Chapter Four
Jaket yang Nggak Jadi
POV: Kira
AC sekre bocor sejak Februari.
Bukan bocor yang menetes. Bocor yang membuat seluruh ruangan jadi dingin secara tidak adil: sudut kiri dekat pintu belakang jadi seperti kulkas, sementara sudut kanan dekat jendela tetap gerah. Sudah tiga kali dilaporkan ke bagian sarana. Sudah tiga kali dijawab dengan kata “dijadwalkan”.
Meja Haru ada di sudut kiri.
Dia yang memilih meja itu, semester lalu, karena dekat stopkontak. Aku pernah bilang pindah saja ke sisi jendela, colokannya bisa disambung. Dia bilang malas mindahin barang. Itu jawaban yang jujur dan itu Haru sekali, dan sejak hari itu aku mulai membawa jaket kedua di tas.
Jaket kedua itu bukan jaketku yang bagus. Justru sebaliknya — hoodie abu tua yang sudah longgar di lengan, karena jaket yang terlalu bagus akan membuat orang bertanya, dan jaket yang jelek bisa disodorkan sambil bilang “ini di tas, ada” seolah-olah kebetulan.
Sudah dua puluh dua kali dipakai. Aku tidak menghitung dengan sengaja. Aku cuma tahu.
Rapat besar malam itu dimulai jam tujuh dan seharusnya selesai jam sembilan.
Jam sembilan lewat empat puluh, Bagas masih berdiri di depan whiteboard dengan spidol yang sudah hampir habis, menjelaskan konsep panggung untuk ketiga kalinya, kepada orang-orang yang sudah mengerti sejak penjelasan pertama.
“Jadi intinya,” katanya, “kita butuh dua level.”
“Kamu udah bilang itu,” kata Sisil.
“Aku bilang biar meresap.”
“Udah meresap dua puluh menit yang lalu. Sekarang udah nembus ke tulang.”
Wildan mengangkat tangan. “Bagas, kalau dua level, tangganya di mana?”
“NAH.” Bagas menunjuk Wildan dengan spidol seperti menemukan murid terbaiknya. “Pertanyaan bagus. Aku belum mikir.”
Sisil menutup laptopnya dengan bunyi yang keras.
Aku duduk di kursi dekat pintu, memegang gelas kopi yang sudah dingin sejak satu setengah jam yang lalu, dan memperhatikan Haru di sudut kiri mulai menyilangkan lengan.
Bukan menyilangkan tangan seperti orang yang sedang berpikir. Menyilangkan lengan lalu menyelipkan telapak tangan ke ketiak, seperti orang kedinginan yang tidak mau kelihatan kedinginan karena rapatnya belum selesai dan dia yang memimpin divisi.
Aku menurunkan tanganku ke samping kursi, ke tas, dan membuka ritsletingnya sepuluh sentimeter.
Kain abu tua. Ada di situ. Selalu.
Aku menunggu momennya. Itu bagian yang harus benar. Kalau terlalu cepat, dia akan bilang tidak usah, dia tidak dingin, dia baik-baik saja — dia selalu bilang begitu di sepuluh menit pertama. Yang tepat adalah menunggu sampai dia mulai mengetik lebih lambat karena jarinya kaku, lalu menaruh jaketnya di sandaran kursinya tanpa bicara, sambil lewat, sambil pura-pura mau mengambil air.
Kesempatan itu datang jam sembilan lewat empat puluh delapan, waktu Bagas berbalik ke whiteboard untuk menggambar tangga yang belum dia pikirkan.
Aku berdiri.
Dan Tama, yang duduk dua kursi dari Haru, sudah lebih dulu melepas jaketnya.
Dia melakukannya tanpa membuat suara.
Tidak berdiri sambil menarik perhatian, tidak berkata “nih, dingin ya”, tidak mengumumkan apa pun. Dia cuma melepas jaket denimnya sambil tetap menghadap ke depan, lalu mengulurkan tangan ke samping tanpa menoleh, dan menyentuh sandaran kursi Haru sekali dengan punggung jari supaya dia sadar.
Haru menoleh. Melihat jaketnya. Melihat Tama.
“Eh, nggak usah—“
“Aku panas kok,” kata Tama, pelan, masih menghadap depan. “Beneran.”
Dan Haru mengambilnya.
Aku masih berdiri.
Aku sudah berdiri, tangan kiriku masih setengah di dalam tas, dan sekarang aku harus melakukan sesuatu dengan berdiri itu, jadi aku berjalan ke galon di sudut belakang dan mengisi gelas dengan air yang tidak aku butuhkan, dan meminumnya sampai habis sambil membelakangi ruangan.
Ritsleting tasku masih terbuka sepuluh sentimeter.
Aku menutupnya waktu kembali duduk. Pelan, dengan dua jari, supaya tidak berbunyi.
Rapat selesai jam sepuluh lewat lima.
Haru memakai jaket denim itu. Kebesaran, tentu saja; ujung lengannya menutupi setengah telapak tangannya, dan dia menggulungnya dua kali dan gagal dan membiarkannya. Dia berdiri di tengah ruangan sambil membagi tugas untuk besok, dan setiap kali dia menunjuk sesuatu, lengan jaket itu ikut bergoyang.
“Kira,” panggilnya.
“Hm.”
“Kamu besok bisa nemenin aku ke vendor sound jam sepuluh?”
“Bisa.”
“Kamu nggak ada kelas?”
“Ada.”
“Lho terus—“
“Bisa,” kataku.
Dia berhenti, lalu tertawa dan menggeleng, seperti orang yang menyerah pada teka-teki yang sudah terlalu lama tidak terpecahkan.
Lalu dia menyeberangi ruangan, berhenti di depanku, dan mengangkat kedua tangannya ke kerah jaketku.
Aku diam.
“Kerah kamu tuh,” katanya, sambil membalik lipatan yang masuk ke dalam di sisi kanan. “Dari tadi. Dari tadi banget. Aku diem aja soalnya rapat, tapi aku gatel banget lihatnya.”
Dua orang di belakangnya sedang membereskan kursi. Sisil sedang memasukkan laptop ke tas. Wildan sedang memakan sisa gorengan yang seharusnya tidak dimakan siapa pun lagi. Tidak ada satu pun yang menoleh, karena ini bukan pemandangan yang aneh, karena ini sudah terjadi mungkin tiga puluh kali.
Jarinya menyentuh leherku selama kira-kira dua detik saat merapikan lipatannya.
“Nah,” katanya, puas, sambil menepuk dadaku dua kali. “Sekarang kamu kelihatan kayak manusia.”
“Sebelumnya kayak apa.”
“Kayak lemari.”
Dia berbalik dan pergi mengambil tasnya, masih memakai jaket orang lain, dan berteriak ke Bagas soal kunci sekre.
Aku berdiri di situ selama beberapa detik dengan kerah yang sekarang rapi.
Aku yang terakhir keluar, karena aku yang biasanya mengunci.
Sekre kosong terasa lebih besar dari yang sebenarnya. AC-nya masih menyala; aku mematikannya. Ember di bawahnya sudah setengah penuh; aku membuangnya ke wastafel belakang. Ada tiga gelas kopi yang ditinggalkan; aku menumpuknya. Kursi Bagas jatuh lagi entah kapan; aku menegakkannya.
Whiteboard masih ada tabel LOMBA TEBAK KIRA di sisi kanan, di bawah gambar tangga yang belum selesai.
Di parkiran, aku membuka tas untuk mengambil kunci motor.
Hoodie abu tua itu ada di dalam, terlipat di bawah laptop, persis seperti waktu aku memasukkannya tadi sore sebelum berangkat. Bagian bahunya sedikit kusut karena ketindih.
Aku memandanginya lebih lama dari yang wajar untuk sepotong kain.
Ada pikiran yang datang, dan aku tidak menyukainya, dan aku tetap memikirkannya sampai selesai karena aku tidak pernah bisa berhenti di tengah:
Kalau aku tidak pernah membawa jaket itu — kalau aku tidak pernah, dua puluh dua kali, menaruhnya di sandaran kursinya sambil pura-pura lewat — apakah malam ini ada bedanya?
Jawabannya tidak.
Dia tetap kedinginan. Tama tetap melepas jaketnya. Dia tetap memakainya.
Dua puluh dua kali itu tidak menghasilkan apa-apa yang tersimpan. Tidak ada tabungan. Tidak ada saldo. Setiap kali selesai, hitungannya kembali ke nol, dan besoknya aku membawa jaket itu lagi seolah-olah ada rekening yang sedang aku isi, padahal yang aku lakukan cuma menuang air ke pasir dan pulang merasa berguna.
Aku menutup tas.
Aku tidak membuang jaket itu. Aku tidak melakukan sesuatu yang dramatis seperti itu, karena aku bukan orang yang begitu, dan karena besok dingin lagi.
Aku cuma menyalakan motor, dan sebelum keluar dari gerbang, aku melihat ke arah pos satpam.
Haru masih di situ, di bawah lampu, berdiri di samping motor Tama.
Mereka sedang membicarakan sesuatu yang lucu. Aku bisa tahu dari bahunya. Dia tertawa dengan seluruh badan, seperti biasa, dan menepuk lengan Tama sekali — cepat, ringan, tanpa arti, cara dia menyentuh semua orang.
Cara dia menyentuh semua orang.
Aku baru menyadari kalimat itu di kepalaku sendiri, dan aku memutar gas dan keluar dari gerbang sebelum sempat menyelesaikannya.
Di kos, jam sebelas lewat, aku mengeluarkan hoodie abu tua dari tas dan menaruhnya di kursi supaya lipatannya hilang.
Besoknya aku memasukkannya lagi.
- 1 Empat Menit
- 2 Parkiran
- 3 Es Teh Punya Orang
- 4 Jaket yang Nggak Jadi reading
- 5 Konsultan
- 6 Obat buat Orang Lain
- 7 Kayak Kakak
- 8 Sopir
- 9 Dua Jam Hujan
- 10 Dibaca Besoknya
- 11 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 12 Kursi Kosong
- 13 Sabana Fest
- 14 Jadian
- 15 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 16 Baik-baik Saja
- 17 Ada yang Kurang
- 18 Tama
- 19 Papan Taruhan
- 20 Aku Udah di Jalan
- 21 Ngeroyok
- 22 Seminggu
- 23 Buku Catatan
- 24 Hujan (Lagi)
- 25 Kenapa Baru Sekarang?
- 26 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 27 Giliran
- 28 Papan Taruhan Jilid Dua
- 29 Jaket
- 30 Aku Males
- 31 Es Teh
- 32 Yang Aku Nggak Tahu
- 33 Konsultan (Lagi)
- 34 Aku Udah di Jalan