← Nol Persen

Chapter Twenty Four

Wingman Paling Berisik

POV: Jaka

Ada fenomena baru di lantai enam, dan namanya Raditya Pane.

Dua minggu terakhir, desainer paling berisik di Antarra mengembangkan kebiasaan turun ke lantaiku dengan frekuensi yang tidak bisa dijelaskan oleh kebutuhan operasional mana pun. Senin dia datang membawa martabak “buat riset rasa, lo sampel populasinya.” Rabu dia datang “nyari suasana mikir” lalu tidak mikir sama sekali dan malah menginterogasiku selama empat puluh menit. Jumat dia datang tanpa alasan apa pun, duduk di kursi kosong sebelahku, dan membuka percakapan dengan:

“MENURUT LO. Hipotetis nih ya. HIPOTETIS. Cewek itu suka cowok yang gimana sih?”

“Kenapa nanya ke gue?”

“Karena lo satu-satunya orang di gedung ini yang jawabannya belum pernah gue denger. Kayak survei, gitu. Ngelengkapin data.”

“Gue nggak punya data soal itu.”

“NAH KAN,” katanya, dengan volume dan penekanan yang tidak cocok untuk konteks apa pun, “ITU DIA MASALAHNYA,” lalu menolak menjelaskan masalah apa, memakan martabak bagianku, dan pulang.

Aku mencoba menyusun modelnya. Hipotesis satu: Radit sedang patah hati — ini didukung data; radar kantor mencatat dia berhenti total dari semua manuver PDKT-nya, dan frame rencana-B di Figma-nya, kata Tami, sudah dihapus. Hipotesis dua: dalam kondisi patah, manusia mencari kesibukan, dan aku adalah kesibukan yang tersedia. Hipotesis tiga — yang ini muncul terus dan terus kutolak karena implikasinya tidak masuk akal: seluruh kegiatan ini terarah. Ada polanya. Semua pertanyaannya, kalau diplot, mengelilingi satu topik yang sama seperti ngengat mengelilingi satu lampu, dan lampunya adalah orang yang namanya tidak pernah dia sebut.

Selasa berikutnya, hipotesis tiga mendapat bukti yang sulit dibantah.

Jam 14.00, kalender kami berdua — aku dan Mbak Cleo — kemasukan undangan dari Raditya Pane: “Design × Data Sync — alur serah-terima (PENTING),” ruang Anyer–Panarukan, satu jam. Jam 13.57, tiga menit sebelum mulai, pesan masuk ke thread undangan: “GUYS SORI mendadak dipanggil urgent sama tim brand. Kalian mulai duluan aja, materi gue nyusul (nggak nyusul). Diskusiin aja dulu flow-nya berdua. PENTING BANGET INI.”

Dan begitulah aku dan Mbak Cleo — Vy; sistem tiket sudah bisa, mulut masih dalam pengembangan — terkunci berdua selama satu jam di ruang rapat terkecil di gedung, yang AC-nya menetes di kursi ketiga, membahas “alur serah-terima” yang ternyata memang perlu dibahas selama sebelas menit, dan menghabiskan empat puluh sembilan menit sisanya membahas hal-hal yang tidak ada di undangan: kenapa ruang rapat dinamai jalur logistik, novel silat jilid berapa yang terbaik, dan apakah mesin fotokopi lantai enam perlu diberi nama. (Dia mengusulkan “Pak Kopi.” Aku berargumen mesin itu belum pernah menyeduh apa pun. Dia berargumen balik bahwa aku juga dipanggil “Mas Jek” tanpa pernah jadi tukang ojek. Argumen ditolak; nama disahkan; rapat ditutup.)

Di menit ketiga puluh, AC menetes tepat ke kursi ketiga yang kosong di antara kami, dan kami berdua menatap tetesan itu, lalu saling menatap, dan dia berkata “sejarah tidak boleh dilupakan” dengan wajah serius sempurna, dan aku tertawa — tertawa sungguhan, yang keluar sebelum sistem sempat memeriksa izinnya — dan wajah serius sempurnanya pecah menyusul, dan selama beberapa detik ruang rapat terkecil di gedung itu berisi dua orang dewasa yang menertawakan AC bocor seperti anak SMP.

Empat puluh sembilan menit itu, menurut standar mana pun, adalah empat puluh sembilan menit terbaik dalam sejarah ruang Anyer–Panarukan.

Kamis, Radit turun lagi, dan kali ini dia datang tanpa martabak dan tanpa volume.

“Jek.” Dia duduk, menatapku dengan mata yang sudah dikosongkan dari semua kekonyolan. “Gue mau nanya serius. Sekali doang.”

“Hm.”

“Lo nggak ngerasa? Cleo tuh — ke lo?”

Sistemku sudah menyiapkan jawaban ini jauh-jauh hari, karena pertanyaan ini sudah terlihat mengantre dari jarak dua minggu.

“Datanya nggak mendukung, Dit.”

“DATANYA—” dia menahan diri, menurunkan volume dengan usaha yang terlihat, “—oke. Oke. Coba jelasin ke gue, wahai profesor, datanya gimana.”

“Dia baik ke semua orang yang kerja bareng dia. Dia belajar SQL karena mau mandiri soal data — itu masuk akal buat PO. Dia ngasih kopi sekali karena kelebihan. Panggilan itu—” aku berhenti sepersekian detik, karena bagian ini masih menolak dijelaskan, “—dia orangnya egaliter. Semua interaksinya bisa dijelaskan tanpa hipotesis tambahan. Prinsip dasar: penjelasan paling sederhana yang paling mungkin benar. Dan penjelasan paling sederhananya: dia PO yang baik, dan gue ge-er kalau mikir lebih.”

Radit menatapku lama sekali. Lalu dia melakukan sesuatu yang belum pernah dia lakukan: memijat pangkal hidungnya, pelan, seperti bapak-bapak yang membaca rapor anaknya.

“Penjelasan paling sederhana,” ulangnya. “Jek. Lo tau nggak penjelasan paling sederhana dari cewek yang hafal—” dia berhenti, menelan sesuatu, mengganti rute, “—yaudah. Gue nggak bisa bilang apa-apa. Bukan hak gue. Tapi gue tinggalin satu ini aja: data lo lengkap, tapi lo bacanya pake asumsi yang salah. Semua analisis lo berdiri di atas satu aksioma yang nggak pernah lo uji. Coba, sekali aja, uji aksiomanya.”

Dia pergi. Aku duduk lama menatap layar, karena kalimat itu — dari orang yang menghapus rencana-B-nya sendiri — punya berat yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Aksioma yang tidak pernah kuuji. Aku tahu persis aksioma yang dia maksud. Aksioma itu berumur dua tahun, dipasang di malam KRL sepulang melihat seseorang menyebut nama Pak Slamet, dan sejak itu jadi fondasi semua perhitungan: dia tidak mungkin. Bukan karena dia sombong — karena aku tahu posisiku di data.

Menguji aksioma itu artinya membangun ulang seluruh sistem dari nol. Dan kalau hasil ujinya negatif — kalau ternyata fondasinya memang benar — tidak ada rollback untuk itu. Yang runtuh tidak bisa di-deploy ulang.

Jumat pagi, jam tujuh, aku duduk di tangga darurat lantai enam dengan termos kopi — ritual lama, satu-satunya jam di mana gedung ini milik orang-orang yang datang sebelum pertunjukan dimulai — ketika pintu di atas terbuka dan bunyi ember yang kukenal turun mendekat.

“Loh, Mas Jaka.” Pak Slamet berhenti dua anak tangga di atasku, memandang termosku, lalu tersenyum dengan cara yang membuatku curiga beliau sudah tahu aku di sini sejak dari lantai tujuh. “Masih setia sama tangga.”

“Sepi, Pak. Enak buat mikir.”

“Iya. Tangga itu tempat paling jujur satu gedung.” Beliau meletakkan embernya, tidak buru-buru ke mana-mana, seperti biasa. “Mas, saya mau lapor satu hal, sebagai petugas yang bertanggung jawab atas kebersihan lantai enam.”

“...Siap, Pak.”

“Tempat sampah meja Mas itu, dulu isinya satu gelas. Sekarang, saya itung ya, seminggu bisa tiga-empat kali isinya dua.” Beliau mengangkat dua jari, memastikan datanya tersampaikan. “Dua gelas, Mas. Sama dua cup mi, sekali. Saya tiga puluh tahun ngangkatin sampah orang kantor. Sampah itu nggak pernah bohong — orangnya yang suka bohong. Sampahnya jujur terus.”

Beliau mengangkat embernya lagi, melewatiku turun, dan di belokan bawah masih sempat menoleh:

“Galonnya udah nggak bocor kan sekarang. Ya udah. Jangan dibocorin sendiri lagi.”

Bunyi ember itu hilang di lantai lima, dan aku duduk sendirian di tangga paling jujur satu gedung, memegang termos, dikepung dari segala arah oleh desainer patah hati yang menyuruhku menguji aksioma dan petugas kebersihan yang membacakan forensik sampahku sendiri.

Malam ini ada undangan kalender baru: cutover migrasi, Jumat depan, estimasi selesai jam 22.00. Tim: aku, dua orang infra — dan satu tambahan yang meminta ikut lewat tiket dengan alasan resmi “belajar proses cutover”, disetujui olehku dengan kecepatan yang tidak akan lolos audit internal.

Jumat depan. Lembur. Malam. Berdua-lebih-sedikit.

Aksiomanya belum kuuji. Tapi untuk pertama kalinya dalam dua tahun, aku menjadwalkan pengujiannya.

Dan seperti semua engineer yang pernah menjadwalkan pengujian yang menakutkan, aku tahu persis apa yang akan terjadi di hari-hari menjelangnya: aku akan menyiapkan segalanya dengan sangat teliti, memeriksa ulang semua prosedur, dan diam-diam berharap ada insiden lain yang lebih besar datang menunda semuanya.

Hati-hati dengan harapan jenis itu. Dia sering dikabulkan dengan cara yang salah.