← Nol Persen

Chapter One

Sprint Planning dan Dewi Lantai Tujuh

POV: Jaka

Ada dua jenis manusia di dunia ini: yang percaya keajaiban, dan yang pernah membaca log server jam tiga pagi.

Aku jenis yang kedua.

Namaku Jaka Wirawan, dua puluh sembilan tahun, Senior Backend Engineer di Antarra — startup logistik yang misinya, menurut deck investor kami, “menghubungkan jutaan UMKM dengan jaringan pengiriman se-Indonesia.” Menurut versi jujurnya: memastikan paket sambal botolan dari Cimahi sampai ke Balikpapan tanpa pecah, dan tanpa server kami ikut pecah bersamanya.

Kantor kami di lantai tujuh sebuah gedung di Jakarta Selatan. Ruang-ruang rapatnya dinamai jalur pengiriman: Pantura, Cipularang, Trans-Sumatra. Ruang paling kecil — muat empat orang, AC-nya menetes tepat di kursi ketiga — dinamai Anyer–Panarukan. Kata tim kultur, biar sejarah tidak dilupakan. Menurutku, biar penderitaan tidak dilupakan.

Senin. Jam 09.47. Sprint planning dijadwalkan jam 09.30 di Pantura, dan Pantura masih berisi tiga manusia setengah sadar plus satu termos kopi yang isinya tinggal harapan.

“Sepuluh ribu, mulainya lewat jam sepuluh,” kata Gofar di sebelahku tanpa mengalihkan mata dari grafik CPU di layarnya. Gofar itu DevOps kami. Umur tiga puluh satu, jiwa lima puluh dua. Hobinya dua: memelototi dashboard monitoring dan membuka taruhan receh atas segala hal yang bisa ditaruhkan di muka bumi.

“Nggak ikut,” kataku.

“Takut kalah?”

“Meeting-nya mulai jam 09.58.”

“Kok bisa yakin?”

“Jam 09.55 Mbak Cleo keluar dari lift. Dari lift ke Pantura butuh tiga menit, karena sepanjang jalan dia disapa kurang-lebih delapan orang.”

Gofar pelan-pelan memutar kursinya ke arahku. “Kamu... ngitungin itu?”

“Aku engineer. Kerjaanku menghitung.”

“Sehat, Jek?”

“Sehat,” kataku, kembali ke layar. Ini penting: aku kembali ke layar. Nanti kalian paham kenapa aku selalu kembali ke layar.

Jam 09.55, pintu lift terbuka.

Aku tidak perlu menoleh untuk tahu. Suasana lantai tujuh berubah seperti tekanan udara sebelum hujan — kepala-kepala terangkat dari monitor, seseorang di pantry menurunkan volume tawanya, dan Sasha dari HR yang sedang lewat mendadak menemukan alasan untuk berjalan lebih lambat.

Ivy Cleopatra. Product Owner kami. Orang-orang memanggilnya Mbak Cleo, dan gedung ini memperlakukannya seperti cuaca: semua orang membicarakannya, tidak ada yang bisa berbuat apa-apa soal itu.

Aku menoleh. Sebentar saja. Ini kesalahan yang kulakukan setiap Senin dan belum berhasil di-patch sampai sekarang.

Dia berjalan sambil membaca sesuatu di ponselnya, dan rambutnya jatuh menutupi sebelah wajah setiap kali dia menunduk, lalu diselipkannya ke belakang telinga dengan satu gerakan yang — oke. Cukup. Aku kembali ke layar. Query di depanku tiba-tiba jadi sangat menarik. Sangat. Menarik.

Jam 09.58, Cleo membuka pintu Pantura. “Pagi. Maaf, tadi ditahan tim finance di lorong. Kita mulai.”

Gofar menggeser sepuluh ribu ke arahku tanpa suara. Aku tidak mengambilnya. Kemenangan yang didapat dari memperhatikan seseorang terlalu teliti rasanya bukan kemenangan; rasanya seperti barang bukti.

Sprint planning berjalan seperti biasa, artinya: seperti sidang, tapi semua terdakwa membawa laptop. Agenda utama sprint ini fitur multi-drop — satu kurir, banyak titik antar, rute dioptimalkan. Fitur yang sudah dijanjikan tim sales ke klien sejak zaman dinosaurus masih pakai fax.

“Frontend butuh dua minggu,” kata anak frontend.

“Dua minggu itu sampai selesai atau sampai kelihatan selesai?” tanya Tami. Tami itu QA kami, dua puluh empat tahun, punya bakat langka: mengucapkan kebenaran yang semua orang pikirkan tapi tidak ada yang mau tanggung akibatnya. Ruangan hening dengan cara yang sudah sangat kami kenal.

Cleo menahan senyum, lalu menoleh ke ujung meja. Ke arahku. “Mas Jaka. Dari sisi backend, yang realistis gimana?”

Semua kepala ikut menoleh. Aku tidak suka bagian ini. Tapi pertanyaannya benar, jadi jawabannya harus benar juga.

“Optimasi rutenya jangan dibangun sekarang,” kataku. “Sprint ini cukup multi-drop manual — kurir input urutan sendiri. Mesin optimasinya nyusul sprint depan setelah kita punya data pola antarnya. Kalau dipaksa sekaligus, dua-duanya jadi setengah matang.”

Cleo menatapku dua detik. Orang lain mungkin tidak menghitung. Aku menghitung. Dua detik.

“Setuju,” katanya, lalu mulai memindahkan kartu di backlog. “Kita potong scope-nya persis di situ.”

Dan itu saja. Itu seluruh interaksi kami: aku bicara empat kalimat tentang arsitektur, dia setuju, dunia berputar lagi. Tapi di suatu tempat di dadaku ada proses kecil yang berjalan tanpa izin, mencatat dua detik tadi ke dalam memori jangka panjang, di sebelah ratusan catatan serupa yang tidak akan pernah dipakai untuk apa-apa.

Begini. Biar adil, kalian perlu tahu datanya.

Ivy Cleopatra: Product Owner paling dipercaya CEO, wajah yang membuat pitch deck kami terlihat lebih meyakinkan hanya karena dia yang membacakannya, ditaksir — ini bukan gosip, ini observasi terverifikasi — oleh minimal dua orang di gedung ini yang secara statistik jauh lebih layak: satu VP dengan mobil yang harganya setara lima tahun gajiku, dan satu sahabat kuliahnya sendiri yang bisa membuat satu ruangan tertawa dalam lima menit.

Jaka Wirawan: bisa membuat satu ruangan hening dalam lima menit, biasanya karena membawa kabar server.

Aku engineer. Aku percaya data. Dan data berkata: peluangku nol persen. Bukan “kecil”. Bukan “hampir mustahil”. Nol. Aku sudah menghitungnya dengan berbagai metode dan hasilnya konsisten di setiap pengujian. Kalau perasaanku ini sistem, sudah lama kumatikan servernya — tapi masalahnya dia berjalan di infrastruktur yang tidak bisa kuakses: jantung sendiri.

Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang bisa dilakukan orang waras terhadap sistem yang tidak bisa dimatikan: memastikan dia tidak mengganggu layanan lain. Aku bekerja. Aku menjawab kalau ditanya. Aku kembali ke layar.

Jam 10.40, ketika planning hampir selesai, pintu Pantura terbuka dan masuklah Bramantyo Adikara. VP Product. Pak Bram. Parfumnya sampai duluan tiga detik sebelum orangnya.

“Sorry, sorry, baru drop dari townhall direksi,” katanya, meletakkan ponsel di meja dengan gaya orang yang yakin semua meja adalah panggungnya. “Satu menit aja. Biar kita semua satu frekuensi.”

Gofar, di sebelahku, menulis sesuatu di notes: frekuensi = 1. Aku pura-pura tidak lihat.

“Kuartal ini critical buat Antarra. Multi-drop harus mulus, Sentosa Niaga lagi evaluasi kontrak, dan direksi mau kita lebih agile lagi. Jadi mulai sprint depan, kita jalankan co-location.” Bram berhenti, menikmati jeda dramatisnya sendiri. “Product Owner akan duduk langsung bareng tim backend. Biar keputusan produk dan teknis nggak kepisah tembok. Cleo—” dia tersenyum ke arah Cleo dengan kadar yang menurutku melebihi kebutuhan operasional, “—kamu pindah ke area backend ya. Anggap aku titipkan PO terbaik kita ke kalian.”

Ruangan mengeluarkan bunyi “oooh” pelan. Tami bertepuk dua kali, entah untuk siapa. Anak frontend berbisik “wilayah kalian naik harga” ke arah kami dengan nada makelar tanah. Cleo sendiri mengangguk profesional, wajahnya tidak bisa dibaca — dan percayalah, sudah lama kupelajari dan tetap gagal ku-parse.

“Pertanyaan?” Bram membuka kedua tangannya seperti MC kuis.

“Meja PO-nya di mana, Pak?” tanya Gofar, dan aku mendadak sangat sibuk dengan tutup botol minumku.

“Di mana ada tempat kosong aja. Yang penting satu area, satu frekuensi.” Bram mengetuk meja dua kali sebagai penutup, mengambil ponselnya, dan keluar dengan kecepatan orang yang masih punya tiga panggung lagi hari ini.

Aku sendiri sedang sibuk dengan satu fakta kecil yang baru saja dimuat ke kepalaku dan menolak keluar:

Di area backend, hanya ada satu meja kosong.

Meja itu di sebelah mejaku.

Sepanjang sisa hari, Slack #random ramai seperti pasar malam. Sasha mengirim emoji mata tujuh kali dalam tiga thread berbeda. Gofar membuka thread berjudul “SELAMAT DATANG DI WILAYAH KAMI” yang dalam satu jam berisi empat puluh balasan, termasuk usulan menyambut Cleo dengan karpet merah dari bubble wrap, ditolak dengan alasan anggaran, lalu di-approve lagi setelah anak frontend menemukan stok bubble wrap bekas di gudang. Tami hanya menulis satu kalimat, dan seperti biasa, kalimatnya yang paling berbahaya:

“Kok yang paling deket mejanya malah paling diem ya.”

Aku menutup laptop jam tujuh malam, berjalan ke lift, dan menghitung ulang untuk keseratus kalinya, siapa tahu ada bug di perhitunganku selama ini.

Tidak ada. Hasilnya tetap: nol persen.

Mulai Senin depan, nol persen itu duduk sembilan puluh sentimeter dari sikuku.