← Aku Udah di Jalan

Chapter Eighteen

Tama

POV: Haru

Tama mengajakku makan hari Minggu sore, di tempat yang kami pilih bersama waktu bulan pertama, yang kami sebut “tempat kita” dengan nada bercanda dan lama-lama tanpa nada bercanda.

Rumah makan kecil, meja kayu, kipas angin dinding, dan tembok yang ditempeli foto-foto pemiliknya waktu muda.

Dia sudah duduk waktu aku sampai. Itu sudah biasa; dia selalu sampai duluan lima menit, tidak pernah lebih, karena dia bilang datang terlalu awal itu membuat orang lain merasa terburu-buru.

Dia sudah memesankan minumku. Teh panas.

Aku duduk dan langsung bicara, karena aku selalu langsung bicara. Aku bercerita tentang rapat kemarin, tentang Bagas yang mengusulkan konsep panggung yang menurutku mustahil, tentang anggaran yang dipotong empat juta oleh pihak kampus.

Dia mendengarkan. Dia selalu mendengarkan dengan baik; dia tidak menyela dan dia menunggu sampai kalimat terakhir benar-benar selesai, bukan sampai jeda pertama.

Waktu aku selesai, dia berkata:

“Ru, aku mau ngomong sesuatu.”

Dan aku tahu.

Aku ingin mencatat itu karena aku tidak ingin membuat diriku lebih polos dari yang sebenarnya: aku tahu, dari empat kata itu, sebelum dia melanjutkan.

“Oke,” kataku.


“Aku pikir kita berhenti aja.”

Dia mengatakannya tanpa pembukaan panjang, dan aku menghargai itu sekarang, meskipun waktu itu rasanya seperti pintu yang dibuka terlalu cepat.

“Kenapa?”

“Bukan karena kamu salah.”

“Ya semua orang bilang gitu.”

“Iya.” Dia tersenyum sedikit. “Tapi aku beneran.”

Kipas angin dinding berputar. Ada bapak-bapak di meja seberang yang sedang menonton bola di hp dengan volume terlalu keras.

“Aku nggak ngerti,” kataku. “Kita nggak pernah berantem. Sekali pun.”

“Iya.”

“Kamu nggak pernah keliatan kesel.”

“Aku nggak kesel.”

“Terus kenapa?”

Tama memutar gelasnya sekali di atas meja. Aku baru menyadari malam itu bahwa dia selalu melakukan itu sebelum mengatakan hal yang sulit, dan bahwa aku baru menyadarinya di hari terakhir.

“Aku ngitung sesuatu,” katanya. “Dan aku nggak enak nyeritain ini, tapi kalau aku nggak cerita, kamu bakal mikir aku bosen. Dan aku nggak bosen.”

“Ngitung apa?”

“Dua bulan terakhir, tiap kita ketemu, kamu selalu nyeritain dia.”

Aku membuka mulut untuk bertanya siapa.

Aku tidak jadi.

Karena aku tahu siapa, dan menanyakannya berarti berbohong di depan orang yang sedang bersikap jujur padaku, dan aku belum sejahat itu.

“Aku nggak—“ Aku berhenti. “Aku nggak sesering itu.”

“Kamu nggak sadar. Aku tau kamu nggak sadar.” Dia mengangguk sekali. “Awalnya aku juga nggak sadar. Aku baru sadar pas bulan Desember, waktu kamu cerita soal galon.”

“Galon.”

“Galon sekre yang habis. Kamu cerita empat puluh menit.”

“Itu karena aku kesel—“

“Kamu cerita empat puluh menit tentang galon,” katanya, pelan, “dan tiga puluh lima menit di antaranya isinya tentang gimana dulu galonnya nggak pernah habis.”

Aku memegang gelas teh panas dengan dua tangan dan tidak meminumnya.

“Terus habis itu aku mulai merhatiin,” lanjut Tama. “Backdrop. Proyektor. Percetakan. Jas hujan. Tiap kali ada yang salah, kamu selalu nyampe ke tempat yang sama. Nggak pernah nyebut namanya. Kamu bilang ‘dulu tuh nggak gini’.”

“Itu bukan berarti—“

“Ru.”

“Apa.”

“Kamu tau nggak, aku pernah nanya ke dia.”

Kipas angin berputar.

“Nanya apa?”

“Nanya kalian pacaran atau nggak.” Tama menatap gelasnya. “Waktu di kantin FT. Hari pertama aku ketemu dia, sebelum aku minta nomor kamu.”

Ada bunyi di telingaku yang aku kira dari kipas angin, dan ternyata bukan.

“Dia bilang apa,” kataku.

“Dia bilang temenan dari semester dua.”

“Terus?”

“Terus aku nanya lagi. Cuma temenan?”

Aku menunggu.

“Dia bilang iya.”


Aku ingin menuliskan apa yang terjadi di dalam dadaku pada detik itu, tapi aku tidak yakin bisa.

Yang paling dekat: seperti waktu kamu turun tangga dalam gelap dan mengira masih ada satu anak tangga lagi, dan ternyata tidak ada, dan kakimu mendarat di lantai yang datar dengan bunyi yang salah.

“Kenapa kamu nanya?” kataku akhirnya.

“Karena aku nggak mau nabrak apa-apa.”

“Dan kalau dia bilang enggak?”

“Aku nggak bakal minta nomor kamu.”

Dia mengatakannya sesederhana orang menyebutkan alamat.

“Kamu bakal mundur? Gitu aja?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Tama mengangkat wajahnya.

“Karena aku nggak mau jadi orang kedua,” katanya. “Aku udah pernah, dan aku nggak mau lagi. Dan aku pikir aku aman, karena aku udah nanya, dan jawabannya jelas.”

Dia tersenyum, dan senyumnya capek, dan itu bagian yang membuat semuanya lebih buruk.

“Ternyata jawabannya nggak jelas,” katanya. “Ternyata aku nanya ke orang yang salah.”


Aku tidak menangis.

Ini bagian yang aku pikirkan berbulan-bulan setelahnya, karena seharusnya aku menangis. Orang menangis waktu diputusin. Aku menangis waktu kucingku mati, aku menangis waktu proposal skripsiku ditolak, aku menangis waktu nonton iklan.

Aku duduk di rumah makan itu selama mungkin dua menit setelah dia selesai bicara, dan yang aku rasakan adalah kaget, dan malu, dan sesuatu yang sangat mirip dengan lega, dan tidak satu pun dari ketiganya menghasilkan air mata.

Tama memperhatikan itu.

Tentu saja dia memperhatikan. Dia orang yang memperhatikan segalanya, dan aku baru benar-benar memahami hal itu pada malam ketika dia berhenti melakukannya untukku.

“Nah,” katanya, pelan.

“Apa.”

“Itu.”

“Apa sih.”

“Kamu nggak nangis, Ru.”

Aku membuka mulut untuk membantah, dan tidak ada yang keluar.

“Aku bukan lagi nuduh,” katanya cepat. “Beneran. Aku juga nggak nangis. Kita berdua nggak nangis, dan menurut aku itu jawaban yang paling jujur yang bisa kita dapet malam ini.”

Dia menarik dompetnya.

“Aku bayar,” kataku.

“Aku udah bayar pas dateng.”

Tentu saja.


Kami keluar bersama karena akan lebih aneh kalau tidak.

Di parkiran, dia memasang helm, lalu berhenti, dan berkata satu hal terakhir yang aku bawa pulang dan pikirkan sampai jam tiga pagi.

“Ru.”

“Hm.”

“Boleh aku ngomong satu hal? Terus habis ini aku nggak akan ngomongin dia lagi selamanya.”

“Boleh.”

Dia memilih kata-katanya. Dia selalu memilih kata-katanya, dan malam itu dia memilih lebih lama dari biasanya.

“Waktu kita ke pameran itu,” katanya. “Yang di kota sebelah.”

“Iya.”

“Dia yang nyetir.”

“Iya.”

“Empat jam kita di dalem. Aku ngitung pas pulang.” Dia memasang tali helmnya. “Perginya satu jam empat puluh. Baliknya satu jam sepuluh. Nunggunya empat jam.”

“Iya.”

“Tujuh jam, Ru.”

Aku berdiri di parkiran itu dan tidak bisa menemukan satu kalimat pun.

“Dan waktu kita keluar,” lanjutnya, “kamu nanya dia ngapain aja, dan dia bilang ngerjain tugas, dan kamu bilang oh.”

“Terus kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa.” Dia menurunkan kaca helmnya, lalu menaikkannya lagi. “Cuma waktu itu aku sempet mikir, kalau ada orang yang mau nunggu aku tujuh jam di parkiran, aku bakal seumur hidup nggak bisa lupa.”

Dia menyalakan motornya.

“Kamu udah lupa sebelum kita nyampe rumah,” katanya. “Aku inget karena aku yang duduk di sebelah kamu.”

Dan dia pergi, dengan sopan, tanpa menaikkan suara sekali pun sepanjang malam itu, dan aku berdiri sendirian di parkiran rumah makan yang kami sebut tempat kita, dan tidak menangis, dan pulang.


Aku tidak tidur sampai jam tiga.

Bukan karena Tama.

Aku duduk di kasur dengan lampu mati dan menghitung.

Tujuh jam, satu malam.

Lalu aku mulai menghitung malam-malam yang lain, dan itu kesalahan besar, karena begitu kamu mulai menghitung kamu tidak bisa berhenti sampai selesai, dan aku tidak pernah tahu berapa banyak yang harus dihitung.

Parkiran depan kos Tama, sore itu, waktu aku cuma mau “ambil file”. Aku tidak tahu berapa lama. Aku tidak pernah bertanya, dan dia bilang tidak apa-apa, dan aku percaya karena percaya itu gratis.

Malam obat itu. Aku di dalam, dia di luar.

Rumah sakit waktu ibuku operasi. Sembilan jam. Dia yang membelikan makan untuk seluruh keluargaku dan aku baru ingat itu jam tiga pagi tahun berikutnya.

Dan yang paling akhir, yang paling tidak mau aku sentuh dan tetap aku sentuh juga karena jam tiga pagi tidak ada yang bisa dihindari:

Malam hujan itu.

Aku pulang duluan sebelum hujan besar. Hp-ku mati dari jam tujuh. Besoknya aku bertanya kamu nggak nunggu lama kan???? dengan empat tanda tanya, seperti anak kecil yang bertanya sambil menutup mata.

Dan dia menjawab Nggak apa-apa.

Bukan “enggak”.

Nggak apa-apa.

Aku duduk di kasur jam tiga pagi dan akhirnya mengerti, tiga bulan terlambat, bahwa “nggak apa-apa” itu bukan jawaban dari pertanyaan apakah dia menunggu lama.

Itu jawaban dari pertanyaan yang tidak aku tanyakan.

Dan aku sudah mendengar dia mengucapkan dua kata itu ratusan kali dalam tiga tahun, ratusan, sampai aku berhenti mendengarnya sebagai kalimat.

Aku mengambil hp.

Aku membuka chatnya yang putih.

Aku mengetik: ra

Aku menghapusnya.

Aku mengetik: kamu di mana

Aku menghapusnya.

Aku menaruh hp dan berbaring dan menatap langit-langit sampai jam empat, dan yang aku pikirkan selama satu jam itu bukan bagaimana caranya minta maaf.

Yang aku pikirkan adalah: aku bahkan tidak tahu apa yang harus aku minta maafkan.

Aku tidak tahu urutannya. Aku tidak tahu tanggalnya. Aku tidak tahu berapa jam.

Aku cuma tahu angkanya besar, dan bahwa selama ini ada seseorang yang menyimpan angka itu sendirian.