Chapter Eleven
Maaf, Aku Nggak Bisa
POV: Kira
Hari itu tidak istimewa.
Aku menulis kalimat itu dan langsung ingin menghapusnya, karena semua orang menulis kalimat itu sebelum menceritakan hari yang ternyata istimewa. Tapi aku tidak punya cara lain untuk menjelaskannya.
Selasa. Mendung tapi tidak hujan. Aku ada kelas jam sepuluh dan jam satu, dan di antaranya aku makan di kantin FT, di meja pojok dekat tiang, sendirian.
Aku sudah makan sendirian di meja itu empat kali dalam dua minggu terakhir.
Yang pertama terasa aneh. Yang kedua aku membawa laptop supaya ada yang dilakukan tangan. Yang ketiga aku lupa membawa laptop dan ternyata tidak apa-apa. Yang keempat, hari itu, aku memesan ayam geprek satu porsi dan es teh satu, dan mbaknya bertanya:
“Cuma satu, Mas?”
“Iya.”
“Temennya nggak ikut?”
“Nggak.”
Dia mengangguk dan tidak bertanya lagi, dan aku duduk dan makan dan minum es teh yang tidak terlalu manis karena aku tidak meminta gula banyak.
Es tehnya enak. Itu penemuan yang bodoh untuk umur dua puluh dua tahun. Aku sudah minum sisa es teh orang selama tiga tahun dan tidak pernah tahu bahwa yang tidak terlalu manis lebih enak.
Chat itu masuk jam empat sore.
Haru
RA
tolong
proyektor sekre mati total. bukan kabel, aku udah cek semua kabel
besok jam 9 pagi presentasi ke rektorat
BESOK JAM 9
Aku sedang di kos, duduk di lantai, menempel materai di formulir magang yang harus dikumpulkan lusa.
Aku membacanya dua kali.
Aku tahu masalah proyektor itu. Kalau bukan kabel, kemungkinan besar lampunya, dan kalau lampunya berarti harus dibawa ke servis di Jalan Ronggolawe yang tutup jam enam, dan kalau sudah lewat jam enam berarti harus pinjam proyektor dari himpunan Teknik Elektro yang penjaga sekre-nya namanya Fandi dan cuma mau meminjamkan kalau yang datang orang yang dia kenal.
Aku kenal Fandi.
Aku bisa mengurus seluruh masalah itu dalam empat puluh menit. Aku bisa menghitung rutenya, langkahnya, dan siapa yang harus ditelepon lebih dulu, dan aku sudah menghitung semuanya sebelum selesai membaca chat kedua, karena kepalaku memang begitu, dan tiga tahun itu bukan cuma soal perasaan, tiga tahun itu juga menghasilkan kemampuan.
Aku duduk di lantai kamar kos dengan materai yang menempel di ibu jari.
Lalu aku mengetik:
Maaf, aku nggak bisa.
Aku membacanya sebelum mengirim.
Empat kata. Tidak ada alasan. Aku bahkan tidak menambahkan lagi ada urusan atau lagi di luar kota, dan aku tahu persis bahwa tidak menambahkan apa-apa itu jauh lebih berat daripada berbohong.
Aku menekan kirim.
Aku ingin menceritakan apa yang terjadi setelahnya di dalam dadaku, tapi yang jujur adalah: tidak terjadi apa-apa. Tidak ada lega. Tidak ada puas. Tidak ada juga penyesalan yang datang menyerbu.
Yang ada cuma satu hal, dan bunyinya seperti ini: oh, ternyata bisa.
Empat kata itu ternyata muat di mulut. Ternyata jari-jariku bisa mengetiknya. Ternyata layarnya tidak retak.
Tiga tahun aku bersikap seolah-olah kalimat itu berbahaya.
Aku menatap layar, menunggu.
Aku tidak akan berpura-pura tidak menunggu. Aku duduk di lantai itu dengan hp di tangan dan aku menunggu, dan kalau kalian bertanya apa yang aku tunggu, aku bisa menjawabnya dengan sangat tepat karena aku sudah membayangkannya sepanjang dua minggu terakhir.
Aku menunggu dia bertanya kenapa.
Cuma itu.
Bukan marah — aku tidak ingin dia marah. Bukan minta maaf, karena minta maaf untuk apa. Aku cuma ingin satu pertanyaan, tiga huruf, tanda tanya di belakangnya.
Karena kalau dia bertanya kenapa, artinya empat kata itu terdengar aneh di telinganya. Artinya dia punya gambaran tentang aku di kepalanya, dan gambaran itu tidak cocok dengan yang barusan, dan ketidakcocokan itu cukup mengganggu untuk ditanyakan.
Artinya aku bukan cuma fungsi. Fungsi yang berhenti bekerja tidak ditanya kenapa. Fungsi yang berhenti bekerja diganti.
Layarnya menyala.
Haru
yaudah gapapa
Sebelas detik.
Aku tahu sebelas detik karena aku sedang menatap jam di pojok kanan atas layar waktu pesan itu masuk, dan angka menitnya baru berganti tepat sebelum aku menekan kirim.
Sebelas detik.
Tidak cukup untuk mengetik apa pun yang lain. Tidak cukup untuk berpikir. Sebelas detik itu adalah kecepatan orang yang membaca nggak bisa, mengarsipkan informasinya, dan langsung berpindah ke opsi berikutnya di daftar.
Dan opsi berikutnya sudah ada di daftar. Itu bagian yang aku sadari beberapa detik kemudian.
Kalau kamu menghubungi seseorang dan dia menolak dan kamu langsung tahu harus menghubungi siapa lagi, artinya daftar itu sudah ada di kepalamu sejak awal, dan aku cuma nomor satu di daftar, dan nomor satu di daftar itu bukan kategori yang berbeda dari nomor dua.
Cuma lebih atas.
Aku tetap membuka grup panitia malam itu.
Aku ingin bilang aku tidak, tapi aku membukanya, jam delapan, jam sembilan, jam sepuluh.
Jam 17.42 — Haru: guys ada yang punya kenalan anak elektro?
Jam 17.43 — Wildan: aku kenal fandi
Jam 17.43 — Haru: WILDAN AKU CINTA KAMU
Jam 17.44 — Wildan: bentar aku chat
Jam 18.20 — Wildan: [foto proyektor di atas motor]
Jam 18.20 — Wildan: DAPET
Jam 18.21 — Bagas: WILDAN THE GOAT
Jam 18.21 — Haru: kamu penyelamat hidup aku
Jam 18.22 — Haru: besok aku traktir apa aja yang kamu mau
Jam 18.22 — Sisil: dia bakal minta yang mahal
Jam 18.23 — Wildan: aku bakal minta yang mahal
Empat puluh menit.
Aku memerlukan empat puluh menit untuk mengurus itu. Wildan memerlukan tiga puluh delapan.
Aku menutup hp, lalu membukanya lagi, lalu menggulir ke atas dan membaca ulang bagian kamu penyelamat hidup aku.
Dia pernah mengatakan kalimat itu ke aku. Aku tidak ingat berapa kali. Cukup sering sampai berhenti terdengar seperti kalimat dan mulai terdengar seperti ucapan terima kasih standar, seperti makasih ya atau hati-hati di jalan.
Aku selalu mengira kalimat itu punya berat.
Ternyata beratnya tergantung siapa yang sedang membawa proyektor.
Jam sebelas malam, aku menyelesaikan formulir magang.
Tujuh dokumen. Semuanya lengkap. Aku memasukkannya ke map plastik biru dan menaruhnya di atas tas supaya besok pagi tidak lupa.
Lalu aku duduk di kasur, dan untuk pertama kalinya sejak malam hujan itu, aku memikirkan sesuatu sampai selesai:
Kalau langit runtuh malam ini — kalau dia menelepon dan bertanya kenapa, dan suaranya bergetar, dan dia bilang bahwa dua minggu ini terasa aneh dan dia tidak tahu kenapa — aku akan kembali.
Aku tahu itu tentang diriku sendiri. Aku tidak sekuat itu. Satu pertanyaan saja sudah cukup.
Langit tidak runtuh.
Dan itu bukan bagian yang menyakitkan.
Bagian yang menyakitkan adalah kesadaran bahwa langit memang tidak akan runtuh, tidak pernah, tidak sekali pun, karena aku tidak pernah menopang langit siapa pun.
Aku menopang hal-hal kecil. Proyektor. Jaket. Es teh. Ratusan jam di parkiran.
Dan hal-hal kecil punya sifat yang kejam: kalau kamu mencabut satu, tidak ada yang jatuh. Kamu harus mencabut ribuan sekaligus supaya ada yang terasa, dan tidak ada orang yang bisa mencabut ribuan hal sekaligus.
Yang bisa dilakukan cuma satu per satu.
Pelan-pelan.
Sampai suatu hari orang itu berdiri di ruangan yang sudah kosong dan tidak bisa menyebutkan satu pun barang yang hilang, dan cuma tahu bahwa ruangannya terasa lain.
Aku mematikan lampu.
Besok pagi jam sembilan, di gedung rektorat, presentasi itu akan berjalan lancar dengan proyektor pinjaman dari Fandi.
Aku tidak datang.
Tidak ada yang menyadari sampai tiga hari kemudian.
- 1 Empat Menit
- 2 Parkiran
- 3 Es Teh Punya Orang
- 4 Jaket yang Nggak Jadi
- 5 Konsultan
- 6 Obat buat Orang Lain
- 7 Kayak Kakak
- 8 Sopir
- 9 Dua Jam Hujan
- 10 Dibaca Besoknya
- 11 Maaf, Aku Nggak Bisa reading
- 12 Kursi Kosong
- 13 Sabana Fest
- 14 Jadian
- 15 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 16 Baik-baik Saja
- 17 Ada yang Kurang
- 18 Tama
- 19 Papan Taruhan
- 20 Aku Udah di Jalan
- 21 Ngeroyok
- 22 Seminggu
- 23 Buku Catatan
- 24 Hujan (Lagi)
- 25 Kenapa Baru Sekarang?
- 26 Maaf, Aku Nggak Bisa
- 27 Giliran
- 28 Papan Taruhan Jilid Dua
- 29 Jaket
- 30 Aku Males
- 31 Es Teh
- 32 Yang Aku Nggak Tahu
- 33 Konsultan (Lagi)
- 34 Aku Udah di Jalan