← Nol Persen

Chapter Twenty Eight

Daftar

POV: Cleo

Ada dua jenis bencana. Yang pertama datang dengan sirene — server down, gempa, telepon tengah malam. Yang kedua datang dengan format .xlsx, dibagikan lewat kesalahan izin folder, dan membunuh dengan font Calibri sebelas poin.

Daftar itu sampai padaku hari Selasa, jam 10.17, lewat cara paling membosankan yang bisa dipilih takdir: kesalahan izin folder.

Seseorang di tim task force mengunggah dokumen ke drive bersama dengan setting yang salah — semua orang di organisasi bisa melihat — dan selama dua puluh tiga menit, sebelum ditarik, file itu terbuka untuk siapa pun yang linknya terlanjur menyebar. Dan link menyebar. Link selalu menyebar. Jam 10.17, Gofar berdiri dari mejanya dengan wajah abu-abu, dan jam 10.19, ponselku bergetar dengan pesan darinya yang hanya berisi satu tautan dan satu kata: “Mbak.”

WFP_Skenario-B_DRAFT_v3.xlsx

Judulnya skenario. Isinya nama.

Empat puluh dua baris. Empat puluh dua manusia dengan cicilan dan TK dan orang tua dan rencana, disusun rapi per kolom: nama, tim, tenure, skor, justifikasi singkat. Aku menggulirnya dengan jari yang makin dingin — marketing, finance, ops — sampai ke blok yang hurufnya kubaca dua kali, tiga kali, karena mataku menolak menyerahkan hasilnya ke otak:

Engineering.
Baris kesebelas.
Jaka Wirawan — Senior Backend Engineer — 4 thn 3 bln — Skor: 2,8 — “Spesialis sistem legacy; redundan pasca-migrasi; tidak selaras arah modernisasi tech stack.”

Aku duduk sangat diam di kursiku, di lantai tujuh yang sedang gempa kecil di semua meja, dan membaca satu baris itu sampai setiap katanya kehilangan bentuk.

Redundan pasca-migrasi.

Migrasi itu — cutover Jumat malam itu, empat puluh langkah tanpa satu error, jantung dipindahkan sambil tetap berdegup — adalah pekerjaannya. Dia yang mengambil proyek yang tidak ada yang mau. Dia yang membongkar tabel legendaris, menguraikan simpul-simpul warisan bertahun-tahun, memindahkan seluruh perusahaan ke fondasi baru dengan tangannya sendiri. Dan sekarang keberhasilan itu — justru keberhasilan itu — dipakai sebagai alasannya: sistem lama sudah beres dipindahkan, spesialis sistem lama tidak diperlukan lagi.

Dia menggali sumurnya sendiri dengan sempurna, dan seseorang menulis di dokumen resmi bahwa penggali sumur tidak dibutuhkan lagi karena sumurnya sudah jadi.

Logika itu punya bentuk. Aku mengenali bentuknya. Logika yang di permukaan masuk akal — bisa dibacakan di ruang direksi tanpa ada yang mengernyit — dan baru kelihatan bengkoknya kalau kau tahu fakta lapangan. Logika yang dibuat orang yang tahu cara kerja ruang rapat dan tidak tahu, atau tidak peduli, cara kerja apa pun yang lain.

Lalu ada skornya. 2,8.

Aku membuka sistem penilaian kinerja resmi — akses PO-ku cukup untuk melihat skor tim yang bekerja di produkku — dan mencari namanya. Siklus terakhir, dinilai oleh Mas Hendra, dikalibrasi komite engineering: 4,6 dari 5. Peringkat lima besar seangkatan engineering. Dengan catatan kalibrasi yang bahkan menyebut proyek data infra sebagai “pekerjaan kritikal yang diambil sukarela.”

4,6 di sistem resmi. 2,8 di lampiran daftar.

Angka tidak salah ketik sejauh itu. Angka sejauh itu dibuat.

Aku menutup laptop, berjalan ke toilet, dan berdiri memegang wastafel dengan dua tangan — posisi lama, teruji, empat masuk tujuh tahan delapan keluar — tapi kali ini bukan untuk menenangkan sedih. Yang naik dari dadaku bukan sedih. Yang naik adalah sesuatu yang lebih tua dan lebih panas, sesuatu yang selama delapan tahun karier selalu berhasil kusimpan di balik senyum kadar sedang, dan yang pagi ini menolak semua prosedur penyimpanan.

Mereka boleh mengejarku. Sudah dari dulu mereka mengejarku — dengan dinner yang menjebak, dengan foto yang mengklaim, dengan senyum lorong dan ramalan cuaca. Aku terlatih untuk itu. Aku dibangun untuk itu.

Tapi ini bukan mengejarku. Ini menghukum orang yang kupandang — karena aku memandangnya.

Maraton butuh sponsor, kata lorong itu dulu. Dan aku baru paham sekarang bahwa kalimat itu bukan hanya ancaman untuk karierku. Kalimat itu daftar isi.

Kembali ke meja, aku memaksa tanganku bekerja seperti tangan analis, bukan tangan orang marah. Kubuka kembali file itu — masih tersimpan di cache sebelum ditarik — dan kuperiksa dengan cara yang diajarkan seseorang padaku tanpa dia sadar sedang mengajar: semua dokumen itu cerita; cari plotnya.

Kolom skor: dari empat puluh dua baris, kuperiksa acak sepuluh nama yang timnya kukenal. Delapan skornya cocok dengan sistem resmi, selisih nol koma. Dua yang tidak cocok — dua-duanya meleset jauh ke bawah. Dua-duanya dari engineering. Dan dua-duanya, kalau kau tahu peta gedung ini, punya satu kesamaan yang tidak tercatat di kolom mana pun.

Kolom justifikasi: sebagian besar ditulis dengan bahasa HR yang generik — duplikasi fungsi, konsolidasi tim. Tapi baris kesebelas itu bahasanya lain. Tidak selaras arah modernisasi tech stack — itu bukan bahasa HR. Itu bahasa presentasi produk. Aku sudah ratusan jam mendengar dialek itu, lengkap dengan aksennya, dari satu sumber yang sama.

Dan yang terakhir: properti dokumen. File Excel menyimpan riwayatnya seperti sampah menyimpan kejujuran. Author: HR-WFP-Team. Wajar. Last modified by: — dan di sinilah jariku berhenti di atas trackpad —

b.adikara.

Terakhir diubah Sabtu, jam 22.41. Malam minggu. Task force tidak bekerja malam minggu. Orang yang mengubah dokumen daftar PHK di malam minggu bukan sedang bekerja untuk perusahaan; dia sedang bekerja untuk dirinya sendiri.

Aku menyandarkan punggung, menatap layar, dan membiarkan seluruh gambar itu berdiri utuh di depanku untuk pertama kalinya: skor yang diganti, justifikasi yang dialeknya salah, stempel waktu malam minggu, dan satu nama di baris kesebelas yang kesalahannya cuma satu — dipandang terlalu sering oleh perempuan yang menolak dipandang orang yang salah.

Ini bukan efisiensi. Ini surat balasan.

Dan surat balasan harus diarsipkan dengan benar.

Tanganku bergerak dengan ketenangan yang datang entah dari mana — mungkin dari delapan tahun latihan tenang di saat yang salah, mungkin dari empat puluh menit menonton seseorang menghadapi krisis dengan dua kolom di whiteboard. Aku menyimpan salinan lengkap file itu ke penyimpanan pribadi. Aku men-screenshot properti dokumen — author, last modified by, timestamp — dengan jam sistem terlihat di sudut layar. Aku memfoto skor 4,6 di sistem resmi berdampingan dengan 2,8 di lampiran, satu bingkai, tidak bisa dibantah. Aku mencatat kronologi dua puluh tiga menit kebocoran itu dengan presisi notulen.

Karena file yang ditarik bisa dibersihkan. Properti bisa dihapus, versi bisa ditimpa, riwayat bisa dirapikan — dan pembersih terbaik gedung ini sudah terbukti bersedia bekerja di malam minggu. Kalau perang ini sampai ke ruangan yang sebenarnya, dia akan datang dengan cerita yang rapi. Aku harus datang dengan sesuatu yang lebih kuat dari cerita.

Nggak perlu menang debat, kata sebuah suara dari malam mi cup di lantai enam, tenang seperti biasa. Cukup benar aja.

Ponselku bergetar. Gofar lagi: “Mbak, ini udah nyebar ke mana-mana. Grup alumni kantor sebelah aja udah tau. Sebelum sore, seisi gedung tau.” Jeda tiga puluh detik, lalu satu pesan lagi, dan pesan inilah yang akhirnya membuat tanganku berhenti pura-pura tenang:

“Mbak... Jek gimana? Dia udah liat belum? Ada yang harus ngomong ke dia sebelum dia liat sendiri di grup.”

Aku menatap pesan itu, lalu menatap jam — 11.34 — lalu menatap ke arah jendela, ke arah bawah, ke lantai yang satu tingkat di bawah kakiku, tempat seorang laki-laki sedang merapikan dokumentasinya folder demi folder dengan ketenangan orang yang sudah lama berlatih untuk hari seperti ini.

Empat puluh dua nama akan menghabiskan sore ini menangis, menelepon pasangannya, menghitung tabungan. Empat puluh dua rumah malam ini akan menyalakan lampu lebih lama dari biasanya.

Dan aku tahu, dengan kepastian yang membuat dadaku sakit, persis apa yang akan dilakukan baris kesebelas: dia akan membaca namanya sendiri, mengangguk kecil sekali — anggukan yang sudah kuhafal — lalu membuka folder dokumentasinya, dan melanjutkan merapikan.

Aku berdiri, mengambil tablet, dan melangkah ke lift. Kalau anggukan itu harus terjadi, setidaknya jangan terjadi sendirian di lantai yang dingin.