Chapter Twenty
Dua Gelas Kopi
POV: Jaka
Sudah dua minggu sejak quarterly alignment, dan sistemku masih memproses satu anomali besar yang menolak selesai.
Penolakan itu. Aku ada di ruangan. Aku mendengar semuanya dari kursi dekat pintu, dengan tangan di gagang, tidak jadi keluar selama empat menit penuh.
Dan inilah hasil pemrosesanku, yang sudah kuaudit berulang kali dan selalu keluar dengan angka yang sama: penolakan itu mengagumkan, penolakan itu berani, penolakan itu membuat dadaku melakukan hal-hal di luar dokumentasi selama empat menit — dan penolakan itu tidak mengubah apa pun dalam perhitunganku. Dia menolak Pak Bram karena prinsip, bukan karena orang. Aturan yang dia bacakan berlaku untuk semua orang: makan berdua tidak, dijemput tidak, privat tidak. Semua orang. Yang artinya, kalau dipikir dengan kepala dingin — dan kepalaku selalu dingin, itu spesialisasiku — aturan itu justru konfirmasi terakhir: pintu itu tertutup untuk siapa pun, bukan cuma untuk VP bermobil mahal.
Nol persen, dengan dasar hukum yang kini dibacakan resmi di forum terbuka. Setidaknya sekarang ada notulennya.
Begitulah aku menata ulang duniaku, dan dunia yang tertata itu berjalan cukup baik selama dua minggu — kecuali beberapa gangguan kecil yang kucatat sebagai noise: tiket-tiket yang datang dengan satu kalimat tambahan di bagian bawah (kubalas seperlunya, plus satu kalimat, kuota tetap satu), sesi review yang empat puluh menitnya terasa seperti sepuluh, dan kunjungan-kunjungan ke lantai enam yang frekuensinya, kalau diplot, menunjukkan tren yang tidak kuizinkan diriku memberi nama.
Lalu datang hari Selasa, jam 15.40, dan bunyi ting itu.
Langkah dengan tanda tangan yang kukenal. Jeda kecil di keramik dekat pilar. Aku sudah setengah menoleh dengan kecepatan teratur yang biasa — lalu berhenti di tengah gerakan, karena ada yang salah dengan gambarnya.
Dua gelas. Dia membawa dua gelas kopi kekinian, lengkap dengan logo kedai di lantai dasar, dan tidak membawa tablet.
Tidak membawa tablet. Dalam dua tahun pengamatan, Ivy Cleopatra tidak pernah menghampiri siapa pun di gedung ini tanpa perangkat kerja. Tablet itu bagian dari seragamnya, perpanjangan tangannya. Perempuan yang berjalan ke arahku sekarang tidak membawa apa-apa selain dua gelas kopi dan ekspresi yang — parser-ku langsung bekerja dan langsung mengangkat bendera putih — tidak ada di seluruh dataset.
“Mas Jek.”
Dan itu masalah kedua. Mas Jek. Bukan Mas Jaka. Mas Jek itu milik Gofar, milik anak-anak backend, milik orang-orang yang memanggilku sambil melempar bola stres ke kepalaku. Dari mulutnya, dua suku kata itu mendarat di suatu tempat di dadaku yang tidak dilindungi apa-apa, karena tidak pernah ada rencana pertahanan untuk serangan dari arah itu.
“...Mbak.” Sistem pulih dalam satu detik. Cukup cepat. Kurang cepat.
“Ini.” Dia menyodorkan satu gelas. “Tadi beli di bawah, baristanya salah bikin, jadinya dua. Daripada kebuang.”
Kedai di lantai dasar itu kedai spesialti yang baristanya juara kompetisi latte art regional. Barista juara kompetisi tidak salah bikin pesanan. Data itu tersedia di kepalaku, lengkap, terverifikasi — dan tidak kupakai, karena ada data lain yang lebih mendesak: gelas itu masih hangat, dan tangannya menyodorkannya ke arahku, dan lantai enam belum pernah sehangat ini sejak diresmikan.
Aku menerima gelas itu — oat latte, dari kedai yang tidak murah — dan sistemku menjalankan pemeriksaan standar yang sudah tidak bisa kucegah karena sudah jadi refleks:
“Makasih, Mbak. Tapi Mbak nggak minum kopi di atas jam tiga.”
Sunyi.
Jenis sunyi yang baru. Dia menatapku dengan mata yang pelan-pelan membesar, bibirnya terbuka sedikit, dan gelas di tangannya berhenti di tengah perjalanan ke mana pun tujuannya tadi. Satu detik. Dua. Tiga — dan untuk pertama kalinya dalam sejarah pengamatanku, Ivy Cleopatra kehilangan kata-kata di jam kerja.
“...Kamu tahu itu.”
“Datanya konsisten,” kataku, karena itu benar, dan karena aku tidak tahu apa lagi yang boleh dikatakan. “Dua tahun.”
“Dua tahun,” ulangnya pelan, dengan nada yang aneh, seperti orang mengulang hasil lab yang bagus tapi tidak percaya. Lalu dia menunduk ke gelasnya sendiri, dan sudut bibirnya melakukan sesuatu yang kularang diriku menonton terlalu lama, dan berkata: “Ini teh. Punyaku teh.”
Oh. Tentu. Baristanya salah bikin kopi, dan dia kebetulan memesan teh, dan kelebihan kopinya kebetulan dibawa ke lantai enam yang dingin ini, ke meja yang menghadap tembok ini. Sistemku menerima rangkaian kebetulan itu, memeriksanya, dan menemukan probabilitas gabungannya cukup rendah untuk memicu peringatan — lalu, seperti biasa, unit analisis-harapan menyita kasusnya sebelum sempat diproses lebih jauh. Diklasifikasikan: keramahan pasca-penolakan. Konteks: dia sedang membangun ulang hubungan baik dengan semua tim setelah kejadian quarterly. Kamu bagian dari ‘semua tim’. Jangan istimewa. Kasus ditutup.
“Berapa, Mbak?” tanyaku, mengeluarkan ponsel. “Biar kutransfer.”
Sunyi lagi. Yang ini beda teksturnya.
“...Nggak usah,” katanya, dengan suara yang datar tapi matanya menyipit sedikit, dan entah kenapa aku merasa baru saja menjawab soal ujian dengan sangat benar dan sangat salah sekaligus. “Anggap aja bayar diagram yang kupakai di meeting ops.”
“Itu kan memang kerjaanku—”
“Mas Jek.” Dua suku kata itu lagi, kali ini dengan tekanan. “Minum aja.”
Aku minum. Oat latte-nya enak. Kami berdiri dalam konfigurasi yang aneh — dia di ujung mejaku memegang teh, aku memegang kopi yang tidak kubayar, server mendengung di nada B — dan kemudian terjadi dua puluh empat menit yang sampai malam ini belum berhasil kuklasifikasikan.
Kami mengobrol. Bukan kerja. Dia bertanya kenapa aku betah di lantai sedingin ini dan aku bercerita soal mesin fotokopi yang menyala sendiri, dan dia tertawa — tawa yang keluar lewat hidung dulu, tawa berantakan yang katalognya belum pernah kulihat dari jarak sedekat ini — lalu dia bercerita soal Bu Neni di sortir Bekasi yang menitip salam untuk “mas-mas pendiam yang betulin printer,” dan aku tidak tahu harus menaruh wajahku di mana, dan dia menonton kebingunganku dengan ekspresi puas yang tidak disembunyikan sama sekali.
“Kamu ngapain aja sih di KRL tiap hari?” tanyanya di suatu titik. “Katanya kamu kerja di kereta. Gofar bilang.”
“Kadang kerja. Kadang baca.”
“Baca apa?”
“Dokumentasi sistem,” kataku, dan dia menatapku dengan ekspresi menunggu, yakin ada lanjutannya, dan karena tatapan itu tidak pergi-pergi akhirnya kuserahkan kebenarannya: “...Sama novel silat. Yang jilidnya banyak.”
“Novel silat.”
“Ceritanya panjang, tokohnya konsisten, dan pendekar yang paling kuat biasanya yang paling jarang ngomong,” kataku. “Ada yang bisa direlasikan.”
Dia tertawa lagi — lewat hidung dulu, meledak kemudian — dan sepersekian detik sebelum tawanya selesai, dia menatapku dengan sesuatu yang lembut dan terbuka dan sama sekali tidak terklasifikasi, dan mulutnya membuka seperti hendak mengatakan satu hal yang bukan kelanjutan obrolan — lalu ponselnya berbunyi, dan apa pun kalimat itu, dia menelannya kembali bersama satu tegukan teh.
Dua puluh empat menit. Lalu dunia memanggilnya kembali ke lantai tujuh, dan dia pergi dengan tehnya sambil berkata “makasih obrolannya” — makasih obrolannya, entri baru lagi untuk katalog — dan lantai enam kembali sunyi dengan cara yang tidak rusak sama sekali. Sunyi yang kenyang.
Malamnya, di kosan, aku duduk dengan catatan auditku dan mencoba menulis laporan kejadian. Durasi interaksi: 24 menit. Topik kerja: nol persen dari total durasi. Anomali: panggilan baru (2×), tawa jarak dekat (1×), kopi tanpa transaksi (1×), salam dari Bekasi (1×). Penjelasan yang tersedia: keramahan pasca-penolakan, pembangunan aliansi tim, kebetulan barista.
Penjelasan itu kutulis, kubaca ulang, dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, tanganku berhenti di atas kolom status. Biasanya kolom itu kuisi cepat: ditutup — bukan apa-apa. Malam ini kursor berkedip di sana lama sekali.
Aku menutup laptop tanpa mengisi kolomnya.
Kasus dibiarkan terbuka. Satu kasus saja. Sistem yang baik menyisakan katup — kalimatku sendiri, dulu, soal tiket. Ternyata katupnya bocor dua arah.
Dan sebelum tidur, di batas antara sadar dan tidak, sistemku menjalankan satu proses terakhir tanpa izin, seperti biasa: memutar ulang dua suku kata dari sore tadi. Mas Jek. Diputar sekali. Dua kali. Kubiarkan — besok saja audit pelanggarannya, malam ini pengadilan tutup.
- 1 Sprint Planning dan Dewi Lantai Tujuh
- 2 Nama Pak Slamet
- 3 Aturan Nomor Satu
- 4 Sticky Note Kuning
- 5 Tangga Darurat
- 6 Tidak Terjadi Apa-Apa
- 7 Satu-Satu
- 8 Undangan yang Tidak Bisa Ditolak
- 9 Kaca Restoran
- 10 Dua Menit di Toilet
- 11 Jarak yang Sopan
- 12 Menurut Data
- 13 Sabtu yang Dibungkus Rapi
- 14 Foto di #random
- 15 Yang Tertawa di Foto Itu
- 16 Bukan Urusan Saya
- 17 Wajah Itu
- 18 Penolakan
- 19 Operasi Pendekatan v1.0
- 20 Dua Gelas Kopi reading
- 21 Vy
- 22 Belajar SQL
- 23 Radit Tahu Duluan
- 24 Wingman Paling Berisik
- 25 Error Margin
- 26 Gerimis
- 27 Kabar Angin
- 28 Daftar
- 29 Lega
- 30 Sebagai Product Owner
- 31 Malam Sebelum Demo
- 32 Log Jam Tiga Pagi
- 33 Keputusan CEO
- 34 Yang Diselamatkan
- 35 Kamu Cantik, Vy
- 36 Kata Siapa Nol Persen?