Chapter Eleven
Jarak yang Sopan
POV: Cleo
Ada jenis dingin yang tidak bisa dilaporkan ke siapa pun, karena di atas kertas tidak ada yang salah. Tidak ada kalimat kasar. Tidak ada tugas yang telat. Tidak ada satu pun bukti.
Minggu itu aku mengalaminya setiap hari, sembilan puluh sentimeter dari sikuku.
Senin, aku mengirim pesan pertama — kutulis, kuhapus, kutulis lagi, lima putaran penuh, sebelum akhirnya mendarat di versi paling aman di muka bumi:
“makasih payungnya 🙂”
Balasan datang sebelas menit kemudian, dan sebelas menit itu kuhabiskan dengan produktivitas nol:
“Payung apa ya, Mbak?”
Aku menatap layar lama sekali. Payung apa ya. Hantu lantai tujuh, konsisten dengan seluruh riwayat pekerjaannya, menyangkal keberadaan dirinya sendiri. Teh di tangga darurat tidak pernah terjadi. Sticky note bertanda satu huruf tidak pernah ditulis. Payung tua yang gagangnya halus karena dipakai bertahun-tahun itu turun sendiri dari langit dan menggantung sendiri di partisiku.
Dulu — tiga hari yang lalu, tepatnya — penyangkalan seperti ini terasa seperti bahasa rahasia yang hangat. Jangan dijadikan peristiwa, dan aku paham, dan kami sama-sama paham, dan pahamnya itu sendiri sudah seperti percakapan.
Sekarang rasanya seperti pintu. Ditutup pelan, dari dalam, dengan sopan sekali.
Karena begini masalahnya: payungnya masih diberikan, tapi orangnya menghilang.
Selasa, standup pagi. Aku bertanya soal progres perbaikan titik sortir. Jawabannya datang lengkap, terstruktur, angka semua benar: “Dua area sudah beres, satu lagi butuh koordinasi vendor, estimasi Kamis. Detailnya kutaruh di dokumen, Mbak.” Sembilan detik. Kuhitung. Dulu pertanyaan yang sama akan dijawab sambil memutar layar ke arahku, ini loh Mbak polanya, aneh kan, dengan satu kalimat ekstra yang tidak diminta — kalimat ekstra yang baru sekarang kusadari adalah bagian favoritku dari setiap percakapan kami.
Sekarang tidak ada kalimat ekstra. Semua jawabannya pas. Pas itu mengerikan.
Rabu, aku melakukan percobaan. Jam tiga sore aku berdiri, berjalan ke pantry, menyeduh dua gelas teh — yang bergambar bunga, yang tidak pernah diminum siapa pun di sekte kopi ini — dan berjalan kembali dengan satu gelas di tiap tangan dan detak jantung yang tidak proporsional untuk misi sesederhana ini.
Sembilan puluh sentimeter sebelum sampai, dia berdiri, menyambar laptopnya, dan berkata tanpa menoleh, “Duluan, Mbak. Ada sesi sama tim infra.”
Pintu tangga darurat — tangga darurat, dari semua pintu — menutup di belakangnya.
Aku berdiri di antara dua meja dengan dua gelas teh panas, satu untuk perempuan bodoh dan satu untuk kursi kosong, sampai Gofar menoleh dari monitornya dan bertanya dengan polos apakah teh yang satu boleh buat dia. Kuberikan. Dia bilang tehnya enak. Setidaknya ada yang mendapat akhir bahagia sore itu.
Malamnya di apartemen, aku duduk memeluk lutut di sofa dan memeriksa fakta yang paling mengganggu dari kejadian pantry itu — bukan kaburnya. Pintunya. Dari mejanya, jalur tercepat ke lantai enam adalah lift atau tangga utama. Tangga darurat itu memutar. Orang tidak memilih jalur memutar untuk kabur, kecuali jalur memutar itu punya arti lain baginya: tempat yang aman. Tempat yang dia tahu tidak akan kudatangi jam segitu.
Dia kabur dariku ke tempat yang mengingatkanku padanya. Kalau ini disengaja, itu kejam. Kalau tidak disengaja — dan hantu itu tidak pernah sengaja soal apa pun yang menyangkut dirinya sendiri — itu lebih menyakitkan lagi.
Kamis, aku mengaudit diriku sendiri. Serius, dengan kerangka kerja, seperti mengaudit produk gagal: apa yang berubah, kapan berubahnya, apa pemicunya.
Yang berubah: kalimat ekstra hilang, tatapan hilang, semua interaksi pindah ke teks. Kapan: setelah Jumat malam. Pemicu: empat puluh detik di restoran berlilin.
Sampai di situ, datanya bersih. Setelah itu, analisisku masuk rawa. Karena kesimpulan yang paling masuk akal — dia melihatku makan berdua dengan Pak Bram, dan itu mengubah sesuatu baginya — mensyaratkan satu premis yang tidak berani kutulis bahkan di kepala sendiri: bahwa aku, di meja itu, dengan tawa itu, adalah sesuatu yang bisa membuatnya berubah. Bahwa dia peduli.
Dan setiap kali aku sampai di premis itu, ada suara kecil yang rasional dan kejam: GR sekali kamu, Ivy Cleopatra. Mungkin dia cuma sibuk. Mungkin 0,4 persen itu lebih menarik daripada semua drama ini. Mungkin dinginnya ini bukan tentang kamu sama sekali — tidak semua hal tentang kamu, walaupun seisi gedung ini berperilaku sebaliknya.
Masalahnya, suara rasional itu tidak bisa menjelaskan payungnya. Orang yang tidak peduli tidak menggantung payung tua kesayangannya di partisi orang lain jam tujuh pagi. Orang yang tidak peduli tidak menyangkalnya sebelas menit kemudian.
Dan payung bukan satu-satunya. Kamis siang, aku membuka materi review bulanan yang harus kupresentasikan minggu depan — dan menemukan lampiran datanya sudah diperbarui ke angka termutakhir, formatnya persis seperti kesukaanku, di-upload jam 22.47 malam sebelumnya oleh akun yang siangnya menjawab pertanyaanku dalam sembilan detik. Jumat pagi, dashboard SLA menampilkan satu kolom baru yang belum pernah kuminta tapi sudah dua minggu kubutuhkan: breakdown per area serah-terima, real-time.
Dia menghilang dari semua tempat yang bisa kulihat, dan tetap hadir di semua tempat yang tidak bisa kulihat. Seperti berjalan di rumah yang lampunya selalu sudah menyala di ruangan berikutnya, tanpa pernah memergoki siapa yang menyalakannya.
Dua data itu tidak mau duduk di satu tabel. Dia menjauh, dan dia menjaga. Bersamaan. Dan aku — yang delapan tahun dibayar untuk membaca data — duduk setiap hari di antara dua fakta itu seperti duduk di antara dua kutub magnet, tidak paham fisikanya, cuma merasakan tarikannya.
Yang lebih menyebalkan: aku bukan satu-satunya yang menyadari perubahan suhu ini.
“Mbak,” kata Tami hari Kamis, mampir ke mejaku dengan wajah datarnya, menaruh satu dokumen, lalu — tanpa mengubah ekspresi sedikit pun — menambahkan, “AC area sini dingin banget ya akhir-akhir ini.”
“...Nanti kubilang GA.”
“Bukan AC-nya sih kayaknya.” Dan dia berlalu, meninggalkan aku dengan kepastian yang mengerikan bahwa anak dua puluh empat tahun itu melihat semuanya, mengarsipkan semuanya, dan suatu hari nanti akan menagih semuanya.
Jumat sore, minggu penuh dingin yang sopan itu ditutup oleh pengumuman di channel #product-sentosa:
Dari: Bramantyo Adikara
“Team! Great news — Bu Ratna invite kita site visit ke gudang regional Sentosa di Cikarang, SABTU BESOK, sekalian lihat proses serah-terima yang jadi bottleneck SLA. Ini penting banget buat komitmen 97,5 kita. Yang ikut: aku & Cleo (product), plus dari Sentosa full team ops mereka. Cleo, aku jemput jam 8 ya, searah kok 👍”
Aku membaca pengumuman itu dua kali.
Kunjungan gudang. Sabtu. Diumumkan di channel publik, dibungkus SLA dan kata bottleneck, dijahit ke komitmen yang kuucapkan sendiri di depan direksi — perangkap yang dijahit dari benang janjiku sendiri. Dan kalimat aku jemput jam 8 ya diumumkan ke tiga puluh pasang mata supaya menolaknya butuh panggung.
Aku mengetik balasan dengan kecepatan yang kupelajari dari minggu-minggu terakhir: “Siap, Pak. Saya berangkat sendiri, sekalian mampir titik sortir Bekasi pagi-nya — biar sekali jalan datanya lengkap. Ketemu di lokasi jam 9.”
Kirim. Benteng berdiri. Setengah benteng. Sabtu tetap tergadai.
Aku menyandarkan punggung ke kursi dan menoleh ke kiri, ke meja sembilan puluh sentimeter itu, refleks yang belum berhasil kuhentikan sepanjang minggu.
Dia sedang membaca channel yang sama. Aku tahu karena layarnya memantul samar di kacamatanya, hijau-putih Slack, dan rahangnya — rahang yang tidak pernah menampilkan apa-apa — bergerak kecil satu kali, seperti menelan sesuatu yang tidak enak.
Lalu dia kembali mengetik. Ritme keyboardnya stabil seperti hujan.
Lihat aku, kata sesuatu di dalam dadaku, tiba-tiba, memalukan, dan sia-sia. Sekali saja. Tanyakan. Marah kalau perlu. Apa saja selain sopan.
Keyboard itu terus berbunyi, stabil, sempurna, sembilan puluh sentimeter dan satu samudra dari tempatku duduk.
Aku menutup laptop, memasukkan payung hitam tua itu ke tas — dia ikut pulang setiap hari sekarang, kebiasaan baru yang tidak kuberi nama — dan berjalan ke lift tanpa menoleh lagi. Menoleh, minggu ini, sudah terlalu sering kalah.
- 1 Sprint Planning dan Dewi Lantai Tujuh
- 2 Nama Pak Slamet
- 3 Aturan Nomor Satu
- 4 Sticky Note Kuning
- 5 Tangga Darurat
- 6 Tidak Terjadi Apa-Apa
- 7 Satu-Satu
- 8 Undangan yang Tidak Bisa Ditolak
- 9 Kaca Restoran
- 10 Dua Menit di Toilet
- 11 Jarak yang Sopan reading
- 12 Menurut Data
- 13 Sabtu yang Dibungkus Rapi
- 14 Foto di #random
- 15 Yang Tertawa di Foto Itu
- 16 Bukan Urusan Saya
- 17 Wajah Itu
- 18 Penolakan
- 19 Operasi Pendekatan v1.0
- 20 Dua Gelas Kopi
- 21 Vy
- 22 Belajar SQL
- 23 Radit Tahu Duluan
- 24 Wingman Paling Berisik
- 25 Error Margin
- 26 Gerimis
- 27 Kabar Angin
- 28 Daftar
- 29 Lega
- 30 Sebagai Product Owner
- 31 Malam Sebelum Demo
- 32 Log Jam Tiga Pagi
- 33 Keputusan CEO
- 34 Yang Diselamatkan
- 35 Kamu Cantik, Vy
- 36 Kata Siapa Nol Persen?