← Aku Udah di Jalan

Chapter Ten

Dibaca Besoknya

POV: Kira

Aku tidak memutuskan apa pun.

Itu bagian yang selalu salah dimengerti orang. Mereka membayangkan ada malam di mana seseorang duduk di tepi kasur dan berkata pada dirinya sendiri: mulai besok aku berhenti. Ada pengumuman. Ada garis yang ditarik.

Tidak ada garis.

Yang terjadi begini: hari Senin siang, hp-ku bergetar di dalam tas waktu aku sedang di lab. Aku merasakannya. Aku tahu itu dia, karena getarannya tiga kali beruntun dan cuma satu orang yang mengirim tiga chat dalam lima detik.

Dulu aku akan mengeluarkan hp itu dari tas dan membacanya sambil pura-pura mencatat.

Hari itu aku tidak.

Bukan karena aku melawan sesuatu. Aku cuma tidak. Seperti orang yang biasanya mengambil gula di kopinya lalu suatu hari tidak, dan baru sadar tiga hari kemudian bahwa dia sudah tidak.

Aku membacanya jam enam sore, waktu kelas selesai.

ra
besok bisa nemenin aku ke percetakan?
yang buat banner sponsor

Aku mengetik: Besok aku ada kelas sampe sore.

Aku mengirimnya jam enam lewat dua.

Lima jam empat puluh menit setelah chatnya masuk.

Dulu jarak itu tidak pernah lebih dari empat menit.


Minggu itu, hal-hal berikut terjadi, dan tidak ada satu pun yang bisa disebut kejadian:

Hari Selasa, Haru mengirim chat jam sembilan pagi. Aku membalas jam dua siang.

Hari Rabu, dia mengirim chat jam sebelas malam. Aku membacanya jam tujuh pagi dan membalas jam sembilan.

Hari Kamis, dia menelepon. Aku sedang shift di percetakan, hp di dalam loker. Aku melihatnya jam delapan malam dan tidak menelepon balik, dan mengirim chat Kenapa?, dan dia menjawab udah selesai kok, dan aku menjawab Oke.

Hari Jumat, tidak ada apa-apa.

Itu yang paling aneh. Hari Jumat tidak ada apa-apa, dan aku baru sadar jam sembilan malam bahwa seharian itu aku tidak mengecek hp sekali pun untuk alasan apa pun, dan itu belum pernah terjadi sejak semester dua.


Yang pertama sadar bukan Haru.

Yang pertama sadar adalah papan tulis.

Hari Senin berikutnya, aku masuk sekre jam empat sore untuk mengambil berkas, dan Bagas sedang berdiri di depan whiteboard dengan spidol di tangan dan tampang orang yang sedang memandangi hasil rontgen.

“Kira.”

“Hm.”

“Kamu sakit?”

“Nggak.”

“Kamu ada masalah keluarga?”

“Nggak.”

Dia menunjuk tabel LOMBA TEBAK KIRA dengan spidolnya.

“Lihat ini.”

Aku melihat.

Tiga baris terakhir isinya begini:

Rabu — Sisil tebak 6 menit — HASIL: 4 jam 12 menit
Kamis — Wildan tebak 5 menit — HASIL: tidak datang
Jumat — Bagas tebak 4 menit — HASIL: TIDAK DATANG???

Tanda tanya tiga.

“Aku nggak dipanggil hari Jumat,” kataku.

“Kamu selalu dipanggil hari Jumat.”

“Nggak selalu.”

“KIRA.” Bagas meletakkan spidolnya seperti orang yang menaruh palu sidang. “Tiga tahun. Tiga tahun sistem ini berjalan sempurna. Ini satu-satunya hal di kepanitiaan ini yang bisa diprediksi. Anggaran nggak bisa diprediksi. Cuaca nggak bisa diprediksi. Sisil nggak bisa diprediksi—“

“Aku sangat bisa diprediksi,” kata Sisil dari mejanya.

“—tapi kamu bisa. Kamu tuh kayak jam. Dan sekarang jamnya rusak.”

“Aku nggak rusak.”

“Terus kenapa?”

Aku berdiri di ruangan itu, memegang map berisi berkas magang yang harus aku serahkan ke jurusan besok pagi, dan menyadari bahwa aku tidak punya jawaban yang bisa aku ucapkan.

Kalau aku bilang aku sibuk, itu bohong yang gampang, dan Bagas akan percaya.

Tapi kalau aku bilang aku sibuk, aku sedang memberi mereka alasan, dan alasan itu akan disimpan, dan minggu depan kalau aku tidak datang lagi mereka akan bilang oh Kira lagi sibuk, dan aku akan punya utang penjelasan untuk saat kesibukan itu selesai.

“Nggak kenapa-kenapa,” kataku.

Bagas menunggu.

“Beneran,” kataku. “Nggak kenapa-kenapa.”

Dia menatapku beberapa detik lebih lama dari yang nyaman, lalu mengangkat bahu dan kembali ke papan, dan menulis di kolom baru dengan huruf besar:

SENIN — SEMUA ORANG TEBAK — ???

“Aku taruhan lima ribu kamu balik normal minggu depan,” katanya.

“Oke.”

“Kamu nggak protes?”

“Nggak.”

“Biasanya kamu bilang ‘jangan taruhan’.”

Aku memasukkan map ke tas.

“Jangan taruhan,” kataku.

“Telat.”


Sisil menyusulku di parkiran.

Dia tidak menyusul orang. Sisil adalah orang yang kalau mau bicara denganmu akan mengirim chat berisi satu kalimat tanpa sapaan. Jadi waktu aku mendengar langkah di belakang dan berbalik dan itu dia, aku sudah tahu ini tentang apa.

“Aku nggak jadi ngomong apa-apa,” katanya.

“Oke.”

“Aku cuma mau bilang aku nggak nunjukin foto itu ke siapa-siapa.”

“Aku tau.”

“Dan aku nggak bakal nanya.”

“Oke.”

Dia berdiri di situ dengan kunci motor di tangan, dan aku bisa melihat dia sedang menimbang sesuatu, dan aku bisa melihat momen di mana dia memutuskan untuk mengatakannya.

“Kira. Kamu tuh nggak lagi ngambek, kan?”

“Enggak.”

“Soalnya kalau ngambek itu ada ujungnya. Orang ngambek terus baikan.”

“Aku nggak ngambek.”

“Iya.” Dia memasang helm. “Itu yang bikin aku nggak enak.”


Kalau kalian ingin tahu ke mana perginya waktu itu, jawabannya membosankan.

Aku menyelesaikan berkas magang. Ada tujuh dokumen dan tiga di antaranya butuh tanda tangan dari orang yang jam kerjanya cuma Selasa dan Kamis pagi.

Aku mengambil shift tambahan di percetakan. Mas Yudi tidak bertanya kenapa. Dia cuma menaruh jadwal baru di meja dan berkata, “Yang Sabtu jangan kelewat, itu yang paling ramai.”

Aku mulai tidur jam sebelas.

Itu yang paling aneh dari semuanya. Selama tiga tahun aku tidur jam dua, jam tiga, kadang lebih, karena aku mengerjakan tugasku sendiri di jam-jam sisa setelah mengerjakan hal-hal lain. Sekarang jam sebelas aku sudah tidak punya apa-apa untuk dikerjakan.

Malam-malam itu panjang sekali.

Bukan panjang yang menyakitkan. Panjang yang aneh, seperti masuk ke kamar sendiri dan menemukan lemari sudah dipindahkan sepuluh senti oleh orang lain.

Aku tidak tahu harus diapakan waktu yang tiba-tiba jadi milikku.


Hari Sabtu, Haru mengirim foto.

Foto backdrop yang sudah jadi, terpasang di panggung, dengan Bagas berdiri di depannya sambil mengacungkan dua jempol.

JADI RA
bagus nggak
warnanya jadi biru soalnya sisil menang debat

Aku melihat foto itu jam sepuluh pagi.

Aku ikut merancang backdrop itu. Ukurannya aku yang hitung, karena Bagas salah menghitung tinggi panggung dan kalau dipasang dengan ukuran aslinya akan menutupi setengah layar proyektor.

Aku mengetik: Bagus.

Lalu aku menatap layarnya sebentar.

Dulu aku akan mengirim tiga pesan setelah itu. Aku akan bertanya apakah bracket atasnya sudah dikunci, karena kain sepanjang itu akan melengkung kalau cuma diikat. Aku akan mengingatkan supaya jangan dipasang lebih dari dua hari sebelum acara karena kena angin malam. Aku akan bertanya siapa yang menyimpan sisa kainnya.

Semua itu ada di kepalaku, urut, siap kirim.

Aku menaruh hp di meja.

Bracket atasnya tidak dikunci. Aku tahu itu dari fotonya — bayangan lipatannya salah.

Kainnya melengkung tiga hari kemudian dan harus dipasang ulang, dan Bagas mengeluh di grup selama empat puluh menit, dan Wildan menghabiskan satu sore penuh untuk memperbaikinya.

Aku membaca semua itu di grup dan tidak mengatakan apa-apa.

Ini bagian yang paling aku pikirkan sampai sekarang: itu bukan pembalasan.

Aku tidak diam supaya kainnya melengkung. Aku tidak ingin ada yang gagal. Kalau ada yang bertanya langsung, aku akan menjawab dengan lengkap.

Aku cuma... berhenti menawarkan.

Dan ternyata jarak antara menawarkan dan tidak menawarkan adalah seluruh isi tiga tahun itu.


Hari Senin, Bagas menghapus papan.

Aku tidak ada di sana waktu itu. Aku tahu karena Wildan mengirim foto ke grup dengan caption bagas galau, dan di foto itu whiteboardnya sudah kosong, tinggal bekas spidol yang tidak hilang sempurna di bagian judul.

Kalau kalian memandangnya dari sudut tertentu, tulisan LOMBA TEBAK KIRA masih terbaca samar di sana, seperti bayangan.

Di bawah foto itu, Bagas mengetik:

sistemnya udah nggak valid

Lalu, dua menit kemudian:

aku ganti jadi timeline acara aja

Lalu, tiga menit setelahnya, dan ini yang aku baca berkali-kali malam itu:

eh ini kenapa jadi sedih ya

Ada tiga puluh dua orang di grup itu.

Empat orang mengirim emotikon ketawa.

Haru mengirim stiker anak kucing yang mengangkat tangan, lalu mengirim pesan tentang jadwal gladi bersih, dan sembilan orang membalas soal gladi bersih, dan percakapan itu bergerak ke tempat lain dan tidak kembali.

Aku membaca semuanya sampai bawah.

Lalu aku menaruh hp di lantai dengan layar menghadap ke bawah, dan berbaring, dan menyadari bahwa aku sudah menunggu selama empat puluh menit untuk sesuatu yang bahkan tidak aku rumuskan dalam bentuk kalimat.

Aku ingin ada satu orang yang bertanya di grup itu: Kira ke mana?

Bukan ke aku. Aku tidak ingin ditanya langsung; kalau ditanya langsung aku akan bohong.

Aku cuma ingin melihat namaku ditanyakan.

Dan malam itu aku mengerti bahwa aku sedang melakukan hal yang sama persis seperti tiga tahun terakhir — menunggu di tempat yang bisa dilihat orang, berharap ada yang menoleh ke kanan — cuma sekarang parkirannya berbentuk grup WhatsApp.

Aku mematikan hp.

Besok pagi aku harus menyerahkan berkas magang ke jurusan, dan itu satu-satunya hal di duniaku yang punya tenggat, dan untuk sementara itu cukup.