← Aku Udah di Jalan

Chapter Twenty Three

Buku Catatan

POV: Haru

Halaman pertama kosong selama dua hari karena aku tidak tahu harus menulis apa.

Bukan kiasan. Aku betul-betul duduk dengan buku itu terbuka dan pulpen di tangan, dua malam berturut-turut, dan tidak bisa menuliskan satu baris pun.

Aku sempat mencoba mulai dari yang paling gampang.

Nama: Kira.

Aku menatapnya.

Lalu aku menyadari aku tidak tahu nama lengkapnya.

Tiga tahun. Aku tidak tahu nama lengkap orang yang menyimpan nomorku di urutan paling atas kontaknya karena paling sering dibuka.

Aku menutup buku itu dan tidak menyentuhnya sampai besok malam.


Malam kedua, aku mulai dari cara yang berbeda.

Aku tidak menulis apa yang aku tahu.

Aku menulis apa yang aku kira aku tahu, dan memberi tanda tanya di belakangnya, karena aku sudah cukup belajar dalam tiga minggu terakhir untuk tidak percaya pada apa pun yang ada di kepalaku tentang orang itu.

Hasilnya seperti ini:

Teknik Industri (?)
Anak kos (?)
Suka ngopi (?)
Nggak suka rame (?)
Nggak punya pacar (??)
Sabar (bukan fakta)

Enam baris. Lima tanda tanya. Satu coretan.

Aku menatap halaman itu lama sekali, dan yang paling membuatku ingin menutup buku itu selamanya bukan bahwa daftarnya pendek.

Yang membuatku hampir menyerah adalah baris keempat.

Nggak suka rame.

Aku menuliskannya karena dia selalu duduk di ujung, karena dia jarang bicara di rapat, karena di makrab dia tidak ikut menyanyi.

Lalu aku ingat bahwa selama tiga tahun, orang itu hadir di setiap acara ramai yang pernah aku buat. Setiap satu. Dua ratus orang, lima ratus orang, dua ribu orang.

Kalau dia tidak suka ramai, kenapa dia selalu datang?

Dan aku duduk di kasur jam sebelas malam dan mencoret baris itu dengan satu garis, dan menulis di sebelahnya:

aku nggak tau. aku cuma tau dia selalu dateng.

Itu kalimat pertama yang jujur di buku itu.


Aku ke percetakan hari Rabu sore.

Aku tidak memberi kabar. Kalau aku memberi kabar, dia akan punya waktu untuk menyiapkan alasan, dan aku sudah cukup mengenalnya — sedikit, akhirnya, sedikit — untuk tahu bahwa dia selalu punya alasan kalau diberi waktu.

Percetakan Mas Yudi itu ruko dua lantai dengan pintu kaca dan bau tinta yang menempel di baju sampai besok.

Aku masuk jam lima sore dan dia sedang berdiri di depan mesin potong, memakai celemek, memegang tumpukan kertas.

Dia melihatku.

Dia tidak berhenti bekerja.

“Butuh cetak?”

“Enggak.”

“Oh.”

Dia menurunkan tuas mesin potong. Bunyinya keras dan tiba-tiba dan aku hampir melompat.

“Aku boleh duduk di sini?”

“Boleh.”

“Sampai kamu selesai?”

Dia menoleh sekali, lalu kembali ke kertasnya.

“Jam delapan,” katanya.

“Aku tau.”


Aku duduk di kursi plastik di dekat pintu selama tiga jam.

Ini yang aku pelajari dari tiga jam itu, dan aku menuliskannya di hp diam-diam supaya tidak kelihatan seperti orang gila yang membawa buku tulis ke tempat kerja orang:

Dia menyusun kertas dengan mengetuk tumpukannya ke meja tiga kali. Selalu tiga. Tidak pernah dua, tidak pernah empat.

Dia menghitung dalam hati sambil bekerja. Aku tahu karena bibirnya bergerak sedikit dan berhenti setiap kali ada orang masuk.

Waktu ada ibu-ibu datang jam enam dan bertanya apakah bisa cetak seratus lembar sekarang juga, dia bilang bisa, meskipun mesin besarnya sedang jalan dan dia harus mengerjakannya di mesin kecil yang rewel, dan itu memakan waktu dua kali lipat.

Dia tidak pernah duduk sekali pun dalam tiga jam.

Jam tujuh, Mas Yudi keluar dari ruang belakang, melihat aku, melihat Kira, dan tidak berkata apa-apa sama sekali. Dia cuma menaruh dua gelas teh di meja dekat kursiku dan masuk lagi.

Dua gelas.

Aku menatap dua gelas itu selama beberapa menit dan tidak tahu kenapa dadaku terasa aneh.


Jam delapan, dia melepas celemek.

“Kamu bawa motor?” tanyanya.

“Iya.”

“Oke.”

Dia mengambil tasnya dan berjalan ke pintu, dan aku berdiri dan mengikutinya, dan di trotoar depan ruko aku berkata:

“Kira, boleh aku nanya sesuatu?”

Dia berhenti.

“Boleh.”

“Aku mau nanya banyak. Mungkin bakal aneh.”

“Oke.”

“Dan kamu boleh nggak jawab.”

Dia menatapku sebentar, dan ada sesuatu yang lewat di wajahnya yang aku tidak bisa baca, dan hilang.

“Oke,” katanya lagi.

Aku mengeluarkan buku tulis bersampul biru itu dari tas.

Dia melihat buku itu.

“Itu apa?”

“Buku.”

“Iya, tapi—“

“Aku catat,” kataku. “Karena aku jelek banget ingetan, dan karena aku nggak mau nanya dua kali.”

Dia berdiri di trotoar depan percetakan, di bawah lampu ruko yang menyala kuning, dan menatap buku tulis lima ribu dua ratus itu.

Dan dia tidak menertawakannya.

“Yaudah,” katanya.


Aku mulai dari yang paling bodoh, karena aku memang harus mulai dari sana.

“Nama lengkap kamu apa?”

Dia mengerjap.

“Serius?”

“Serius.”

“Kira Adiatma.”

Aku menuliskannya.

Aku menulisnya di halaman pertama, di baris paling atas, dengan tangan yang tidak stabil, dan aku ingin menuliskan di sini bahwa aku baik-baik saja waktu melakukannya tapi tidak.

“Ulang tahun?”

“Dua belas Juli.”

Aku menuliskannya. Lalu aku berhenti.

“Dua belas Juli,” kataku.

“Iya.”

“Tahun lalu tanggal dua belas Juli kita ngerjain proposal sampai jam dua pagi.”

Dia tidak menjawab.

“Kira.”

“Nggak apa-apa.”

“Kamu ulang tahun dan kita ngerjain proposal sampai jam dua pagi dan kamu nggak bilang.”

“Aku nggak suka dirayain.”

“Itu bukan alasan buat nggak bilang.”

Dia memindahkan tas ke bahu satunya.

“Iya,” katanya. “Bukan.”

Aku menuliskan tanggalnya, dan di sebelahnya aku menulis: jangan bikin acara. tapi tetap ucapin.


Kami berdiri di trotoar itu selama satu jam.

Satu jam, di depan percetakan yang sudah tutup, di bawah lampu ruko, dengan motor kami masing-masing terparkir dua meter dari kami dan tidak satu pun dari kami yang menyalakannya.

Ini isinya, dan aku menyalinnya persis dari buku itu, termasuk coretannya.

Nggak bisa makan pedas. Sama sekali. (bukan “kurang suka”)

Aku menanyakan itu karena Deni pernah bercerita, dan aku ingat aku pernah menukar piring nasi goreng dengan dia — aku ambil punyanya yang tidak pedas, dia dapat punyaku yang level dua — dan dia menghabiskannya.

“Kenapa kamu nggak bilang?”

“Kamu lagi laper.”

“Kira, itu—“

“Nggak apa-apa.”

Aku menulis di sebelahnya, dengan huruf kecil, sesuatu yang bukan tentang dia: STOP NUKER PIRING.

Kerja di percetakan sejak semester tiga.
Tiga tahun. Aku tidak tahu. Aku pernah memesan banner di percetakan lain yang lebih mahal delapan belas persen dan mengeluh soal harganya di depan dia.

~~Suka kopi~~ Nggak suka kopi. Minumnya teh. Panas.
Ini yang membuatku berhenti menulis selama beberapa detik.

Aku selalu memesankan kopi untuk dia. Setiap rapat malam. Tiga tahun. Aku bahkan bangga soal itu — aku ingat pernah bilang ke Sisil bahwa aku hafal pesanan semua orang.

“Kamu selalu minum kopi yang aku beliin.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Dia melihat ke arah jalan.

“Kamu beliin,” katanya, seolah-olah itu menjelaskan seluruh hal, dan yang paling buruk adalah itu memang menjelaskan seluruh hal.

Adik: nggak ada. Anak tunggal.
Ibu di Purworejo. Bapak meninggal waktu dia SMP.

Aku menaruh pulpen setelah menulis baris itu.

“Kira.”

“Hm.”

“Aku nggak tau.”

“Iya.”

“Aku nggak tau selama tiga tahun.”

Dan dia berkata sesuatu yang aku tulis di halaman terakhir buku itu malam yang sama, karena aku tidak sanggup menuliskannya di halaman yang sama dengan yang lain:

“Aku juga nggak pernah bilang,” katanya. “Haru, aku nggak lagi ngasih kamu tagihan. Aku beneran nggak pernah bilang. Ke siapa pun.”

“Kenapa?”

Dia memikirkannya.

“Karena kalau aku cerita, orang harus ngerespons,” katanya. “Terus mereka bakal nanya aku baik-baik aja apa enggak. Terus aku harus jawab. Terus jadi panjang.”

“Terus?”

“Terus aku jadi ngerepotin.”

Aku berdiri di trotoar itu dengan buku tulis di tangan.

“Kira, itu—“ Aku berhenti, karena suaraku bergetar dan aku tidak mau suaraku bergetar. “Kamu tuh nggak pernah ngerepotin siapa-siapa seumur hidup kamu.”

“Iya,” katanya. “Aku tau. Aku ngatur supaya gitu.”


Jam sembilan lewat, dia melihat jam.

“Aku harus balik.”

“Iya.”

Aku menutup buku itu dan memeluknya di dada, dan aku baru sadar aku memeluknya waktu dia melihat ke arah tanganku.

“Kira.”

“Hm.”

“Satu lagi. Terus aku pulang.”

“Oke.”

Aku sudah menyiapkan pertanyaan ini sejak jam lima sore, dan menundanya selama empat jam, dan sekarang lampu ruko dimatikan dari dalam dan tinggal lampu jalan.

“Kamu keterima magang kapan?”

Dia diam.

“Bagas bilang kamu berangkat sembilan Februari,” lanjutku. “Tapi aku nggak nanya itu. Aku nanya kamu keterimanya kapan.”

Jeda itu panjang sekali.

“Oktober,” katanya.

Oktober.

Aku menghitungnya sebelum aku sempat menahan diri.

Bukan November. Bukan Desember. Oktober.

Empat bulan.

“Empat bulan,” kataku.

“Iya.”

“Kenapa kamu nggak—“

Dan dia melakukan sesuatu yang belum pernah dia lakukan selama tiga tahun: dia memotong kalimatku.

“Haru.”

“Iya.”

“Jangan malam ini.”

Suaranya tidak keras. Tidak dingin. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat aku langsung menutup mulut, dan yang baru aku kenali beberapa hari kemudian sebagai kelelahan yang sudah menahan sesuatu terlalu lama.

“Oke,” kataku.

“Aku bakal jawab,” katanya. “Nanti. Tapi nggak malam ini.”

Dia menyalakan motornya.

“Kira.”

“Hm.”

“Makasih ya.”

Dia berhenti, dengan tangan di setang.

“Buat apa?”

“Buat jawab.”

Dan dia berkata sesuatu yang aku tuliskan di dalam motor sambil berhenti di pinggir jalan lima menit kemudian, karena aku takut lupa kalau menunggu sampai kos:

“Kamu yang pertama nanya.”


Aku menulis sampai jam dua pagi.

Delapan halaman. Sebagian tentang malam itu, sebagian tentang tiga jam di percetakan, sebagian tentang hal-hal yang aku ingat sendiri setelah tahu konteksnya dan yang artinya berubah total.

Aku menulis daftar yang isinya:

hal yang aku salah tentang dia — 11
hal yang dia nggak pernah bilang — belum kehitung
hal yang aku bener — 3

Tiga.

Dan yang paling menyakitkan dari tiga itu: satu-satunya hal yang benar-benar aku ketahui dengan pasti tentang orang itu selama tiga tahun adalah bahwa dia akan datang kalau aku memanggil.

Aku menutup buku dan mematikan lampu.

Tiga belas hari.