Chapter Twenty One
Vy
POV: Cleo
Tidak banyak orang yang tahu, tapi Ivy Cleopatra itu nama panggung.
Bukan dalam arti palsu — nama itu tercetak di akta, hasil kolaborasi ayahku yang menyukai tanaman rambat dan ibuku yang waktu hamil menonton film Elizabeth Taylor. Tapi “Cleo” adalah nama yang tumbuh di luar rumah: nama rapor, nama panggung sekolah, nama meeting, nama yang dipanggil orang-orang yang menonton. Cleo itu profesional, cantik, tegas. Cleo punya senyum kadar sedang dan zirah lengkap.
Di rumah, tidak ada yang memanggilku Cleo. Di rumah aku Vy. Vy yang giginya ompong di foto keluarga, yang pernah menangis karena layangan, yang makan paling lambat sedunia. Vy itu nama sebelum penonton datang — dan seumur hidup, lingkaran pemegang nama itu tidak pernah lebih dari lima orang: Papa, Mama, adikku, almarhumah Eyang, dan Radit — Radit mendapatkannya di tahun kedua kuliah, setelah lulus ujian panjang yang bahkan tidak dia sadari sedang dia jalani.
Aku pernah mencoba menjelaskan ini ke seorang teman dan gagal. “Cuma nama panggilan,” katanya. Bukan. Nama itu garis pabean. Semua orang di dunia boleh bertemu Cleo — Cleo memang diproduksi untuk itu, tahan banting, sudah termasuk senyum dan zirah. Tapi Vy tidak diekspor. Vy hanya beredar di wilayah yang aku tidak perlu bagus, tidak perlu benar, tidak perlu apa-apa. Memberi seseorang nama itu artinya memberinya visa masuk ke wilayah tanpa penonton — dan sepanjang dua puluh tujuh tahun, tidak pernah ada laki-laki di luar keluarga yang lolos pemeriksaannya.
Selasa sore, di lantai enam, aku memutuskan menambah satu.
Kami baru menyelesaikan review mingguan — resmi sekarang, seminggu sekali, diusulkan olehnya lewat tiket dengan alasan “lebih efisien daripada bolak-balik”, dan aku menerima usulan itu dengan ketenangan luar yang menutupi kembang api dalam. Laptop sudah ditutup. Jendela lantai enam menampilkan Jakarta yang mulai oranye. Momen jeda yang biasanya jadi aba-aba pulang.
“Satu lagi,” kataku. “Ini di luar agenda.”
Dia menoleh dengan wajah siap-mencatat yang membuatku ingin tertawa dan menangis sekaligus. “Tiket baru, Mbak?”
“Bukan tiket.” Aku menarik napas. Latihan di lift tadi tidak membantu sama sekali. “Panggilan. Aku mau ganti kontrak panggilan kita.”
“...Kontrak panggilan.”
“Kamu kupanggil Mas Jek mulai minggu lalu. Kamu belum protes, jadi kuanggap disetujui.” Dia membuka mulut; kuputuskan itu bukan giliran bicaranya. “Nah, sekarang bagian kamu. Mbak Cleo itu buat meeting, buat forum, buat orang-orang. Di luar itu—” dan di sinilah suaraku, yang terlatih ribuan jam presentasi, memilih untuk mengecil, “—panggil aku Vy.”
Sunyi. Server mendengung di nada B, setia seperti biasa.
“Vy,” ulangnya. Pelan. Sekali. Dan mendengar nama itu keluar dari suaranya — nama rumahku, nama sebelum penonton — membuat sesuatu di dadaku duduk bersimpuh dan tidak mau berdiri lagi.
Dia menatapku sebentar, dan di wajah yang biasanya tidak menampilkan apa-apa itu, ada sesuatu yang bergerak — seperti orang yang disodori barang berharga dan sedang memeriksa apakah tangannya cukup bersih untuk menerimanya.
“Itu... panggilan rumah, kan,” katanya, bukan bertanya. “S.I— maksudku, di sistem HR nama Mbak Ivy. Vy itu dari Ivy. Yang dipakai keluarga.”
Dia tahu. Tentu dia tahu; laki-laki ini menghafal jam kopiku, apalah artinya struktur namaku. Dan justru karena dia tahu persis kelas barang yang sedang disodorkan, sistem penolakannya menyala — aku bisa melihat kalimat saya nggak pantas mengantre di belakang matanya, kalimat yang sama yang membuat semua pemberiannya tidak pernah pakai nama pengirim.
“Iya,” kataku, sebelum kalimat itu sempat keluar. “Dan aku yang menentukan siapa yang boleh. Bukan kamu.”
“Nah. Bisa kok.”
“Siap, Mbak.”
Hening.
“Barusan,” kataku, “detik setelah bilang bisa, kamu manggil aku apa?”
Dia berhenti. Memutar ulang rekamannya sendiri. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah pengamatanku, aku menyaksikan Jaka Wirawan — penakluk tabel legendaris, manusia paling tenang di semua krisis — mengalami system error secara langsung: matanya berkedip dua kali, mulutnya membuka tanpa output, dan telinganya, demi semua yang suci di lantai enam ini, telinganya berubah warna.
“...Maaf, Mbak.”
“Barusan lagi.”
“Maaf—” dia berhenti tepat di tepi jurang, menahan kata itu dengan seluruh kekuatan engineering-nya, lalu menyerah, “—ini susah.”
“Susahnya di mana? Satu suku kata. Kamu hafal jam minum kopiku dua tahun, masa dua huruf nggak hafal.”
“Bukan hafalannya.” Dia menatap mejanya, dan jawabannya keluar dengan kejujuran orang yang terpojok: “Izinnya.”
Izinnya.
Aku pulang sore itu dengan satu kata itu terselip di dadaku seperti sticky note. Izinnya. Dua tahun laki-laki ini mengerjakan segalanya tanpa pernah meminta apa-apa, dan sekarang, ketika izin diberikan langsung, ditandatangani, diantar ke mejanya — sistemnya menolak memproses karena tidak ada preseden. Tidak ada tabel untuk menyimpan data jenis ini. Belum pernah ada yang memberinya izin.
Rabu sampai Jumat, aku mengumpulkan kegagalan-kegagalannya seperti orang mengumpulkan perangko.
Rabu, di pantry lantai tujuh, di depan Gofar: “Mbak Cl— Mbak. Datanya udah kukirim.” (Gofar menoleh dari galon dengan gerakan sangat pelan, seperti meerkat yang mendengar sesuatu, lalu menatap kami bergantian — aku, Mas Jek, aku lagi — dengan wajah orang yang baru menemukan grafik anomali dan belum menemukan penyebabnya. “Lanjut, lanjut, jangan pedulikan saya,” katanya, sama sekali tidak melanjutkan mengisi botolnya, sepenuhnya memedulikan.)
Kamis, di telepon soal anomali kecil: “Halo, Mba— halo. Iya. Bukan, bukan error, cuma delay.” (Kemenangan parsial: dia berhasil tidak menyebut apa pun. Sepanjang tujuh menit telepon, dia menyusun setiap kalimat supaya tidak perlu memanggilku sama sekali — tata bahasa yang diputar-putar dengan keahlian tingkat tinggi demi menghindari satu suku kata. “Datanya sudah dicek.” “Sudah aman.” “Kalau ada lagi, tinggal kabari.” Kalimat pasif semua, subjek dihilangkan semua, seluruh struktur bahasa Indonesia dikorbankan demi satu penghindaran. Aku menutup telepon dan tertawa sendirian di meja sampai Tami lewat dan memutuskan tidak bertanya.)
Jumat, di lift yang kebetulan berdua, hening tujuh lantai, dan pas pintu terbuka: “Duluan... ya.” (Tanpa nama sama sekali. Strategi penghindaran total. Aku membalas “duluan, Mas Jek” dengan penekanan kejam di dua suku kata terakhir, dan pintu lift menutup tepat saat telinganya mulai berubah warna lagi.)
Perempuan macam apa yang bahagia dikoleksi kegagalan seperti ini? Perempuan yang tahu persis apa arti kegagalan-kegagalan itu. Kalau nama itu tidak berarti apa-apa baginya, mulutnya tidak akan tersandung. Orang tidak gagap pada hal yang tidak penting. Setiap “Mbak Cl—” yang tersangkut itu adalah pengakuan kecil yang tidak dia sadari sedang dia buat, dan aku — kurator museum diriku sendiri — kini membuka sayap baru khusus untuk itu.
Jumat malam, jam 21.15, di apartemen, notifikasi sistem tiket berbunyi.
Tiket #4189 — Materi belajar SQL — modul 1
Pembuat: Jaka Wirawan
Deskripsi: Sesuai permintaan, kususun materi buat belajar minggu depan. Mulai dari SELECT dasar sampai JOIN. Contoh datanya kupakai data serah-terima biar relevan sama kerjaan. Kalau ada yang mau ditambah, balas aja di tiket ini.
Profesional. Rapi. Khas dia. Aku sudah mau menutup ponsel ketika mataku sampai di baris terakhir, di bawah tanda tangan sistem, di tempat kalimat-kalimat ekstra biasa tinggal:
Sampai Senin, Vy.
Tertulis. Diketik. Dua huruf, satu suku kata, hitam di atas putih di sistem tiket resmi perusahaan, prioritas medium, tercatat selamanya di database yang di-backup tiga lapis.
Mulutnya belum bisa. Tapi tangannya — tangan yang menulis sticky note, yang menyeduh teh, yang menggantung payung, tangan yang selama dua tahun mengatakan semua hal yang mulutnya tolak — tangannya sudah.
Aku men-screenshot baris itu, menyimpannya di album yang tidak akan pernah kuberi nama jujur, mematikan lampu, dan berbaring dengan senyum yang untungnya tidak dilihat siapa pun, karena kadarnya jauh, jauh di atas sedang.
Senin. Belajar SQL. Guru paling sabar di dunia, murid dengan niat paling tidak murni dalam sejarah pendidikan. Aku bahkan sudah menyiapkan buku catatan fisik — buku catatan, seperti anak sekolah — karena mencatat itu alasan sah untuk duduk lebih dekat ke layar, dan layar itu alasan sah untuk duduk lebih dekat ke gurunya.
Aku sudah tidak sabar jadi bodoh.
- 1 Sprint Planning dan Dewi Lantai Tujuh
- 2 Nama Pak Slamet
- 3 Aturan Nomor Satu
- 4 Sticky Note Kuning
- 5 Tangga Darurat
- 6 Tidak Terjadi Apa-Apa
- 7 Satu-Satu
- 8 Undangan yang Tidak Bisa Ditolak
- 9 Kaca Restoran
- 10 Dua Menit di Toilet
- 11 Jarak yang Sopan
- 12 Menurut Data
- 13 Sabtu yang Dibungkus Rapi
- 14 Foto di #random
- 15 Yang Tertawa di Foto Itu
- 16 Bukan Urusan Saya
- 17 Wajah Itu
- 18 Penolakan
- 19 Operasi Pendekatan v1.0
- 20 Dua Gelas Kopi
- 21 Vy reading
- 22 Belajar SQL
- 23 Radit Tahu Duluan
- 24 Wingman Paling Berisik
- 25 Error Margin
- 26 Gerimis
- 27 Kabar Angin
- 28 Daftar
- 29 Lega
- 30 Sebagai Product Owner
- 31 Malam Sebelum Demo
- 32 Log Jam Tiga Pagi
- 33 Keputusan CEO
- 34 Yang Diselamatkan
- 35 Kamu Cantik, Vy
- 36 Kata Siapa Nol Persen?