Chapter Twelve
Menurut Data
POV: Jaka
Di dunia sistem, ada prosedur baku untuk komponen yang mengganggu stabilitas: isolasi. Kamu tidak membencinya. Kamu tidak menghukumnya. Kamu cuma memindahkannya ke tempat yang kerusakannya tidak menjalar.
Sabtu pagi, jam tujuh, aku duduk di kosanku dengan kopi sachet dan sebuah draf yang sudah tiga hari kubuka-tutup:
Kepada: Mas Hendra (Engineering Manager)
Subjek: Usulan rotasi — platform team
Mas, aku mau mengajukan pindah ke platform team mulai kuartal depan. Alasan: (1) proyek infra data butuh orang yang paham sistem legacy, (2) squad product sudah stabil, regenerasi bagus buat tim, (3) fokusku lebih optimal di...
Tiga alasan. Semuanya benar. Itulah kelebihan alasan teknis: kamu bisa menyusun kebenaran-kebenaran kecil menjadi pagar rapi mengelilingi satu kebohongan besar, dan tidak ada auditor yang bisa membongkarnya.
Kebohongan besarnya sederhana. Sembilan puluh sentimeter itu terlalu dekat. Setiap hari aku duduk di sebelah orang yang tawanya sudah kulihat dari sisi kaca yang salah, dan setiap hari sistemku menghabiskan sekian persen kapasitas untuk satu proses background bernama jangan menoleh. Persentase itu naik terus. Minggu ini dia mencapai angka yang membuat proses-proses lain mulai antre.
Rabu kemarin, misalnya. Dia berjalan ke arah mejaku membawa dua gelas — aku melihatnya dari pantulan monitor, aku selalu melihat semuanya dari pantulan monitor, itu satu-satunya arah menoleh yang legal — dan sistemku mengeluarkan peringatan dini: dua gelas artinya satu untukmu, satu gelas untukmu artinya percakapan, percakapan artinya kalimat ekstra, dan kalimat ekstra, dalam kondisi sistemmu sekarang, adalah kebocoran yang tidak akan bisa kamu tambal.
Jadi aku berdiri dan kabur lewat tangga darurat. Tangga darurat. Dari semua pintu di lantai itu, kakiku memilih pintu yang paling penuh arsip. Sistemku pintar di banyak hal; humor bukan salah satunya.
Isolasi. Itu solusinya. Pindah tim, pindah lantai, biarkan jarak mengerjakan tugas yang gagal kukerjakan sendiri. Menurut data, ini keputusan yang benar: produktivitasku naik, risiko interaksi turun, dan dia — dia mendapat rekan kerja baru yang bisa menjawab pertanyaan tanpa perlu kabur lewat pintu darurat. Semua pihak diuntungkan. Menurut data.
Jam 09.40, aku ke kantor. Sabtu, lantai kosong, waktu yang tepat untuk merapikan dokumen serah terima — kalau drafnya jadi kukirim, aku tidak mau meninggalkan sistem dalam keadaan cuma aku yang paham. Itu prinsip. Kamu boleh patah diam-diam, tapi dokumentasi harus tetap rapi.
Lantai tujuh hari Sabtu punya suara yang berbeda: AC sentral mati, tinggal dengung server room dan, hari ini, bunyi kain pel yang bergerak teratur di lorong.
“Loh. Mas Jaka.” Pak Slamet menegakkan badan dari ember pelnya. “Sabtu-sabtu. Lembur, apa lari dari rumah?”
“Beres-beres dokumen, Pak.” Aku mengangkat laptop sebagai barang bukti. “Bapak sendiri Sabtu masuk?”
“Sabtu gantian sama yang lantai lain. Sekalian, kalau sepi gini ngepelnya kelihatan hasilnya. Kalau ramai kan, baru bersih diinjak lagi.” Beliau tertawa sendiri, lalu memicingkan mata ke arahku dengan cara yang selalu membuatku merasa sedang di-scan. “Mas Jaka akhir-akhir ini kayak galon yang kemarin itu, tahu nggak.”
“Galon?”
“Bocor halus.” Beliau menunjuk pantry dengan dagunya. “Dari luar kelihatan penuh. Tapi cepet habis. Nggak ada yang tahu bocornya di mana, soalnya nggak netes ke lantai — netesnya ke dalam.”
Aku berdiri di lorong itu memegang laptop dan tidak menemukan satu pun jawaban di seluruh perbendaharaan kataku. Orang bilang AI sekarang pintar membaca manusia. Orang belum pernah ketemu petugas kebersihan yang tiga puluh tahun memperhatikan orang melamun di depan galon.
“Saya nggak apa-apa, Pak.”
“Iya, semua yang bocor halus bilangnya gitu.” Pak Slamet memeras kain pelnya, santai, seperti kami sedang membicarakan cuaca. “Mas, saya cerita sedikit boleh? Dulu, tujuh tahun lalu, saya hampir pindah gedung. Sebelahnya persis. Kerjaan sama, gaji lebih gede dikit, lebih deket dari rumah. Udah mau tanda tangan.”
“Kenapa nggak jadi, Pak?”
“Nggak jadi karena mikir-mikir: di gedung sana, saya mulai lagi dari jadi Pak doang.” Beliau mencelupkan pel, mengangkatnya, memeras lagi. “Di sini, ada yang manggil saya pakai nama. Cuma beberapa orang, sih. Tapi ternyata itu mahal, Mas. Lebih mahal dari selisih gajinya. Orang kerja itu betahnya bukan sama gedungnya.”
Kain pel itu kembali bergerak di lantai, teratur, kiri-kanan, dan Pak Slamet sudah melanjutkan pekerjaannya seolah tidak baru saja meletakkan satu kalimat tepat di tengah-tengah draf email yang tersimpan di laptopku.
Di sini, ada yang manggil saya pakai nama.
Aku duduk di mejaku yang sunyi dan membuka draf itu. Tiga alasan rapi. Pagar kebenaran-kebenaran kecil.
Dan di baliknya, satu inventaris yang tidak pernah kutulis: satu orang di gedung ini yang menyebut Mas Jaka dengan cara yang membuat namaku terdengar seperti milik seseorang. Satu meja yang datanya tidak pernah salah karena aku tidak mengizinkannya salah. Satu tangga darurat. Satu payung yang sekarang menggantung di partisi orang lain, dan biarlah di sana selamanya.
Kalau aku pindah, semua itu selesai dengan bersih. Itulah tepatnya masalahnya. Ada bagian dari diriku — bagian yang tidak lulus statistik, yang menciptakan angka negatif — yang belum sanggup membayar harga bersih.
Aku memindahkan draf itu ke folder bernama nanti. Folder itu sudah berisi tiga draf lain dari tiga tahun berbeda: satu lamaran ke perusahaan Singapura yang tidak pernah kukirim, satu rencana resign untuk bikin usaha servis komputer yang tidak pernah kubuka lagi, dan satu — yang ini paling tua — draf pesan panjang untuk seseorang, ditulis jam dua pagi tiga tahun lalu, berisi hal-hal yang untungnya tidak akan pernah dibaca siapa pun. Folder itu adalah museum kekalahanku dan kupelihara dengan baik. Kadang aku berpikir folder itu justru bukti aku waras: orang gila mengirim semua drafnya.
Dan biar tercatat, supaya audit ini lengkap: aku tahu persis betapa tidak masuk akalnya keputusan hari ini. Orang waras menjauhi sumber sakitnya. Aku baru saja memutuskan tetap duduk sembilan puluh sentimeter dari sumbernya, setiap hari, demi hak untuk terus mendengar namaku disebut dengan cara tertentu. Kalau ada engineer lain menyerahkan desain sistem seperti ini padaku, akan kutolak di review pertama dengan komentar satu baris: single point of failure, tidak ada rencana mitigasi.
Sistemku memang begitu. Tidak lolos review. Jalan terus.
Senin, dunia kantor kembali dengan volumenya. Dan hari itu, semesta memutuskan lantai tujuh butuh hiburan.
Jam 11.00, sprint review. Radit presentasi desain alur baru serah-terima gudang — hasil kunjungan Sabtu, yang materinya bagus, harus kuakui dengan berat hati yang tidak profesional. Dia share screen, membuka Figma, dan seisi ruangan — dengan refleks kolektif yang sudah terlatih sejak insiden Operasi Jumat Berkah — langsung membaca panel sebelah kiri layarnya.
Daftar frame: Flow-Gudang-v3. Flow-Gudang-final. Flow-Gudang-final-BENERAN. Dan di paling bawah, satu frame bernama: rencana-B-kalau-martabak-gagal.
“Radit,” kata Tami, datar, “frame yang paling bawah tolong dibuka.”
“ITU EKSPLORASI VISUAL.”
“Eksplorasi apa?”
“EKSPLORASI... HIDUP.”
“Rencana B-nya apa emangnya,” kata Gofar, “kalau martabak gagal?”
“BUKAN URUSAN SPRINT INI.”
“Berarti sprint depan?” tanya Tami, dan Radit mengeluarkan bunyi yang belum pernah dihasilkan manusia dewasa di ruang rapat profesional.
Ruangan meledak. Gofar memukul-mukul meja. Sasha, yang entah kenapa selalu hadir di momen-momen begini, sudah mengetik di ponselnya dengan kecepatan stenografer pengadilan. Dan di kursi seberang, Mbak Cleo tertawa — tawa yang berantakan, yang keluar lewat hidung dulu baru meledak, yang membuat dia menutup wajah dengan map.
Aku menunduk ke laptopku dan membiarkan diriku mendengarnya. Mendengar saja. Menoleh tidak legal, tapi mendengar — mendengar belum ada aturannya.
Tawa yang di restoran itu, kataku pada sistemku, pelan-pelan, seperti menjelaskan pada anak kecil: mungkin bukan satu-satunya jenis tawanya. Mungkin tawanya banyak jenis. Mungkin kamu cuma pernah dengar dua.
Sistemku mencatat keberatan itu, menimbangnya sebentar, lalu mengembalikannya dengan stempel yang sama seperti minggu lalu:
Data tidak cukup. Kesimpulan tetap: nol persen.
Dan aku kembali ke layar, seperti biasa, karena di layar semua angka jujur dan tidak ada satu pun yang tertawa.
- 1 Sprint Planning dan Dewi Lantai Tujuh
- 2 Nama Pak Slamet
- 3 Aturan Nomor Satu
- 4 Sticky Note Kuning
- 5 Tangga Darurat
- 6 Tidak Terjadi Apa-Apa
- 7 Satu-Satu
- 8 Undangan yang Tidak Bisa Ditolak
- 9 Kaca Restoran
- 10 Dua Menit di Toilet
- 11 Jarak yang Sopan
- 12 Menurut Data reading
- 13 Sabtu yang Dibungkus Rapi
- 14 Foto di #random
- 15 Yang Tertawa di Foto Itu
- 16 Bukan Urusan Saya
- 17 Wajah Itu
- 18 Penolakan
- 19 Operasi Pendekatan v1.0
- 20 Dua Gelas Kopi
- 21 Vy
- 22 Belajar SQL
- 23 Radit Tahu Duluan
- 24 Wingman Paling Berisik
- 25 Error Margin
- 26 Gerimis
- 27 Kabar Angin
- 28 Daftar
- 29 Lega
- 30 Sebagai Product Owner
- 31 Malam Sebelum Demo
- 32 Log Jam Tiga Pagi
- 33 Keputusan CEO
- 34 Yang Diselamatkan
- 35 Kamu Cantik, Vy
- 36 Kata Siapa Nol Persen?