← Nol Persen

Chapter Thirty Two

Log Jam Tiga Pagi

POV: Cleo

“Sistem udah pulih. Sekarang giliran kita yang di-debug.”

Kalimat itu sudah kususun sejak jam satu, di sela menulis template CS, dan aku mengucapkannya sebelum keberanianku sempat membaca ulang risikonya. Jam tiga pagi adalah satu-satunya jam yang jujur di gedung ini — terlalu lelah untuk zirah, terlalu sunyi untuk penonton — dan kalau pembedahan ini tidak terjadi malam ini, dia tidak akan pernah terjadi.

Dia menatapku lama. Aku bisa melihat sistem di belakang matanya menimbang untuk kabur — melirik tangga darurat sepersekian detik, sungguh, laki-laki ini melirik tangga darurat — lalu kembali padaku, dan menyerah dengan cara yang paling dia: mengambil spidol dari meja, dan menyerahkannya padaku.

“Kamu yang pegang log-nya,” katanya. “Aku yang jawab.”

Maka di whiteboard Pantura, di bawah dua kolom rollback-vs-rebuild yang belum dihapus, kutulis baris pertama:

Insiden #1 — Restoran Senopati.

“Kamu lihat aku dari luar kaca,” kataku. “Aku tahu. Aku ngitung empat puluh detik itu berbulan-bulan.”

“Aku lihat kamu ketawa.” Suaranya datar, tapi datarnya bekerja keras. “Delapan kursi kosong, lilin, gelas anggur, dan kamu ketawa. Aku nggak nyalahin kamu — data yang kupunya cuma dua detik, dan dua detik itu aku proses jadi satu kesimpulan utuh. Kesimpulannya: kamu di sana karena mau.”

“Log lengkapnya begini.” Aku menarik napas, karena bagian ini belum pernah keluar dari toilet marmer itu. “Gelas anggur kedua itu dia yang pesan, bukan aku — aku nggak nyentuh. Tawa itu... aku punya tawa yang disimpan di laci, tawa buat bayar tagihan basa-basi. Yang kamu lihat itu tawa laci. Dan dua menit setelah kamu keluar, aku di toilet, megang wastafel, ngitung napas — empat masuk, tujuh tahan, delapan keluar — mikirin satu-satunya orang di restoran itu yang matanya nggak mampir ke aku sama sekali.”

Dia diam lama. “Dua menit di toilet,” ulangnya pelan, seperti menulis patch untuk bug berumur dua bulan. “Data itu... nggak pernah masuk sistemku.”

“Karena kamu pulang duluan. Kamu selalu pulang duluan, Mas Jek. Itu bug-mu yang paling konsisten.”

Insiden #2 — Foto di #random.

“Weekend warriors,” katanya, dan untuk pertama kalinya malam itu ada pahit yang lolos ke suaranya. “Seratus dua puluh reaksi. Aku buka Slack jam delapan pagi dan langsung... nggak ada audit. Hari-hari sebelumnya masih ada audit, masih ada pembelaan statistik. Foto itu langsung dieksekusi: data konsisten, kesimpulan tetap. Terus aku nulis email ambil proyek infra jam 08.02.”

“Jam 08.02,” ulangku. Enam menit setelah foto kubayangkan sampai padanya. Enam menit untuk memutuskan pindah lantai. “Yang nggak ada di foto: aku pulang naik kereta sendirian sambil nyusun slide di kepala biar nggak ngerasa. Radit ikut hari itu bukan buat PDKT — dia dateng jagain aku, dari yang motret. Dan lengan yang di foto itu kelihatan ada di bahuku—”

“Nggak nyentuh,” katanya. “Aku tahu. Aku zoom.” Jeda. Telinganya menyala. “...Lupakan bagian aku zoom.”

“Dicatat permanen. Lanjut.”

Insiden #3 — “Lewat tiket aja, Mbak.”

“Itu hari terburukku di gedung ini,” kataku, dan spidolku berhenti di papan. “Aku turun bawa tiga temuan dan satu rencana buat mulai dari awal. Kamu ngomong ke monitor. Aku naik lift mikir aku udah ngelakuin kesalahan apa.”

“Kamu nggak salah apa-apa.” Dia memandang tangannya sendiri. “Waktu itu logikaku begini: seisi kantor lagi bikin cerita tentang kamu dan VP. Kalau kamu sering ke lantai enam, ceritanya nambah satu — dan yang jadi bahan bukan aku, aku bukan siapa-siapa, yang jadi bahan kamu. Jadi kututup pintunya. Kupikir itu... perlindungan.” Dia mengangkat wajah. “Baru sekarang aku denger versi kamu dan sadar yang kubangun itu bukan pagar. Tembok. Dan kamu di luar, hujan-hujan.”

“Kamu selalu gitu,” kataku pelan. “Payung tanpa nama. Teh tanpa kata. Perlindungan tanpa alamat pengirim. Kamu tahu nggak rasanya dilindungi sama orang yang nolak diketahui? Kayak tinggal di rumah yang lampunya nyala duluan terus — hangat, tapi nggak bisa bilang makasih ke siapa-siapa. Lama-lama yang kerasa bukan hangatnya. Sepinya.”

“Aku tahu tehnya sampai,” katanya, sangat pelan. “Aku tahu payungnya dipakai. Bagi sistemku waktu itu, itu cukup. Sampainya yang penting, bukan... pengirimnya.”

“Dan sticky note kamu tandatanganin satu huruf.”

“Satu huruf itu udah kebanyakan. Hampir kuhapus.”

“Mas Jek.” Aku menatapnya. “Malam di tangga darurat itu. Yang katamu nggak terjadi apa-apa.”

Arsip yang dua tahun disegel dua pihak. Aku melihat dia menerima ketukan itu — bukan pura-pura tidak dengar kali ini — dan membuka pintunya sendiri, pelan.

“Terjadi,” katanya. “Semuanya terjadi. Aku turun mau isi botol, dan ada orang paling ditonton segedung lagi makan mi di tempat paling tersembunyi segedung, dan sistemku cuma ngasih satu instruksi: jangan jadi penonton. Terus di lantai enam aku mikir: dia belum minum dari entah jam berapa. Sisanya eksekusi.” Dia menatap tangannya. “Aku naruh tehnya dua anak tangga di atas kamu biar kamu nggak perlu ngangkat muka. Terus aku pulang, dan sepanjang jalan aku mutusin malam itu statusnya draft — biar bisa kamu hapus kapan aja, biar nggak jadi utang.”

“Draft itu,” kataku, dan suaraku pecah sedikit di tengahnya, “kusimpan jadi dokumen paling penting yang pernah kuterima seumur hidup. Kamu naruh teh dua anak tangga di atasku dan itu kalimat paling panjang yang pernah diucapkan siapa pun ke aku tanpa suara.”

Sunyi. Di layar besar, kurva-kurva hijau berdenyut pelan, satu-satunya saksi.

“Aku mau tanya satu hal,” katanya kemudian, sangat pelan. “Dari log kamu. Sejak kapan... kamu ngitung empat puluh detik, nyimpen payung, bikin operasi—” dia berhenti, dan aku melihat dia memutuskan untuk jujur sampai tuntas, “—Radit pernah nyuruh aku nguji satu aksioma. Aksiomaku umurnya dua tahun. Bunyinya: dia nggak mungkin. Bukan karena dia sombong — karena aku tahu posisiku di data. Aku ngitung peluangku dari hari kedua kerja, dan hasilnya konsisten: nol persen. Dua tahun aku hidup di angka itu. Semua yang kulakuin — teh, payung, semua — itu... cara ngasih tanpa harus ngarep. Karena nol persen nggak boleh ngarep.”

Nol persen.

Jadi itu nama sistemnya. Dua tahun, laki-laki paling teliti yang kukenal menjalankan hidupnya di atas satu angka yang salah hitung, dan menyebutnya data.

“Mas Jek.” Aku meletakkan spidol. “Kamu mau tau hasil audit dari sisi sebelah? Aku nyimpen sticky note kuning pertamamu di tas — sampai sekarang, boleh digeledah. Aku hafal bunyi payungmu waktu dibuka. Aku bikin dokumen rahasia berformat OKR yang objektifnya ngurangin jarak, bukan cuma lantai, dengan definisi sukses user menoleh duluan. Aku pura-pura nggak ngerti klausa WHERE — WHERE, Mas Jek, filter paling gampang sedunia — supaya kamu ngulang jelasinnya dan aku bisa nonton kamu lebih lama.” Suaraku mulai tidak rata dan kubiarkan. “Peluangmu nggak pernah nol. Yang nol itu kualitas alat ukurmu. Dua tahun kamu ngukur pakai penggaris yang patah, terus nyebut hasilnya data.”

Dia menatapku seperti orang menatap layar yang menampilkan hasil yang mustahil — memeriksa ulang, mencari error, tidak menemukan error — dan sesuatu di wajahnya mulai runtuh dengan cara yang pelan dan menyeluruh, seperti sistem lama yang akhirnya, akhirnya diizinkan pensiun.

“Vy—”

“Belum selesai. Satu insiden lagi di log.” Aku menunjuk papan, dan menulis baris terakhir dengan tangan yang lebih berat dari tiga baris sebelumnya: Insiden #4 — Daftar. “Selasa itu, waktu aku turun ke lantai enam. Kamu udah lihat namamu. Dan kamu tenang. Bukan tenang pura-pura — aku kenal semua jenis tenangmu, dan yang itu tenang beneran. Aku mau log yang jujur, Mas Jek. Waktu kamu baca namamu sendiri di daftar itu... apa yang kamu rasain?”

Jam tiga pagi adalah jam yang jujur. Aku yang bilang begitu. Aku yang menetapkan aturannya.

Dia menatapku lama, dan aku melihatnya menimbang untuk terakhir kalinya antara jawaban yang aman dan jawaban yang benar, dan aku melihat detik persisnya dia memilih — karena malam ini kami sudah sepakat tidak ada lagi yang disangkal.

“Lega,” katanya. “Aku ngerasa lega.”