggup, dan bukan kantin FT, karena itu terlalu biasa. Aku memilih tempat baru di dekat perempatan Kalibaru, yang menurut ulasan enak dan tidak terlalu ramai.

Aku mencuci motorku. Aku betul-betul mencuci motorku, sendiri, jam dua siang, dengan selang tetangga kos.

Aku membeli helm.

Ini bagian yang aku pikirkan lama. Aku punya satu helm, punyaku sendiri. Kalau aku menjemput orang, orang itu butuh helm, dan helm cadangan yang biasanya menggantung di spion motor Kira adalah helm abu-abu muda yang selalu pas di kepalaku.

Aku pergi ke toko di Jalan Ronggolawe hari Jumat sore dan berdiri di depan rak selama dua puluh menit.

Aku tidak tahu ukuran kepalanya.

Aku berdiri di depan rak helm dan menyadari bahwa aku tidak tahu ukuran kepala orang yang selama tiga tahun menyediakan helm yang pas di kepalaku, dan aku akhirnya mengambil yang paling besar karena logikanya laki-laki kepalanya lebih besar, dan itu bukan pengetahuan, itu tebakan, dan aku membayar dengan perasaan yang aneh sekali di dada.

Jam lima sore Sabtu, semuanya siap.

Helm baru di spion. Motor bersih. Bensin penuh. Tempat makan sudah aku telepon untuk memastikan buka.

Jam lima lewat lima belas, hp-ku berbunyi.

Rara
Kak, izin nanya. Vendor sound minta DP hari ini sebelum jam 6 katanya. Kalau lewat jam 6 slotnya dilepas. Ini gimana ya kak


Aku ingin menceritakan dua jam berikutnya dengan jujur, termasuk bagian yang membuat aku terlihat buruk, karena kalau aku memotong bagian itu maka seluruh bab ini jadi bohong.

Aku menelepon Rara. Lalu aku menelepon Sisil untuk urusan transfer. Lalu ternyata rekening kepanitiaan butuh dua tanda tangan dan Sisil ada di rumah orang tuanya di luar kota, jadi kami harus mencari cara lain, dan cara lain itu adalah aku menalangi dulu pakai uangku sendiri, dan uangku tidak cukup, jadi aku menelepon Bagas.

Bagas mengangkat setelah panggilan kedelapan.

Kami menghabiskan empat puluh menit menyelesaikan itu.

Selesai jam enam lewat dua puluh.

Dan aku baru melihat jam pada jam enam lewat dua puluh.

Aku ingin sekali menulis bahwa aku panik. Aku memang panik — aku berdiri dari kasur dan mengambil kunci motor dan menjatuhkan hp sekali.

Tapi bagian yang jujur adalah: selama empat puluh menit itu, aku tidak sekali pun ingat.

Bukan lupa yang seperti aduh aku lupa. Lupa yang lebih dalam dari itu. Ada seluruh bagian di kepalaku yang tahu bahwa aku punya janji jam enam, dan bagian itu tidak menyala sama sekali selama empat puluh menit, karena selama tiga tahun bagian itu tidak pernah perlu menyala.

Kalau aku telat, dia akan menunggu.

Bagian di kepalaku itu tidak pernah dimatikan. Aku cuma tidak pernah tahu bahwa bagian itu ada.


Aku mengambil hp.

Sudah ada satu chat masuk, jam enam lewat tiga.

Kira
Aku udah di depan.

Aku udah di depan.

Bukan aku udah di jalan.

Aku menatap empat kata itu sambil berdiri di tengah kamar dengan kunci motor di tangan dan rambut yang belum aku sisir, dan aku merasakan sesuatu yang belum punya nama, dan baru berbulan-bulan kemudian aku tahu namanya:

Dia berhenti berbohong untukku.

Dia tidak lagi merasa perlu menyamarkan bahwa dia sudah sampai duluan. Bukan karena dia jadi jujur.

Karena sudah tidak penting lagi bagaimana aku menafsirkan dia.

Aku mengetik dengan tangan gemetar:

Aku udah di jalan.

Aku menekan kirim.

Lalu aku berdiri di kamar kos itu, dengan hp di tangan, dengan sandal yang bahkan belum aku pakai, dan menyadari apa yang baru saja aku lakukan.

Aku belum keluar kamar.

Aku belum menyalakan motor. Aku belum memakai jaket. Aku bahkan belum menyisir rambutku.

Dan aku mengetik empat kata itu dengan refleks yang begitu cepat sampai aku tidak sempat memilihnya — refleks yang aku pelajari dari orang yang sedang menunggu di depan kos aku sekarang.

Tiga tahun aku menerima empat kata itu ratusan kali. Ratusan.

Dan tidak sekali pun aku memeriksa.

Aku memakai jaket dan berlari.


Dia berdiri di seberang jalan, di bawah tiang listrik, di samping motornya.

Aku tidak tahu apa yang aku harapkan. Mungkin aku berharap dia sedang duduk di jok sambil main hp seperti orang normal yang sedang menunggu.

Dia berdiri. Tegak. Tangan di saku. Menghadap ke arah pagar kosku.

Dia sudah berdiri seperti itu selama tiga puluh delapan menit.

“Ra—“

“Hai.”

“Aku—“ Aku berhenti di depannya, napasku pendek, dan seluruh empat puluh versi kalimat pembuka yang aku susun selama empat hari lenyap sekaligus. “Maaf. Maaf banget. Ada urusan sponsor, DP-nya harus masuk sebelum jam enam, terus rekening kepanitiaan butuh dua tanda tangan, terus Sisil lagi di luar kota—“

“Nggak apa-apa.”

Dia mengatakannya sebelum aku selesai.

Dan aku berdiri di trotoar itu, di bawah tiang listrik, dan mendengar dua kata itu untuk pertama kalinya dalam hidupku.

Bukan pertama kalinya dia mengucapkannya. Ratusan kali. Nggak apa-apa waktu aku telat. Nggak apa-apa waktu aku lupa. Nggak apa-apa waktu aku menyuruhnya menunggu di luar kos orang lain selama satu setengah jam.

Pertama kalinya aku mendengarnya.

Karena sekarang aku tahu bunyinya seperti apa dari sisi yang lain.

“Kira, aku beneran minta maaf—“

“Haru.” Suaranya biasa saja. Tidak dingin, tidak hangat. “Nggak apa-apa. Serius.”

“Kamu nunggu tiga puluh delapan menit.”

Dia diam sebentar.

“Kamu ngitung?”

“Iya.”

Dan untuk satu detik — satu, aku menghitungnya, karena sekarang aku juga menghitung segalanya — ada sesuatu yang lewat di wajahnya. Sesuatu yang muncul lalu ditarik kembali, seperti orang yang refleks mengulurkan tangan lalu ingat.

Lalu hilang.

“Yaudah,” katanya. “Jadi makan?”


Aku mengulurkan helm baru itu.

“Aku jemput kamu,” kataku. “Aku yang bawa. Aku udah bilang kan aku jemput.”

Dia melihat helm itu. Melihat motorku. Melihat helm itu lagi.

“Motor aku udah di sini.”

“Ya nanti kita balik ke sini.”

“Itu muter.”

“Nggak apa-apa.”

Aku mendengar diriku mengucapkan dua kata itu dan langsung ingin menariknya kembali.

Dia mengambil helm itu.

Dia memakainya, dan helmnya kebesaran — jelas kebesaran, longgar di rahang, dan waktu dia mengencangkan talinya dia harus menariknya sampai lubang paling ujung.

Dia tidak berkomentar.

Aku menaiki motor dan dia duduk di belakang, dan sepanjang perjalanan dua puluh menit ke tempat makan di dekat perempatan Kalibaru, dia tidak berpegangan sama sekali. Tangannya di sisi jok, kiri dan kanan, seperti orang yang naik ojek dengan orang asing.

Aku menyetir terlalu pelan dan tahu aku menyetir terlalu pelan dan tidak bisa berhenti.

Di lampu merah Kalibaru, aku berkata, setengah berteriak karena helm:

“Ra, kamu nggak pegangan?”

“Nggak apa-apa.”

Tiga kali.

Aku menghitung tiga kali dalam empat puluh menit.


Makannya berjalan baik.

Itu bagian yang paling tidak aku sangka.

Aku sudah menyiapkan diri untuk kecanggungan, untuk hening yang panjang, untuk dia menjawab pendek-pendek dan aku bicara sendirian.

Dia tidak begitu. Dia menjawab pertanyaan. Dia bertanya balik. Dia tertawa dua kali — pendek, tapi asli. Dia bercerita tentang mesin cetak yang rusak dan tentang Mas Yudi yang mengancam menjual mesin itu setiap minggu selama tiga tahun.

Kami mengobrol satu jam empat puluh menit dan tidak ada satu momen pun yang tidak enak.

Dan itu yang membuat aku hampir tidak bisa menyelesaikan makanku.

Karena aku sudah pernah punya percakapan seperti ini ratusan kali. Persis seperti ini. Ringan, mengalir, menyenangkan.

Cuma ada satu perbedaan, dan perbedaannya sangat kecil, dan aku baru menangkapnya sekitar menit keempat puluh.

Dia tidak menawarkan apa pun.

Dulu, dalam percakapan seperti ini, dia akan menyisipkan hal-hal kecil sepanjang jalan. Nanti aku benerin. Besok aku bawain. Aku aja yang urus. Nanti aku cek.

Aku tidak pernah menghitung itu karena tidak ada yang menghitung udara.

Malam itu, satu jam empat puluh menit, tidak ada satu pun.

Dia menjawab semua yang aku tanyakan, dan dia jujur, dan dia hadir. Dia cuma berhenti menawarkan.

Dan aku duduk di seberangnya sambil mengangguk dan tertawa di tempat yang tepat, dan seluruh dadaku terasa seperti ruangan yang perabotannya sudah diangkut sedikit demi sedikit selama berbulan-bulan sampai tinggal dua kursi dan satu meja.


Waktu bayar, aku menang, karena aku memang datang untuk itu.

Waktu keluar, kami berdiri di parkiran, dan aku mengulurkan tangan untuk mengambil helm dari tangannya dan jariku menyentuh punggung tangannya.

Dia mundur satu langkah.

Bukan menghindar dengan kasar. Satu langkah, kecil, hampir sopan, cara orang memberi ruang di lift.

Tangan aku masih di udara.

“Maaf,” kataku, dan aku tidak tahu untuk apa aku minta maaf.

“Nggak apa-apa.”

Empat kali.


Dia mengantarku sampai depan kos meskipun motornya memang diparkir di situ dari tadi, jadi sebetulnya bukan mengantar, cuma pulang bersama.

Di depan pagar, dia menyerahkan helm baru itu.

“Makasih makannya.”

“Ra.”

“Hm.”

Aku sudah menyiapkan sepuluh kalimat sepanjang perjalanan pulang dan tidak satu pun yang berani keluar.

“Nggak jadi,” kataku.

Dia mengangguk, dan menyalakan motornya, dan pergi.

Aku berdiri di depan pagar sampai suara motornya hilang di ujung gang.

Lalu aku masuk, duduk di lantai, dan membuka hp untuk mengecek jam.

Dan di layar, chat terakhir kami masih terbuka.

Aku udah di depan.
Aku udah di jalan.

Berdampingan. Punya dia di atas, punyaku di bawah.

Yang satu benar. Yang satu bohong.

Aku menatap dua baris itu sampai layarnya redup, dan yang paling menyakitkan bukan bahwa aku berbohong.

Yang paling menyakitkan adalah bahwa aku berbohong dengan sangat lancar, tanpa berpikir, tanpa rasa bersalah sedikit pun pada detik aku mengetiknya — dan itu berarti selama tiga tahun, setiap kali dia mengetik kalimat itu, dia juga melakukannya dengan lancar.

Kebohongan yang sudah selancar itu bukan kebohongan yang baru dimulai kemarin.

Itu kebohongan yang sudah dilatih ribuan kali sampai jadi refleks, dan yang melatihnya adalah aku, karena tidak sekali pun dalam tiga tahun aku memeriksanya.


Bagas mengirim chat jam sebelas malam.

Bagas
ru
td aku nggak sengaja keceplosan pas nelfon soal DP
kira udah bilang ke kamu belom?

bilang apa

dia keterima magang. cikarang. 6 bulan.

berangkat februari

bentar lagi banget ru