← Aku Udah di Jalan

Chapter Thirty One

Es Teh

POV: Haru

Cutinya turun di pengajuan ketiga.

Tiga hari. Jumat, Sabtu, Minggu, dan dia harus sudah kembali Senin subuh untuk shift pagi.

Dia memberitahuku lewat telepon Rabu malam, dengan nada orang yang sedang melaporkan cuaca.

“Cuti aku turun.”

“HAH?”

“Jumat sampai Minggu.”

“KIRA.”

“Ru, jangan teriak, aku di dapur bareng orang.”

“AKU TERIAK KALAU AKU MAU TERIAK.”

Aku mendengar suara orang tertawa di belakangnya. Beberapa orang. Lalu suara Kira, jauh dari corong, mengatakan sesuatu yang tidak jelas, lalu tawanya makin keras.

“Mereka ketawa apa?”

“Nggak apa-apa.”

“Kira Adiatma.”

“Mereka bilang suara kamu kedengeran sampai wastafel.”


Aku sampai di terminal jam sepuluh kurang.

Busnya jam sepuluh lewat sepuluh, dan aku sampai jam sepuluh kurang seperempat, dan aku duduk di kursi besi di dekat jalur kedatangan sambil memegang dua helm.

Dua helm.

Hitam dan abu-abu, keduanya di pangkuanku, di kursi besi terminal, dan seorang bapak petugas kebersihan lewat dua kali dan melirik dua kali dan aku tidak peduli.

Jam sepuluh lewat delapan, hp-ku berdering.

“Ru?”

“Iya.”

“Bus aku udah masuk terminal. Lima menit lagi turun.”

Dan aku mengatakannya.

Aku tidak menyusunnya. Aku tidak merencanakannya. Empat kata itu keluar dari mulutku sebelum aku sempat menyadari empat kata apa yang sedang aku ucapkan:

“Aku udah di jalan.”

Aku mendengar dia berhenti bernapas di ujung sana.

Dan aku — duduk di kursi besi terminal dengan dua helm di pangkuan — mendengar kalimatku sendiri memantul balik, dan menyadari apa yang barusan terjadi.

“Kira.”

“Hm.”

“Aku beneran udah di jalan.”

“Iya.”

“Aku serius. Aku beneran—“ Aku berdiri. “Aku udah di terminal. Aku di jalur kedatangan. Aku duduk deket warung yang jual kopi itu.”

“Ru.”

“Aku nggak lagi bohong. Sumpah. Aku nggak lagi—“

“Ru,” katanya. “Aku tau.”

“Kamu nggak bisa tau, kamu di dalem bus.”

“Aku tau,” katanya, “karena kamu langsung ngejelasin.”

Dan dia menutup telepon.

Dan tiga menit kemudian dia keluar dari pintu bus dengan ransel di satu bahu, dan aku berdiri di jalur kedatangan memegang dua helm, dan aku tidak berlari ke arahnya karena kakiku tidak mau bergerak.

Dia yang berjalan.

Dia berhenti di depanku, mengambil helm hitam dari tanganku, dan memakainya.

“Kamu yang bawa?” tanyanya.

“Aku yang bawa.”

“Oke.”


Kru sekre menyerbu hari Sabtu.

Aku tidak mengundang mereka. Aku ingin mencatat itu untuk arsip pribadi: aku tidak mengundang siapa pun. Bagas mengetahui jadwal cutinya entah dari mana — belakangan terbukti dari Fajar, yang bertemu Bagas di warung dan tidak bisa menyimpan rahasia lebih dari empat puluh detik — dan mengumumkannya di grup dengan tiga belas tanda seru.

Jadi hari Sabtu jam satu siang, kami berdua duduk di kantin FT, di meja pojok dekat tiang, dan pukul satu lewat sepuluh ada sembilan orang di meja itu.

Kantin FT hari Sabtu itu sepi, jadi kami menggabungkan dua meja, dan mbaknya harus mencatat pesanan sembilan orang dan mengeluh sepanjang prosesnya dan tetap mengerjakannya.

“Kira,” kata Bagas, sambil menunjuk dengan sendok. “Kamu item.”

“Iya.”

“Kamu kayak orang yang punya kerjaan beneran.”

“Aku emang punya kerjaan beneran.”

“Iya tapi sekarang kelihatan.” Bagas menyandarkan punggung. “Dulu kamu kayak orang yang lagi nunggu sesuatu terus.”

Meja itu diam sepersekian detik.

Bagas tidak menyadari apa yang baru saja dia katakan. Bagas tidak pernah menyadari apa yang dia katakan. Itu bakatnya.

Sisil mengetik sesuatu di hp.


Pesanan datang jam setengah dua.

Aku memesan ayam geprek sambal untukku, ayam geprek tanpa sambal untuk dia, es teh untuk dia, teh panas untukku.

Mbaknya menaruh empat piring dan empat gelas dan berhenti.

“Mbak,” katanya ke aku, dengan dahi berkerut. “Yang nggak pedes ini buat siapa?”

“Buat dia.”

“Oh.” Mbaknya menoleh ke Kira, lalu ke aku, lalu ke Kira lagi. “Biasanya kebalik ya, Mas.”

Kira tidak menjawab.

“Biasanya Mas yang pedes,” lanjut mbaknya, sambil menumpuk nampan. “Mbaknya yang nggak. Terus Mbaknya sering nuker.”

Dan dia pergi ke dapur.

Meja itu sunyi selama beberapa detik.

“Bentar,” kata Wildan. “Bentar bentar bentar.”

“Wildan,” kata Sisil.

“NGGAK, AKU MAU NGERTI.” Wildan meletakkan sendoknya. “Jadi selama tiga tahun—“

“Wildan.”

“—selama tiga tahun Haru nuker piring, terus Kira makan yang pedes, terus Kira nggak bisa makan pedes?”

Semua mata di meja itu menoleh ke Kira.

Kira mengambil sendok dan mulai makan ayam gepreknya yang tanpa sambal.

“Nggak apa-apa,” katanya.

“ITU BUKAN JAWABAN.”

“Wildan,” kata Bagas, dengan suara yang tiba-tiba tidak bercanda sama sekali, “makan.”


Aku sudah tahu tentang sambal itu sejak bulan Januari.

Buku biru itu ada di tasku hari itu — buku itu selalu ada di tasku sejak Januari — dan di halaman ketiga ada barisnya, ditulis dengan huruf besar dan diberi kotak:

Nggak bisa makan pedas. Sama sekali. (bukan “kurang suka”)
STOP NUKER PIRING.

Yang tidak aku tulis, karena waktu itu aku belum tahu, adalah bahwa dia juga tidak bisa minum yang terlalu manis.

Aku mengetahuinya di Cikarang, bulan Maret, waktu dia membeli teh di warung soto dan meminta setengah gula dan mbaknya salah dan dia meminumnya sampai habis tanpa berkata apa-apa dan aku memperhatikan lehernya bergerak dengan cara yang aneh setiap kali menelan.

Aku menambahkannya di halaman ketiga, di bawah baris sambal, dengan tinta yang berbeda:

Teh: setengah gula. Kalau kemanisan dia tetep minum. JANGAN BIARIN.

Jadi hari itu, di kantin FT, waktu es teh itu datang, aku melakukan sesuatu yang sudah aku rencanakan sejak Rabu malam.

Aku menarik gelas es teh itu ke sisiku.

Dan menggeser teh panasku — teh panas, setengah gula, yang aku pesan khusus dan aku aduk sendiri di dapur kantin karena mbaknya sibuk — ke depannya.

Dia melihat gelas itu.

Lalu dia melihat aku.

“Ru.”

“Hm.”

“Ini teh.”

“Iya.”

“Setengah gula?”

“Setengah gula.”

Dan dia tidak bergerak selama beberapa detik, dan seluruh meja itu — sembilan orang — memperhatikan dua gelas minuman seolah-olah sedang menonton pertandingan.

“Kamu inget,” katanya.

“Aku catat.”

“Kamu—“

“Aku catat, Ra.” Aku mengangkat bahu. “Aku jelek banget ingetan. Aku udah bilang dari dulu.”

Dan es tehnya aku minum, dan gigiku ngilu di tegukan ketiga, dan aku memegang pipiku dan meringis, dan dia langsung mengulurkan tangan untuk menarik gelas itu—

—dan aku menahan pergelangannya.

“Nggak usah,” kataku.

Dia berhenti.

Dan aku melihat sesuatu terjadi di wajahnya yang aku tidak tahu namanya sampai malamnya: dia menurunkan tangannya, dan bahunya turun, dan dia menghela napas seperti orang yang baru saja diizinkan berhenti mengangkat sesuatu yang berat.

Itu kalimat yang dia minta di anak tangga teras jam satu pagi.

Kalau aku mulai nawarin sesuatu yang nggak kamu minta, kamu bilang ‘nggak usah’.

Itu yang pertama kali aku ucapkan.

Dia meminum teh panasnya.

Setengah gula.

Sampai habis.


Yang terjadi setelahnya adalah salahku sepenuhnya dan aku tidak menyesal.

Bagas sedang bercerita tentang sesuatu. Rara sedang memotret makanan. Wildan masih belum selesai memproses urusan sambal dan sesekali bergumam sendiri.

Dan Kira duduk di sebelahku memegang gelas teh panas setengah gula dengan dua tangan, menunduk sedikit, dan telinganya merah.

Merah sekali. Sampai ke belakang. Di siang hari, di kantin, tanpa sebab yang bisa ditunjuk oleh siapa pun kecuali aku.

Dan aku — aku yang berisik, aku yang mulutnya selalu lebih cepat dari kepalanya, aku yang selama tiga tahun menyentuh orang itu ratusan kali tanpa arti apa pun — aku mengulurkan tangan, memegang kerah kemejanya dengan dua tangan seperti orang yang membetulkan kerah, dan menariknya.

Aku menciumnya di kantin FT jam dua siang di depan sembilan orang.

Bukan lama. Tiga detik, mungkin empat.

Waktu aku melepaskannya, dia tidak bergerak sama sekali.

Dia duduk di situ dengan mata terbuka dan tangan masih memegang gelas dan tidak ada satu pun bagian dari tubuhnya yang tahu harus melakukan apa.

“Ra?”

“Hm.”

“Kamu nggak apa-apa?”

“Hm.”

“Kira.”

“Hm.”

“Itu tiga kali.”

Dan seluruh kantin meledak.

Wildan jatuh — bukan dari kursi kali ini, dia justru berdiri dulu baru jatuh, yang secara teknis lebih mengesankan. Rara menjerit dan langsung menutup mulutnya dan menjerit lagi. Bagas menggebrak meja dan menumpahkan es tehnya sendiri ke pangkuannya sendiri dan tidak menyadarinya selama sepuluh detik penuh.

Sisil mengeluarkan hp-nya, mengetik, dan berkata dengan volume normal:

“Dua puluh dua Mei, jam empat belas lewat sembilan. Kantin FT.”

“SISIL KAMU NYATET?”

“Aku nyatet yang penting.”


Dia diam sampai kami keluar dari kantin.

Dia diam di parkiran. Dia diam waktu memakai helm. Dia diam selama sepuluh menit pertama di jalan.

Aku yang membawa motor. Dia di belakang, dan tangannya di pinggangku — dia sudah mulai berpegangan sejak bulan Maret, meskipun awalnya cuma di sisi jaket dan butuh dua bulan untuk sampai ke pinggang.

Di lampu merah Kalibaru, dia akhirnya bicara.

“Ru.”

“Hm.”

“Kamu tuh nggak boleh gitu di tempat umum.”

“Kenapa?”

“Karena aku nggak bisa mikir setelahnya.”

“Bagus.”

“Bagus?”

“Iya.” Aku menoleh sedikit. “Tiga tahun kamu mikir terus. Sekarang giliran nggak mikir.”

Dia diam.

Lampunya hijau dan aku jalan dan dia tidak mengatakan apa-apa sampai perempatan berikutnya.

Lalu, di belakangku, pelan sekali, dengan suara yang hampir tertelan angin:

“Aku bakal balik bulan Agustus.”

“Aku tau.”

“Sembilan Agustus.”

“Aku tau, Ra. Aku ngitung.”

Dan tangannya di pinggangku mengencang sedikit, satu kali, cuma sebentar, dan aku menyetir sisa jalan pulang dengan senyum yang tidak bisa aku hilangkan meskipun aku memakai helm dan tidak ada yang bisa melihat.