← Aku Udah di Jalan

Chapter Fifteen

Maaf, Aku Nggak Bisa

POV: Kira

Pembekalan magang diadakan hari Kamis jam tujuh malam di gedung jurusan, dan wajib.

Bukan wajib yang bisa ditawar. Ada absensi. Ada surat pernyataan yang harus ditandatangani di tempat. Kalau tidak hadir, kepesertaan bisa dibatalkan dan digantikan oleh peserta cadangan, dan ada sembilan orang di daftar cadangan.

Aku tahu ada sembilan karena aku membaca daftar itu sampai selesai.

Aku sampai jam enam empat puluh. Ruangannya di lantai dua, ber-AC, dengan kursi kuliah yang mejanya menempel di sandaran. Delapan orang. Semuanya dari jurusan yang berbeda dan tidak ada yang saling kenal, jadi tidak ada yang bicara, dan itu nyaman.

Pembicaranya dari perusahaan. Dia menjelaskan tentang budaya kerja, tentang shift, tentang mes yang disediakan.

Mes. Ada mes.

Aku mencatat itu. Aku mencatat semuanya, sebenarnya, dengan pulpen di buku tulis, seperti anak SMA, karena tanganku perlu melakukan sesuatu supaya aku tidak menghitung hal-hal lain.

Jam delapan lewat dua puluh, hp-ku bergetar di saku.

Aku tidak mengeluarkannya.

Bergetar lagi. Tiga kali beruntun.

Bergetar lagi.

Pembicara sedang menjelaskan tentang jadwal rotasi divisi, dan ada slide dengan tabel yang harus difoto, dan aku mengeluarkan hp untuk memfoto slide itu.

Layarnya penuh.

Haru — 9 pesan

Aku memfoto slide itu, membalik hp, dan menaruhnya di meja dengan layar menghadap ke bawah.


Pembekalan selesai jam sembilan lewat sepuluh.

Ada tanda tangan surat pernyataan, ada foto bersama yang canggung, dan ada satu bapak dari jurusan yang menyalami satu per satu dan menyebut kami “aset”.

Aku keluar gedung jam sembilan lewat dua puluh lima dan duduk di tangga depan sebelum membaca hp.

Haru
RA
KIRA
ini beneran gawat
hardisk yang isinya semua dokumentasi sabana rusak. nggak kebaca. yang di laptop bagas kekapus semua
besok jam 10 kita harus serahin laporan + dokumentasi ke rektorat buat pencairan dana
BESOK JAM 10
ra kamu kan yang backup semuanya dulu
kamu masih punya nggak??
ra tolong angkat ya kalo aku telepon

Tiga panggilan tidak terjawab. Jam delapan dua puluh satu, jam delapan tiga puluh empat, jam delapan lima puluh sembilan.

Aku duduk di tangga itu dengan hp di tangan.

Aku punya.

Aku ingin menuliskannya sejelas mungkin karena ini penting: aku punya semuanya.

Dua tahun terakhir aku selalu membuat salinan kedua dari setiap dokumentasi acara, di hardisk eksternal punyaku sendiri, di folder yang aku susun per tahun per acara. Bukan karena diminta. Karena hardisk sekre pernah rusak sekali di semester tiga dan kami kehilangan seluruh dokumentasi satu acara, dan aku melihat wajah Haru waktu itu, dan aku memutuskan itu tidak akan terjadi lagi.

Tidak ada satu orang pun yang tahu salinan itu ada.

Bukan rahasia. Aku cuma tidak pernah menyebutkannya, karena menyebutkannya berarti menjelaskan kenapa aku melakukannya, dan alasannya bukan sesuatu yang bisa aku ucapkan.

Hardisk itu ada di laci mejaku, di kos, dua puluh menit dari tempat aku duduk.

Kalau aku pulang sekarang, mengambilnya, dan menyalin isinya, seluruh masalah itu selesai dalam empat puluh menit.

Aku duduk di tangga gedung jurusan selama sebelas menit.


Aku mengetik:

Maaf, aku nggak bisa.

Aku menatapnya.

Lalu aku melakukan sesuatu yang sampai sekarang aku tidak yakin apakah benar: aku menghapus kata “maaf”.

Lalu aku menuliskannya lagi.

Karena aku memang minta maaf. Itu bukan basa-basi. Aku betul-betul minta maaf, dan menghapus kata itu berarti berbohong ke arah yang berlawanan, dan aku sudah cukup lelah berbohong ke satu arah selama tiga tahun.

Aku mengirimnya jam sembilan lewat tiga puluh delapan.

Dibaca dalam empat detik.

Titik-titik mengetik muncul.

Hilang.

Muncul lagi. Lama, kali ini. Hampir setengah menit.

Haru
kamu masih punya backupnya?

Ini pertanyaan yang berbeda dari yang tadi.

Yang tadi: kamu masih punya nggak? — pertanyaan orang panik.

Yang ini: kamu masih punya backupnya? — pertanyaan orang yang baru saja mendengar “nggak bisa” dan sedang mencoba mengerti “nggak bisa” itu jenis yang mana.

Aku mengetik: Punya.

Titik-titik mengetik.

terus kenapa nggak bisa?

Dan di sinilah aku berhenti, di tangga gedung jurusan, jam setengah sepuluh malam, dengan surat pernyataan magang yang masih di dalam tas dan tinta tanda tangannya belum kering benar.

Aku bisa menjawab.

Jawabannya ada. Jawabannya bagus, bahkan. Aku baru selesai pembekalan magang. Aku keterima program di Cikarang, enam bulan, mulai Februari. Malam ini wajib hadir. Aku nggak bisa keluar.

Empat kalimat dan seluruh malam ini berubah bentuk.

Dia akan terkejut. Dia akan bertanya sejak kapan, dan aku akan bilang sejak Februari, dan dia akan berteriak — dia pasti berteriak, dia selalu berteriak — dan dia akan bilang kenapa kamu nggak cerita, dan aku akan bilang nggak sempat, dan dia akan bilang bohong.

Dan setelah itu semuanya kembali seperti semula.

Itu yang aku lihat dengan sangat jelas malam itu, duduk di tangga beton yang dingin: kalau aku menjawab pertanyaan itu, aku menang malam ini dan kalah tiga tahun lagi.

Karena penjelasan adalah cara halus untuk minta izin.

Kalau aku bilang aku nggak bisa karena pembekalan, artinya aku sedang mengajukan alasan untuk disetujui. Dan kalau alasannya disetujui, artinya lain kali alasannya bisa ditolak, dan aku kembali jadi orang yang harus punya alasan cukup kuat sebelum boleh tidak ada.

Orang yang boleh menolak tidak perlu punya alasan.

Aku mengetik satu kata.

Nggak bisa aja.

Aku menekan kirim, dan langsung merasa mual, dan tetap tidak menghapusnya.


Dibaca. Empat detik.

Titik-titik mengetik muncul dan hilang empat kali dalam dua menit. Aku menghitungnya.

Lalu:

kamu kenapa sih akhir2 ini

Aku menatap kalimat itu.

Tidak ada tanda tanya di ujungnya.

Aku sudah menunggu pertanyaan ini selama dua bulan. Aku sudah menyusun tiga versi jawaban di kepala pada malam-malam panjang jam sebelas yang tiba-tiba jadi milikku. Aku bahkan pernah mengucapkan salah satunya keras-keras di kamar kos, sekali, dan merasa bodoh setelahnya.

Jariku sudah di keyboard.

Titik-titik mengetik muncul lagi di sisi dia.

Dan sebelum aku sempat mengetik satu huruf pun, tiga pesan masuk beruntun:

yaudah gapapa
aku coba minta ke anak dokumentasi satu2 aja
mungkin ada yg masih nyimpen di hp

Selesai.

Empat puluh detik. Itu umur pertanyaan yang aku tunggu selama dua bulan.

Dia menanyakannya, tidak menunggu jawabannya, dan pindah ke solusi berikutnya, dan yang paling jujur harus aku akui adalah: itu bukan kekejaman. Itu efisiensi. Dia sedang punya masalah besar dengan tenggat jam sepuluh besok pagi, dan orang yang punya masalah besar memang begitu.

Cuma saja, kalau kamu sudah menunggu dua bulan untuk satu pertanyaan, dan pertanyaan itu akhirnya datang dan hidup selama empat puluh detik lalu mati sendiri karena orang yang menanyakannya sudah pindah ke hal lain—

Aku tidak punya kalimat untuk menyelesaikan bagian itu.

Aku menyimpan hp di saku dan pulang.


Aku tidak tidur sampai jam dua.

Jam sebelas aku mengeluarkan hardisk itu dari laci dan meletakkannya di atas meja dan menatapnya.

Jam sebelas lewat empat puluh, aku menyalakan laptop dan mencolokkannya. Foldernya ada semua. SABANA FEST — DOKUMENTASI — LENGKAP. Empat ratus dua puluh tiga file.

Aku membuka satu.

Foto dari hari-H, diambil oleh anak dokumentasi, panggung penuh dan lampu biru dan dua ribu orang mengangkat tangan.

Di sudut kiri bawah frame, ada bagian dari banner tiga kali enam yang aku pasang jam enam pagi.

Aku menutup foldernya.

Jam dua belas, aku hampir mengirim chat. Sungguh hampir; kalimatnya sudah ada di kolom. Aku punya. Nanti pagi aku kirim.

Aku menatapnya sampai layarnya redup sendiri.

Lalu aku menghapusnya, mencabut hardisk, dan memasukkannya kembali ke laci.

Bukan supaya mereka gagal. Kalau mereka gagal, aku akan menyesalinya seumur hidup, dan aku tahu itu tentang diriku sendiri.

Aku menaruhnya di laci karena kalau aku mengirimkannya jam dua belas malam setelah mengetik nggak bisa aja jam setengah sepuluh, maka nggak bisa aja itu jadi tidak berarti apa-apa. Jadi drama. Jadi cara menarik perhatian.

Dan aku tidak sedang menarik perhatian.

Aku sedang mencoba, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, menjadi orang yang kata-katanya berlaku.


Besok paginya jam sepuluh lewat, Bagas mengirim pesan ke grup.

ALHAMDULILLAH SELAMAT
anak2 dokum ternyata masih nyimpen di hp semua
kita kumpulin semaleman dapet 380an file
rektorat nggak nanya jumlahnya wkwkwk
TIM SOLID

Empat ratus dua puluh tiga dikurangi tiga ratus delapan puluh adalah empat puluh tiga.

Empat puluh tiga file hilang, dan tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa file itu hilang, karena tidak ada yang tahu bahwa jumlah aslinya empat ratus dua puluh tiga.

Aku tahu.

Aku duduk di kelas jam sepuluh lewat lima belas, membaca pesan itu, dan menyadari bahwa aku baru saja mengetahui sesuatu yang menyakitkan dengan cara yang paling pelan yang mungkin ada:

Mereka baik-baik saja tanpa aku.

Tidak sempurna. Kurang empat puluh tiga file. Tapi baik-baik saja, dan cukup baik, dan rektorat tidak bertanya.

Selama tiga tahun aku diam-diam percaya bahwa aku diperlukan. Bukan disayang — aku tidak sebodoh itu, aku sudah lama tahu bedanya. Tapi diperlukan. Aku pikir kalau aku hilang, ada bagian yang akan runtuh, dan bagian yang runtuh itu adalah nilaiku, dan nilai itu adalah alasan aku boleh ada di ruangan itu.

Ternyata yang runtuh cuma empat puluh tiga file yang tidak ada yang menghitung.

Aku menutup hp dan mencoba menyimak kuliah tentang pengendalian kualitas statistik selama empat puluh menit berikutnya, dan tidak berhasil, dan mencatat rumus-rumus itu tanpa memahaminya supaya tanganku ada kerjaan.