← Nol Persen

Chapter Ten

Dua Menit di Toilet

POV: Cleo

Ini yang tidak terlihat dari balik kaca.

Jam 19.05, aku duduk di meja panjang untuk sepuluh orang, memilih kursi yang menyisakan satu kursi kosong antara aku dan Pak Bram — dia langsung pindah menghapus kursi kosong itu dengan alasan “biar nggak teriak-teriak” — dan memulai pekerjaan malam ini. Karena ini pekerjaan. Jangan salah paham: makanannya enak, lilinnya hangat, dan setiap menitnya adalah lembur yang tidak tercatat di sistem HR mana pun.

Anggur ditawarkan; kutolak dengan alasan call pagi — benteng pertama berdiri. Pak Bram memesan segelas untuk dirinya dan menyuruh pelayan “sediain aja satu lagi, siapa tahu berubah pikiran,” dan gelas kedua itu berdiri di dekat sikuku sepanjang malam seperti penunggu, penuh dan tidak tersentuh, saksi bisu yang kelak — dari balik kaca, dari sudut yang salah — akan bercerita bohong untukku. Pertanyaan pribadi datang berombak: apartemenku di mana, kenapa perempuan sepertiku “masih sendiri”, tipe idealku seperti apa. Setiap ombak kupecah dengan teknik yang sama: jawaban pendek, belokan ke topik kerja, senyum kadar sedang. Ini seperti bermain tenis melawan mesin pelontar yang tidak bisa lelah dan membayar makan malammu.

Jam 19.40, dia masuk ke babak cerita kejayaan. Kisah bagaimana dia, di kantor lamanya, “menyelamatkan deal delapan digit cuma modal satu presentasi dan keberanian” — cerita yang jelas sudah sering dipentaskan, lengkap dengan gerakan tangan, dan yang klimaksnya adalah dia menirukan wajah kliennya yang terkesima.

Wajah tiruan itu jelek sekali. Sungguh. Mulutnya monyong, alisnya naik sebelah, dan untuk sepersekian detik VP Product kami terlihat seperti ikan yang menerima kabar buruk.

Dan aku tertawa.

Sebagian karena wajah ikan itu memang objektif lucu. Sebagian besar karena tertawa adalah gerakan paling murah di meja ini — tawa membayar tagihan basa-basi lima menit ke depan, tawa membuat mesin pelontar puas dan melambat, tawa adalah zirah yang menyamar jadi hadiah. Perempuan yang bekerja delapan tahun di kantor-kantor seperti ini punya tawa jenis itu tersimpan di laci, terisi penuh, siap pakai.

Aku sedang tertawa dengan tawa laci itu — kepala miring, rambut jatuh, diselipkan ke belakang telinga — ketika lonceng pintu berbunyi.

Dan hantu lantai tujuh berjalan masuk membawa amplop cokelat.

Semua yang terjadi setelahnya berlangsung empat puluh detik. Aku menghitungnya malam itu juga, berulang-ulang, seperti orang memutar rekaman kecelakaan.

Jaket hitam yang bahunya gelap kena hujan. Amplop diserahkan. “Pak. Dokumennya.” Pak Bram berpentas sebentar — duduk dulu lah, minum apa kek — dengan nada yang bahkan tidak berusaha terdengar sungguhan. “Monitoring, Pak. Saya balik ke kantor.” Dan mata itu — mata yang setiap hari lurus ke monitor sembilan puluh sentimeter dari mataku — menyapu meja ini satu kali, dari gelas ke lilin ke amplop, ke mana-mana, ke semua koordinat yang bukan aku.

“Mas—”

“Mari, Mbak.”

Lonceng berbunyi lagi. Punggung jaket hitam itu ditelan hujan Senopati, dan aku duduk di kursi yang tadi kupilih dengan cermat, di meja untuk sepuluh orang, dengan tawa laci yang masih tergantung setengah jadi di wajahku dan rasanya seperti memakai topeng yang lemnya tiba-tiba beracun.

Dia melihatku tertawa.

Dari luar. Dari balik kaca. Delapan kursi kosong, lilin, anggur yang tidak kuminum tapi tetap ada di meja, dan aku — tertawa.

“Nah, gitu dong wajahnya jangan serius mulu—” Pak Bram melanjutkan pentasnya di suatu tempat yang jauh sekali dari tempat aku berada.

“Maaf, Pak. Ke toilet sebentar.”

Toilet restoran itu dindingnya marmer dan lampunya lembut dan wanginya sereh, dan tidak satu pun dari itu membantu. Aku memegang tepi wastafel dengan dua tangan dan menatap perempuan di cermin — dandanan masih rapi, zirah masih terpasang — dan melakukan hal yang sudah dua kali kulakukan bulan ini: bernapas dengan hitungan. Empat masuk. Tujuh tahan. Delapan keluar.

Dua menit. Aku memberi diriku dua menit.

Yang membuat dadaku sesak bukan Pak Bram — Pak Bram sudah kupetakan, Pak Bram adalah cuaca buruk yang bisa diprediksi. Yang membuat sesak adalah empat puluh detik tadi, dan betapa cepatnya empat puluh detik bisa menulis satu cerita utuh yang salah semua. Aku ingin lari keluar mengejar ojek di tengah hujan seperti orang di film dan menjelaskan — menjelaskan apa? Menjelaskan bahwa tawaku palsu? Menjelaskan mekanisme tawa laci kepada laki-laki yang bahkan tidak menuduhku apa-apa, yang cuma mengantar dokumen dan pulang, yang tidak punya alasan untuk peduli aku tertawa untuk siapa?

Tidak ada penjelasan yang tidak dimulai dengan pengakuan bahwa pendapatnya penting bagiku. Dan pengakuan itu — aku menatap perempuan di cermin, dan perempuan di cermin menatapku, dan kami berdua tahu — pengakuan itu benar.

Empat masuk. Tujuh tahan. Delapan keluar. Waktu habis.

Aku kembali ke meja, menghabiskan tiga puluh menit terakhir dengan efisiensi mesin — makanan utama selesai, dua topik kerja diselesaikan supaya malam ini setidaknya menghasilkan sesuatu yang nyata, dessert kutolak. Jam 21.00 tepat, sesuai peta jalan keluar yang kuhafal sejak taksi berangkat:

“Pak, saya duluan ya. Call jam tujuh pagi sama tim ops.”

“Loh, buru-buru amat. Aku anterin—”

“Ojek udah di depan, Pak.” Sudah, memang. Kupesan dari toilet, dua menit yang produktif. “Terima kasih makan malamnya. Senin saya kirim rangkuman poin kerjanya ke email, biar tercatat.”

Biar tercatat. Dua kata terpenting malam ini, diucapkan sambil tersenyum kadar sedang, dan aku melihat dua kata itu mendarat di wajahnya seperti amplop dari kantor pajak.

Hujan belum selesai dengan Jakarta. Jas hujan plastik ojek berkibar-kibar, air merembes di sela-selanya, dan sepanjang Sudirman yang lampunya jadi panjang-panjang kena kaca helm basah, aku memeluk tasku dan membiarkan diriku memikirkan satu-satunya pikiran yang kubawa pulang dari restoran berlilin itu:

Empat puluh detik. Mata yang tidak mampir. Mari, Mbak.

Perempuan waras seharusnya memikirkan VP yang baru saja tiga jam mengepungnya. Aku memikirkan punggung jaket hitam yang basah, dan fakta bahwa dia datang naik ojek, hujan-hujan, disuruh jam setengah delapan malam, dan tetap bilang siap — dan aku bahkan tidak sempat mengatakan apa-apa yang berarti sebelum pintu berbunyi.

Di lampu merah Santa, abang ojek menoleh sedikit. “Nggak apa-apa, Mbak? Dari tadi diem banget.”

“Nggak apa-apa, Pak.”

“Iya. Biasanya yang jawabnya gitu yang paling ada apa-apa.” Lampu hijau. Motor melaju lagi, dan aku tertawa kecil sendirian di jok belakang, di dalam jas hujan plastik yang bocor, karena rupanya malam ini semua laki-laki bijak Jakarta sedang bertugas kecuali yang kubutuhkan.

Senin pagi, hujan masih menggantung di langit Jakarta seperti utang.

Aku sampai kantor jam 08.20 dengan bahu blazer lembap — payungku patah dua hari lalu dan belum sempat kuganti, jarak lobi ke gedung cukup untuk membuat hujan menang. Lantai tujuh masih sepi. Aku berjalan ke wilayah baru, ke meja di ujung barisan backend, sambil merapikan rambut yang basah di pelipis.

Dan berhenti.

Di partisi mejaku, tergantung di pengaitnya dengan rapi, ada sebuah payung. Hitam, polos, gagangnya sudah halus di bagian genggaman — payung yang jelas sudah bertahun-tahun bekerja, bukan payung baru dari minimarket. Tidak ada catatan. Tidak ada nama. Tidak ada apa-apa.

Aku menoleh ke meja sembilan puluh sentimeter di sebelah. Kosong. Jam segini pemiliknya biasanya sedang standup infra di lantai enam, dan monitor yang lurus serta kabel yang terikat itu tidak bisa diinterogasi.

Aku berdiri lama di situ, memegang payung tua milik orang lain, dengan dada yang melakukan sesuatu yang rumit.

Jumat malam dia melihatku tertawa di balik kaca dan pulang menembus hujan tanpa menoleh. Dan Senin pagi, hal pertama yang dia lakukan adalah memastikan aku tidak kehujanan.

Hantu lantai tujuh masih bekerja. Bahkan sekarang. Bahkan setelah itu.

Entah kenapa, justru itu yang membuat mataku panas.

Aku menggantung payung itu kembali ke pengaitnya — hati-hati, seperti mengembalikan barang pinjaman museum — lalu duduk dan menyalakan laptop, karena jam 08.30 dunia akan menuntut Ivy Cleopatra yang biasa, dan dunia tidak pernah mau tahu.