Chapter Twenty Six
Maaf, Aku Nggak Bisa
POV: Haru
Dia mengirim chat hari Selasa.
Besok bisa ketemu? Aku mau jawab.
Enam kata dan satu titik, dan aku membacanya jam tujuh pagi, dan aku tahu.
Aku ingin mencatat itu dengan jujur: aku tahu sejak membaca chat itu.
Bukan firasat. Logika. Orang yang mau bilang iya tidak menjadwalkan hari untuk mengatakannya. Iya itu diucapkan di tempat, di detik itu juga, dengan kikuk. Yang perlu dijadwalkan cuma jawaban yang sudah disusun.
Aku membalas: iya. di mana?
Di kos aku. Kamu nggak apa-apa?
nggak apa-apa.
Halaman kos itu punya lima motor waktu aku datang pertama kali.
Sekarang empat.
Aku memarkir motorku di tempat kosong itu tanpa memikirkannya, dan baru menyadari apa artinya setelah aku turun.
Dia sudah menjual motornya.
Pintu terbuka sebelum aku sempat mengetuk. Bukan dia — Fajar, yang keluar sambil membawa dua kantong plastik besar dan berhenti kaku waktu melihatku.
“Eh. Mbak Haru.”
“Hai.”
“Kita, eh—“ Dia mengangkat kantong plastiknya. “Kita semua mau keluar. Kebetulan. Ada urusan. Berempat. Sekaligus. Kebetulan banget.”
“Fajar.”
“Iya?”
“Makasih.”
Dia mengangguk, dan lewat, dan di halaman dia berbalik sekali.
“Mbak.”
“Iya?”
Dia ingin mengatakan sesuatu. Aku bisa melihatnya. Dia berdiri di halaman dengan dua kantong plastik selama tiga detik, lalu memutuskan untuk tidak.
“Nggak jadi,” katanya, dan pergi.
Ruang tamu itu sekarang penuh kardus.
Tujuh, delapan, aku tidak menghitung. Ditumpuk di dinding, ditulisi spidol di sisinya: BUKU. DAPUR. KABEL DLL. Tulisannya rapi dan huruf kapital semua.
Dia duduk di sofa panjang. Aku duduk di ujung yang lain.
Di meja ada dua gelas teh yang sudah dituang sebelum aku datang, jadi yang punyaku sudah tidak terlalu panas, dan aku tahu itu disengaja karena aku selalu menyeruput terlalu cepat dan selalu kepanasan dan dia sudah tiga tahun melihat aku melakukannya.
Bahkan sekarang. Bahkan hari ini.
“Motor kamu,” kataku.
“Aku jual minggu lalu.”
“Kenapa?”
“Di sana ada bus jemputan. Nggak kepake.” Dia mengangkat bahu. “Dan aku butuh uangnya buat deposit mes.”
“Oh.”
Kami duduk.
“Haru.”
“Iya.”
Dan dia mengatakannya, dan dia mengatakannya dengan cara yang sudah aku duga dan tetap membuat seluruh ruangan terasa miring:
“Maaf, aku nggak bisa.”
Aku tidak menjawab selama beberapa saat.
Bukan karena aku menahan tangis. Aku tidak menangis, dan ini bukan kekuatan, ini kekagetan yang bentuknya mirip tenang.
“Oke,” kataku akhirnya.
Dia menatapku, dan aku bisa melihat bahwa “oke” bukan jawaban yang dia siapkan untuk dihadapi.
“Kamu nggak nanya kenapa?”
“Aku mau kamu cerita kalau kamu mau cerita,” kataku. “Bukan karena aku nagih.”
Dan itu — aku tahu ini sekarang, meskipun waktu itu aku cuma sedang berusaha tidak jadi orang yang menyebalkan — itu yang membuat dia mulai bicara lebih panjang daripada yang pernah aku dengar dari dia seumur hidup.
“Aku takut,” katanya.
“Takut apa?”
“Takut aku bakal balik lagi jadi kayak dulu.”
Dia menaruh kedua sikunya di lutut dan menatap lantai.
“Haru, aku nggak takut sama kamu,” katanya. “Aku takut sama aku.”
“Aku nggak ngerti.”
“Kalau aku bilang iya sekarang,” katanya, “besok kamu chat minta tolong sesuatu. Yang kecil. Beneran kecil, kayak minta dianterin, atau minta dibeliin apa. Dan aku bakal langsung berangkat.”
“Aku nggak akan—“
“Kamu nggak akan sengaja,” katanya. “Itu bukan soal kamu. Kalau kamu nggak minta, aku yang bakal nawarin. Aku yang selalu nawarin. Aku udah kayak gitu dari SMP.”
Dia menggosok wajahnya dengan satu tangan.
“Tiga bulan terakhir ini pertama kalinya seumur hidup aku punya jam kosong,” katanya. “Aku nggak tau mau ngapain. Serius. Aku nggak punya hobi. Aku nggak punya apa-apa. Tiga tahun ini yang aku punya cuma nungguin kamu, dan pas itu ilang, isinya kosong. Kosong banget, Ru.”
Itu pertama kalinya dia memanggilku Ru.
“Dan aku baru mulai ngisinya,” katanya. “Baru banget. Dan aku takut kalau aku bilang iya sekarang, aku bakal buang semuanya dalam dua minggu, dan aku bakal balik jadi orang yang duduk di warkop jam setengah lima. Dan aku nggak bisa. Aku nggak bisa lagi.”
Aku memegang gelas teh yang sudah tidak panas.
“Kira.”
“Hm.”
“Aku boleh ngomong?”
“Boleh.”
“Aku setuju sama kamu.”
Dia mengangkat kepalanya.
“Aku serius,” kataku. “Kalau kamu bilang iya hari ini, aku bakal seneng banget selama seminggu. Terus habis itu kamu berangkat tanggal sembilan, dan aku bakal di sini, dan kamu di sana, dan enam bulan itu lama banget.”
Aku menarik napas.
“Dan aku tau diri aku sendiri,” kataku. “Aku bakal chat kamu tiap hari. Aku bakal minta ditelepon. Aku bakal ngerasa kesepian dan aku bakal bilang ke kamu, dan kamu bakal ngerasa harus benerin itu, karena kamu selalu ngerasa harus benerin semuanya.”
Dia tidak membantah.
“Dan enam bulan kemudian kamu balik,” lanjutku, “dan kamu udah jadi orang yang sama kayak dulu lagi. Cuma sekarang resmi.”
Ruangan itu sunyi. Ada suara TV dari rumah sebelah.
“Kamu udah mikirin ini,” katanya.
“Tiap malam. Dua minggu.”
“Kenapa kamu tetep dateng ke sini?”
Dan aku memberikan jawaban yang aku siapkan, satu-satunya yang aku siapkan, karena aku tahu aku cuma akan punya satu kesempatan mengucapkannya.
“Karena aku nggak dateng ke sini buat dapetin kamu,” kataku. “Aku dateng buat mastiin kamu tau.”
“Tau apa?”
“Tau bahwa ada yang ngitung.” Suaraku bergetar dan aku membiarkannya. “Tiga tahun kamu nunggu tiga setengah jam sehari di kursi pojok dan nggak ada satu orang pun yang tau. Bukan cuma aku. Nggak ada satu orang pun.”
Dia menunduk.
“Dan kamu bakal berangkat tanggal sembilan,” kataku, “dan kamu bakal ke Cikarang dan kerja dan mungkin kamu bakal baik-baik aja, dan aku seneng banget kalau gitu. Tapi aku nggak mau kamu berangkat sambil mikir nggak ada yang tau.”
Aku menaruh gelas.
“Sekarang ada yang tau,” kataku. “Itu aja. Itu yang aku mau.”
Dia menangis.
Aku tidak akan menceritakan bagian itu dengan detail, karena bagian itu bukan milikku.
Yang bisa aku katakan: dia tidak bersuara sama sekali, dan dia tidak menutup wajahnya, dan dia terus duduk tegak, dan dia menyeka satu kali dengan punggung tangan — gerakan yang sama persis dengan waktu hujan itu — dan setelah itu tidak menyekanya lagi.
Aku pindah satu tempat lebih dekat dan memegang ujung lengan bajunya.
Kami duduk seperti itu selama beberapa menit.
Lalu dia melepaskannya.
Pelan sekali. Dia menggerakkan lengannya keluar dari genggamanku dengan gerakan yang begitu perlahan sampai aku punya waktu untuk memahami setiap sentimeternya, dan itu jauh lebih menyakitkan daripada kalau dia menariknya sekaligus.
“Aku nggak bisa,” katanya lagi, dan suaranya serak.
“Aku tau.”
“Aku pengen banget bisa.”
“Aku tau.”
Aku berdiri jam delapan lewat.
Ini bagian yang aku pikirkan berbulan-bulan sesudahnya, dan yang aku masih tidak yakin datang dari mana, karena aku bukan orang yang bijak dan aku tidak pernah bisa menahan diri dalam hal apa pun seumur hidupku.
Aku berdiri, dan aku tidak memohon.
Aku bisa. Semua bahannya ada. Aku bisa bilang kita coba pelan-pelan. Aku bisa bilang enam bulan itu cepat. Aku bisa bilang aku akan berubah, aku sudah berubah, lihat buku ini, lihat delapan halaman ini.
Aku tidak.
Aku berdiri, dan aku mengambil tasku, dan aku berkata:
“Makasih ya, Ra.”
Dia mengangkat wajahnya.
“Buat apa?”
Dan aku menyebutkan tiga.
Bukan semuanya. Tiga, karena kalau aku menyebut semuanya aku tidak akan bisa keluar dari rumah itu.
“Buat helm abu-abu yang kamu beli semester dua,” kataku, “yang kamu bilang kamu nebak ukurannya.”
Dia diam.
“Buat lima ratus gelas es teh yang kamu abisin biar gigi aku nggak ngilu.”
Napasnya berhenti sebentar.
“Dan buat jaket yang tiap hari kamu bawa di tas selama tiga tahun,” kataku, “yang kamu taruh di kursi aku sambil pura-pura mau ngambil air.”
Dia menatapku dengan wajah orang yang tidak menyangka ada yang tahu.
“Kamu—“
“Fajar cerita satu,” kataku. “Yang dua aku inget sendiri.”
Aku menyampirkan tas.
“Aku duluan ya.”
Dan aku pergi.
Aku pergi duluan.
Aku tidak menunggu dia berdiri, tidak menunggu dia mengantar sampai pagar, tidak menunggu dia mengatakan apa pun lagi. Aku membuka pintu, keluar, memakai helm, menyalakan motor, dan keluar dari gang itu tanpa menoleh sekali pun.
Aku menangis di lampu merah Kalibaru dan tidak berhenti sampai kos.
Tapi aku pergi duluan.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, dalam sejarah kami berdua, orang yang ditinggalkan berdiri di tempatnya sambil menonton yang lain pergi bukan dia.
Aku tidak melakukannya sebagai taktik.
Aku bersumpah aku tidak.
Aku melakukannya karena dia sudah tiga tahun jadi orang yang berdiri di parkiran, dan aku tidak sanggup — tidak sanggup, bahkan di hari terakhir, bahkan setelah ditolak — membuatnya melakukannya sekali lagi.
Sembilan hari.
Dan aku pikir itu selesai.
- 1 Empat Menit
- 2 Parkiran
- 3 Es Teh Punya Orang
- 4 Jaket yang Nggak Jadi
- 5 Konsultan
- 6 Obat buat Orang Lain
- 7 Kayak Kakak
- 8 Sopir
- 9 Dua Jam Hujan
- 10 Dibaca Besoknya
- 11 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 12 Kursi Kosong
- 13 Sabana Fest
- 14 Jadian
- 15 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 16 Baik-baik Saja
- 17 Ada yang Kurang
- 18 Tama
- 19 Papan Taruhan
- 20 Aku Udah di Jalan
- 21 Ngeroyok
- 22 Seminggu
- 23 Buku Catatan
- 24 Hujan (Lagi)
- 25 Kenapa Baru Sekarang?
- 26 Maaf, Aku Nggak Bisa reading
- 27 Giliran
- 28 Papan Taruhan Jilid Dua
- 29 Jaket
- 30 Aku Males
- 31 Es Teh
- 32 Yang Aku Nggak Tahu
- 33 Konsultan (Lagi)
- 34 Aku Udah di Jalan