← Nol Persen

Chapter Thirty

Sebagai Product Owner

POV: Cleo

Kamis, jam 13.00, aku mendapat tiga puluh menit di kalender Pak Dhimas dengan judul meeting yang kususun hati-hati: “Eskalasi: Integritas Data Proses WFP.”

Bukan “soal Jaka.” Bukan “soal Pak Bram.” Integritas data. Karena begitu namanya jadi nama orang, ini jadi konflik; selama namanya integritas data, ini pekerjaan. Dan aku datang untuk bekerja.

Aku menyiapkan diri semalaman dengan cara yang baru kusadari belakangan bukan caraku — caraku yang lama adalah dua puluh slide dan tiga skenario pertanyaan. Yang kususun semalam: satu halaman. Dua kolom. Kiri: apa yang dikatakan dokumen skenario. Kanan: apa yang dikatakan data resmi. Urut, satu-satu, tanpa satu kata sifat pun. Jam satu pagi aku sempat tergoda menambah paragraf pembuka tentang dampak moral — kuhapus. Jam setengah dua tergoda menambah kesimpulan yang menunjuk hidung — kuhapus juga. Dokumen ini harus bisa berdiri sendiri di ruangan tanpa aku, tanpa nada suaraku, tanpa siapa pun tahu apa yang kupertaruhkan di baris kesebelasnya. Kubaca ulang jam dua pagi dan hampir tertawa: setelah berbulan-bulan, akhirnya kutemukan format terbaik untuk melawan gedung ini, dan format itu kupinjam dari lantai enam.

Ruang Cipularang, jam 13.00. Pak Dhimas, Bu Winda kepala HR, dan — dipanggil lima menit setelah aku mulai, atas permintaanku sendiri, karena tuduhan tanpa kehadiran tertuduh itu gosip, bukan eskalasi — Pak Bram, yang masuk dengan senyum sudah terpasang dan aroma parfum yang mendahului seperti biasa.

“Cleo! Wah, meeting apa nih, kok aku baru di-loop belakangan—”

“Silakan duduk, Pak. Justru ini tentang memastikan semua orang di-loop dengan data yang sama.”

Aku membagikan satu halaman itu. Satu untuk setiap orang. Kertas, bukan layar — kertas tidak bisa di-scroll cepat-cepat, kertas memaksa orang membaca.

“Selasa kemarin, dokumen WFP Skenario B terekspos ke seluruh organisasi selama dua puluh tiga menit karena kesalahan izin. Saya nggak akan bahas kebocorannya — itu ranah IT security. Yang saya bawa hari ini isi dokumennya. Tepatnya: tiga anomali data.”

Bu Winda mencondongkan badan. Pak Dhimas menatap kertas. Pak Bram mulai bicara — “Sebelum kita mulai, aku mau kasih konteks dulu soal metodologi task force—” dan Bu Winda menimpali soal prosedur, dan dua suara itu bertumpuk, dan aku merasakan meeting ini mulai tergelincir ke rawa yang sama dengan semua meeting yang pernah gagal—

Aku mengangkat satu tangan. Tidak tinggi. Cukup.

“Panik boleh nanti. Sekarang urut dulu, satu-satu.”

Kalimat itu keluar dari mulutku dengan intonasi yang bukan intonasiku — lebih rendah, lebih rata, intonasi yang selama ini kudengar dari sisi lain ruangan-ruangan krisis — dan ruangan itu diam seketika, dengan cara yang sama seperti Pantura diam waktu itu. Pak Dhimas menatapku dengan ekspresi yang sulit dibaca, sedikit terlalu lama.

“Anomali satu.” Aku menunjuk baris pertama. “Skor. Sistem penilaian resmi mencatat Jaka Wirawan 4,6 — lima besar engineering, dikalibrasi komite. Lampiran skenario menulis 2,8. Selisih 1,8 poin. Dari empat puluh dua nama di daftar, saya periksa sampel sepuluh: delapan cocok dengan sistem resmi sampai desimal. Dua yang tidak cocok, dua-duanya meleset ke bawah, dua-duanya engineering. Kalau ini metodologi baru, harusnya semua empat puluh dua berubah. Yang berubah cuma dua. Itu bukan metodologi. Itu seleksi.”

“Cleo, itu future-fit weighted score—” Pak Bram, tangan terbuka, nada sabar seorang mentor. “—task force pakai kerangka yang forward-looking, bukan cuma performa historis. Wajar angkanya beda.”

“Anomali dua menjawab itu, Pak.” Aku menunjuk baris berikutnya. “Kalau ada kerangka baru, ada dokumennya. Saya minta ke sekretariat task force tadi pagi: notulen, rubrik, formula. Jawaban resminya — Bu Winda bisa konfirmasi — belum terdokumentasi. Kerangka penilaian yang mengubah hidup empat puluh dua orang, belum terdokumentasi. Dan justifikasi di baris kesebelas — ‘tidak selaras arah modernisasi tech stack’ — menyatakan spesialis legacy redundan karena migrasi selesai. Migrasi itu dikerjakan orang yang sama yang dinyatakan redundan. Logikanya: dia dihukum karena berhasil. Dengan logika itu, Pak, habis demo Jumat sukses, kita bisa PHK semua yang bikin demonya sukses.”

Pak Dhimas meletakkan kertasnya. “Anomali tiga.”

“Properti dokumen.” Aku membuka tablet, menampilkan screenshot dengan jam sistem di sudut. “Author: tim WFP. Wajar. Last modified by: b.adikara. Sabtu, 22.41 malam.” Aku meletakkan tablet di tengah meja, pelan, dan membiarkan stempel waktu itu bekerja sendiri. “Task force beranggota tujuh orang dan bersekretariat HR. Kenapa revisi terakhir dokumen — revisi yang memuat dua skor yang berubah — dikerjakan satu orang, sendirian, di malam minggu, di luar semua sesi resmi?”

Sunyi. Jenis sunyi yang mahal.

“Aku bisa jelasin,” kata Pak Bram, dan senyumnya masih terpasang tapi jahitannya mulai kelihatan. “Weekend itu justru dedikasi. Aku review draft biar Senin tim nggak—”

“Review nggak mengubah angka, Pak,” kataku. “Review meninggalkan komentar. Yang tercatat di file ini perubahan nilai sel. Dan saya menyimpan salinan lengkap versi itu, dengan properti utuh, sejak Selasa jam 10.20 — jadi kalau file yang sekarang di drive propertinya sudah berbeda, itu justru jadi anomali keempat.”

Aku melihat kalimat terakhir itu mendarat. Pak Bram tidak menjawab. Ada satu otot kecil di sudut kiri senyumnya yang berhenti menerima instruksi sama sekali.

Pak Dhimas menyandarkan punggung, memandang kami bertiga bergantian, lalu berbicara dengan suara yang pelan dan final:

“Skenario B ditahan, efektif sekarang. Nggak ada satu pun keputusan orang yang jalan sampai audit selesai — Bu Winda, tunjuk auditor yang nggak ada di task force, akses penuh, dua minggu. Dan sampai audit selesai—” dia menoleh ke Pak Bram, dan untuk pertama kalinya aku melihat CEO kami memakai wajah yang membuat orang mengerti kenapa dia CEO, “—task force dipimpin HR. Bram, kamu fokus persiapan demo Jumat. Itu dulu.”

“Dhim, ini salah paham yang—”

“Makanya diaudit. Kalau nggak ada apa-apa, audit yang bakal bilang gitu. Orang yang bersih nggak takut sama audit.” Jeda satu detik. “Kan?”

“...Tentu.”

Meeting bubar jam 13.40. Di pintu, Pak Dhimas menahanku sebentar.

“Satu pertanyaan. Kamu PO. Ini urusan HR dan engineering. Kenapa kamu yang bawa?”

Pertanyaan itu sudah kuduga, dan jawabannya sudah kusiapkan, dan jawaban yang kusiapkan itu benar — hanya tidak lengkap, dan kelengkapannya bukan untuk ruangan ini.

“Karena semua target produk saya berdiri di atas angka tim itu, Pak. Kalau angka mereka bisa diubah orang, angka saya bohong semua. Saya cuma menjaga data saya.”

Dia menatapku dua detik — aku menghitung, kebiasaan menular — lalu mengangguk. “Tadi itu,” katanya sambil berlalu, “cara mecahin masalahnya kayak bukan gaya kamu yang biasa. Lebih... tenang. Bagus. Pertahankan dari mana pun dapetnya.”

Dari lantai enam, Pak, jawabku dalam hati, sambil menyimpan kertas satu halaman itu ke dalam tas. Diajarkan tanpa sadar, dua kolom sekaligus, oleh orang yang kalian tulis redundan.

Kabar penahanan Skenario B menyebar sore itu dengan kecepatan yang sama seperti kebocorannya — Sasha memastikan itu, dan untuk sekali ini aku berterima kasih pada infrastruktur gosip gedung ini. Lantai tujuh bernapas lagi, setengah napas: ditahan bukan dibatalkan, empat puluh dua nama masih empat puluh dua nama, tapi ditahan artinya ada waktu, dan waktu artinya ada harapan. Gofar mengirimiku satu pesan berisi emoji hormat, tiga biji, tanpa kata. Tami mengirim yang lebih khas Tami: “Bukti kalibrasi sudah kukirim ke auditor. Cc Mbak.”

Satu-satunya yang tidak mengirim apa-apa adalah lantai enam. Tapi jam tujuh malam, tiket mingguan masuk seperti biasa, materi SQL seperti biasa, dan kalimat ekstranya berbunyi: Kata Gofar hari ini ada yang berantem sama naga di Cipularang. Semoga naganya kalah. — dan aku tersenyum pada layar sistem tiket untuk kesekian ratus kalinya, karena dalam dialeknya, kalimat itu adalah pelukan.

Aku pulang jam delapan malam, lelah dengan cara yang bersih, dan sempat berpikir badai terburuk minggu ini sudah lewat.

Jam 21.04, ponselku menyala dengan notifikasi yang membuat seisi grup kantor menyala bersamaan:

[ALERT — CRITICAL] Production DOWN — all services unreachable

Empat belas jam sebelum demo investor.