← Aku Udah di Jalan

Chapter Eight

Sopir

POV: Kira

Percetakan punya satu mobil, Avanza abu-abu tahun dua ribu sepuluh, yang dipakai untuk mengantar orderan besar ke luar kota.

AC-nya cuma dingin di sisi kanan. Jok belakang ada sobekan yang ditambal lakban hitam. Kaca spion tengahnya longgar dan turun sendiri kalau kena polisi tidur, jadi harus disetel ulang setiap sepuluh menit.

Mas Yudi mengizinkan aku memakainya kalau sedang tidak dipakai, dengan satu syarat: bensin diisi sendiri dan jangan sampai lecet.

“Buat apa?” tanyanya waktu aku minta hari Sabtu.

“Nganter temen.”

“Temen yang mana?”

“Yang biasa.”

Dia mengeluarkan kunci dari laci dan menaruhnya di meja, lalu menahannya dengan telunjuk sebelum aku sempat mengambil.

“Ra.”

“Iya.”

“Kamu tuh anak paling rajin yang pernah kerja di sini.” Dia mengangkat telunjuknya. “Itu bukan pujian.”


Chat itu masuk hari Rabu.

Haru
RA
ra ra ra ra
aku butuh kamu
tapi ini permintaan paling gila yang pernah aku minta jadi kamu boleh nolak
beneran boleh nolak
serius

Aku tidak pernah menolak permintaan yang didahului kalimat “kamu boleh nolak”, dan dia tahu itu, dan aku tidak yakin dia sadar dia tahu itu.

Apa.

sabtu ada pameran arsitektur di kota sebelah. tama pengen banget. terus dia nanya aku mau ikut nggak.

Bagus.

NAH MASALAHNYA

motor dia lagi di bengkel dan aku nggak berani bawa motor jauh malem2 dan pulangnya jam 10an dan kalo naik bus terakhirnya jam 8

Titik-titik mengetik muncul, hilang, muncul lagi. Lama.

kamu bisa nganterin nggak? pake mobil percetakan itu?

aku bayar bensin. sumpah. aku bayar semuanya.

ra kalo kamu nggak nyaman bilang aja

aku beneran nggak enak minta ini

Ada bagian dari malam itu — aku sedang berdiri di dapur kos, memegang gelas berisi air yang sudah tidak jadi aku minum — di mana aku memikirkan kalimat yang benar.

Kalimat yang benar sebenarnya pendek. Maaf, aku nggak bisa.

Empat kata. Tidak perlu alasan. Orang menolak setiap hari dan dunia tidak berhenti.

Tapi kalau aku menolak, dia akan mencari cara lain. Dia akan naik bus terakhir jam delapan dan pulangnya entah bagaimana, atau dia akan nekat bawa motor sendiri, atau dia akan minta tolong ke Bagas yang menyetirnya menakutkan.

Itu alasan yang aku pakai malam itu, dan aku memakainya dengan sungguh-sungguh, dan aku baru tahu setahun kemudian bahwa alasan itu palsu.

Yang sebenarnya begini: kalau aku menolak, Sabtu malam itu akan tetap terjadi, dan aku tidak akan ada di sana.

Aku lebih memilih menonton dari kursi depan daripada tidak menonton sama sekali.

Bisa.


Sabtu jam empat sore, aku mencuci mobil itu.

Bukan cuma disiram. Aku mengeluarkan karpetnya, menyedot remah-remah di sela jok, membersihkan dashboard pakai lap basah, dan membeli pengharum mobil aroma yang paling netral karena yang wangi-wangi bisa bikin orang mual di perjalanan jauh.

Sobekan di jok belakang aku tutup pakai kain lap bersih yang aku lipat rapi supaya kelihatan seperti alas, bukan tambalan.

Aku menyadari apa yang sedang aku lakukan sekitar setengah jalan, di antara menyedot remah dan memasang karpet.

Aku tetap menyelesaikannya.


Aku menjemput Haru jam lima.

Dia keluar dari pagar kos, dan aku sempat tidak mengenalinya selama seperempat detik.

Bukan karena dia berdandan berlebihan. Justru sebaliknya — rambutnya digerai dan diluruskan, dia pakai kemeja putih dan rok panjang, dan tidak ada satu pun bagian dari penampilannya yang berteriak. Dia kelihatan seperti orang yang berpikir cukup lama tentang bagaimana caranya terlihat seperti orang yang tidak berpikir tentang penampilannya.

Dia membuka pintu depan, melihat ke dalam mobil, dan berhenti.

“Ra, ini mobilnya bersih banget.”

“Emang gitu.”

“Enggak. Minggu lalu aku ikut nganter poster, ini bau tinta sama ada kardus di mana-mana.”

“Kardusnya dikeluarin.”

Dia menatapku beberapa saat. Lalu tersenyum, dengan cara yang membuat sesuatu di dadaku terangkat satu senti sebelum aku sempat menahannya.

“Kamu tuh niat banget ya orangnya.”

“Iya.”

Kami menjemput Tama di gang kedua Jalan Cendana.

Haru turun untuk memanggil, dan waktu mereka kembali ke mobil, ada momen dua detik di mana keduanya berdiri di sisi kanan mobil dan sama-sama tidak tahu harus duduk di mana.

Aku menyelesaikannya sebelum jadi canggung.

“Belakang aja,” kataku dari jendela. “Depan nggak ada AC-nya.”

Itu bohong. AC-nya justru cuma dingin di depan.

Mereka duduk di belakang.


Perjalanan ke kota sebelah satu jam empat puluh menit.

Aku menyetir. Mereka bicara.

Tama ternyata orang yang berbeda kalau membicarakan hal yang dia sukai. Di sekre dia tenang dan seperlunya; di kursi belakang mobil itu dia bicara sepuluh menit tanpa berhenti tentang seorang arsitek Jepang yang membangun rumah dengan atap yang sengaja dibuat bocor di satu titik, supaya penghuninya tahu kapan hujan turun.

“Itu kan konyol,” kata Haru.

“Iya.”

“Terus kenapa kamu suka?”

“Karena dia mikirin sesuatu yang nggak ada di daftar kebutuhan siapa pun.” Tama diam sebentar. “Kebanyakan bangunan cuma jawab pertanyaan. Yang itu bikin pertanyaannya sendiri.”

Haru diam.

Dan aku, yang sedang memegang setir di jalan lurus dengan tangan di posisi sembilan dan tiga, tahu persis apa yang baru saja terjadi di kursi belakang, karena aku hafal bunyi diamnya Haru.

Ada diamnya yang bosan. Ada diamnya yang ngantuk. Dan ada diamnya yang ini: diam yang berarti dia sedang menyimpan sesuatu untuk dipikirkan lagi nanti sebelum tidur.

Aku menyetel ulang spion tengah, yang turun sendiri karena polisi tidur.

Dan spion itu, setelah disetel, memantulkan kursi belakang.


Selama satu jam empat puluh menit, aku belajar hal-hal berikut tentang Haru, dari kaca spion selebar dua puluh sentimeter:

Dia duduk lebih tegak dari biasanya, tapi setelah tiga puluh menit dia lupa dan mulai bersandar dan menekuk satu kaki ke atas jok, seperti biasanya, dan aku merasa lega untuk alasan yang tidak masuk akal.

Dia tertawa dua kali dengan tawanya yang asli, yang keluar dari perut, dan sisanya dengan tawa yang lebih sopan.

Waktu Tama menjelaskan sesuatu dengan tangan, dia memiringkan kepala.

Satu jam sepuluh menit di perjalanan, tangan mereka bersentuhan di jok tengah waktu sama-sama mengambil botol air, dan tidak ada yang menarik tangannya cepat-cepat, dan itu jauh lebih penting daripada kalau salah satu menarik.

Aku melihat semuanya.

Kalau kalian bertanya kenapa aku tidak berhenti melihat, jawabannya adalah: aku sedang menyetir, dan menyetir mengharuskan kamu mengecek spion, dan itu alasan yang sangat sah, dan aku memakai alasan itu sampai habis.


Pamerannya di gedung kampus teknik kota sebelah. Parkirannya luas dan gelap.

Aku memarkir mobil, mematikan mesin, dan mereka mulai bersiap turun.

Lalu Haru menyandarkan badannya ke depan, di antara dua kursi, dan mengangkat tangannya ke kepalaku.

“Rambut kamu.”

“Kenapa.”

“Berdiri.” Jarinya masuk ke rambutku di sisi kanan, menekan, merapikan dua kali. “Dari tadi. Kayak antena.”

Tama sudah membuka pintu dan turun, sopan, memberi ruang, menunggu di luar.

Jarinya di rambutku selama mungkin empat detik.

“Nah,” katanya, puas, dan menepuk pipiku sekali — ringan, cepat, cara orang menepuk pipi adiknya. “Ganteng.”

Lalu dia turun untuk pergi kencan dengan orang lain.


Pamerannya empat jam.

Aku sudah tahu itu sejak lihat jadwalnya, jadi aku bawa laptop dan tugas dan power bank.

Dua jam pertama aku mengerjakan sesuatu. Jam ketiga aku keluar mobil dan jalan kaki mengelilingi parkiran dua kali karena punggungku sakit. Jam keempat aku duduk di kap mobil, memandangi gedung, dan menghitung berapa kali orang keluar dari pintu utama.

Aku menghitung tiga puluh tujuh orang sebelum berhenti.

Ada hitungan lain yang aku lakukan malam itu, dan hitungan ini yang jadi masalah.

Aku mulai dari semester dua. Aku menghitung mundur, bulan demi bulan, semua kali aku menunggu.

Menunggu di depan Fikom karena dosennya menambah waktu. Menunggu di rumah sakit waktu ibunya operasi, sembilan jam, dan aku yang membeli makan untuk seluruh keluarganya karena tidak ada yang ingat makan. Menunggu di stasiun. Menunggu di depan tempat les. Menunggu di parkiran pagar hijau, dua jam sebelas menit. Menunggu di percetakan sampai jam dua pagi supaya spanduknya selesai. Menunggu di luar toilet mall karena dia mabuk perjalanan dan aku tidak enak pulang duluan.

Aku sampai ke angka yang tidak bisa aku pastikan, jadi aku turunkan estimasinya sampai ke yang paling konservatif, dan angkanya masih ratusan jam.

Ratusan jam.

Dan malam itu, duduk di kap Avanza abu-abu di parkiran gelap kota sebelah, aku menyadari sesuatu yang seharusnya aku sadari bertahun-tahun sebelumnya:

Tidak ada satu pun dari ratusan jam itu yang tercatat di mana pun.

Bukan cuma dia tidak tahu. Aku juga tidak pernah membuat catatannya. Tidak ada bukti. Kalau besok aku hilang, dan seseorang menyusun daftar hal-hal yang aku lakukan dalam hidupku sampai umur dua puluh dua, ratusan jam itu tidak akan muncul di mana pun, dalam bentuk apa pun, karena menunggu tidak meninggalkan bekas.

Kalau kamu membangun sesuatu, ada bangunannya.

Kalau kamu menulis sesuatu, ada tulisannya.

Kalau kamu menunggu selama tiga tahun, yang tersisa cuma kamu yang lebih tua.


Mereka keluar jam sepuluh lewat dua puluh.

Haru berjalan lebih cepat dari Tama, seperti biasa, dan mengetuk kaca sebelum masuk meskipun pintunya tidak dikunci.

“RA. Maaf lama banget.”

“Nggak apa-apa.”

“Kamu ngapain aja?”

“Ngerjain tugas.”

“Selesai?”

“Selesai.”

Itu bohong. Aku tidak menyentuh laptop sejak jam delapan.

Mereka duduk di belakang lagi, dan mengobrol lebih pelan sekarang karena capek, dan pada kilometer ke tiga puluh Haru tertidur.

Aku tahu dia tertidur bukan dari spion. Aku tahu dari suaranya yang berhenti di tengah kalimat.

Aku mengangkat tanganku ke spion tengah untuk menyetelnya — sudah turun lagi karena polisi tidur di gerbang tol — dan berhenti dengan tangan di udara.

Lalu aku menurunkannya lagi, sampai kacanya menghadap ke langit-langit mobil, dan menyetir sisa satu jam sepuluh menit tanpa spion tengah sama sekali.

Aku bilang ke diriku sendiri bahwa itu supaya cahaya lampu belakang tidak menyilaukan.

Di kursi belakang, dalam gelap, tidak terjadi apa-apa yang perlu aku lihat. Aku cukup yakin. Aku hampir yakin.

Aku tidak tahu, dan malam itu, tidak tahu adalah satu-satunya hal baik yang aku punya.