← Aku Udah di Jalan

Chapter Twenty Two

Seminggu

POV: Haru

“Berhenti.”

Gita mengatakannya hari Minggu pagi, di kos aku, sambil melipat baju yang bukan bajunya karena dia tidak tahan melihat tumpukan di kursiku.

“Berhenti apa?”

“Berhenti ngejar.”

“Aku nggak—“

“Ru.” Dia melipat satu kaus dan menaruhnya di tumpukan. “Minggu ini kamu ke kosnya. Minggu lalu kamu traktir dia makan. Sebelumnya kamu nanya Bagas, nanya Sisil, nanya Pak warkop.”

“Terus salahnya di mana?”

“Nggak ada yang salah.” Dia mengambil kaus berikutnya. “Cuma nggak ada satu pun dari itu yang kamu lakuin buat dia.”

Aku duduk di lantai.

“Maksudnya gimana.”

“Kamu ngelakuin semua itu supaya kamu berhenti ngerasa nggak enak.” Gita tidak mengangkat wajahnya. “Itu beda, Ru. Yang pertama namanya minta maaf. Yang kedua namanya minta diampunin.”

Aku ingin membantah dan tidak bisa, karena empat hari sebelumnya aku pulang dari kos itu dan hal pertama yang aku rasakan bukan sedih untuk dia.

Yang aku rasakan adalah malu untuk diriku sendiri.

“Terus aku harus ngapain?”

“Berhenti seminggu.”

“SEMINGGU?”

“Tujuh hari. Jangan chat. Jangan telepon. Jangan dateng.”

“Gita, dia berangkat dua puluh dua hari lagi—“

“Aku tau.” Gita melipat kaus terakhir dan meletakkannya, lalu duduk menghadapku. “Dan itu tepatnya kenapa kamu harus berhenti.”

“Aku nggak ngerti.”

“Ru, kalau kamu ngejar terus sampai tanggal sembilan, kamu nggak akan pernah tau.” Dia menatapku. “Kamu nggak akan pernah tau apakah dia diem karena dia udah selesai, atau karena dia nggak punya ruang buat gerak. Kamu ngisi semua ruangnya.”

“Terus kalau aku berhenti?”

“Kalau kamu berhenti, dan dia nyari kamu, artinya masih ada.”

“Dan kalau enggak?”

Gita tidak menjawab dengan cepat, dan itu jawabannya.

“Kalau enggak,” katanya akhirnya, “kamu tetep harus tau. Sekarang, bukan tanggal delapan.”


Aku berhenti hari Senin.

Aku ingin bilang itu sulit dan aku ingin kalian tahu seberapa sulitnya, jadi aku akan menuliskan angkanya saja.

Hari pertama, aku membuka aplikasi chat empat belas kali. Aku tahu karena hpku punya fitur yang menghitung dan aku mengeceknya malam itu dan menyesal telah mengeceknya.

Hari kedua, sebelas kali.

Hari ketiga, aku mengetik pesan lengkap sebanyak tiga kali dan menghapusnya tiga kali. Yang terakhir sudah selesai dan jempolku sudah di tombol kirim.

Hari keempat, aku menelepon Gita jam satu pagi dan dia mengangkat dan tidak mengatakan apa-apa selama mungkin dua menit, cuma mendengarkan aku bernapas, lalu berkata “tidur, Ru,” dan menutup telepon.

Hari kelima aku tidak menghitung apa-apa.

Dan sepanjang tujuh hari itu, hp-ku bergetar berkali-kali, dan tidak sekali pun dari dia.

Bukan sekali pun.

Aku tidak akan menuliskannya lebih dramatis dari itu, karena kejadiannya memang tidak dramatis. Tujuh hari, dan orang yang selama tiga tahun datang dalam empat menit setiap kali aku memanggil, tidak mengirim satu huruf pun ketika aku diam.

Dan ini yang aku sadari di hari kelima, sambil duduk di kelas dan tidak mendengar satu kata pun dari dosen:

Tentu saja tidak.

Kenapa dia harus?

Selama tiga tahun, tidak sekali pun aku menghubungi dia untuk alasan yang bukan aku butuh sesuatu. Kalau aku diam, artinya aku sedang tidak butuh apa-apa. Diamnya aku selama ini selalu berarti semuanya aman.

Aku sudah melatih orang itu, selama tiga tahun, untuk membaca diamku sebagai kabar baik.

Sekarang aku diam dan mengharapkan dia panik.

Tidak ada yang lebih tidak adil dari itu.


Hari Selasa, hari kedua, aku melakukan sesuatu yang tidak aku ceritakan ke Gita sampai berbulan-bulan kemudian, karena aku tidak yakin itu tidak melanggar aturan.

Aku pergi ke warkop Pak Umar jam setengah lima sore.

Aku tidak menghubungi Kira. Aku tidak ke kosnya. Aku cuma duduk.

Aku duduk di meja pojok yang menghadap jalan, di kursi yang dari situ terlihat gerbang samping kampus dan pintu sekre di sisi dalamnya, dan aku memesan teh panas.

Aku duduk di situ sampai jam delapan.

Tiga setengah jam.

Aku ingin menceritakan tiga setengah jam itu tapi tidak ada yang bisa diceritakan, dan itulah seluruh isi bab ini.

Jam pertama, aku mengerjakan sesuatu di laptop. Rundown acara. Aku menyelesaikannya dalam empat puluh menit.

Jam kedua, aku membuka media sosial dan menggulirnya sampai sampai ke unggahan yang sudah aku lihat kemarin.

Jam kedua lewat, aku keluar dan berjalan mengelilingi blok satu kali karena punggungku sakit.

Jam ketiga, aku memperhatikan orang.

Ada ibu-ibu membeli gorengan. Ada tukang parkir yang duduk di trotoar selama empat puluh menit tanpa melakukan apa-apa. Ada anak kampus lewat berombongan, lalu lewat lagi berombongan, dan setiap kali ada rombongan lewat aku menoleh ke pintu, refleks, meskipun aku tahu persis bahwa tidak ada yang akan keluar dari pintu itu untuk aku.

Aku menoleh ke pintu, hitunganku, dua puluh enam kali dalam tiga setengah jam.

Dua puluh enam.

Dan aku cuma duduk satu hari.


Pak Umar menambah teh tanpa aku minta sekitar jam tujuh.

“Nunggu siapa, Mbak?”

“Nggak nunggu siapa-siapa.”

Dia menuang teh, dan menatapku sebentar, dan berkata:

“Yang kemarin itu ya.”

“Iya.”

“Dia nggak ke sini lagi.”

Aku menegakkan punggung.

“Sejak kapan, Pak?”

Pak Umar berpikir. Dia berpikir sungguh-sungguh, sambil memegang teko, dan aku menunggu jawaban itu dengan cara yang membuat jariku dingin.

“November,” katanya. “Iya, November. Habis hujan gede itu. Yang sampai banjir di Kalibaru.”

Aku memegang gelas dengan dua tangan.

“Dia dateng sekali lagi habis itu?”

“Sekali. Beberapa hari setelahnya. Duduk sebentar, teh nggak diminum, terus pulang.” Pak Umar mengangkat bahu. “Habis itu udah nggak pernah. Padahal biasanya tiap hari, Mbak. Saya sampai nanya ke anak kampus lain, kirain dia lulus.”

Dia kembali ke belakang meja.

Dan aku duduk di kursi itu — kursinya — dan menghitung mundur.

Aku berhenti diperhatikan bulan November.

Aku baru menyadarinya bulan Januari.

Ada jarak dua bulan penuh di antara keduanya. Dua bulan di mana aku hidup dengan normal, mengeluh soal galon, menyebut diriku apes, dan menyusun struktur kepanitiaan dengan kolom bertuliskan TBD.

Selama dua bulan itu, orang yang biasanya duduk di kursi ini tidak duduk di sini lagi.

Dan tidak ada satu hal pun di hidupku yang berbunyi.


Aku pulang jam delapan malam dengan pinggang yang sakit dan kepala yang penuh.

Aku duduk di kasur dan mencoba memikirkan langkah berikutnya, dan yang datang justru pertanyaan yang sama sekali berbeda, dan pertanyaan itu tidak mau pergi sampai pagi.

Pertanyaannya begini:

Kalau dia menunggu tiga setengah jam sehari selama tiga tahun, apa yang dia pikirkan selama itu?

Bukan tentang aku. Itu terlalu mudah dan aku sudah cukup tahu diri untuk tidak berasumsi begitu.

Maksudku sungguhan: apa yang dipikirkan orang yang duduk sendirian di warung selama tiga setengah jam, enam hari seminggu, selama tiga tahun?

Dia pasti punya isi kepala. Semua orang punya isi kepala. Dia pasti punya hal-hal yang dia sukai, hal-hal yang membuatnya kesal, lagu yang dia dengarkan berulang-ulang, cita-cita yang tidak dia ceritakan.

Aku tidak tahu satu pun.

Dan saat itulah — jam satu pagi, hari Selasa yang sudah jadi hari Rabu — aku akhirnya mengerti kenapa semua yang aku lakukan sejak bulan Januari gagal.

Aku sedang mencoba mengembalikan seseorang.

Padahal orang itu tidak pernah aku punya.

Aku punya kebiasaan. Aku punya fasilitas. Aku punya seseorang yang selalu ada, dan aku menyebut kehadirannya “Kira”, dan waktu kehadirannya hilang aku pikir yang hilang adalah Kira.

Bukan.

Yang hilang adalah kenyamanan. Dan aku sudah tiga minggu ini berusaha keras mendapatkan kenyamanan itu kembali sambil menyebutnya cinta.

Aku duduk di kasur jam satu pagi dan merasa mual.


Hari ketujuh, Minggu, Gita datang lagi.

“Gimana?”

“Dia nggak nyari.”

“Sekali pun?”

“Sekali pun.”

Gita duduk di kursi dan tidak mengatakan apa-apa selama beberapa saat. Aku menghargai itu. Kalau dia mengatakan sesuatu yang menghibur waktu itu, aku mungkin akan melemparnya dengan bantal.

“Kamu mau nyerah?” tanyanya akhirnya.

Aku memikirkannya dengan serius, karena pertanyaannya serius.

“Nggak,” kataku.

“Kenapa?”

Dan aku memberikan jawaban yang membuat Gita menatapku lama sekali, dan yang sampai sekarang aku anggap sebagai satu-satunya hal cerdas yang aku katakan sepanjang bulan itu.

“Karena aku baru sadar aku ngejar orang yang salah,” kataku. “Selama tiga minggu ini aku ngejar orang yang dulu selalu ada. Aku pengen dia balik jadi kayak dulu.”

“Terus?”

“Terus dia nggak akan balik jadi kayak dulu. Dan aku nggak mau dia balik jadi kayak dulu.” Aku menarik napas. “Orang yang kayak dulu itu orang yang nunggu tiga setengah jam tiap hari di warung dan nggak pernah bilang. Aku nggak mau ada orang kayak gitu lagi. Buat siapa pun.”

Gita meletakkan hpnya.

“Terus kamu mau ngapain?”

“Aku mau kenalan,” kataku.

“Sama siapa?”

“Sama dia.”

Dan aku mengatakannya sambil merasa sangat bodoh, karena aku sudah mengenal orang itu selama tiga tahun dan sekarang aku bilang aku mau kenalan.

Gita tidak menertawakanku.

Dia berdiri, mengambil tasnya, dan di pintu dia berbalik.

“Ru.”

“Hm.”

“Empat belas hari.”

“Aku tau.”

“Kalau kamu mau kenalan sama orang dalam empat belas hari,” katanya, “kamu butuh sesuatu buat nyatet. Kamu jelek banget ingetan.”

Dia menutup pintu.

Aku duduk di lantai kamar selama beberapa menit.

Lalu aku memakai jaket, keluar, dan berjalan kaki ke minimarket di ujung gang jam sembilan malam, dan membeli buku tulis paling murah yang mereka punya — bersampul biru, tiga puluh delapan lembar, harganya lima ribu dua ratus.

Aku pulang, duduk di kasur, membuka halaman pertama, dan memegang pulpen.

Dan aku duduk seperti itu selama dua hari sebelum menulis satu kata pun.