← Aku Udah di Jalan

Chapter Three

Es Teh Punya Orang

POV: Kira

Hal-hal yang aku tahu tentang Haru, yang tidak pernah aku beritahukan ke siapa pun, termasuk ke Haru:

Dia tidak bisa minum dingin sejak gigi geraham kanan bawahnya ditambal semester tiga. Tapi dia selalu memesan es, karena menurutnya teh panas itu minuman orang tua, dan karena dia lupa. Setiap kali. Selalu.

Dia tidak bisa membaca peta. Bukan tidak bisa membaca peta dengan baik — tidak bisa sama sekali. Dia memutar hp-nya mengikuti arah badan.

Dia menggigit ibu jari kalau gugup, dan menggaruk belakang telinga kalau bohong, dan dua-duanya dia lakukan sambil tertawa jadi orang tidak pernah sadar.

Dia menghitung uang tiga kali sebelum membayar apa pun, karena waktu SMA dia pernah kehilangan uang kas kelas dan menggantinya diam-diam pakai uang sendiri selama empat bulan.

Aku tahu yang terakhir itu karena dia menceritakannya satu kali, jam dua pagi, waktu kami menunggu hasil cetak spanduk, dan besoknya dia bilang, “Semalem aku ngomong apa aja sih? Aku ngantuk banget, nggak inget.”

Aku bilang, “Nggak ngomong apa-apa penting.”


Kantin FT jam dua belas siang adalah tempat paling berisik di kampus, dan meja pojok dekat tiang adalah meja kami, dalam artian tidak ada yang pernah menyatakan itu meja kami tapi semua orang tahu.

Aku sampai duluan, seperti biasa, karena kelasku selesai jam sebelas empat puluh dan kelasnya selesai jam dua belas.

Aku memesan dua porsi. Ayam geprek tanpa sambal untuk aku, ayam geprek sambal untuk dia. Es teh manis, satu. Teh panas, satu.

“Dua-duanya buat kamu, Mas?” tanya mbaknya, yang sudah tahu jawabannya karena ini sudah bulan keempat.

“Iya.”

Haru datang jam dua belas lewat tujuh, menjatuhkan tasnya ke kursi, dan langsung mengambil es teh.

Dia menyedot sekali.

Lalu berhenti, mengernyit, memegang pipi kanannya, dan mengeluarkan bunyi seperti orang yang baru saja menginjak lego.

“Ngh.”

Aku menggeser teh panas ke depannya dan menarik es teh ke sisiku. Sudah. Dua detik. Tidak ada yang bicara.

“Aku lupa lagi,” katanya dengan suara sengau karena masih memegang pipi.

“Iya.”

“Kenapa sih aku nggak pernah inget.”

“Nggak tau.”

“Kamu inget terus.”

“Kebetulan.”

Dia melirikku sambil menyeruput teh panas dengan tampang menyerah, lalu tiba-tiba mencubit lengan atasku, keras, tanpa alasan.

“Aduh.”

“Itu buat kamu yang nggak pernah bilang ‘aku udah bilang’.”

“Aku emang nggak bilang.”

“Nah itu. Nyebelin.” Dia mencubit lagi, lebih pelan. “Orang normal tuh bakal ngomel. Kamu tuh diem terus. Kayak... kayak lemari.”

“Lemari.”

“Lemari yang isinya lengkap,” katanya, menunjuk aku pakai sendok. “Setiap dibuka ada aja yang dibutuhin.”

Aku minum es tehnya. Manisnya kelewatan. Dia selalu minta gula banyak.


Setengah jam berikutnya berjalan seperti empat ratus setengah jam sebelumnya dalam tiga tahun terakhir.

Dia bercerita tentang dosennya yang menolak proposal judul, dan tentang Gita yang katanya lagi marah sama pacarnya tapi tidak mau mengaku marah, dan tentang harga tiket konser yang naik. Dia menyuapiku sepotong ayamnya untuk membuktikan bahwa sambalnya tidak pedas — sambalnya pedas — dan tertawa waktu aku minum es teh dua tegukan panjang.

“Kamu tuh kalau nggak kuat ya bilang.”

“Aku kuat.”

“Mata kamu merah.”

“Emang dari tadi.”

Dia terdiam sebentar. Lalu, dengan nada yang lebih ringan dari isinya:

“Kamu semalem tidur jam berapa?”

Jam tiga. Karena aku mengerjakan tugas yang seharusnya aku kerjakan jam empat sore, pada jam-jam waktu aku duduk di parkiran depan pagar hijau.

“Normal,” kataku.

“Normal versi kamu tuh jam berapa.”

“Ya normal.”

Dia melempar tisu ke arahku dan meleset.

Dan kemudian bayangan jatuh di atas meja.


“Haru?”

Aku tahu itu dia sebelum menoleh, karena Haru menegakkan punggung setengah detik sebelum suara itu selesai.

Tama tinggi, kurus, kemejanya dimasukkan, dan dia berdiri dengan cara yang tidak menghalangi jalan orang lain — dia sudah menggeser posisinya ke sisi tiang supaya pelayan bisa lewat. Aku memperhatikan hal-hal seperti itu. Aku berharap tidak.

“Eh! Tama.” Haru berdiri, lalu duduk lagi setengah, lalu berdiri lagi. “Kok di sini?”

“Ada urusan di lab bahan. Nggak nyangka kantin FT rame banget.”

“Emang serem. Duduk aja, duduk.”

Tama melihat aku. Menganggukkan kepala. Bukan anggukan yang basa-basi — dia benar-benar menunggu sampai aku mengangguk balik sebelum dia menarik kursi.

“Kira, kan?” katanya. “Yang divisi acara.”

“Iya.”

“Yang bikin denah alur pengunjung yang dipakai kemarin?”

“Iya.”

“Itu bagus.” Dia duduk. “Aku lihat kamu misahin jalur masuk sama jalur logistik. Kebanyakan panitia nggak kepikiran, terus hari-H ributnya di situ.”

Ada dua kemungkinan.

Kemungkinan pertama, dia sedang basa-basi, dan orang-orang yang basa-basi biasanya memuji sesuatu yang umum: kerja bagus, keren, salut.

Kemungkinan kedua, dia benar-benar membaca denah itu.

Dia menyebut jalur logistik. Itu ada di halaman tiga.

“Makasih,” kataku.

Haru melihat bolak-balik ke arah kami dengan wajah orang yang sedang menonton dua temannya berkenalan dan sangat, sangat senang bahwa itu berjalan lancar.

“Kira tuh yang paling ngerti teknis di panitia,” katanya ke Tama. “Semua yang rusak dia yang benerin.”

“Bukan semua,” kataku.

“Semua,” ulangnya, tegas, ke Tama. “Proyektor, panggung, printer, hidup aku.”

Dia tertawa. Tama tertawa. Aku ikut tertawa, dengan takaran yang tepat, karena itu memang lucu.


Sisanya berjalan baik.

Itu bagian yang paling sulit dijelaskan ke siapa pun. Tidak ada satu pun momen yang bisa aku tunjuk dan bilang, nah, di sini rasanya buruk.

Tama tidak menyela. Dia bertanya pendapatku dua kali tentang beban panggung dan mendengarkan sampai selesai. Dia tidak memonopoli Haru; justru dia yang menarik aku masuk ke obrolan setiap kali aku diam terlalu lama. Waktu pesanannya datang, dia menggeser piringnya supaya meja tidak sempit.

Aku sudah menyiapkan diri untuk membenci orang yang duduk di kursi itu. Aku punya seluruh perjalanan pulang kemarin untuk menyiapkannya.

Dan dia tidak memberi aku satu pun alasan.

Yang tersisa cuma satu hal kecil yang aku perhatikan dan berharap tidak aku perhatikan:

Haru tidak menyentuh siapa pun selama satu jam itu.

Tidak mencubit lenganku. Tidak melempar tisu. Tidak menyuapi. Tidak menepuk bahu. Tangannya diam di pangkuannya, atau memegang gelas, dan dia duduk lebih tegak dari biasanya, dan dia tertawa dengan suara yang setengah oktaf lebih tinggi dari tawanya yang biasa.

Aku baru sadar betapa sering dia menyentuhku sepanjang hari, karena hari ini dia tidak.


Jam satu, Haru harus kembali ke kelas. Dia berdiri, menyambar tasnya, mengucapkan sampai jumpa ke Tama dengan senyum yang terlalu lebar untuk jarak dua meter, dan pergi setengah berlari.

Tinggal kami berdua di meja.

Tama memutar gelasnya sekali di atas meja. Lalu dia bicara, dan nadanya berubah — bukan jadi tidak enak, tapi jadi hati-hati, seperti orang yang tahu dia sedang meminta sesuatu yang bukan haknya.

“Kira. Boleh nanya?”

“Boleh.”

“Kalian... “ Dia berhenti. Memilih kata. “Deket banget, ya.”

Aku memandang gelas es teh yang tinggal esnya.

Ada versi jawaban yang panjang. Versi itu dimulai dari semester dua, dari helm abu-abu di toko Jalan Ronggolawe, dari empat ratus kali makan siang di meja pojok dekat tiang.

“Temenan dari semester dua,” kataku.

“Oh.” Dia mengangguk. Lalu, “Cuma temenan?”

Ini pertanyaan yang jawabannya bukan milikku.

Kalau aku bilang iya, aku sedang berbohong.

Kalau aku bilang tidak, aku sedang berbohong lebih besar, karena tidak ada satu pun yang pernah terjadi selain di kepalaku, dan sesuatu yang cuma ada di kepala satu orang itu namanya bukan hubungan. Namanya cuaca.

“Iya,” kataku.

Tama mengangguk lagi. Bahunya turun sedikit, dan aku sadar dia tegang sejak tadi, dan sekarang tidak.

“Maaf ya, aku nanya begitu. Aku cuma nggak mau nabrak apa-apa.”

Ada orang yang bertanya supaya bisa maju tanpa merasa bersalah.

Dan ada orang yang bertanya karena dia beneran akan mundur kalau jawabannya beda.

Aku sudah cukup lama memperhatikan orang untuk tahu bahwa Tama tipe kedua. Itu sebabnya, sampai sekarang, aku tidak bisa berhenti memikirkan bahwa satu kata dariku sore itu bisa mengubah tiga tahun berikutnya, dan aku memilih kata yang salah karena kata yang benar bukan milikku untuk diucapkan.

“Nggak nabrak apa-apa,” kataku.

“Oke.” Dia menghela napas, lalu tersenyum, dan senyumnya lega dan jujur dan itu yang paling parah. “Boleh minta nomornya nggak?”

“Nomor Haru?”

“Iya. Aku nggak enak minta langsung. Kesannya kayak—“ dia melambaikan tangan, mencari kata, gagal. “Ya, gitu.”

Aku membuka kontak. Menekan nama yang ada di urutan paling atas karena paling sering dibuka. Membagikannya.

Hp Tama berbunyi satu kali.

“Makasih banget, Ra.”

“Iya.”

Dia berdiri, membereskan piringnya sendiri, menaruhnya di rak kotor — orang tidak melakukan itu di kantin FT — lalu pergi.

Aku duduk di meja pojok dekat tiang selama sebelas menit lagi.

Di depanku ada gelas teh panas yang tinggal setengah, dan gelas es teh yang tinggal esnya, dan aku memindahkan yang teh panas ke depan kursi kosong, lalu memindahkannya kembali, lalu berhenti melakukan hal bodoh itu dan mengambil tasku.

Malamnya, jam sembilan lewat, hp-ku bergetar.

Haru
KIRA
kamu ngasih nomor aku ke Tama????

Lalu, tiga detik kemudian, sebelum aku sempat mengetik apa pun:

makasih ya. beneran. kamu emang paling ngerti

Dan tiga detik setelah itu:

eh btw bagas ngaco masang backdrop kebalik. kamu bisa ke sekre nggak? maaf banget aku tau ini udah malem

Aku sedang telentang di kasur, lampu mati, hp di atas dada.

Aku mengetik:

Aku udah di jalan.

Lalu aku menyalakan lampu, mencari kaus yang tadi aku lempar ke kursi, dan berdiri di depan pintu kamar selama beberapa detik.

Bukan karena ragu. Aku pasti berangkat. Aku selalu berangkat.

Aku cuma berdiri di situ, memegang kunci motor, dan berpikir bahwa dalam dua puluh menit aku akan sampai di sekre dan dia akan berkata kamu cepet banget, dan aku akan berkata kebetulan lagi di luar, dan itu akan jadi kebohongan yang kelima dalam minggu ini.

Yang aneh bukan bohongnya.

Yang aneh adalah tidak ada satu orang pun yang pernah memeriksa.