Chapter Nine
Kaca Restoran
POV: Jaka
Jumat malam, jam 19.30, lantai tujuh adalah milikku dan mesin-mesin.
Aku suka on-call malam, sebenarnya. Kantor kosong itu jujur: tidak ada yang perlu dibaca selain log, tidak ada wajah yang gagal ku-parse, dan dashboard tidak pernah tertawa dengan frekuensi yang membingungkan. Malam ini agendaku dua: memantau sistem pasca-rilis, dan melanjutkan perbaikan data titik sortir — 0,4 persen yang bocor itu, yang seharian tadi kukejar sampai ke gudangnya langsung, bau kardus dan lakban, jenis pekerjaan yang kusukai karena masalahnya bisa dipegang.
Jam 19.42, ponselku berbunyi. Pak Bram.
Sebelum itu, izinkan aku mencatat betapa baiknya malam ini berjalan. Aku baru pulang dari titik sortir Bekasi jam lima, membawa temuan yang membuat engineer bahagia: 0,4 persen yang bocor itu ternyata bukan satu masalah besar, tapi tiga masalah kecil yang bergandengan — printer label yang tintanya sekarat sehingga barcode gagal di-scan, satu petugas serah-terima yang input manualnya kreatif, dan sinkronisasi data yang telat empat menit di jam sibuk. Tiga masalah kecil itu semuanya bisa dipegang, bisa diperbaiki, bisa selesai. Aku sedang menyusun rencananya sambil makan nasi padang bungkus di meja, dan untuk beberapa jam, hidup terasa seperti sistem yang sehat.
“Jaka! Untung ada yang standby. Di meja aku ada amplop cokelat, addendum Sentosa. Tolong anterin ke Ittai Senopati sekarang ya. Mau aku foto-tanda-tangan malam ini juga biar Bu Ratna lihat kita gercep. Naik Grab aja, reimburse. Thanks ya! 👍”
Aku menatap pesan itu selama tiga detik. Sistem monitoring stabil, semua kurva hijau, dan on-call yang menolak perintah VP butuh alasan teknis yang tidak kumiliki.
“Siap, Pak.”
Amplop cokelat itu ada di meja yang paling rapi kedua di lantai tujuh — rapi karena jarang dipakai. Aku menimbangnya sebentar di tangan. Tipis. Lima-enam lembar. Dokumen yang sebenarnya bisa menunggu Senin di semua versi dunia yang masuk akal, tapi dunia malam ini sedang tidak memakai versi itu.
Hujan mulai turun rintik ketika ojekku membelah Sudirman. Jakarta malam hari dari atas motor selalu terlihat seperti kota yang lebih baik dari aslinya — lampu-lampu jadi panjang, klakson jadi jauh. Aku memeluk amplop cokelat di dalam jaket dan tidak memikirkan apa-apa. Sungguh. Aku sudah ahli tidak memikirkan apa-apa. Bertahun-tahun latihan.
Restoran itu ada di deretan Senopati yang lampunya keemasan semua, jenis tempat yang menyalakan lilin bukan karena mati listrik. Aku turun dari ojek, merapikan jaket, dan berjalan ke pintu masuk melewati dinding kacanya yang besar dan hangat.
Dan di situlah aku melihatnya.
Meja panjang di dekat jendela — meja untuk sepuluh orang, kursinya kosong delapan. Di dua kursi yang terisi: Pak Bram, setengah berdiri sambil menceritakan sesuatu dengan kedua tangannya, dan Ivy Cleopatra.
Yang sedang tertawa.
Bukan senyum rapat. Bukan anggukan sopan yang kukatalogkan selama dua tahun. Tawa — kepala sedikit miring, rambut jatuh menutupi sebelah wajah lalu diselipkan ke belakang telinga dengan gerakan yang sudah kuhafal dari jarak sembilan puluh sentimeter setiap hari, dan yang malam ini kulihat dari balik kaca, dari trotoar, dari jarak yang sebenarnya.
Aku berdiri di situ mungkin dua detik. Mungkin lebih. Amplop cokelat di dadaku terasa seperti benda paling bodoh yang pernah dibawa manusia.
Kaca itu tebal dan bersih dan sangat adil: dia menunjukkan semuanya dan tidak memperdengarkan apa-apa. Aku tidak tahu leluconnya. Aku tidak tahu konteksnya. Aku cuma dapat gambarnya — dan gambar, tanpa suara, adalah format yang paling gampang diisi sendiri oleh kepala yang sudah dua tahun menabung bahan.
Di sisi kaca sebelah sana: cahaya, lilin, anggur di gelas yang bening. Di sisi sebelah sini: hujan, trotoar, dan kurir dokumen. Pembagian yang rapi sekali. Bahkan semesta punya arsitektur informasi.
Delapan kursi kosong. Aku tahu kenapa kursi-kursi itu kosong — anaknya Gofar demam, ban Radit bocor, regression test mendadak yang seisi backend tahu tidak masuk akal, jadwal on-call yang diubah hari Rabu. Aku tahu semua data itu. Aku bahkan sempat, tadi sore, hampir memikirkan artinya.
Tapi data yang di balik kaca ini lebih sederhana dan lebih keras: delapan kursi kosong, dan dia tetap datang, dan dia tertawa.
Tidak ada yang memaksa orang tertawa. Kalimat itu masuk ke sistemku tanpa antre, langsung dieksekusi, dan hasilnya keluar sebelum aku sempat memeriksa asumsinya.
Aku mendorong pintu. Lonceng kecil berbunyi. Pelayan menyambut dan aku menyebut nama Pak Bram, dan sepanjang dua belas langkah menuju meja itu aku memasang wajah kerja terbaikku — yang ternyata masih berfungsi, bagus, setidaknya ada sistemku yang tidak down malam ini.
“Pak. Dokumennya.”
“Jakaaa!” Pak Bram menyambut amplop itu seperti menyambut piala. “Sori banget ya malam-malam. Duduk dulu lah, minum apa kek—” dia menoleh ke pelayan dengan gestur setengah hati yang artinya sudah kami berdua pahami, “—atau buru-buru? Pasti buru-buru. Anak backend paling nggak bisa diajak santai.”
“Monitoring, Pak.” Aku mengangguk. “Saya balik ke kantor.”
Di ujung mataku — karena aku tidak menoleh langsung, menoleh langsung ada biayanya — Mbak Cleo sudah tidak tertawa. Dia duduk sangat tegak, dan tangannya di atas meja bergerak sedikit ke arahku, dan mulutnya membuka:
“Mas—”
“Mari, Mbak.” Aku mengangguk ke arah umum meja itu, ke arah gelas-gelas dan lilin dan semua yang bukan matanya, lalu berbalik.
Dua belas langkah menuju pintu terasa lebih panjang daripada dua belas langkah masuk tadi. Lonceng kecil berbunyi lagi. Hujan di luar sudah naik pangkat dari rintik jadi serius, dan ojekku yang tadi masih menunggu di seberang menyalakan lampunya.
Sepanjang jalan pulang, hujan mengerjakan tugasnya dengan tekun ke punggung jaketku, dan aku mengerjakan tugasku: audit.
Mari jujur secara teknis. Apa yang sebenarnya kulihat? Dua rekan kerja makan malam. Sah. Apa yang tidak kulihat? Konteksnya, sebelumnya, sesudahnya. Kesimpulan macam apa yang bisa ditarik dari sampel dua detik? Secara statistik: tidak ada. Aku tahu itu. Aku sungguh tahu itu.
Tapi sistem di dadaku tidak pernah lulus statistik. Sistem itu cuma tahu satu gambar sekarang, dipasang permanen di memori tanpa kompresi: cahaya keemasan, meja panjang, delapan kursi kosong, dan tawa yang belum pernah sekali pun — dalam dua tahun, dalam ratusan sprint, dalam ribuan data yang kukumpulkan diam-diam seperti orang bodoh — diarahkan ke mejaku.
Sampai kantor jam 21.10, aku menggantung jaket basah di sandaran kursi, duduk di depan monitor, dan menatap dashboard yang semua kurvanya hijau.
Sistem sehat. Latency normal. Error rate nol koma nol dua.
Aku duduk di sana lima belas menit tanpa mengerjakan apa-apa, yang merupakan rekor buruk pribadi, lalu berdiri ke pantry karena badan basah butuh minum hangat — itu prinsip dasar, itu bahkan prinsip yang minggu lalu kupraktikkan untuk orang lain di tangga darurat. Lemari teh masih penuh dengan kotak-kotak bergambar bunga yang misterius itu. Kuseduh satu. Mahal katanya, lima kali harga teh biasa.
Rasanya seperti air. Semua rasanya seperti air malam ini. Mungkin lidahku ikut kehujanan.
Aku kembali ke meja, membuka rencana perbaikan titik sortir yang tadi sore membuatku merasa hidup itu sistem yang sehat, dan membacanya seperti membaca tulisan orang lain. Printer label. Input manual kreatif. Sinkronisasi telat empat menit. Tiga masalah kecil yang bisa dipegang.
Enak sekali jadi masalah-masalah itu. Ditemukan, dipahami, diperbaiki.
Aku membuka file perhitungan lamaku — yang tidak pernah benar-benar berbentuk file, yang berjalan di kepala sejak dua tahun lalu — dan melakukan revisi kecil di baris terakhir.
Nol persen, dibulatkan ke bawah.
Aku tahu nol tidak bisa dibulatkan ke bawah. Aku engineer. Aku paham matematika.
Malam ini aku juga paham kenapa manusia menciptakan angka negatif.
Jam dua belas lewat, sebelum pulang, mataku jatuh ke payung hitam tua yang tersandar di sisi mejaku — payung yang menemaniku empat musim hujan, gagangnya sudah halus di genggaman. Di luar, ramalan cuaca bilang hujan sampai Selasa. Orang yang pulang naik ojek malam-malam tidak butuh payung.
Orang yang setiap pagi jalan kaki dari lobi, bahunya sering lembap kalau musim begini — dia butuh.
Aku memindahkan payung itu ke dekat tasku untuk Senin pagi. Kenapa — jangan tanya. Sistem yang error tetap menjalankan fungsi dasarnya. Mungkin justru cuma fungsi dasarnya yang tersisa.
Di luar, hujan belum selesai dengan siapa-siapa.
- 1 Sprint Planning dan Dewi Lantai Tujuh
- 2 Nama Pak Slamet
- 3 Aturan Nomor Satu
- 4 Sticky Note Kuning
- 5 Tangga Darurat
- 6 Tidak Terjadi Apa-Apa
- 7 Satu-Satu
- 8 Undangan yang Tidak Bisa Ditolak
- 9 Kaca Restoran reading
- 10 Dua Menit di Toilet
- 11 Jarak yang Sopan
- 12 Menurut Data
- 13 Sabtu yang Dibungkus Rapi
- 14 Foto di #random
- 15 Yang Tertawa di Foto Itu
- 16 Bukan Urusan Saya
- 17 Wajah Itu
- 18 Penolakan
- 19 Operasi Pendekatan v1.0
- 20 Dua Gelas Kopi
- 21 Vy
- 22 Belajar SQL
- 23 Radit Tahu Duluan
- 24 Wingman Paling Berisik
- 25 Error Margin
- 26 Gerimis
- 27 Kabar Angin
- 28 Daftar
- 29 Lega
- 30 Sebagai Product Owner
- 31 Malam Sebelum Demo
- 32 Log Jam Tiga Pagi
- 33 Keputusan CEO
- 34 Yang Diselamatkan
- 35 Kamu Cantik, Vy
- 36 Kata Siapa Nol Persen?