← Nol Persen

Chapter Two

Nama Pak Slamet

POV: Jaka

Selasa pagi, jam 07.20, lantai tujuh masih milik dua orang: aku dan Pak Slamet.

“Pagi, Pak.”

“Pagi, Mas Jaka.” Pak Slamet mengangkat kepalanya dari lantai yang sedang dipelnya, lalu menunjuk pantry dengan dagu. “Galon baru saya pasang. Yang kemarin itu bocor halus, pantes cepet habis.”

“Bapak yang nemu bocornya?”

“Ya siapa lagi.” Beliau tertawa kecil. “Yang lain kan sibuknya sama yang di layar.”

Aku menuang air, dan seperti setiap kali aku berdiri di pantry ini pagi-pagi bersama Pak Slamet, kepalaku memutar file lama yang tidak pernah berhasil kuarsipkan. Dua tahun, dan kualitas rekamannya tidak menurun sama sekali.

Dua tahun lalu. Minggu keduaku di Antarra.

Waktu itu aku engineer baru yang belum hafal siapa pun, duduk di barisan belakang sprint review pertamaku. Agenda besarnya demo fitur rekonsiliasi COD ke leadership — fitur yang menghitung setoran kurir secara otomatis, menyangkut uang, menyangkut kepercayaan, menyangkut segalanya. CEO hadir. Dua orang dari investor ikut duduk.

Empat puluh menit sebelum demo, seorang anak magang QA menemukan sesuatu.

Namanya Tami. Waktu itu badannya seperti tenggelam di hoodie ukuran salah, dan suaranya nyaris tidak terdengar ketika dia bilang ada kasus langka: kalau kurir menyetor dua kali dalam satu menit, sistem memotong saldonya dobel. Uang orang. Terpotong dobel. Empat puluh menit sebelum CEO melihat fitur itu dinyalakan.

Aku ingat detiknya. Ruangan sedang gaduh oleh persiapan, dan suara kecil dari barisan belakang itu tenggelam dua kali sebelum akhirnya ada yang mendengar. Yang mendengar pertama kali adalah Cleo. Aku ingat karena dia sedang berdiri di depan, memegang remote presentasi, dikelilingi tiga orang yang mengajaknya bicara sekaligus — dan dia yang menoleh ke barisan belakang. “Sebentar,” katanya pada tiga orang itu, lalu berjalan ke arah suara paling pelan di ruangan. “Kamu nemu apa? Tunjukin.”

Yang terjadi berikutnya adalah kekacauan yang rapi: demo digeser ke skenario lain, fitur ditahan, hotfix dijadwalkan. Krisis lewat tanpa seorang pun di ruangan itu tahu betapa dekatnya kami dengan bencana.

Selesai review, CEO berdiri. “Gue mau apresiasi Cleo,” katanya. “Keputusan nahan fitur di detik terakhir itu berat, dan itu keputusan yang bener. Ini contoh ownership.”

Ruangan bertepuk tangan. Aku ikut bertepuk, karena memang begitu aturannya.

Lalu Cleo mengangkat tangan, menunggu tepukan reda, dan berkata dengan suara yang datar saking jelasnya:

“Bukan saya yang nemu. Yang nemu Tami, anak QA. Saya cuma tinggal ambil keputusan gampang setelah dia ngerjain bagian susahnya selama empat jam. Jadi kalau mau tepuk tangan, arahnya ke sebelah sana.”

Dan dia menunjuk barisan belakang, ke arah hoodie ukuran salah itu, dan seluruh ruangan berbalik dan bertepuk untuk seorang anak magang yang wajahnya berubah warna seperti status deployment: putih, merah, lalu merah sekali.

Aku ingat berpikir: oh. Menarik.

Belum jatuh. Waktu itu belum. Sistemku baru mencatat anomali, belum mengambil tindakan.

Yang membuat sistemku tumbang terjadi sorenya, dan bahkan bukan peristiwa. Cuma satu kalimat. Aku sedang di lobi lantai tujuh menunggu build selesai, Cleo lewat sambil membawa gelas kosong ke pantry, dan berpapasan dengan petugas kebersihan yang sedang mengganti kantong sampah.

“Pak Slamet, terima kasih ya, tadi siang ruang Cipularang udah wangi lagi. Kemarin ada yang tumpahin kari.”

Itu saja.

Bukan kalimatnya. Namanya. Pak Slamet. Aku sudah dua minggu di kantor itu dan baru sadar detik itu bahwa aku belum tahu nama beliau — dan bahwa selama dua minggu, semua orang yang kudengar menyapa beliau memakai kata yang sama: “Pak” saja. Pak tanpa nama. Pak yang artinya bukan-siapa-siapa.

Kecuali satu orang. Dan satu orang itu adalah orang yang paling ditonton di seluruh gedung, yang paling boleh sibuk dengan dirinya sendiri, yang paling punya alasan untuk tidak hafal nama siapa pun.

Malam itu aku pulang naik KRL, berdiri di antara ketiak-ketiak Jakarta, dan untuk pertama kalinya dalam hidup melakukan perhitungan yang hasilnya kubawa sampai hari ini: aku, engineer baru yang gajinya standar dan wajahnya lebih standar lagi, terhadap perempuan itu — nol persen.

Anehnya, waktu itu rasanya bukan kabar buruk. Rasanya seperti membaca spesifikasi hardware yang jujur. Kamu tidak marah pada laptop kentang karena tidak bisa main game AAA. Kamu cuma... tahu batasmu, lalu tetap menyala setiap hari.

“Mas Jaka?” Suara Pak Slamet menarikku kembali ke pantry, ke Selasa, ke gelas yang sudah penuh sejak tadi dan tanganku masih memegangi tuas galon. “Airnya udah luber itu.”

“Eh. Iya, Pak.” Aku menyeka meja. Pak Slamet tersenyum dengan cara orang yang sudah tiga puluh tahun melihat manusia melamun di depan galon dan tahu persis penyebabnya selalu salah satu dari dua: utang atau orang.

Jam sepuluh, lantai tujuh kedatangan cuaca lain.

Parfumnya, seperti biasa, sampai duluan. Pak Bram muncul dari lift bersama laptop yang tidak pernah dibuka dan senyum yang tidak pernah ditutup, lalu melakukan hal yang dia sebut management by walking around dan kami sebut sidak dengan branding.

“Tim backend! The unsung heroes!” Dia berhenti di area kami, meletakkan sebelah tangan di partisi mejaku seperti sedang difoto untuk laporan tahunan. “Gimana, semangat kan sambut co-location? Ini bukan cuma pindah meja ya, guys. Ini cultural transformation.”

“Siap, Pak,” kata Gofar, dengan nada yang bisa berarti apa saja.

“Nah gitu. Energinya gue suka.” Bram mengangguk-angguk, lalu matanya menemukan target sebenarnya di seberang ruangan, di mana Cleo sedang berdiri mendiskusikan sesuatu dengan Tami. “Cleo! Sini bentar.”

Cleo datang membawa wajah rapatnya. “Ya, Pak?”

“Dua hal. Satu: minggu depan kamu udah full duduk sini ya, biar transisinya nggak nanggung.” Bram tersenyum ke arah area kami seolah baru menghadiahkan sesuatu. “Dua: kita berdua perlu satu sesi align soal arah produk kuartal depan. Yang proper, yang nggak keburu-buru. Nanti aku set.”

“Bisa, Pak. Kirim aja invite-nya, saya sesuaikan.”

“Sip. Aku yang atur tempatnya.” Kata tempatnya itu dia ucapkan dengan bumbu yang membuatku, entah kenapa, sangat ingin memeriksa log server.

Bram melenggang pergi melanjutkan roadshow-nya — “Frontend! The face of Antarra!” disusul “QA! The guardians of quality!” disusul, samar dari kejauhan, “Finance! The... backbone!” karena rupanya stok metafora pun ada batasnya — dan area backend kembali ke bunyi normalnya: keyboard, kipas laptop, dan Gofar yang bersiul pelan tanpa nada.

“Titipkan PO terbaik kita ke kalian,” ulang Gofar, menirukan intonasinya dengan akurasi yang mengkhawatirkan. “Emang Mbak Cleo paket?”

“Jangan,” kata Tami dari mejanya, masih tanpa mengangkat kepala. “Kalau paket, nanti ada yang klaim asuransi pas hilang.”

Aku memilih tidak ikut. Di kantor ini, diam adalah satu-satunya bentuk komunikasi yang tidak bisa di-screenshot.

Sorenya, jam 16.32, Sasha dari HR mampir ke area kami membawa tumbler dan informasi. Sasha selalu membawa dua hal itu bersamaan.

“Off the record ya,” katanya, yang merupakan cara Sasha membuka semua kalimat yang akan segera menjadi on the record. “Tadi aku lihat kalender Pak Bram kebuka di pantry. Ada invite baru buat Mbak Cleo.”

“Terus?” Gofar sudah memutar kursi, sepenuhnya berinvestasi.

“Judulnya Sync 1:1 — Product Direction. Jumat.” Sasha menyeruput tumblernya, ahli membangun ketegangan. “Jam setengah tujuh. Malam. Lokasi: menyusul.”

Gofar bersiul, kali ini dengan nada. Tami, dari mejanya, tanpa mengangkat kepala dari test case: “Sync kok jam makan malam.”

Aku tidak berkomentar. Aku sedang menatap layar, di mana sebuah query sudah selesai berjalan sejak lima menit lalu dan hasilnya belum kubaca sampai sekarang.

Jam setengah tujuh. Malam. Lokasi menyusul.

Bukan urusanku. Sungguh bukan urusanku. Aku menutup tab, membuka tab lain, menutupnya lagi, dan menghabiskan lima belas menit berikutnya mengerjakan sesuatu yang baru kusadari kemudian: mengosongkan cache. Membersihkan yang tidak bisa dibersihkan.

Nol persen, kataku pada diri sendiri, tidak berhak merasa apa-apa soal hari Jumat.

Tapi sistemku, seperti biasa, berjalan tanpa izin.