← Aku Udah di Jalan

Chapter Twenty Five

Kenapa Baru Sekarang?

POV: Haru

Aku mengirim chat hari Jumat pagi.

ra. bisa ketemu? aku nggak minta apa-apa. aku cuma pengen kamu jawab yang kemarin.

Dibaca dalam dua menit.

Balasannya masuk empat puluh menit kemudian, dan waktu aku membacanya aku harus duduk.

Warkop Pak Umar. Setengah lima.

Setengah lima.

Bukan jam lima, bukan jam enam. Setengah lima.

Aku duduk di tepi kasur dengan hp di tangan dan mengerti bahwa dia baru saja mengatakan sesuatu tanpa mengatakan apa pun: dia tahu aku pernah ke sana. Dia tahu Pak Umar bercerita. Dia tahu aku tahu.

Dan dia memilih tempat itu, dan jam itu, dan tidak menjelaskan apa-apa.


Aku sampai jam empat lewat dua puluh.

Dia sudah ada di sana.

Tentu saja dia sudah ada di sana.

Dia duduk di meja pojok yang menghadap jalan, di kursi yang biasa, dengan teh panas di depannya dan tanpa laptop. Cuma duduk.

Aku menarik kursi di seberangnya.

“Kamu dari jam berapa?”

“Setengah lima.”

“Sekarang jam empat lewat dua puluh.”

“Iya.”

Dan dia mengatakannya begitu saja, tanpa maksud apa-apa, dan aku memesan teh panas dan tidak berkata apa-apa selama satu menit penuh.

Pak Umar mengantar tehku dan melirik kami berdua dan tidak berkomentar sama sekali, dan aku menyukainya untuk itu.

“Kamu mau nanya soal Oktober,” kata Kira.

“Iya.”

Dia memutar gelasnya sekali.

“Aku bakal cerita,” katanya. “Tapi aku mau kamu ngerti satu hal dulu.”

“Apa?”

“Aku nggak lagi ngasih tau kamu ini biar kamu ngerasa jelek.”

“Kira—“

“Aku serius.” Dia menatapku. “Kalau tujuannya itu, aku udah cerita dari dulu. Aku nggak pernah cerita, tiga tahun. Aku nggak akan mulai sekarang buat bikin kamu ngerasa jelek.”

Aku menggenggam gelas teh panas dengan dua tangan meskipun tanganku sudah panas.

“Terus kenapa kamu mau cerita?”

“Karena kamu nanya,” katanya. “Dan aku pernah bilang, kalau kamu nanya, aku bakal jawab.”


Ini yang dia ceritakan, dan aku menuliskannya malam itu juga sedekat mungkin dengan kata-katanya, karena aku tahu aku tidak akan pernah bisa mendengarnya untuk kedua kali.

Dia menerima email itu hari Selasa, jam sebelas siang, di koridor gedung jurusan.

Dua ratus tiga puluh pendaftar. Delapan diterima.

Dia duduk di kursi tunggu di depan ruang dosen selama sepuluh menit sambil memegang hp dengan dua tangan.

“Hal pertama yang aku lakuin,” katanya, “bukan nelepon ibu aku.”

“Terus?”

“Aku buka chat kamu.”

Aku menaruh gelas.

“Aku ngetik tiga kalimat,” lanjutnya, “terus aku hapus. Bukan karena ragu. Karena kabar kayak gitu nggak enak dikirim lewat chat.”

“Jadi kamu mau cerita langsung.”

“Iya.”

“Kapan?”

Dia melihat ke arah jalan lewat jendela.

“Aku nunggu tiga minggu,” katanya. “Kamu sibuk hari Rabu. Kamis rapat sampai malam. Jumat aku shift.”

Aku sudah tahu tanggal berapa yang akan dia sebut berikutnya, dan aku memegang meja di bawahnya dengan tangan kiri.

“Terus hari Sabtu kamu chat minta dijemput hari Minggu.”

“Kira.”

“Aku udah ngerencanain,” katanya, dan suaranya sama sekali tidak berubah, dan itu yang paling tidak tertahankan. “Aku bakal jemput kamu jam delapan, terus kita makan di warung nasi goreng Cendana, terus aku bakal cerita di situ.”

“Kenapa di situ?”

“Karena kamu bakal teriak,” katanya. “Kamu selalu teriak di tempat umum. Terus mas penjualnya bakal noleh, terus kamu bakal minta maaf sama dia sambil tetep teriak.”

Dan dia mengatakan itu dengan sesuatu yang hampir — hampir — seperti senyum, dan aku menutup mulutku dengan tangan dan menahan napas supaya tidak bersuara.

“Aku bahkan ngecek warungnya buka hari Minggu apa enggak,” katanya. “Buka.”

Aku tidak bisa bicara.

“Terus hujan,” katanya.

Hujan.

“Aku nunggu dua jam dua puluh lima menit,” katanya, dan angkanya keluar tanpa jeda, seperti orang menyebutkan tanggal lahir. “Terus Sisil kirim foto kamu di warung nasi goreng itu. Sama Tama. Rambut kamu kering.”

Kipas angin gantung berputar.

“Aku nggak marah malam itu,” katanya. “Aku nyari marahnya. Nggak ketemu. Aku cuma pulang, terus besoknya aku nggak buka hp sampai siang, terus kamu nanya kamu nggak nunggu lama kan pakai empat tanda tanya.”

“Dan kamu bilang nggak apa-apa.”

“Iya.”

Aku menunduk ke gelasku.

“Terus kamu nggak jadi cerita.”

“Iya.”

“Sampai sekarang.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Dan di sinilah dia diam paling lama sepanjang sore itu.

“Karena aku nunggu kamu nanya,” katanya akhirnya. “Bukan soal magangnya. Kamu nggak mungkin nanya soal magang, kamu nggak tau ada magangnya.”

“Terus nanya apa?”

“Apa aja.” Dia mengangkat bahu, gerakan yang sangat kecil. “Tiga bulan berikutnya, Haru. Nggak ada satu hari pun kamu nanya apa yang lagi kejadian di hidup aku.”

Dia mengangkat gelasnya, dan menaruhnya lagi tanpa minum.

“Dan aku sadar aku nunggu sesuatu yang nggak bakal dateng,” katanya, “karena aku sendiri yang bikin kamu nggak perlu nanya.”


“Sekarang giliran aku,” katanya.

“Boleh.”

Dia menaruh kedua tangannya di meja.

“Kenapa baru sekarang?”

Dan itu dia.

Pertanyaan yang aku tahu akan datang sejak bulan Januari. Pertanyaan yang aku susun jawabannya berkali-kali, di kamar, di kelas, di atas motor, jam dua pagi.

Dan semua jawaban yang aku susun itu, semuanya, tanpa kecuali, ternyata jawaban yang membela diriku sendiri.

Aku bisa bilang aku tidak sadar. Itu benar. Itu juga tidak menjelaskan apa-apa.

Aku bisa bilang dia tidak pernah bicara. Itu juga benar, dan itu memindahkan setengah beban ke orang yang sedang duduk di depanku.

Aku bisa bilang aku menyayanginya dari dulu tapi tidak mengerti bentuknya. Itu kalimat yang bagus. Itu kalimat yang akan membuat aku terdengar seperti orang yang tersesat, bukan orang yang lalai.

Aku menarik napas.

“Karena kamu gampang,” kataku.

Dia tidak bergerak.

“Kamu gampang,” ulangku, karena kalau aku berhenti sekarang aku tidak akan sanggup melanjutkan. “Kamu selalu ada. Aku chat, kamu dateng. Empat menit. Aku nggak pernah harus mikirin kamu, karena kamu nggak pernah bikin aku harus mikirin kamu.”

Aku memaksa diriku menatapnya.

“Dan yang gampang itu nggak pernah dihitung, Ra.”

Kipas angin berputar.

“Aku nggak ngitung galon sampai galonnya habis. Aku nggak ngitung lampu koridor sampai lampunya mati.” Suaraku pecah di kata terakhir dan aku menelan dan melanjutkan. “Aku merlakuin kamu kayak gitu. Bukan karena aku nganggep kamu rendah. Karena aku nggak pernah nganggep kamu bisa hilang.”

“Haru—“

“Aku belum selesai.”

Dia diam.

“Aku bilang kamu kayak kakak di depan empat puluh orang,” kataku. “Aku inget malam itu. Aku inget aku ketawa. Aku inget aku megang pinggang kamu sambil ngomong itu, dan kamu ketawa juga, dan kamu bilang ‘adeknya nakal’, dan semua orang ketawa lebih keras.”

Dia melihat ke arah jalan.

“Aku baru ngerti bulan lalu bahwa kamu ngomong itu supaya nggak ada yang ngeliatin kamu terlalu lama.”

“Nggak usah—“

“Dan aku minta kamu jadi supir kencan pertama aku,” kataku. “Tujuh jam, Ra. Aku baru tau angkanya dari Tama. Bukan dari kamu. Dari orang yang duduk di sebelah aku malam itu.”

Aku menaruh kedua tanganku di meja karena aku butuh sesuatu untuk dipegang dan tidak ada apa-apa.

“Aku nggak minta maaf buat satu-satu,” kataku. “Aku nggak bisa. Terlalu banyak dan aku nggak tau urutannya dan aku bakal salah nyebut tanggal dan itu bakal lebih ngehina daripada nggak nyebut sama sekali.”

“Terus?”

“Terus aku cuma bisa minta maaf buat satu hal.”

“Apa.”

Dan aku mengatakan hal yang aku susun selama dua minggu dan yang merupakan satu-satunya kalimat jujur yang aku punya:

“Maaf karena selama tiga tahun aku nggak pernah nanya kamu satu pertanyaan pun.”


Kami duduk di situ tanpa bicara selama mungkin dua menit.

Pak Umar menyalakan lampu warung. Setengah lima lewat sedikit. Di luar, anak-anak kampus mulai keluar dari gerbang samping, berombongan, dengan jaket almamater dilipat di lengan.

Kira menonton mereka lewat.

“Tiga tahun aku duduk di sini nontonin itu,” katanya, pelan, hampir bukan untukku.

“Aku tau.”

“Pak Umar cerita?”

“Dia nunjuk kursi ini.”

Kira mengangguk sekali.

“Kira.”

“Hm.”

“Aku nggak minta apa-apa hari ini,” kataku. “Aku beneran. Aku nggak minta kamu maafin aku, aku nggak minta kamu tinggal, aku nggak minta apa pun.”

“Terus kamu ke sini buat apa?”

“Buat jawab pertanyaan kamu.” Aku menarik napas. “Kamu nanya kenapa baru sekarang. Kamu berhak dapet jawabannya sebelum tanggal sembilan. Itu aja.”

Dia menatapku lama sekali.

Dan aku melakukan sesuatu yang aku sendiri tidak rencanakan: aku mengulurkan tangan ke seberang meja dan memegang ujung lengan bajunya.

Bukan tangannya. Ujung lengan bajunya, di antara ibu jari dan telunjuk, seperti anak kecil yang memegang baju ibunya di keramaian.

Dia tidak menarik tangannya.

Dia tidak membalas juga. Dia cuma membiarkannya, dan kami duduk seperti itu selama waktu yang tidak aku hitung karena untuk pertama kalinya sejak bulan Januari aku berhenti menghitung apa pun.

“Haru.”

“Hm.”

“Kamu berubah.”

“Aku nggak—“

“Iya,” katanya. “Kamu berubah. Aku ngeliatnya. Dan itu bagian yang paling susah buat aku.”

“Kenapa susah?”

Dia melepaskan pandangannya dari jendela dan menatapku, dan matanya merah, dan aku baru menyadarinya pada detik itu dan tidak tahu sejak kapan.

“Karena kalau kamu nggak berubah, gampang,” katanya. “Aku tinggal pergi.”

Dia berdiri.

“Aku harus shift.”

“Kira.”

“Aku bakal jawab kamu,” katanya sambil mengambil tasnya. “Bukan hari ini. Tapi aku bakal jawab. Aku nggak akan berangkat tanpa jawab.”

“Oke.”

Dia berjalan ke pintu, lalu berhenti, dan berbalik.

“Haru.”

“Iya?”

“Yang tadi kamu bilang,” katanya. “Soal gampang.”

“Iya.”

“Makasih.”

Aku mengerjap. “Makasih?”

“Iya.” Dia memasukkan tangannya ke saku. “Semua orang yang aku bayangin bakal jawab pertanyaan itu, di kepala aku, jawabannya selalu ‘aku nggak sadar’.”

“Itu juga bener.”

“Iya,” katanya. “Tapi itu jawaban yang nggak ada aku-nya.”

Dia keluar.

Aku duduk di kursinya — di kursi yang selama tiga tahun dia duduki tiga setengah jam sehari — sampai jam tujuh malam, dan Pak Umar mengisi tehku dua kali tanpa aku minta dan tidak menagih yang kedua.

Sepuluh hari.