Chapter Sixteen
Baik-baik Saja
POV: Kira
Ini bab terakhir dari kepalaku untuk waktu yang cukup lama, jadi aku akan mencoba jujur sampai ke bagian yang tidak enak.
Bagian yang tidak enak begini: aku menunggu mereka gagal.
Tidak dengan sadar. Aku tidak pernah duduk dan berharap. Tapi ada bagian kecil di dalam diriku — bagian yang sudah aku kenal cukup lama untuk tahu bentuknya — yang menyimpan satu kemungkinan seperti orang menyimpan uang darurat di balik lemari.
Kemungkinannya begini: mereka akan bertengkar. Tama akan ternyata membosankan, atau posesif, atau terlalu tenang untuk orang seberisik Haru. Dan suatu hari Haru akan duduk di depanku sambil menggigit ibu jarinya dan bilang bahwa dia salah.
Aku tidak bangga pada bagian itu.
Tapi bagian itu ada, dan bagian itu yang membuatku bertahan tanpa aku sadari selama dua bulan, dan aku baru menyadarinya di hari ketika bagian itu mati.
Aku melihat mereka hari Selasa, jam satu siang, di jalan setapak antara gedung Fikom dan perpustakaan.
Aku sedang berjalan ke arah parkiran. Mereka berjalan berlawanan arah, mungkin dua puluh meter di depan, dan tidak melihatku karena mereka sedang bicara.
Aku memperlambat langkah. Aku akan mengakuinya. Aku memperlambat langkah supaya bisa melihat lebih lama.
Ini yang aku lihat.
Tama membawa dua tas. Punyanya di bahu kanan, dan tas selempang Haru di bahu kiri, dan Haru tidak menyadarinya — dia sedang bicara dengan dua tangan, cara dia selalu bicara kalau sedang bersemangat, dan tangan yang bebas itu bebas karena tasnya diambil orang lain tanpa dia minta.
Di depan tangga perpustakaan, ada tiga anak tangga.
Tama berhenti setengah langkah sebelum tangga.
Dia tidak memegang tangan Haru. Dia tidak berkata hati-hati. Dia cuma berhenti setengah langkah, dan Haru — yang sedang bicara sambil menghadap ke samping dan sama sekali tidak melihat ke depan — berhenti juga karena orang di sebelahnya berhenti.
Lalu dia melihat ke bawah, melihat tangga, dan tertawa.
“Ih, aku hampir jatoh.”
“Iya.”
“Kok kamu tau?”
“Nebak.”
Aku berdiri di jalan setapak itu, dua puluh meter di belakang, dengan kunci motor di tangan.
Nebak.
Aku sudah mengucapkan kata itu ke dia lebih dari sepuluh kali dalam tiga tahun. Setiap kali dia bertanya kok kamu tau, aku bilang nebak. Itu kata yang aku pakai untuk membungkus semua hal yang tidak boleh aku katakan.
Dan sekarang orang lain memakainya, untuk alasan yang sama persis, dan itu bekerja, dan Haru tertawa.
Aku menunggu.
Aku betul-betul menunggu, berdiri di situ, memberi diriku waktu untuk merasakan hal yang seharusnya aku rasakan.
Tidak ada.
Bukan mati rasa. Aku bisa merasakan panas matahari di leher dan tali tas yang menekan bahu dan suara mereka yang makin jauh. Semuanya masuk. Tidak ada yang tumpul.
Yang tidak ada cuma satu hal, dan hal itu punya nama, dan namanya harapan.
Selama dua bulan aku pikir aku sedang menyembuhkan diri. Ternyata tidak. Selama dua bulan aku masih menyimpan uang darurat di balik lemari, dan aku baru tahu itu justru pada detik uangnya hilang.
Tama akan baik-baik saja untuk dia.
Itu kalimat yang aku ucapkan di kepalaku, di jalan setapak antara Fikom dan perpustakaan, jam satu siang, dan begitu kalimat itu selesai aku tahu bahwa semuanya sudah benar-benar berakhir.
Bukan waktu dia jadian. Bukan waktu aku menghapus chat.
Sekarang.
Aku memberi tahu Mas Yudi hari itu juga.
“Mas, mulai bulan depan saya bisa ambil shift sore juga. Senin sampai Jumat.”
Dia sedang menghitung stok kertas. Dia berhenti menghitung.
“Sore itu jam empat sampai delapan.”
“Iya.”
“Kamu biasanya nggak bisa sore.”
“Sekarang bisa.”
Mas Yudi menaruh papan jalannya di meja dan menatapku dengan cara yang membuatku ingin melihat ke arah lain.
Aku sudah bekerja dengan dia hampir tiga tahun. Dia tidak pernah bertanya apa pun tentang hidupku. Dia tahu jam berapa aku datang, seberapa cepat aku memotong, dan bahwa aku selalu izin mendadak di jam-jam tertentu.
“Yang biasa itu udah selesai?” tanyanya.
Aku tidak menjawab.
Dia mengangguk, mengambil papan jalannya lagi, dan melanjutkan menghitung.
“Bagus,” katanya. “Sore itu ramai. Kamu cocok.”
Dan itu satu-satunya percakapan tentang hal ini yang pernah aku punya dengan siapa pun sampai berbulan-bulan kemudian, dan sampai sekarang aku masih berpikir bahwa itu percakapan paling baik yang pernah aku terima.
Aku memberi tahu Bagas dan Sisil soal Cikarang dua minggu kemudian.
Bukan pengumuman. Kami bertiga kebetulan berada di kantin pada waktu yang sama dan Bagas menyeret kursi ke mejaku tanpa bertanya, seperti biasa.
“Kamu ilang.”
“Nggak ilang.”
“Kamu ilang, Ra. Aku ngitung. Kamu nggak dateng ke lima rapat terakhir.”
“Aku bukan panitia lagi. Kepengurusan udah selesai bulan lalu.”
Bagas membuka mulut untuk membantah, lalu berhenti, karena aku benar. Kepengurusan memang sudah selesai. Semua orang masih berkumpul di sekre setiap hari karena tiga tahun kebiasaan tidak berhenti cuma karena SK-nya habis.
“Ya tapi semua orang masih ke sekre.”
“Iya.”
“Kamu enggak.”
“Iya.”
Sisil, yang sejak tadi tidak mengangkat kepala dari laptopnya, berkata:
“Kira, kamu keterima magang di mana?”
Bagas menoleh ke Sisil. Aku menoleh ke Sisil.
“Cikarang,” kataku.
“Manufaktur yang dua ratus tiga puluh pendaftar itu?”
“Iya.”
“Aku daftar juga,” katanya, masih tidak mengangkat kepala. “Nggak keterima. Aku lihat nama kamu di pengumuman bulan Oktober.”
Bagas berdiri dari kursinya.
“OKTOBER?”
“Bagas.”
“DUA BULAN LALU? DUA BULAN LALU DAN AKU BARU TAU SEKARANG?”
“Duduk.”
“Kira.” Dia duduk, tapi condong ke depan sampai sikunya di meja. “Kamu keterima program yang saingannya dua ratus tiga puluh orang, dan kamu nggak bilang siapa-siapa selama dua bulan.”
“Aku bilang ibu aku.”
“Aku bukan ibu kamu!”
“Iya.”
Bagas menatapku dengan wajah yang aku belum pernah lihat sebelumnya dan tidak tahu harus diapakan.
“Kenapa nggak bilang?”
Dan aku duduk di kantin FT di meja pojok dekat tiang, di kursi yang sudah tiga tahun aku duduki, dan menyadari bahwa aku tidak punya jawaban yang benar.
Jawaban yang benar adalah: aku menyimpannya untuk seseorang. Aku menyimpannya selama tiga minggu untuk diceritakan di warung nasi goreng Jalan Cendana, dan malam itu hujan, dan setelah malam itu kabar tersebut berhenti terasa seperti kabar baik.
Tapi kalau aku mengatakan itu, semuanya jadi tentang dia lagi.
Dan aku sudah cukup lelah menjadi orang yang seluruh hidupnya, kalau dijelaskan dengan jujur, ternyata selalu berujung pada penjelasan tentang orang lain.
“Nggak sempet,” kataku.
“Bohong.”
“Iya.”
Bagas mengembuskan napas panjang dan menyandarkan punggung.
“Februari, ya?”
“Februari.”
“Enam bulan?”
“Enam bulan.”
Dia mengangguk, dan mengangguk lagi, dan aku bisa melihat dia sedang menghitung sesuatu di kepalanya yang bukan tanggal.
“Kamu bakal jarang di sini.”
“Iya.”
“Terus siapa yang benerin proyektor.”
“Wildan bisa.”
“Wildan pernah nyolokin proyektor ke stopkontak yang mati selama dua puluh menit.”
“Dia bakal belajar.”
Sisil menutup laptopnya. Dia memasukkannya ke tas, berdiri, dan berhenti di samping kursiku.
“Kamu udah bilang ke Haru?”
Bagas berhenti bergerak.
“Belum,” kataku.
“Kapan mau bilang?”
Aku memutar gelas es teh di atas meja. Es-nya sudah habis sejak tadi.
“Nggak tau.”
Sisil berdiri di situ selama beberapa detik.
“Aku nggak bakal cerita,” katanya. “Tapi Kira—“
“Hm.”
“Dia bakal tau. Nanti. Dari orang lain, atau pas kamu udah nggak ada.”
“Iya.”
“Dan waktu itu terjadi,” katanya, “dia bakal nanya kenapa kamu nggak bilang. Kamu udah siapin jawabannya belum?”
Aku memikirkannya dengan serius, karena Sisil selalu bertanya dengan serius.
“Belum,” kataku.
“Siapin,” katanya, dan pergi.
Sisa semester itu berjalan cepat dan tidak ada yang perlu diceritakan.
Aku kuliah. Aku shift sore lima hari seminggu. Aku menyelesaikan seluruh tanggungan mata kuliah semester itu tepat waktu untuk pertama kalinya sejak semester dua, dan nilaiku naik, dan tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa nilaiku pernah turun.
Aku tidur jam sebelas.
Aku bertemu Haru mungkin empat kali dalam enam minggu, semuanya kebetulan, semuanya di koridor atau parkiran. Dia selalu menyapa. Dia selalu bilang kita harus makan bareng, dan aku selalu bilang iya, dan kami tidak pernah makan bareng.
Dia tidak sedang menghindar. Aku juga tidak.
Yang terjadi adalah hal yang paling biasa di dunia dan tidak ada yang menuliskannya karena tidak ada yang menganggapnya cerita: dua orang yang tidak lagi punya alasan untuk berada di ruangan yang sama, perlahan-lahan, berhenti berada di ruangan yang sama.
Aku pernah membayangkan perpisahan akan berbunyi.
Ternyata perpisahan itu bunyinya seperti kalender yang halamannya dibalik.
Terakhir kali aku melihat Haru sebelum semuanya berubah adalah hari terakhir ujian akhir semester, di parkiran, dari jarak sekitar tiga puluh meter.
Dia sedang berdiri di dekat motor Tama, memegang dua helm, menunggu.
Dia menunggu.
Itu yang membuatku berhenti dan memperhatikan, karena dalam tiga tahun aku tidak pernah sekali pun melihat dia menunggu siapa pun. Selalu ada orang yang sudah menunggu duluan sebelum dia sampai.
Dia berdiri di sana mungkin lima menit. Dia melihat hp-nya dua kali. Dia memindahkan berat badan dari kaki kiri ke kaki kanan. Dia mengipasi lehernya dengan map.
Lalu Tama datang, dan dia langsung bicara dan tertawa, dan mereka pergi.
Aku menyalakan motor dan pulang lewat Wijaya.
Aku ingin mencatat satu hal, dan ini hal terakhir yang akan aku catat sebelum lama sekali:
Malam itu, di kos, aku menyadari bahwa aku sudah tidak tahu apa-apa tentang hidupnya.
Aku tidak tahu apakah proposal skripsinya sudah disetujui. Aku tidak tahu apakah giginya yang kanan bawah sudah diperiksa lagi. Aku tidak tahu apakah dia masih memesan es teh lalu menyesalinya.
Selama tiga tahun aku menyimpan seluruh isi kepalanya seperti orang menyimpan katalog.
Dan sekarang katalog itu berhenti diperbarui, dan halaman terakhirnya bertanggal bulan November, dan tidak ada yang menambahkan apa pun setelah itu.
Aku menutup lampu.
Februari masih delapan minggu lagi.
- 1 Empat Menit
- 2 Parkiran
- 3 Es Teh Punya Orang
- 4 Jaket yang Nggak Jadi
- 5 Konsultan
- 6 Obat buat Orang Lain
- 7 Kayak Kakak
- 8 Sopir
- 9 Dua Jam Hujan
- 10 Dibaca Besoknya
- 11 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 12 Kursi Kosong
- 13 Sabana Fest
- 14 Jadian
- 15 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 16 Baik-baik Saja reading
- 17 Ada yang Kurang
- 18 Tama
- 19 Papan Taruhan
- 20 Aku Udah di Jalan
- 21 Ngeroyok
- 22 Seminggu
- 23 Buku Catatan
- 24 Hujan (Lagi)
- 25 Kenapa Baru Sekarang?
- 26 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 27 Giliran
- 28 Papan Taruhan Jilid Dua
- 29 Jaket
- 30 Aku Males
- 31 Es Teh
- 32 Yang Aku Nggak Tahu
- 33 Konsultan (Lagi)
- 34 Aku Udah di Jalan