← Nol Persen

Chapter Eighteen

Penolakan

POV: Cleo

Ada satu detik, setelah kau berdiri di depan tiga puluh orang, ketika kau masih bisa mundur. Bilang “eh, nggak jadi, lupa,” tertawa kecil, duduk lagi. Detik itu lewat di depanku seperti pintu kereta yang menutup, dan aku membiarkannya pergi dengan sengaja.

“Terima kasih, Pak Bram, untuk kabar undangannya. Acara Sentosa itu penting, dan Antarra memang harus hadir.” Suaraku keluar dalam mode presentasi — stabil, jelas, terlatih ribuan jam — dan untuk pertama kalinya seumur karier, mode itu kupakai untuk sesuatu yang membuat lututku sendiri tidak stabil. “Tapi saya nggak akan berangkat sebagai pasangan undangan Bapak. Dan saya mau menjelaskan kenapa, di sini, supaya cukup sekali.”

Sunyi total. Bahkan AC terdengar menahan napas.

“Sejak awal kerja, saya pegang satu aturan. Semua yang sifatnya kerja — meeting, kunjungan, forum seperti ini — saya ambil, jam berapa pun, sesulit apa pun. Semua yang sifatnya privat — makan berdua, dijemput, disiapkan dress-nya — saya nggak ambil. Bukan sama Bapak saja. Sama siapa pun. Aturan itu yang bikin saya bisa duduk di ruangan ini dan didengar karena kerja saya.”

Aku menarik napas. Bagian selanjutnya yang mahal.

“Beberapa minggu terakhir, batas itu beberapa kali ketarik-tarik. Dinner tim yang pesertanya tinggal dua. Kunjungan Sabtu yang dijemput. Dan hari ini, di depan semua orang, saya diminta menyiapkan dress dan dijemput, biar praktis.” Aku menoleh ke Pak Bram, dan kupasang senyum kadar sedang untuk terakhir kalinya dalam sejarah hubungan kerja kami. “Saya yakin maksudnya baik. Jadi anggap ini saya yang meluruskan, dengan baik juga: mulai sekarang, semua agenda yang melibatkan saya cukup lewat kalender, di jam kerja, dengan peserta yang jelas. Kalau formatnya di luar itu, jawaban saya sudah bisa diprediksi, jadi nggak usah capek-capek nanya.”

Seseorang di barisan belakang mengeluarkan bunyi tercekat yang buru-buru disamarkan jadi batuk.

“Untuk Vendor Night-nya sendiri — usul saya, dua undangan itu dipakai maksimal. Satu untuk Bapak, sebagai VP, itu memang tempatnya. Satu lagi untuk tim ops yang bikin angka 97,1 itu nyata di lapangan. Bu Ratna dan timnya kenal betul siapa yang tiap hari angkat telepon mereka, dan bukan saya orangnya. Biar yang kerja yang dapat panggungnya.” Aku mengedarkan pandangan ke seisi ruangan, ke wajah-wajah yang mendadak sangat tegak, dan menutup dengan suara yang kuturunkan satu tingkat, cukup untuk terdengar, cukup untuk final: “Itu aja. Terima kasih.”

Aku duduk.

Sunyi itu bertahan tiga detik penuh — aku menghitungnya, kebiasaan yang kupelajari entah dari siapa — lalu pecah oleh satu suara tepukan dari arah meja QA. Tami. Bertepuk tiga kali, datar, wajah tanpa ekspresi, seperti menstempel dokumen. Disusul tepukan Gofar, lalu beberapa, lalu cukup banyak sehingga sisa ruangan yang ragu-ragu ikut karena diam jadi lebih mencolok daripada bertepuk.

Pak Bram tersenyum sepanjang tepukan itu.

Dan di sinilah aku harus mencatat sesuatu untuk arsip: itu senyum terbaik yang pernah dia produksi. Lebar yang pas, mata yang ikut menyipit, kepala mengangguk-angguk sportif — senyum eksekutif yang menerima masukan dengan lapang dada, difoto pun akan lolos semua audit. “Noted, noted. Gua respect, ini yang namanya boundaries,” katanya, mengacungkan jempol, memungut kata dari kamus yang sedang tren. “Justru bagus, biar semua clear. Usulan soal tim ops juga menarik, nanti kita bahas.”

Tapi aku sudah delapan tahun membaca ruang rapat, dan senyum itu — di satu titik di sudut kirinya, di otot kecil yang sama yang dulu lupa dapat instruksi di ruang Cipularang — menyimpan sesuatu. Sesuatu yang disegel rapi, diberi label, dan disimpan untuk dipakai nanti, di ruangan lain, lewat pintu yang tidak kelihatan dari sini.

Aku mencatatnya. Lalu, karena keberanianku hari ini sudah dipakai sampai koin terakhir, aku membiarkannya untuk nanti.

Meeting bubar dengan energi pasar yang baru kebakaran. Sepanjang jalan keluar, tiga perempuan dari tim lain menyentuh bahuku tanpa berkata apa-apa — sentuhan singkat, satu-satu, seperti pesan berantai dalam bahasa yang tidak butuh kata. Sasha menghampiri dengan langkah resmi, wajah duka yang buruk sekali aktingnya menutupi kebahagiaan jurnalistik.

“Pengumuman ya, off the record,” bisiknya ke arah meja Gofar, cukup keras untuk didengar satu kecamatan. “Pasar ditutup. Semua posisi dibatalkan, dana dikembalikan seratus persen. Dana Abadi resmi dibekukan sampai pemberitahuan lebih lanjut, karena—” dia melirikku, menelan sisa kalimatnya, dan menyelesaikan dengan martabat yang tersisa, “—karena regulasi.”

“Yah,” kata Gofar, dengan duka yang tulus. “Padahal gue all-in.

“Ke siapa?” tanya Tami.

“...Regulasi melarang gue jawab.”

Dan di tengah semua itu, aku mencari satu hal, refleks yang sudah tidak bisa kubantah lagi: kursi di barisan samping, dekat pintu. Kosong. Tentu saja. Pemiliknya tidak pernah bertahan di ruangan yang sudah tidak membutuhkannya.

Tapi Gofar, yang mengikuti arah mataku dengan kemampuan diagnosisnya yang menyebalkan, mencondongkan badan sedikit dari kursinya dan berkata, pelan, hanya untukku, dengan nada paling netral yang pernah dia pakai seumur hidupnya:

“Dia masih di situ pas Mbak ngomong. Sampai selesai. Baru keluar pas tepuk tangan.”

Sampai selesai. Dia mendengar semuanya. Aturan itu. Dinner itu. Jawaban saya sudah bisa diprediksi. Semuanya — didengar oleh laki-laki yang selama ini menyusun seluruh kesimpulan salahnya justru dari hal-hal yang tidak sempat dia dengar.

Sore harinya, jam enam kurang, lorong menuju lift sedang kosong ketika Pak Bram menyusulku dengan langkah santai yang terlalu pas waktunya untuk kebetulan.

“Cleo.” Nadanya ringan, ramah, nada obrolan lift. “Tadi keren, by the way. Berani. Aku suka orang berani.” Dia menekan tombol lift untukku, sopan sekali, gentleman sekali. “Cuma saran senior aja nih ya — dari orang yang lebih lama di industri. Prinsip itu bagus. Tapi karier itu maraton, dan maraton butuh sponsor.” Lift berbunyi ting. Pintu terbuka. Dia tersenyum, senyum yang sama dengan yang di ruangan tadi, sudut kirinya menyimpan barang yang sama. “Penilaian kuartal sebentar lagi. Semoga performa kamu se-konsisten prinsip kamu. Eh, pasti lah ya. Kamu kan bintang.”

Dia menahan pintu lift terbuka untukku dengan satu tangan — layanan penuh sampai akhir — dan aku masuk, dan pintu menutup di antara kami dengan dia masih tersenyum di baliknya.

Di dalam lift yang turun, aku berdiri sangat tegak dan mencatat dengan tenang: itu bukan ancaman. Ancaman bisa dilaporkan. Itu ramalan cuaca — disampaikan orang yang punya akses ke mesin pembuat cuacanya.

Baik. Dicatat. Perang babak dua.

Dan satu lagi yang kucatat hari itu, di sela semuanya: Radit. Sesudah meeting bubar, dia tidak menghampiriku seperti biasa — tidak ada teriakan, tidak ada komentar outfit. Dia berdiri di dekat jendela, menatapku dari jauh dengan ekspresi yang belum pernah dia pakai sebelas tahun: seperti orang yang sedang membaca ulang sebuah cerita dari awal dan menemukan petunjuk yang selama ini dia lewati di setiap halaman. Waktu mata kami bertemu, dia tersenyum — senyum Radit yang biasa, lebar, konyol — tapi telat setengah detik.

Setengah detik itu akan menagihku suatu hari. Aku tahu. Tapi tidak hari ini.

Aku pulang sore itu dengan tubuh yang gemetar halus sisa adrenalin dan kepala yang anehnya sangat, sangat jernih. Di lift, aku menatap pantulan diriku di pintu baja: zirah masih terpasang, sanggul masih rapi, dan di balik semua itu, seorang perempuan yang hari ini akhirnya paham dua hal sekaligus.

Satu: perang dengan Pak Bram belum selesai. Senyum itu janji.

Dua — dan yang ini membuat sudut bibirku naik sendiri di depan pantulan baja: laki-laki di lantai enam itu sekarang memegang data baru. Aturanku, dibacakan lengkap, dengan pasal yang selama ini tidak pernah dia dengar: bahwa semua penolakanku berlaku untuk yang privat — bukan untuk orang tertentu, bukan pengecualian untuk siapa pun, dan karena itu juga bukan vonis untuk siapa pun. Dan kalau ada satu hal yang kutahu pasti tentang dia, satu-satunya hal yang tidak pernah gagal dari dua tahun mengamatinya diam-diam—

Dia tidak pernah bisa membiarkan data yang tidak konsisten.