Chapter Five
Tangga Darurat
POV: Cleo
Kamis. Jam 08.40 aku berdiri di depan cermin toilet lantai tujuh, memeriksa hasil akhir: blazer paling tegas, rambut disanggul rendah, maskara secukupnya. Perempuan lain menyebutnya dandan. Aku menyebutnya memasang zirah.
Jam 09.00, ruang Trans-Sumatra penuh: Bu Ratna dan timnya di satu sisi, di sisi kami Pak Dhimas — CEO — dua direksi lain, Pak Bram, dan aku. Satu-satunya orang di ruangan yang tidak punya kata “direktur” di jabatannya, dan satu-satunya yang membawa data sampai koma kedua.
Perang dibuka tanpa pemanasan.
“Kami minta komitmen SLA on-time 98,5 persen,” kata Bu Ratna, “dengan klausul penalti dua persen dari invoice untuk setiap bulan pelanggaran. Itu standar kami ke semua mitra, dan selama ini belum ada yang berani tanda tangan. Silakan jadi yang pertama, atau kami evaluasi opsi lain.”
Pak Dhimas menoleh ke Pak Bram. Pak Bram mengangguk penuh keyakinan, lalu berkata, “Kami sangat percaya diri dengan kapabilitas kami. Tapi untuk detail angkanya—” dia membuka telapak tangan ke arahku seperti pesulap mempersembahkan asisten, “—Cleo yang paling pegang datanya.”
Dan begitulah. Tiga menit setelah perang dimulai, jenderalku menyerahkan medan kepadaku sambil tersenyum ke kamera yang tidak ada.
Aku menarik napas satu kali, lalu membuka lembar yang sudah kusiapkan sampai jam sebelas malam. Dan di sinilah rahasia kecil yang tidak diketahui siapa pun di ruangan itu: aku bisa bicara setenang ini bukan karena berani. Karena angka-angka di lembarku bukan angka yang kukarang untuk menyenangkan ruangan — angka itu turun langsung dari data produksi, dari breakdown per titik sortir yang muncul di inbox-ku Jumat pagi tanpa kuminta, rapi seperti disiapkan untuk perang yang belum kuumumkan. Orang bisa mencecar pendapat. Orang tidak bisa mencecar angka yang jujur.
“Posisi kami hari ini 96,8 persen, Bu. Kalau saya tanda tangan 98,5 sekarang juga, itu bukan komitmen, itu karangan — dan Ibu akan tahu dalam tiga puluh hari.” Aku melihat pulpen Bu Ratna berhenti. “Yang bisa saya pertanggungjawabkan: 97,5 dalam satu kuartal, karena bottleneck-nya sudah kami petakan — tiga area serah-terima di Jabodetabek dan satu masalah data di titik sortir. Sisanya butuh investasi sistem yang sedang berjalan. 98,5 di kuartal berikutnya, dengan jalur eskalasi khusus untuk Sentosa mulai minggu depan. Itu angka yang akan saya tepati, bukan angka yang enak didengar.”
Hening. Jenis hening yang membuat AC terdengar seperti badai.
Bu Ratna menatapku lama, lalu membuat catatan panjang untuk pertama kalinya hari itu. “Delapan tahun saya evaluasi vendor,” katanya tanpa mengangkat kepala, “Mbak orang pertama yang bilang tidak bisa pakai angka, bukan pakai alasan. Oke. Kita susun dari angka Mbak.”
Dua jam berikutnya adalah negosiasi klausul yang rasanya seperti dioperasi dalam keadaan sadar. Tapi kami keluar dari ruangan itu dengan kesepakatan yang bisa dijalankan manusia, dan Pak Dhimas menjabat tanganku dua kali.
Pak Bram menyusulku di lorong sesudahnya. “Nah kan. Untung tadi aku langsung lempar ke kamu — aku tahu kamu bakal perform. Ini namanya empowerment.” Dia tersenyum puas sekali. “Nanti aku update direksi ya, biar mereka tahu strategi kita berhasil.”
Kita. Aku mengucapkan terima kasih dengan takaran standar dan berjalan terus, karena kalau berhenti, ada risiko aku mengatakan kalimat yang sebenarnya.
Sisa hari itu bukan hari. Sisa hari itu antrean: tim legal soal redaksi klausul, tim ops soal jalur eskalasi, tim finance soal skenario penalti, dan tiga puluh delapan pesan Slack yang semuanya dibuka dengan “sorry mbak, satu menit aja.” Jam makan siangku dimakan meeting. Jam makan sore tidak pernah ada dalam kebudayaan kantor ini.
Jam 20.15, lantai tujuh akhirnya kosong dan aku baru sadar dua hal: tanganku gemetar halus, dan sejak pagi aku hanya makan zirah.
Di pantry tinggal satu mi cup. Rasa ayam bawang. Aku menjerang air sambil menghitung sisa tenaga, dan hasil hitungannya membuat keputusan untukku: aku tidak sanggup makan di pantry ini, dengan dinding kacanya, dengan kemungkinan satu orang lembur lewat dan besok seisi kantor tahu Mbak Cleo makan mi jam delapan malam sendirian — kasihan ya, cantik-cantik — tidak. Tidak malam ini.
Ada satu tempat di gedung ini tanpa dinding kaca, tanpa kamera, tanpa penonton.
Tangga darurat.
Aku duduk di anak tangga ketiga antara lantai tujuh dan enam, jongkok setengah duduk dengan cara yang akan membuat ibuku mengelus dada, dan makan mi cup pakai garpu plastik. Lampunya putih pucat. Dinding beton telanjang. Sunyi yang jujur.
Dan mungkin karena sunyinya jujur, badanku ikut jujur. Air mata itu turun tanpa mengabari, di suapan ketiga, bukan karena sedih yang bisa kutunjuk — karena penuh. Karena tiga jam dicecar dan berbulan-bulan ditonton dan kata kita di lorong tadi dan garpu plastik yang bengkok kena kuah. Aku membiarkannya. Toh tidak ada yang lihat. Maskara yang kupasang jam 08.40 sebagai zirah sekarang pasti sudah jadi peta sungai, dan untuk pertama kalinya hari ini, aku tidak wajib peduli.
Pintu di atasku terbuka.
Seluruh badanku membeku dengan garpu di udara. Langkah kaki menuruni beberapa anak tangga — lalu berhenti.
Mas Jaka berdiri empat anak tangga di atasku, memegang botol minum kosong, jelas sedang menuju entah ke mana lewat jalur yang seharusnya tidak dilewati siapa pun jam segini. Dan aku duduk di bawahnya persis seperti yang paling kutakutkan dilihat orang: jongkok, mi cup, wajah banjir, maskara di mana-mana.
Satu detik. Dua.
Yang kutunggu adalah salah satu dari daftar yang sudah kuhafal seumur hidup: mata yang membesar. “Mbak Cleo?! Kenapa?!” yang terlalu keras. Kepanikan yang harus kutenangkan padahal aku yang sedang tenggelam. Atau — versi paling buruk — cerita, besok, entah di thread mana.
Yang terjadi: tidak ada.
Wajahnya tidak berubah. Sungguh tidak berubah — bukan ditahan, bukan sopan; sekadar wajah orang yang melihat rekan kerja sedang makan. Dia mengangguk sekali, kecil, jenis anggukan yang artinya lanjutkan, lalu menuruni sisa anak tangga, melewatiku dengan jarak yang dijaga, dan hilang di belokan lantai enam.
Tidak ada pertanyaan. Tidak ada tatapan kedua. Tidak ada apa-apa.
Aku duduk mematung, menunggu rasa malu datang — dan rasa malu itu tidak pernah datang, karena tidak ada yang memberinya pintu masuk.
Tiga menit kemudian, pintu atas terbuka lagi.
Langkah yang sama turun, lebih pelan. Aku tidak sempat memutuskan mau memasang wajah apa — dan ternyata tidak perlu, karena dia tidak turun sampai ke tempatku. Dia berhenti dua anak tangga di atas, meletakkan sesuatu di lantai, dan naik lagi. Pintu menutup dengan bunyi klik yang sopan.
Segelas teh. Kertas cup pantry, uapnya masih naik, kantong tehnya masih tercelup.
Aku memandanginya lama sekali sebelum berdiri mengambilnya. Hangatnya merambat ke telapak tangan yang sejak jam delapan pagi terus bekerja dan baru sekarang disapa.
Teh celup pantry. Merek paling murah di lemari. Diseduh orang yang tidak mengatakan apa-apa, tidak bertanya apa-apa, tidak menonton apa-apa — cuma tahu bahwa orang yang menangis sambil makan mi butuh minum hangat, lalu pergi supaya aku tidak perlu berterima kasih dengan wajah seperti ini.
Aku duduk lagi di anak tangga, memegang gelas itu dengan dua tangan, dan menangis putaran kedua — yang ini rasanya beda, yang ini rasanya seperti keran dibuka supaya airnya bersih lagi.
Dia bahkan meletakkannya dua anak tangga di atasku. Bukan di sebelahku, yang akan memaksaku mendongak dengan wajah ini. Bukan diserahkan langsung, yang akan memaksaku bicara. Dua anak tangga: cukup dekat untuk hangat, cukup jauh untuk tidak jadi apa-apa. Ada orang yang belajar bertahun-tahun untuk peka dan tidak pernah sampai ke situ.
Seumur hidup aku dilihat semua orang, pikirku, dan baru malam ini aku merasa terlihat.
Besok, aku akan berterima kasih. Sudah kuputuskan sambil menghabiskan teh paling enak yang pernah kuminum, yang rasanya — mari jujur — cuma teh celup pantry.
Besok.
- 1 Sprint Planning dan Dewi Lantai Tujuh
- 2 Nama Pak Slamet
- 3 Aturan Nomor Satu
- 4 Sticky Note Kuning
- 5 Tangga Darurat reading
- 6 Tidak Terjadi Apa-Apa
- 7 Satu-Satu
- 8 Undangan yang Tidak Bisa Ditolak
- 9 Kaca Restoran
- 10 Dua Menit di Toilet
- 11 Jarak yang Sopan
- 12 Menurut Data
- 13 Sabtu yang Dibungkus Rapi
- 14 Foto di #random
- 15 Yang Tertawa di Foto Itu
- 16 Bukan Urusan Saya
- 17 Wajah Itu
- 18 Penolakan
- 19 Operasi Pendekatan v1.0
- 20 Dua Gelas Kopi
- 21 Vy
- 22 Belajar SQL
- 23 Radit Tahu Duluan
- 24 Wingman Paling Berisik
- 25 Error Margin
- 26 Gerimis
- 27 Kabar Angin
- 28 Daftar
- 29 Lega
- 30 Sebagai Product Owner
- 31 Malam Sebelum Demo
- 32 Log Jam Tiga Pagi
- 33 Keputusan CEO
- 34 Yang Diselamatkan
- 35 Kamu Cantik, Vy
- 36 Kata Siapa Nol Persen?