← Nol Persen

Chapter Twenty Five

Error Margin

POV: Jaka

Jumat, jam 20.45, lantai enam sedang bersiap untuk operasi terbesarnya kuartal ini, dan komposisi timnya sebagai berikut.

Aku, sebagai lead cutover. Doni dan Sigit dari tim infra — dua manusia yang duduk bersebelahan selama tiga tahun dan tetap berkomunikasi lewat chat; malam ini pun, di tengah persiapan, kudengar dua notifikasi berbunyi bergantian dari dua meja yang jaraknya semeter, membentuk percakapan yang sepenuhnya sunyi. Dan satu observer dari tim product, hadir atas permintaan sendiri lewat tiket, alasan resmi “belajar proses cutover”, duduk di kursi yang dia tarik sendiri ke sebelah mejaku, membawa buku catatan fisik dan dua bungkus roti sobek “logistik tim”.

“Jadi malam ini kita mindahin jantungnya,” katanya, membuka catatan, “sambil jantungnya tetap deg-degan.”

“Analoginya agak mengerikan tapi akurat,” kataku. “Semua trafik produksi pindah ke skema baru. Ada jendela lima menit di mana kita jalan di dua sistem sekaligus, dan di lima menit itu semua harus benar.”

“Kalau nggak benar?”

“Rollback. Sudah kusiapkan, tiga lapis.” Aku menunjuk runbook di layar — empat puluh langkah, dicek dua kali, setiap langkah punya rencana mundur. “Tapi nggak akan kepakai.”

“PD banget.”

“Bukan PD. Persiapan.” Dan dia tersenyum mendengar itu, menuliskan sesuatu di bukunya yang jelas bukan catatan teknis, karena tidak ada catatan teknis yang membuat orang tersenyum seperti itu.

Jam 21.00, jendela cutover dibuka. Empat puluh langkah berjalan seperti seharusnya berjalan: satu-satu, dicentang, diverifikasi. Doni dan Sigit bekerja dalam keheningan chat mereka. Observer kami mengamati dengan serius yang sungguhan — bertanya di saat yang tepat, diam di saat yang lebih tepat, dan di langkah dua puluh tujuh, ketika verifikasi data menunjukkan angka yang cocok sampai baris terakhir, dia mengangkat dua kepalan kecil tanpa suara seperti suporter yang dilarang bersorak di perpustakaan.

Jam 21.40, Doni dan Sigit izin turun beli nasi goreng — lewat chat, tentu saja, ke grup yang aku dan mereka huni bertiga: “nasgor sebentar. mau nitip?” Aku menitip satu. Observer kami menitip satu tanpa cabai. Dua bayangan itu lenyap ke lift, dan lantai enam tinggal berisi dua manusia, satu dengung server, dan tiga belas langkah tersisa.

Jam 21.52, di tengah langkah tiga puluh satu, gedung mati.

Bukan mati pelan. Mati total, satu detik penuh kegelapan mutlak — lalu bunyi UPS server room menjerit protes, lampu darurat menyala oranye redup di ujung lorong, dan sistem di kepalaku mengeksekusi prosedur tanpa diminta: server aman, UPS menahan, genset gedung biasanya masuk dalam lima belas detik, cutover tidak tersentuh karena semua di server room yang punya daya sendiri, tidak ada yang perlu dipanik—

Ada tangan menggenggam lengan hoodie-ku.

Seluruh prosedur di kepalaku berhenti di tengah kalimat.

“Mati lampu,” kata suara di sebelahku, sangat dekat, dengan nada yang berusaha santai dan meleset dua nada.

“PLN,” kataku. “Genset masuk bentar lagi. Server aman, dayanya misah.”

“Oh. Bagus.” Jeda. Tangan itu tidak pergi. “Ini gelap banget ya.”

“Lampu darurat di lorong.”

“Itu lorong. Di sini gelap.”

Dan dia benar. Di sini gelap — gelap oranye samar yang hanya cukup untuk garis-garis besar, dan garis-garis besar di sebelahku ini duduknya lebih dekat dari yang kuingat sebelum lampu mati, entah kapan bergesernya, dan dari jarak sedekat ini aku bisa mendengar dua hal yang tidak pernah tercatat di monitoring mana pun: hujan yang mulai mengetuk jendela lantai enam, dan napas — napasnya, atau napasku, sulit dipisahkan pada resolusi ini.

Lima belas detik, kata pengalaman, untuk genset. Aku sudah menjalani ratusan mati lampu di gedung ini dan lima belas detik itu selalu lewat seperti kedipan.

Lima belas detik yang ini punya durasi internal kurang lebih satu semester.

Karena dalam gelap, sistem pertahananku kehilangan input utamanya. Tidak ada layar untuk kembali. Tidak ada monitor untuk memantulkan. Seluruh infrastruktur jangan menoleh dibangun di atas asumsi adanya cahaya dan pekerjaan, dan dalam oranye redup ini yang tersisa hanya data mentah tanpa filter: kehangatan telapak tangan menembus kain hoodie di lenganku, wangi samar yang selama ini cuma lewat di radius sembilan puluh sentimeter dan kini berada jauh di dalam radius itu, dan wajah yang garis-garisnya menoleh ke arahku — ke arahku, bukan ke lorong, bukan ke jendela, padahal sumber cahaya ada di lorong dan manusia dalam gelap secara naluriah menghadap cahaya, kecuali sedang menghadap sesuatu yang lebih—

“Mas Jek.”

“Hm.”

“Kalau semua datanya udah pindah,” katanya pelan, dan aku tahu dia tidak sedang membicarakan skema, sistemku tahu, semua unit tahu dan berdiri serempak, “sistem lamanya diapain?”

Aku menelan sesuatu. “Disimpan dulu. Buat jaga-jaga.”

“Sampai kapan?”

“Sampai... yakin sistem barunya bisa dipercaya.”

“Terus kalau udah yakin?”

Garis bahunya bergeser satu senti lagi. Satu senti. Aku mengukur segalanya seumur hidup dan tidak pernah ada satuan yang sebesar ini.

“Kalau udah yakin,” kataku, dan suaraku keluar lebih rendah dari kalibrasi normal, “sistem lamanya... dilepas.”

“Dilepas,” ulangnya, hampir berbisik, dan wajah itu — garis-garis itu — sedikit lagi terangkat ke arah—

Genset masuk.

Lampu menyala serentak, putih, terang, birokratis, dan kami berdua menjauh satu sama lain dengan kecepatan dan kekompakan yang layak dilombakan — dia tiba-tiba sangat sibuk dengan buku catatannya yang terbalik, aku tiba-tiba sangat sibuk dengan monitor yang menampilkan runbook langkah tiga puluh satu, dan selama sepuluh detik penuh satu-satunya suara di lantai enam adalah dengung server dan dua manusia yang bernapas dengan sangat, sangat teratur.

“Lanjut?” katanya akhirnya, pada bukunya.

“Lanjut,” kataku, pada monitorku.

Langkah tiga puluh dua sampai empat puluh berjalan sempurna. Jam 22.20, sistem baru mengambil alih seluruh trafik produksi tanpa satu error pun; Doni dan Sigit kembali membawa empat nasi goreng dan tidak curiga pada apa pun kecuali kenapa lampu lorong tadi sempat mati; kami makan berempat merayakan migrasi paling mulus dalam sejarah Antarra, dan observer kami bercerita dengan semangat tentang “lima menit dua sistem” seolah itu bagian paling menegangkan malam ini, dan aku mengangguk-angguk seolah setuju.

Di tengah nasi goreng, Doni mengetik sesuatu, dan ponselku bergetar di grup bertiga: “jek. tadi pas mati lampu kalian gapapa?” Disusul Sigit: “iya sepi banget pas kita balik naik. kirain kalian kejebak lift.”

Aku mengetik balasan dengan satu tangan sambil makan: “aman. standby di posisi masing-masing.”

Di seberang meja, observer kami — yang tidak tahu ada sidang paralel sedang berlangsung di dunia chat — sedang berdebat dengan Sigit (lewat suara, cara primitif) soal nasi goreng gerobak versus restoran, dan memenangkan debat itu dengan data harga per porsi. Standby di posisi masing-masing. Definisi “posisi masing-masing” malam ini mengalami pemutakhiran yang tidak akan pernah masuk dokumentasi.

Jam 23.05, semua beres. Doni dan Sigit pamit — lewat chat, dari jarak satu meter, “duluan ya jek. mantap malam ini” — dan menghilang.

Aku merapikan meja dan menjalankan audit malam, kebiasaan yang tidak bisa mati. Dan di file perhitungan lama itu, di baris terakhir yang sudah dua tahun berbunyi nol persen, malam ini sistemku — dengan mempertimbangkan lima belas detik yang durasinya satu semester, satu senti yang satuannya tidak ada, dan sebuah percakapan tentang sistem lama yang jelas bukan tentang sistem — menulis revisi resmi pertama:

Nol persen. Dengan error margin.

Berapa error margin-nya, sistem tidak berani menghitung. Tapi untuk pertama kalinya dalam dua tahun, angka itu punya tetangga, dan tetangganya bukan nol. Dua tahun aku hidup nyaman di kepastian sebuah angka bulat; malam ini kepastian itu retak, dan anehnya, retakan itu tidak terasa seperti kerusakan.

Di luar, hujan sudah bukan ketukan lagi. Di jendela lantai enam, Jakarta buram oleh gerimis yang serius, dan di ujung ruangan, seseorang sedang berdiri di dekat kaca sambil memandangi hujan itu dengan ekspresi orang yang sedang menghitung sesuatu juga.

“Mas Jek,” katanya tanpa berbalik. “Kamu bawa payung?”