Chapter Two
Parkiran
POV: Kira
Aku punya dua helm.
Yang pertama punyaku, hitam, catnya sudah pudar di bagian belakang karena sering ditaruh di bawah matahari. Yang kedua abu-abu muda, ukurannya lebih kecil, dan busanya masih tebal karena helm itu tidak dipakai setiap hari.
Kalau ada yang bertanya, aku bilang itu helm cadangan. Kata “cadangan” itu bagus. Netral. Tidak ada orang yang mengejar pertanyaan setelah kamu bilang cadangan.
Kenyataannya aku beli helm itu di semester dua, di toko di Jalan Ronggolawe, dan aku sempat berdiri lama di depan rak karena tidak yakin ukuran kepala orang lain. Akhirnya aku ambil yang paling kecil. Waktu dipakai pertama kali, dia bilang pas banget, terus dia bilang, “Kamu kok tau sih ukuran kepala aku.”
Aku bilang, “Nebak.”
Itu jawaban paling jujur yang pernah aku kasih ke dia, dan dia menganggapnya lelucon.
Jam satu lewat sepuluh, aku sudah di depan gedung Fikom.
Haru keluar jam satu lewat dua puluh dua, dan aku tahu persis karena aku memperhatikan jam di dashboard tanpa alasan yang bisa aku pertanggungjawabkan. Dia jalan cepat, tas selempang menabrak pinggulnya tiap langkah, rambut digerai — digerai, bukan diikat asal seperti biasa — dan bibirnya berwarna.
Aku pernah lihat dia pakai lipstik tiga kali dalam tiga tahun. Dua kali waktu jadi MC, sekali waktu wisuda kakaknya.
“Maaf lamaaa,” katanya sambil setengah berlari. “Dosennya nambah dua puluh menit. Dua puluh menit! Padahal materinya udah selesai, dia cuma cerita anaknya masuk SMP.”
“Nggak apa-apa.”
Aku menyodorkan helm abu-abu. Dia memakainya tanpa melihat, sambil terus bicara, dan mengaitkan talinya dengan satu tangan karena tangan satunya sibuk memegang hp.
“Kira, kamu tau Jalan Cendana yang deket toko bunga itu?”
“Tau.”
“Nah, dari situ masuk ke gang kedua. Ada pagar hijau.”
“Oke.”
Dia naik. Motor sedikit turun. Dia meletakkan kedua tangannya di sisi jok, bukan di pinggangku — dia tidak pernah pegangan, sejak dulu, dia bilang pegangan itu bikin dia jadi merasa kayak anak kecil — dan aku menjalankan motor.
Aku tidak bertanya rumah siapa.
Bukan karena aku sopan. Karena kalau aku bertanya, aku akan mendapat jawaban, dan jawaban itu akan ada di kepalaku selama sisa perjalanan, dan perjalanan ini dua puluh lima menit.
Haru bicara sepanjang jalan. Dia selalu bicara sepanjang jalan, setengah teriak supaya kedengaran, dan aku menjawab dengan “hm” atau “iya” atau mengangguk yang mungkin tidak kelihatan.
Di lampu merah Kalibaru, dia bilang:
“Kamu inget nggak yang minggu lalu bantuin panggung roboh itu?”
“Yang di GOR?”
“Iya! Yang tiangnya salah pasang.” Dia menepuk bahuku, dua kali, semangat. “Itu tuh Tama yang benerin.”
Lampu masih merah. Ada delapan puluh detik lagi. Aku menghitungnya di kepala tanpa sengaja.
“Anak arsitektur,” lanjut Haru. “Angkatan atas. Dia lihat tiangnya, terus dia langsung tau salahnya di mana, terus dia benerin dalam sepuluh menit. Sepuluh menit, Ra.”
“Bagus.”
“Kamu tuh kalau muji orang kayak lagi bayar pajak.”
“Bagus banget.”
“Nah gitu.”
Lampu hijau.
Rumah pagar hijau itu ada di gang kedua, persis seperti yang dia bilang. Halamannya kecil, ada motor lain diparkir, dan ada pot-pot yang jelas diurus orang yang tahu cara mengurus pot.
Haru melepas helm dan langsung merapikan rambutnya pakai jari, dua kali, tiga kali, dengan cara yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.
“Aku bentar doang, kok,” katanya. “Cuma ambil file sama... ya, ngobrolin acara. Bentar. Lima belas menit.”
“Oke.”
“Kamu tunggu sini nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa.”
“Beneran? Kamu nggak ada acara?”
Aku ada janji dengan Mas Yudi jam tiga untuk mengambil sisa cetakan, dan aku ada shift di percetakan jam empat sampai jam delapan, dan aku sudah menelepon pagi tadi untuk minta tukar dengan Fajar.
“Santai,” kataku. “Aku emang nggak ada acara.”
Dia tersenyum lebar, mengucapkan terima kasih tiga kali dengan tiga intonasi berbeda, lalu berlari kecil ke pagar hijau.
Pintunya dibuka sebelum dia sempat mengetuk.
Ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan di parkiran depan rumah orang, dan aku sudah mencoba hampir semuanya.
Kamu bisa membuka hp. Aku membuka hp. Aku membaca grup panitia yang isinya Bagas mengirim dua puluh empat pesan tentang stiker sponsor. Aku membaca berita. Aku membaca artikel tentang alat berat yang sama sekali tidak aku minati sampai habis.
Kamu bisa mengerjakan tugas. Aku mengeluarkan laptop, meletakkannya di atas jok, dan menatap halaman empat bab metode yang kursornya masih berkedip di tempat yang sama sejak kemarin.
Kamu bisa memperhatikan sekitar. Ada tukang bakso lewat jam dua. Ada ibu-ibu menyapu halaman rumah nomor tujuh dan meliriku dua kali dengan curiga, jadi aku mengangguk sopan, dan dia berhenti melirik. Ada kucing — mungkin kucing yang sama dengan yang di gang kemarin, mungkin bukan, aku tidak tahu cara membedakan kucing.
Jam tiga lewat, aku mengirim pesan ke Mas Yudi bahwa cetakan akan aku ambil besok.
Jam empat, aku mengirim pesan ke Fajar mengucapkan terima kasih sudah gantiin.
Jam empat lewat dua puluh, pintu pagar hijau terbuka.
Dua jam sebelas menit.
Aku menutup laptop dan memasukkannya ke tas sebelum dia sampai ke motor, karena kalau dia lihat laptopnya masih terbuka dia akan tahu bahwa aku menunggu dengan sadar, dan bukan cuma... ada di situ.
“KIRA. Maaf. Maaf maaf maaf.” Haru berlari kecil, tangannya sudah terangkat menangkup di depan wajah. “Aku nggak sadar. Sumpah. Kita ngobrolin panggung terus keterusan ngobrolin—“
“Nggak apa-apa.”
“Dua jam, Ra.”
“Aku juga nggak ngapa-ngapain.”
Dia berhenti. Menatapku. Untuk satu detik ada sesuatu di wajahnya yang hampir menjadi pertanyaan.
Lalu hp-nya bergetar, dan dia melihat layarnya, dan sesuatu itu hilang, dan yang tinggal cuma senyum yang bukan untukku.
“Yaudah, pulang yuk. Aku laper banget.”
Aku menyodorkan helm abu-abu.
Kami berhenti di warung nasi goreng di pinggir Jalan Cendana karena dia bilang tidak bisa menunggu sampai kampus. Dia memesan nasi goreng pedas level dua dan aku memesan yang tidak pedas, dan waktu pesanan datang dia menukar piring kami tanpa bertanya karena dia tahu punyaku akan lebih enak menurut seleranya.
Aku memakan yang pedas. Aku tidak bisa makan pedas. Aku minum tiga gelas air.
“Kamu keringetan,” katanya, ketawa.
“Panas.”
“Padahal ini nggak pedes-pedes amat.”
“Iya.”
Sepanjang makan, dia bercerita.
Tama tahu semua nama tanaman di halaman rumahnya. Tama bikin maket sendiri, bukan pesan. Tama bilang panggung yang roboh itu bukan salah panitia, itu salah vendor, dan dia mau bantu negosiasi. Tama punya adik perempuan yang mirip banget sama dia. Tama nggak suka kopi, aneh ya, anak arsitektur nggak suka kopi.
Aku menghitungnya.
Bukan karena aku ingin. Kepalaku memang begitu; kalau ada pola, dia menghitung sendiri, seperti orang yang tidak sengaja menghafal plat nomor mobil di depannya.
Sembilan kali.
Dari parkiran sampai piring habis, nama itu disebut sembilan kali, dan namaku nol kali, dan itu wajar, karena aku ada di depannya dan orang tidak menyebut nama orang yang sedang duduk di depannya.
Aku tahu itu wajar.
Aku tetap menghitungnya.
Perjalanan pulang lebih pelan karena jalanan mulai padat dan karena aku tidak buru-buru.
Sekitar tiga menit setelah kami lewat jembatan, aku merasakan bobot di punggungku berubah. Bukan banyak. Cuma bergeser, lalu bertumpu.
Dia tidur.
Kepalanya jatuh ke bahu kananku, helmnya membentur helmku pelan setiap kali motor melewati sambungan aspal, dan tangannya — yang tidak pernah memegang pinggangku dalam tiga tahun — sekarang menggenggam ujung jaketku di sisi kiri, refleks, supaya tidak jatuh.
Aku memperlambat motor.
Bukan sedikit. Aku melambat sampai lima belas kilometer per jam di jalan yang seharusnya empat puluh, dan sebuah mobil membunyikan klakson dari belakang lalu menyalip sambil sopirnya menoleh dengan wajah kesal, dan aku mengangkat tangan minta maaf.
Aku mengambil jalur memutar lewat Jalan Wijaya.
Tidak ada alasan untuk lewat Wijaya. Lebih jauh empat menit, lampu merahnya dua, dan aspalnya lebih halus.
Aspalnya lebih halus.
Itu alasannya. Aku bahkan tidak akan berpura-pura di dalam kepalaku sendiri bahwa ada alasan lain.
Empat menit itu adalah empat menit paling tenang yang aku punya sepanjang minggu itu: kepala seseorang di bahuku, jalan yang halus, matahari sore yang sudah tidak menyengat, dan tidak ada satu pun nama yang disebut.
Di depan kosnya, dia bangun sendiri sebelum aku sempat memanggil, dan langsung duduk tegak dengan panik.
“Astaga. Aku ketiduran?”
“Dikit.”
“Ya ampun, maaf. Aku ngiler nggak?”
“Nggak.”
“Bohong.”
“Nggak bohong.”
Dia turun, melepas helm, menyerahkannya ke tanganku. Rambutnya berantakan lagi sekarang. Lipstiknya sudah hilang di bagian tengah.
“Kira.”
“Hm.”
“Makasih ya. Beneran.”
“Iya.”
Dia sudah berbalik dan berjalan tiga langkah ke arah pagar kos waktu dia berhenti, lalu memutar badan setengah, dan berkata dengan nada yang terlalu ringan untuk sesuatu yang jelas sudah dia susun kalimatnya di kepala:
“Eh, Ra. Minggu depan Tama mau gabung jadi tim panggung. Aku udah bilang ke Bagas.”
“Oke.”
“Kamu nggak apa-apa kan? Divisi kamu bakal sering bareng dia.”
Aku memasang helm abu-abu ke spion, di tempat biasa, dengan gerakan yang sudah aku lakukan ratusan kali.
“Nggak apa-apa,” kataku.
Dia melambai dan masuk.
Aku duduk di atas motor yang mesinnya masih menyala selama mungkin sepuluh detik lebih lama dari yang diperlukan, lalu memutar balik, dan berkendara ke utara, ke arah yang berlawanan dari kampus, sepuluh menit lewat perempatan yang lampu merahnya sembilan puluh detik dan tidak pernah sekali pun aku dapat hijau.
- 1 Empat Menit
- 2 Parkiran reading
- 3 Es Teh Punya Orang
- 4 Jaket yang Nggak Jadi
- 5 Konsultan
- 6 Obat buat Orang Lain
- 7 Kayak Kakak
- 8 Sopir
- 9 Dua Jam Hujan
- 10 Dibaca Besoknya
- 11 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 12 Kursi Kosong
- 13 Sabana Fest
- 14 Jadian
- 15 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 16 Baik-baik Saja
- 17 Ada yang Kurang
- 18 Tama
- 19 Papan Taruhan
- 20 Aku Udah di Jalan
- 21 Ngeroyok
- 22 Seminggu
- 23 Buku Catatan
- 24 Hujan (Lagi)
- 25 Kenapa Baru Sekarang?
- 26 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 27 Giliran
- 28 Papan Taruhan Jilid Dua
- 29 Jaket
- 30 Aku Males
- 31 Es Teh
- 32 Yang Aku Nggak Tahu
- 33 Konsultan (Lagi)
- 34 Aku Udah di Jalan