Chapter Thirteen
Sabtu yang Dibungkus Rapi
POV: Cleo
Sabtu jam tujuh pagi, aku sudah di titik sortir Bekasi, dan untuk satu jam pertama, hari ini murni milikku.
Berangkat subuh naik kereta pertama itu keputusan yang kubuat Jumat malam dengan dua pertimbangan. Pertimbangan resmi: datanya memang harus diambil pagi, saat gelombang sortir pertama berjalan. Pertimbangan tidak resmi: setiap jam yang kuhabiskan di jalur sendiri adalah jam yang tidak bisa dianeksasi ke dalam skenario searah kok aku jemput. Perempuan yang bekerja seperti aku lama-lama jadi ahli tata ruang: mengatur hari seperti mengatur meja rapat, selalu tahu di mana pintu keluarnya.
Aku suka gudang, ternyata. Tidak ada yang menonton di gudang. Orang-orang terlalu sibuk dengan paket untuk peduli pada wajah, dan supervisor sortir — Bu Neni, lima puluhan, suara serak berwibawa — memperlakukanku seperti auditor biasa yang perlu diberi kopi sachet dan kebenaran.
“Minggu ini udah mendingan, Mbak. Scan gagalnya turun jauh.” Bu Neni menunjuk printer label di meja serah-terima. “Kemarin ada mas-mas dari kantor pusat ke sini. Ganti pita printer, betulin setelan, terus ngajarin anak-anak cara ngecek barcode sebelum tempel. Sabar banget ngajarinnya, padahal anak-anak sini kan nanyanya diulang-ulang.”
“Mas-mas yang mana ya, Bu?”
“Aduh, siapa namanya.” Bu Neni mengetuk-ngetuk dahinya. “Pendiam orangnya. Nggak kayak orang pusat biasanya — biasanya kan dateng, foto-foto, pulang. Ini malah jongkok di sini tiga jam. Pas pulang, saya tawarin kopi, dia bilang, nggak usah repot, Bu, saya yang ngerepotin.” Beliau tertawa. “Mana ada orang pusat ngomong gitu.”
Ada, Bu. Satu.
Aku mencatat data serah-terima dengan tangan yang menulis sendiri, karena kepalaku sedang sibuk dengan gambar seorang laki-laki jongkok tiga jam di lantai gudang mengajari cara mengecek barcode, sabar, diulang-ulang — laki-laki yang sama yang minggu ini menjawab pertanyaanku dalam sembilan detik.
Dia tidak dingin, kata gambar itu. Dia cuma dingin padamu.
Terima kasih. Data yang sangat membantu.
Jam sembilan, aku tiba di gudang regional Sentosa di Cikarang, dan hari milikku resmi berakhir.
“CLEO!” Pak Bram melambai dari depan kantor gudang, berdiri di samping mobilnya yang harganya bisa membeli seisi ruang sortir tadi. Dan di sebelahnya, sedang melepas kacamata hitam dengan gaya bintang film yang salah lokasi syuting—
“Radit?”
“Riset UX serah-terima,” kata Radit khidmat, mengangkat tablet seperti pendekar mengangkat pusaka. “Desainer harus turun ke lapangan. Empati itu nggak bisa dari Figma doang.”
“Dia nodong ikut,” kata Pak Bram, dengan senyum yang jelas sudah lelah dipakai sejak dari Jakarta. “Sepanjang tol cerita soal kucingnya.”
“Figma itu topik yang kaya, Pak.”
Dua jam di dalam mobil yang sama. Aku menatap dua laki-laki itu — yang satu menyusun perangkap dengan sabar berminggu-minggu, yang satu menyusup ke dalam perangkap sambil membawa cerita kucing — dan untuk pertama kalinya sejak pengumuman Jumat itu, aku merasa tidak sendirian di Cikarang.
Radit menoleh padaku sekilas waktu Pak Bram berjalan duluan, dan sepersekian detik itu wajah konyolnya berganti jadi wajah teman kuliah yang dulu menemaniku menunggu bus malam: gue denger soal dinner itu. Makanya gue di sini. Lalu wajah konyolnya terpasang lagi dan dia berteriak sesuatu soal pencahayaan gudang yang “sangat sinematik.”
Kunjungannya sendiri, harus kuakui, berguna. Tim ops Sentosa menunjukkan titik serah-terima yang jadi sumber sengketa SLA; aku mendapat tiga temuan yang akan mengubah cara kami menghitung; Radit — di sela-sela drama — memotret alur kerja dengan mata desainer yang sungguhan tajam kalau sedang lupa berpura-pura konyol. Bahkan Pak Bram menyumbang sesuatu: koneksinya dengan kepala gudang membuka data yang biasanya tidak dibagi.
Jam makan siang, rombongan digiring ke rumah makan sunda dekat kawasan, dan di sinilah Radit mempertunjukkan keahlian yang tidak tercantum di CV-nya.
“Eh eh, Pak Bram sini dong sebelah kepala gudang,” katanya sambil menarik kursi dengan kecepatan pemain catur, “biar obrolan datanya lanjut. Penting itu, Pak, mumpung orangnya lagi terbuka.” Dan sebelum siapa pun sempat memproses, susunan meja sudah jadi: Pak Bram terkunci di antara kepala gudang dan supervisor ops yang hobi bercerita, sementara aku mendarat di seberang, diapit Radit dan ibu-ibu admin Sentosa yang langsung mengajakku membahas anaknya yang mau kuliah desain.
“Anak ibu bakatnya gimana?” tanya Radit antusias, dan lima belas menit berikutnya dia mewawancarai ibu itu soal portofolio anaknya dengan keseriusan juri nasional, sesekali melirikku dengan wajah aman kan posisi lo yang disamarkan jadi wajah lalapan ini segar sekali.
Sahabatku yang konyol. Yang rencana PDKT-nya bocor ke seisi kantor, yang menyimpan frame rencana-B di Figma, yang hari ini menghabiskan Sabtunya menjadi pagar hidup untuk perempuan yang dia taksir, dari laki-laki lain yang juga menaksirnya. Kalau dia tahu bahwa yang kupikirkan sepanjang perjalanan pulang nanti bukan dia juga — dadaku mencelos sedikit setiap kali sampai ke bagian itu, jadi aku tidak pernah menyelesaikannya.
Kalau saja hari itu berhenti di situ, aku akan pulang dengan hati ringan.
Jam dua belas, sesi selesai, dan kepala gudang Sentosa mengusulkan foto bersama. Hal biasa. Hal yang sudah ratusan kali kujalani: berdiri, senyum kerja, selesai.
Yang tidak biasa adalah koreografinya.
“Sini, sini, yang rapi.” Pak Bram mengambil alih pengaturan barisan dengan kecepatan yang mencurigakan. “Bu, Bapak, di tengah. Cleo — sini, sebelah aku.”
Tanganku sudah setengah terangkat menolak, tapi menolak posisi foto di depan klien itu butuh alasan, dan alasan butuh waktu, dan blitz tidak menunggu. Aku berdiri di titik yang ditunjuk. Pak Bram berdiri terlalu dekat dengan lengan yang tidak menyentuh tapi hadir di belakang bahuku — jenis kehadiran yang tidak terekam sebagai pelanggaran dan terekam sempurna sebagai kepemilikan. Radit, sedetik sebelum jepretan, menyelipkan dirinya ke sisi lainku dengan dua jari membentuk V.
Cekrek.
Di layar ponsel kepala gudang, aku melihat hasilnya sekilas: perempuan yang tersenyum kerja, diapit VP yang tersenyum menang, dan desainer yang matanya — kalau diperbesar — tidak ikut tertawa.
Sabtu sore, aku pulang sendirian naik kereta, menolak dua tawaran tumpangan dengan dua alasan berbeda yang sama-sama sudah kusiapkan sejak pagi. Di jendela kereta, kawasan industri Cikarang berganti sawah berganti ruko berganti Jakarta, dan aku menghabiskan perjalanan menyusun temuan hari ini jadi tiga slide di kepala — kebiasaan lama, bekerja supaya tidak merasa.
Jam 19.20, ponselku bergetar. Notifikasi #random.
Bramantyo Adikara telah membagikan foto.
“Weekend warriors! 💪 Sabtu-sabtu turun gunung demi SLA 97,5. Ini baru namanya ownership! #TeamAntarra”
Foto itu. Tentu saja foto itu. Diunggah ke channel yang dibaca seisi kantor, dengan caption yang menjahit namanya ke pencapaianku, di malam minggu ketika semua orang memegang ponsel.
Reaksi berdatangan dalam hitungan menit. Emoji api. Emoji tepuk tangan. “Keren pak!” “Gaspol SLA!” Sasha menambahkan emoji mata, tiga biji, yang di kamus Sasha bisa berarti apa saja dan tidak pernah berarti hal baik.
Aku duduk di sofa apartemenku dengan lampu yang belum sempat kunyalakan, menatap foto itu di layar — senyum kerjaku yang terlihat begitu meyakinkan, lengan yang hadir tanpa menyentuh, caption dengan kata kita yang tersirat di mana-mana — dan berpikir dengan ketenangan aneh orang yang melihat gelombang datang dari jauh:
Ini akan dilihat semua orang. Senin pagi, saat membuka Slack sambil menunggu lift, sambil menyeruput kopi pertama, semua mata di lantai tujuh akan melihat foto ini.
Semua mata. Termasuk sepasang yang tidak pernah mampir padaku — yang kemarin dulu melihatku tertawa dari balik kaca, yang minggu ini kabur lewat tangga darurat, yang jongkok tiga jam di gudang Bekasi mengajari orang asing membaca barcode dan bilang saya yang ngerepotin.
Dia akan melihat foto ini. Dan tidak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa kulakukan.
Aku menyalakan lampu, karena gelap mulai terasa seperti setuju.
Lalu aku membuka laptop dan mulai menulis tiga temuan Cikarang jadi dokumen yang rapi — bukan karena harus malam ini, tapi karena tanganku butuh dipekerjakan, dan karena di seluruh dunia yang tidak bisa kukendalikan malam ini, setidaknya temuan serah-terima masih patuh padaku.
- 1 Sprint Planning dan Dewi Lantai Tujuh
- 2 Nama Pak Slamet
- 3 Aturan Nomor Satu
- 4 Sticky Note Kuning
- 5 Tangga Darurat
- 6 Tidak Terjadi Apa-Apa
- 7 Satu-Satu
- 8 Undangan yang Tidak Bisa Ditolak
- 9 Kaca Restoran
- 10 Dua Menit di Toilet
- 11 Jarak yang Sopan
- 12 Menurut Data
- 13 Sabtu yang Dibungkus Rapi reading
- 14 Foto di #random
- 15 Yang Tertawa di Foto Itu
- 16 Bukan Urusan Saya
- 17 Wajah Itu
- 18 Penolakan
- 19 Operasi Pendekatan v1.0
- 20 Dua Gelas Kopi
- 21 Vy
- 22 Belajar SQL
- 23 Radit Tahu Duluan
- 24 Wingman Paling Berisik
- 25 Error Margin
- 26 Gerimis
- 27 Kabar Angin
- 28 Daftar
- 29 Lega
- 30 Sebagai Product Owner
- 31 Malam Sebelum Demo
- 32 Log Jam Tiga Pagi
- 33 Keputusan CEO
- 34 Yang Diselamatkan
- 35 Kamu Cantik, Vy
- 36 Kata Siapa Nol Persen?