← Aku Udah di Jalan

Chapter Nineteen

Papan Taruhan

POV: Haru

Aku menemukannya karena hal yang paling bodoh: kami sedang mencari foto lama untuk konten media sosial.

Divisi humas butuh materi throwback untuk membangun antusiasme acara baru, dan Rara meminta foto-foto kepanitiaan tahun-tahun sebelumnya, dan satu-satunya orang di muka bumi yang menyimpan arsip selengkap itu adalah Sisil.

Kami duduk berdua di sekre hari Selasa sore, hp-nya di antara kami, menggulir galeri yang isinya empat ribu foto.

“Kamu nyimpen semuanya?”

“Aku nyimpen yang penting.”

“Sisil, ini ada foto galon.”

“Itu penting. Itu bukti kita udah lapor sarana.”

Kami menggulir. Foto rapat. Foto panggung. Foto orang tidur di sekre. Foto Bagas memegang spidol dengan ekspresi yang tidak masuk akal.

Lalu jempolku berhenti sendiri.

Foto whiteboard.

Diambil dari depan, agak miring, tanggalnya dua tahun lalu. Di dalam foto itu ada tabel dengan judul yang ditulis pakai spidol merah, huruf kapital, garis bawah dua kali.

LOMBA TEBAK KIRA

Aku tertawa.

Aku ingin mencatat itu, karena aku tertawa lebih dulu, dan tawa itu tulus.

“Astaga, papan ini. Aku lupa banget.”

“Bagas bikin selama dua tahun.”

“Serius dua tahun?”

“Dua tahun tiga bulan.” Sisil menggulir dua foto ke depan, lalu dua foto lagi. “Aku foto tiap bulan. Buat arsip.”

Ada tujuh foto papan itu, diambil di bulan yang berbeda.

Aku memperbesar yang pertama.

Kolomnya empat: tanggal, penebak, tebakan, hasil.

3 Mei — Wildan — 8 menit — HASIL: 6 menit 20
7 Mei — Bagas — 5 menit — HASIL: 5 menit 02
12 Mei — Sisil — 6 menit — HASIL: 4 menit 51
15 Mei — Rara — 10 menit — HASIL: 5 menit 30

Aku menggulir ke foto berikutnya. Bulan yang berbeda. Angka yang sama-sama kecil.

4 menit 40. 5 menit 12. 4 menit 58. 6 menit 03.

“Dia cepet banget ya,” kataku.

Sisil tidak menjawab.

Aku menggulir lagi. Foto keempat. Foto kelima. Ada satu baris yang ditulis dengan huruf lebih besar dan diberi kotak:

REKOR: 4 MENIT 40 DETIK — Bagas, 19 September

Aku tersenyum lagi. Aku ingat malam itu. Aku ingat Bagas berteriak dan menjatuhkan kursinya.

Lalu, tanpa alasan yang jelas, aku bertanya:

“Sisil, kos Kira di mana sih?”

Sisil mengangkat wajahnya dari laptop.

Dia menatapku beberapa detik lebih lama dari yang nyaman.

“Utara,” katanya. “Belakang perumahan Griya Asri. Gang ketiga.”

“Itu jauh?”

“Kamu punya hp.”


Aku membuka peta.

Aku mengetik “Griya Asri” dan menaruh titik tujuan di sekre.

Layarnya memuat selama dua detik.

Rute tercepat: 9 menit (4,1 km)

Aku menatapnya.

Sembilan menit.

Aku menekan pilihan lain untuk memastikan. Ada tiga rute. Yang paling pendek 4,1 kilometer lewat perempatan Kalibaru. Yang kedua 4,8 kilometer lewat Jalan Wijaya. Yang ketiga 5,2.

Sembilan menit itu perkiraan aplikasi, dan aplikasi tidak menghitung lampu merah dengan benar, dan aplikasi tidak menghitung waktu memakai helm, menyalakan motor, keluar dari gang, dan memarkir.

Aku duduk di sekre dengan hp di tangan dan sesuatu di kepalaku mulai bekerja pelan-pelan, seperti orang yang menghitung kembalian dan menyadari angkanya kurang.

Empat menit empat puluh detik.

Aku membuka lagi foto papan itu. Aku menggulir ke tujuh foto itu satu per satu dan membaca semua barisnya, semua tanggalnya, semua hasilnya.

Empat puluh dua baris.

Tidak ada satu pun yang lebih dari delapan menit.

Tidak ada satu pun.

Dalam dua tahun tiga bulan, empat puluh dua kali, orang yang kosnya sembilan menit dari sini datang dalam waktu kurang dari delapan menit, setiap kali, termasuk waktu hujan, termasuk jam sembilan malam, termasuk hari Minggu.

“Sisil.”

“Hm.”

“Ini nggak mungkin.”

Sisil menutup laptopnya.


“Kamu baru sadar sekarang?”

Dia tidak bertanya dengan nada menuduh. Sisil tidak pernah punya nada apa pun. Itu yang membuat pertanyaannya jauh lebih buruk daripada kalau dia berteriak.

“Kamu udah tau?”

“Aku ngitung dua tahun lalu.”

“Terus kenapa kamu diem aja?!”

“Karena bukan urusan aku.” Dia memasukkan laptop ke tas. “Dan karena kalau aku yang ngasih tau kamu, kamu bakal denger itu sebagai gosip. Bukan sebagai fakta.”

“Sisil—“

“Ru.” Dia berdiri. “Kamu mau tau atau enggak?”

“Tau apa?”

“Kalau kamu beneran mau tau, jangan nanya ke aku. Aku cuma punya angka.” Dia menyampirkan tasnya. “Yang punya jawabannya bukan aku.”

“Siapa?”

Sisil sudah di pintu waktu dia menjawab.

“Warkop Pak Umar. Yang di seberang gerbang samping.”


Aku ke sana hari itu juga.

Aku belum pernah masuk ke warkop itu seumur hidupku. Aku sudah lewat di depannya mungkin dua ribu kali dalam empat tahun.

Warungnya kecil. Empat meja panjang, kipas angin gantung, kalender bank tahun lalu di dinding. Ada satu bapak-bapak di belakang meja sedang mengelap gelas.

“Mau apa, Mbak?”

“Es teh,” kataku. Lalu, “Eh, teh panas aja.”

Aku duduk di meja pojok yang menghadap jalan.

Dari kursi itu, kalian bisa melihat gerbang samping kampus. Dan kalau kalian melihat sedikit ke kiri, kalian bisa melihat pintu sekre, karena sekre itu bekas gudang dan letaknya persis di sisi dalam gerbang.

Aku duduk di kursi itu selama mungkin lima menit sebelum berani bertanya.

“Pak.”

“Iya?”

“Bapak kenal Kira?”

Bapak itu menaruh gelas yang sedang dilapnya.

“Kira yang mana?”

“Anak Teknik Industri. Tinggi, kurus, rambutnya—“ Aku berhenti, karena aku menyadari aku tidak tahu bagaimana menjelaskan rambutnya. “Yang orangnya diem.”

“Oh.” Wajahnya berubah, terang. “Yang tiap sore duduk di situ.”

Dia menunjuk.

Dia menunjuk kursi yang sedang aku duduki.


“Dari jam berapa, Pak?”

“Setengah lima. Kadang jam lima.” Pak Umar melipat lapnya. “Tiap hari, Mbak. Bertahun-tahun. Saya sampai hafal.”

“Setiap hari?”

“Senin sampai Sabtu. Minggu enggak, katanya kerja.”

“Sampai jam berapa?”

“Macem-macem. Kadang jam tujuh udah pulang. Kadang sampai saya mau tutup.” Dia mengangkat bahu. “Sering juga tiba-tiba pergi buru-buru. Belum abis tehnya udah berdiri, bayar, terus ngebut.”

Aku memegang gelas teh panas dengan dua tangan.

“Pergi ke mana, Pak?”

“Ya mana saya tau.” Pak Umar tertawa kecil. “Saya nggak pernah nanya. Anaknya nggak suka ditanya. Saya juga nggak ngerti dia ngapain di sini tiap hari. Bukanya laptop, terus nggak ngetik apa-apa. Cuma duduk.”

Kipas angin gantung berputar.

“Saya sempet mikir dia nunggu orang,” lanjut Pak Umar, sambil kembali mengelap gelas. “Tapi kan nggak pernah ada yang dateng. Jadi ya saya anggep dia emang suka di sini.”


Aku pulang berjalan kaki dan tidak tahu kapan aku mulai berjalan.

Aku sampai kos jam tujuh dan duduk di lantai tanpa menyalakan lampu.

Aku menghitung.

Aku ingin berhenti dan aku tidak bisa berhenti, karena begitu angka pertama masuk, angka-angka berikutnya datang sendiri seperti orang yang membuka keran dan lupa bahwa keran punya batas.

Setengah lima sampai — katakanlah rata-rata — jam delapan malam. Tiga setengah jam.

Enam hari seminggu.

Dua puluh satu jam seminggu.

Dikali empat: delapan puluh empat jam sebulan.

Dikali dua belas: seribu jam setahun.

Tiga tahun.

Aku berhenti di situ karena angka berikutnya tidak muat di kepalaku.

Bukan berapa jamnya yang membuat aku duduk di lantai gelap itu sampai kakiku kesemutan.

Yang membuat aku tidak bisa berdiri adalah ini: dia tidak menunggu di tempat yang bisa aku lihat.

Kalau dia menunggu di depan sekre, aku akan tahu. Kalau dia menunggu di parkiran, seseorang akan bertanya. Kalau dia duduk di depan gedung Fikom setiap sore, dalam seminggu seluruh kampus akan tahu dan akan ada yang menggoda dan aku akan tertawa dan mungkin — mungkin — aku akan mengerti.

Dia memilih warkop di seberang gerbang, di kursi pojok, di mana tidak ada satu pun anak kampus yang pernah masuk.

Dia menunggu di tempat yang tidak akan pernah membuat aku merasa berutang.

Dan setiap kali aku mengirim chat, dia mengetik Aku udah di jalan, supaya aku berpikir dia sedang berkendara dari utara, supaya angka empat menit itu terdengar seperti keberuntungan dan bukan seperti tiga setengah jam.

Selama tiga tahun aku memuji orang yang cepat.

Ternyata tidak ada yang cepat. Yang ada cuma orang yang berangkat lebih dulu dari semua orang, setiap hari, dan tidak pernah memberitahuku.


Jam sembilan aku menyalakan lampu.

Jam sembilan lewat aku membuka peta lagi, dan kali ini aku melakukan sesuatu yang tidak masuk akal: aku menelusuri rute dari Griya Asri ke kampus dengan jariku, pelan, jalan demi jalan.

Perempatan Kalibaru. Jalan Wijaya. Perempatan besar sebelum masuk perumahan.

Aku memperbesar perempatan itu.

Aku tidak tahu apa yang aku cari. Mungkin aku ingin melihat aspalnya. Mungkin aku ingin tahu apakah ada pohon.

Aku menutup peta.

Lalu aku membuka galeri hp-ku sendiri, dan mengetik “Kira” di kolom pencarian, karena galeri sekarang bisa mencari wajah.

Ada dua ratus tiga puluh delapan foto.

Aku duduk di kasur dan menggulirnya semua.

Dan aku menemukan sesuatu yang membuat aku menaruh hp menghadap ke bawah selama beberapa menit sebelum bisa melanjutkan:

Di dua ratus tiga puluh delapan foto itu, dia tidak pernah sekali pun menghadap kamera.

Dia selalu ada di pinggir frame. Membelakangi. Sedang memegang sesuatu. Sedang naik tangga. Sedang berjongkok di depan kabel. Kepalanya terpotong di beberapa foto. Di foto kelompok, dia selalu berdiri di ujung paling kanan atau paling kiri, dan di empat foto dia yang memegang hp orang lain sehingga tidak ada di foto sama sekali dan aku tahu itu karena aku ingat.

Aku punya dua ratus tiga puluh delapan foto orang itu dan tidak satu pun foto wajahnya.

Aku mencari lagi. Aku menggulir sampai ke tahun pertama.

Ada satu.

Diambil semester dua, di sekre, malam, resolusinya jelek. Dia duduk di lantai dengan printer terbongkar di depannya, dan dia mengangkat kepala karena aku memanggil namanya, dan ekspresinya adalah ekspresi orang yang belum sempat menyiapkan wajah.

Dia sedang melihat lurus ke kamera.

Aku menatap foto itu lama sekali.

Lalu aku menyadari, dengan cara yang membuat seluruh dadaku terasa dingin, bahwa aku tidak perlu bertanya sejak kapan.

Jawabannya ada di foto itu.

Sejak awal.

Sejak semester dua, sejak malam printer itu, sejak sebelum aku tahu nama belakangnya, sejak sebelum aku pernah sekali pun bertanya dia kerja di mana.

Dan aku duduk di kasur jam setengah sebelas malam dengan hp menyala di tangan, dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku menangis, dan aku menangis bukan karena kehilangan dia.

Aku menangis karena aku baru sadar dia sudah menunggu tiga tahun untuk ditanya satu pertanyaan, dan aku tidak pernah bertanya, dan sekarang aku bahkan tidak tahu pertanyaannya apa.