Chapter Thirty
Aku Males
POV: Haru
Bus ke Cikarang berangkat jam enam pagi dari terminal, dan perjalanannya tiga jam sepuluh menit kalau lancar, dan hari itu tidak lancar.
Aku sampai jam sepuluh lewat empat puluh.
Aku membawa satu ransel, satu kantong plastik berisi keripik dan dua bungkus kopi sachet untuk anak-anak mes yang belum pernah aku temui, dan satu kantong plastik lagi berisi helm abu-abu.
Ya. Aku membawa helm di bus, selama tiga jam sepuluh menit, di kantong plastik kresek hitam, dan ibu-ibu yang duduk di sebelahku bertanya apakah aku mau menjual helm itu.
“Enggak, Bu. Ini titipan.”
“Titipan siapa?”
“Titipan saya sendiri.”
Ibu itu tidak bertanya lagi dan aku tidak bisa menyalahkannya.
Ini kunjungan pertama.
Enam minggu setelah dia berangkat.
Enam minggu itu berjalan persis seperti yang kami sepakati, dan aku ingin mencatat bahwa menyepakati sesuatu jauh lebih mudah daripada menjalaninya.
Kami tidak mengobrol setiap hari.
Ini aturannya, yang kami susun jam satu pagi di anak tangga teras dan kami perbaiki dua kali lewat telepon di minggu pertama:
Telepon dua kali seminggu, Rabu dan Minggu malam, jam delapan.
Chat bebas, tapi tidak wajib dibalas hari itu juga.
Dan yang paling penting, yang aku usulkan dan yang dia setujui setelah tiga hari berpikir: kalau salah satu dari kami sedang tidak ingin bicara, dia bilang, dan yang satunya tidak boleh bertanya kenapa.
Aku memakai aturan itu dua kali dalam enam minggu.
Dia memakainya lima kali.
Dan itu — lima kali dia mengirim Hari ini aku nggak mau ngomong dulu dan aku menjawab oke dan tidak bertanya apa-apa — itu adalah lima hal paling membanggakan yang pernah aku lakukan seumur hidupku, dan aku tidak bercanda.
Karena orang itu, delapan bulan lalu, tidak bisa mengucapkan maaf aku nggak bisa tanpa merasa dunia akan runtuh.
Sekarang dia mengetiknya lima kali dalam enam minggu, tanpa alasan, dan aku tidak menagih alasannya, dan dunia tidak runtuh.
Dia menjemput di terminal dengan motor.
Bukan motornya. Motor bebek merah yang catnya sudah pudar, milik seseorang bernama Pak Herman yang bekerja di bagian gudang dan yang, menurut Kira, meminjamkan motornya kepada siapa pun yang meminta dengan sopan.
Dia berdiri di dekat pos, memegang satu helm, dan aku melihatnya dari jendela bus sebelum bus berhenti sepenuhnya.
Kulitnya lebih gelap. Rambutnya lebih pendek. Dia memakai kemeja kerja lengan panjang yang digulung sampai siku dan ada logo perusahaan di dadanya.
Aku turun dan berjalan ke arahnya dan berhenti satu meter di depannya dan tidak tahu harus apa.
Enam minggu ternyata cukup lama untuk lupa cara berdiri di depan orang.
“Hai,” kataku.
“Hai.”
“Kamu item.”
“Iya.”
“Kamu kerja di luar?”
“Kadang.”
Dan kami berdiri di terminal Cikarang jam sebelas siang seperti dua orang yang baru berkenalan lewat aplikasi.
Lalu dia melihat kantong plastik kresek hitam di tanganku.
“Itu apa?”
Aku mengeluarkan helm abu-abu.
Dia menatapnya.
Dia menatapnya cukup lama sehingga aku sempat merasa bodoh, dan sempat menyusun kalimat untuk menjelaskan bahwa ini konyol dan aku tahu ini konyol.
Lalu dia mengambilnya dari tanganku, dan memasangkannya di kepalaku sendiri — dengan dua tangan, dan mengaitkan talinya, dan mengetuk bagian atasnya sekali dengan telapak tangan.
“Pas,” katanya.
“Ya iyalah pas.”
“Aku cuma mastiin.”
Mes-nya di gang belakang pabrik, sepuluh menit dari terminal.
Bangunan dua lantai, delapan kamar, dapur bersama, dan halaman kecil dengan jemuran yang penuh seragam kerja berwarna abu-abu semua.
Dia membawaku ke kamarnya di lantai satu.
Kamar itu tiga kali empat. Ada kasur, lemari plastik, meja lipat, dan satu kipas angin berdiri. Di dinding tidak ada apa-apa kecuali kalender perusahaan dan satu kertas HVS yang ditempel dengan selotip di atas meja.
Aku melihat kertas itu.
Ada tabel di situ. Tulisan tangan. Dua kolom.
GILIRAN
Kolom kiri: KIRA. Kolom kanan: HARU.
Dan di bawahnya, baris demi baris, dengan tanggal:
12 Feb — H telepon duluan
15 Feb — K telepon duluan
19 Feb — H kirim foto kucing (nggak diminta)
22 Feb — K kirim foto pabrik (diminta)
26 Feb — K bilang nggak mau ngomong. H nggak nanya. ✓
1 Mar — H bilang nggak mau ngomong. K nggak nanya. ✓
Ada empat puluh baris lebih.
Aku berdiri di depan kertas itu dengan ransel masih di bahu.
“Kamu beneran nyatet,” kataku.
“Aku bilang bakal nyatet.”
“Aku pikir kamu bercanda.”
“Aku nggak pernah bercanda soal nyatet.”
Aku membaca sampai bawah. Di baris paling akhir, dengan tinta yang berbeda, tertulis:
22 Mar — H naik bus 3 jam. K harus balas ini nanti. HUTANG.
Aku menoleh.
“Hutang?”
“Iya.”
“Kira, ini bukan hutang—“
“Ini hutang,” katanya, dan menaruh helm di lemari. “Aku bakal ke sana bulan depan. Aku udah ngajuin cuti.”
“Kamu baru masuk enam minggu.”
“Aku udah ngajuin cuti,” ulangnya, “dan ditolak, dan aku bakal ngajuin lagi bulan depan.”
Aku menatap punggungnya.
Delapan bulan lalu, orang ini tidak bisa memberitahuku bahwa dia diterima magang di antara dua ratus tiga puluh pendaftar.
Sekarang dia mengajukan cuti, ditolak, dan berencana mengajukan lagi, dan menceritakannya padaku sebagai fakta biasa tanpa satu pun kata “maaf” di dalamnya.
Aku duduk di tepi kasurnya sebelum kakiku memutuskan sendiri untuk duduk.
“Jadi,” kataku. “Kita ke mana?”
Dia tidak langsung menjawab.
Dia sedang berdiri di depan lemari plastik, membelakangi aku, dan dia berhenti bergerak selama mungkin tiga detik.
“Ru.”
“Hm.”
“Aku males.”
Ruangan itu diam.
Aku ingin kalian membayangkan ini dengan benar, karena ini bagian terpenting dari seluruh hari itu, dan mungkin dari seluruh tahun itu.
Aku baru saja naik bus selama tiga jam sepuluh menit. Aku bangun jam empat pagi. Aku membawa helm di kantong kresek dan ditanya ibu-ibu apakah mau dijual. Aku sudah membuat daftar di hp: ada danau buatan yang katanya bagus, ada mal, ada tempat makan yang direkomendasikan Rara.
Dan orang itu berdiri membelakangi aku dan bilang dia malas.
Dan yang paling penting: dia mengatakannya sambil membelakangi aku, dengan bahu yang naik, seperti orang yang sedang menunggu dipukul.
“Aku shift malam dari Senin,” katanya, cepat, ke arah lemari. “Baru selesai jam enam pagi tadi. Aku tidur dua jam. Aku bisa kok kalau kamu mau keluar, aku beneran bisa, aku cuma—“
“Kira.”
“—aku cuma agak nggak fokus, tapi nggak apa-apa, kita bisa ke danau itu, aku udah cari jalannya semalem—“
“KIRA.”
Dia berhenti.
Dia berbalik.
Dan aku duduk di tepi kasur di kamar tiga kali empat di gang belakang pabrik di Cikarang, dan aku tersenyum sampai pipiku sakit.
“Yaudah,” kataku.
Dia mengerjap.
“Yaudah?”
“Yaudah. Kita nggak ke mana-mana.”
“Kamu naik bus tiga jam.”
“Iya.”
“Jam empat pagi.”
“Iya.”
“Terus kita nggak ke mana-mana?”
“Iya.”
Dan dia berdiri di situ dengan tangan setengah terangkat, dengan wajah orang yang sedang mencari jebakan di dalam kalimat dan tidak menemukannya, dan aku menepuk kasur di sebelahku.
“Tidur,” kataku.
“Ru—“
“Kira Adiatma, kamu shift malam empat hari dan tidur dua jam. Tidur.”
“Kamu jauh-jauh—“
“Aku jauh-jauh ke sini buat ketemu kamu,” kataku. “Kamu ada di sini. Udah, selesai. Sisanya bonus.”
Dia tidur empat jam.
Aku duduk di lantai bersandar ke kasur, dengan kipas angin menyala, dan mengerjakan proposal skripsiku di laptop.
Empat jam.
Kalau kalian bertanya apakah aku bosan: iya. Beberapa kali. Sekitar jam dua aku sempat berpikir bahwa aku sudah naik bus tiga jam untuk duduk di lantai kamar orang, dan pikiran itu datang dan aku membiarkannya lewat.
Karena aku sudah menghitung sesuatu di bus tadi pagi, dan hitungannya begini:
Kalau ada orang yang menunggu tiga setengah jam sehari, enam hari seminggu, selama tiga tahun, maka angka totalnya kira-kira tiga ribu jam.
Empat jam itu bukan apa-apa.
Empat jam itu bahkan tidak masuk di angka desimalnya.
Dan yang membuat aku bisa duduk di lantai itu tanpa mengeluh selama empat jam bukan karena aku sedang membayar utang.
Itu karena — dan aku baru menyadarinya sekitar jam tiga, sambil menatap punggungnya yang naik turun — orang itu bisa tidur di depanku.
Dia tidur. Beneran tidur, dengan mulut sedikit terbuka, dengan tangan di bawah bantal.
Orang yang selama tiga tahun selalu berdiri, selalu siap, selalu di ambang bergerak — tidur di ruangan yang ada aku di dalamnya.
Aku tidak yakin ada hal yang lebih manis dari itu yang pernah terjadi pada aku seumur hidup.
Dia bangun jam setengah lima, kaget, dan langsung duduk.
“Berapa lama?”
“Empat jam.”
“EMPAT JAM?”
“Iya.”
“Ru, maaf, aku—“
“Kalau kamu minta maaf,” kataku, tanpa mengangkat wajah dari laptop, “aku catat di kertas itu, dan kamu hutang.”
Dia diam.
Lalu dia tertawa.
Bukan tawa pendek yang biasa. Tawa yang benar-benar tawa, dari perut, yang membuat kasur bergetar, yang aku belum pernah dengar sekali pun dalam tiga tahun.
Aku menutup laptop dan menatapnya.
“Apa?”
“Nggak,” katanya, masih tertawa. “Nggak apa-apa.”
“Kira.”
“Aku cuma—“ Dia menggosok wajahnya dengan dua tangan. “Aku lupa rasanya kayak gimana.”
“Rasanya apa?”
Dia menurunkan tangannya.
“Nggak ngerasa harus ngapa-ngapain,” katanya.
Kami keluar jam enam, dan cuma ke warung soto di ujung gang, dan itu satu-satunya tempat yang kami datangi sepanjang hari itu.
Waktu pulang, hari sudah gelap, dan dia yang membawa motor pinjaman Pak Herman dan aku di belakang.
Dan di lampu merah di depan pabrik, aku melihat ke kaca spion.
Dia sedang menatapku.
Bukan mengecek lalu lintas. Bukan melirik. Dia sedang menatap pantulanku di kaca spion dengan cara yang membuat aku langsung menunduk dan tidak bisa mengangkat wajah sampai lampunya hijau.
Aku baru tahu berbulan-bulan kemudian kenapa dia melakukan itu.
Aku baru tahu waktu dia menceritakan tentang perjalanan pulang dari kota sebelah, dan tentang bagaimana dia menurunkan kaca spion tengah sampai menghadap langit-langit mobil dan menyetir satu jam sepuluh menit tanpa spion sama sekali.
Malam itu aku tidak tahu apa-apa.
Aku cuma tahu ada orang yang menatapku di kaca spion, dan bahwa itu terasa seperti dibayar untuk sesuatu yang aku bahkan tidak tahu pernah aku hutangi.
- 1 Empat Menit
- 2 Parkiran
- 3 Es Teh Punya Orang
- 4 Jaket yang Nggak Jadi
- 5 Konsultan
- 6 Obat buat Orang Lain
- 7 Kayak Kakak
- 8 Sopir
- 9 Dua Jam Hujan
- 10 Dibaca Besoknya
- 11 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 12 Kursi Kosong
- 13 Sabana Fest
- 14 Jadian
- 15 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 16 Baik-baik Saja
- 17 Ada yang Kurang
- 18 Tama
- 19 Papan Taruhan
- 20 Aku Udah di Jalan
- 21 Ngeroyok
- 22 Seminggu
- 23 Buku Catatan
- 24 Hujan (Lagi)
- 25 Kenapa Baru Sekarang?
- 26 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 27 Giliran
- 28 Papan Taruhan Jilid Dua
- 29 Jaket
- 30 Aku Males reading
- 31 Es Teh
- 32 Yang Aku Nggak Tahu
- 33 Konsultan (Lagi)
- 34 Aku Udah di Jalan