← Nol Persen

Chapter Fourteen

Foto di #random

POV: Jaka

Senin, jam 07.55, aku membuka Slack sambil menunggu build pertama hari ini, dan sistemku menerima input yang langsung dieksekusi tanpa antre.

Foto.

Gudang Sentosa, spanduk serah-terima di latar. Barisan orang berseragam ops. Dan di tengah: Mbak Cleo, tersenyum — senyum yang bagus, senyum yang fotogenik, senyum yang tidak bisa kubedakan dari senyum mana pun karena aku memang tidak pernah lulus mata kuliah wajah itu. Di sebelah kanannya Pak Bram, berdiri dengan sudut badan yang menghadap ke dia dan bukan ke kamera, satu lengan di belakang bahunya — tidak menyentuh; melayang; lengan yang tahu kamera sedang merekam dan memilih pose hampir. Di sebelah kirinya Radit dengan dua jari.

Caption: Weekend warriors. Seratus dua puluh reaksi. Emoji api dari orang-orang yang Sabtu kemarin tidur sampai siang.

Aku menatap foto itu selama — sebentar. Tidak lama. Tidak ada gunanya lama; resolusi perasaannya tidak bertambah walau di-zoom.

Yang menarik dari Senin pagi ini adalah betapa tenangnya sistemku. Dua minggu lalu, kaca restoran masih memicu proses audit panjang — statistik, sampel dua detik, keberatan-keberatan rasional. Pagi ini tidak ada audit. Pagi ini cuma ada satu baris log, dingin dan efisien:

Data konsisten dengan data sebelumnya. Tidak ada anomali. Sistem berjalan sesuai prediksi.

Delapan kursi kosong dan dia datang. Sabtu pagi dan dia datang. Kamera dinyalakan dan dia tersenyum di titik yang ditunjuk. Semua datanya konsisten, dan engineer yang baik tahu kapan berhenti menguji hipotesis yang hasilnya sama terus.

Aku menutup Slack, membuka email, dan menulis pesan yang isinya sudah tersusun rapi di kepalaku sejak — sejak kapan? Mungkin sejak lonceng restoran itu. Mungkin baris-barisnya sudah menunggu di sana berminggu-minggu, tinggal dipanggil.

Kepada: Mas Hendra
Subjek: Proyek data infrastructure — saya ambil

Mas, proyek revamp data infra yang dari kuartal lalu nyari lead — saya ambil. Scope-nya pas sama yang saya kerjakan di titik sortir, dan butuh fokus penuh. Usul: selama proyek, saya duduk di lantai 6 dekat server room biar koordinasi sama tim infra cepat. Squad product sudah stabil; dashboard & data support bisa di-handle Gofar, dokumentasinya saya siapkan hari ini.

Kirim. Jam 08.02. Bukan draf. Bukan folder nanti.

Bedanya dengan draf yang dulu: yang dulu adalah lari, dan Pak Slamet benar soal lari. Yang ini cuma... penataan ruang. Aku tidak pindah tim. Aku tidak pergi dari gedung yang ada orang memanggilku pakai nama. Aku cuma memindahkan mejaku dari radius sembilan puluh sentimeter ke radius satu lantai, demi sebuah proyek yang — dan ini bagian terbaiknya — sungguhan penting, sungguhan butuh orang, sungguhan cocok denganku. Pagar kebenaran-kebenaran kecil, kualitas terbaik, dipasang rapi. Tidak ada auditor yang bisa membongkarnya.

Termasuk auditornya diri sendiri. Terutama itu.

Balasan Mas Hendra masuk jam 08.30: “Serius? Alhamdulillah, dari kemarin gak ada yang mau. Gas. Minggu ini juga boleh.”

Jam 10.15, dalam perjalanan ke pantry, aku melewati fenomena sosial yang sedang berlangsung di sekitar meja Gofar: empat kepala berkerumun di depan satu layar, berbisik dengan intensitas ruang gawat darurat.

“—naik lah jelas, foto segitu caption-nya ‘weekend warriors’—”
“—tapi belum ada konfirmasi, statusnya masih spekulatif—”
“—ini bukan spekulasi, ini momentum—”

Layar itu menampilkan spreadsheet yang buru-buru di-minimize ketika aku lewat, tapi mataku sempat menangkap strukturnya: dua kolom nama, angka-angka, dan satu grafik kecil yang garisnya baru saja diperbarui naik. Dana Abadi sedang menyesuaikan odds-nya dengan berita pagi.

Dua kolom. Aku tahu nama siapa yang di kolom-kolom itu, dan aku tahu — dengan kepastian matematis yang tidak menyakitkan lagi, sungguh, sudah tidak — bahwa tidak ada kolom ketiga. Tidak pernah ada yang membuka pasar untuk kuda yang tidak masuk daftar peserta.

Satu-satunya yang tidak ikut berkerumun adalah Tami. Dia duduk di mejanya, menatap kerumunan itu dari jauh dengan ekspresi datar yang lebih keras dari biasanya, lalu — entah kenapa — menoleh ke arahku, tepat ketika aku lewat. Aku mengangguk sopan. Dia tidak membalas anggukan itu; dia cuma memandangku dengan tatapan anak QA yang menemukan bug yang belum bisa dia reproduksi, lalu kembali ke layarnya.

Sisa hari itu kupakai untuk pekerjaan yang paling kukuasai di dunia ini: serah terima.

Aku menulis dokumentasi untuk Gofar. Semuanya. Cara kerja pipeline dashboard dan jam-jam rawannya. Query yang harus dijalankan tiap Senin subuh supaya data review mingguan segar sebelum jam delapan. Format lampiran yang dipakai tim product — kolom apa urutannya bagaimana, karena ada orang yang membacanya dengan urutan tertentu. Daftar dua puluh shipper besar dengan catatan sensitivitasnya masing-masing. Alarm-alarm kecil yang kupasang diam-diam bertahun-tahun di sekeliling satu pekerjaan orang lain, kini diinventarisasi, diberi nama, dan diserahkan.

Menjelang sore, dokumen itu selesai: sebelas halaman. Kubaca ulang sekali, dan di suatu titik di halaman tujuh — “kalau dashboard retensi error pagi hari, prioritaskan sebelum jam 9 karena biasanya dipakai buat meeting stakeholder” — aku berhenti sebentar, karena baru sadar apa sebenarnya dokumen ini.

Ini surat cinta yang ditulis dalam format runbook. Dua tahun perhatian yang tidak pernah diucapkan, dipindahtangankan ke Gofar dalam sebelas halaman, supaya perhatiannya tetap jalan walau orangnya mundur.

Aku menghapus kalimat itu dari kepalaku — bukan dari dokumennya; dokumennya sudah benar — dan menekan kirim.

“Lu pindah ke bawah?” Gofar memutar kursinya setelah membaca. “Kenapa?”

“Proyek infra. Datanya butuh dibenerin dari akar.”

“Iya, tapi kenapa lu? Kenapa sekarang?”

“Karena dari kemarin nggak ada yang mau, dan gue bisa.”

Gofar menatapku lama. Gofar itu DevOps; kerjaannya membaca sistem dari gejala-gejala kecil, dan aku bisa melihat dia sedang menjalankan diagnosis yang sama padaku. Grafik mana yang anomali. Sejak kapan. Berkorelasi dengan deployment apa.

“Sebelas halaman,” katanya akhirnya, mengangkat ponselnya yang menampilkan dokumenku. “Buat ‘dashboard sama data support’. Sebelas halaman, Jek.”

“Gue orangnya teliti.”

“He-eh.” Dia berbalik ke monitornya, dan dari punggungnya keluar satu kalimat terakhir, pelan, tanpa nada bercanda: “Servernya sehat-sehat aja di bawah. Yang nggak sehat jangan dibawa turun.”

Aku tidak menjawab, karena jawaban yang jujur tidak tersedia dan Gofar terlalu pintar untuk yang bohong.

Selasa pagi, aku memindahkan barang-barangku. Tidak banyak: laptop, monitor kedua, botol minum, satu dus kecil kabel. Meja lamaku kubersihkan sampai kosong — kutinggalkan dalam keadaan yang lebih rapi daripada saat kuterima, itu prinsip, kamu boleh patah diam-diam tapi meja harus tetap rapi.

Sebelum turun, aku berdiri sebentar di ujung barisan dengan dus di tangan, dan melakukan satu hal terakhir yang tidak perlu: memeriksa area itu seperti memeriksa sistem sebelum serah terima. Meja di sebelah — meja yang datang lewat keputusan co-location, yang penghuninya pagi ini sedang meeting di lantai lain, yang partisinya masih menggantung sebuah payung hitam tua yang tidak pernah diambil pemilik aslinya. Bagus. Biar di situ. Payung itu satu-satunya bagian dariku yang punya izin resmi untuk tetap tinggal.

Lantai enam menyambutku dengan dengung server room yang konstan, AC yang dua derajat lebih dingin, dan populasi manusia yang bisa dihitung satu tangan. Mejaku yang baru menghadap tembok. Aku mengatur monitor, menyambungkan kabel, membuka dashboard monitoring — kurva-kurva hijau, latency normal, dunia yang bisa dipahami.

Sembilan puluh sentimeter jadi satu lantai. Menurut data, itu kemajuan: frekuensi interaksi turun ke nol, beban kognitif proses jangan menoleh terhapus, kapasitas sistem kembali penuh untuk pekerjaan.

Menurut data.

Aku memasang earphone, membuka arsitektur data infra yang berantakan itu, dan mulai bekerja — pelan, teliti, satu-satu — di lantai yang dingin dan jujur, tempat semua yang menyala berwarna hijau dan tidak ada satu pun yang perlu kulihat dari pantulan monitor.

Ini yang kamu mau, kata sistemku.

Iya, jawabku. Catat sebagai selesai.

Sistem mencatatnya. Di kolom status dia menulis: selesai. Di kolom yang tidak pernah kubuka, jauh di bawah, dia menulis hal lain, dan aku memilih tidak melakukan scroll.