← Nol Persen

Chapter Sixteen

Bukan Urusan Saya

POV: Jaka

Minggu kedua di lantai enam, dan aku sudah hafal ritme rumah baruku.

Server room mendengung dalam nada B yang konstan — aku pernah mengeceknya dengan aplikasi tuner, jangan tanya kenapa. AC menggigit di jam sepuluh pagi dan menyerah di jam tiga sore. Populasi lantai: aku, dua orang tim infra yang komunikasinya sembilan puluh persen lewat chat walau duduknya bersebelahan, dan satu mesin fotokopi tua yang kadang menyala sendiri seperti punya urusan pribadi.

Sempurna. Sungguh. Proyeknya menantang, arsitektur data lama Antarra ternyata lebih kacau dari dugaanku — ada tabel bernama temp_final_v2_FIX_beneran yang dipakai produksi, ada job harian yang tidak ada satu manusia pun tahu fungsinya tapi semua takut mematikan. Aku menghabiskan hari-hariku menguraikan simpul-simpul itu, satu-satu, dan setiap malam pulang dengan kelelahan yang jujur, jenis lelah yang membuat tidur tidak perlu dinegosiasi.

Sistem sehat. Semua kurva hijau. Kalau ada yang bertanya — dan Gofar bertanya, dua kali, lewat chat dengan gaya sok santainya yang gagal — jawabannya tersedia dan benar: aku baik.

Senin, jam 10.40, pintu lift lantai enam berbunyi ting, dan aku tahu tanpa menoleh.

Jangan tanya bagaimana. Dua tahun kalibrasi tidak hilang dalam dua minggu. Langkah itu punya tanda tangannya sendiri — tempo tertentu, jeda kecil di keramik yang sambungannya tidak rata dekat pilar — dan sistemku, yang sudah dua minggu berjalan tenang di lingkungan steril, menyalakan semua lampunya sekaligus seperti kota yang listriknya baru pulih.

“Mas Jaka.”

Aku menoleh dengan kecepatan yang sudah kuatur supaya terlihat normal. Dia berdiri di ujung mejaku memegang tablet, blazer abu-abu, rambut diikat — dan di sinilah masalah fundamental lantai enam yang tidak masuk perhitunganku: di lantai tujuh, ada seratus benda dan tiga puluh manusia untuk dijadikan alasan mengalihkan mata. Lantai enam kosong. Di lantai enam, tidak ada tempat lain untuk melihat.

Jadi selama tiga detik penuh aku melihat. Mata yang serius menyiapkan kalimat. Anak rambut yang lolos dari ikatan, jatuh di pelipis, dan tangannya naik menyelipkannya ke belakang telinga — gerakan yang sama, selalu gerakan yang sama, yang dari sembilan puluh sentimeter dulu kularang diriku menonton dan sekarang menabrakku dengan kecepatan penuh karena pertahananku dibangun untuk jarak yang salah.

Aku memutar kursi kembali menghadap monitor. Tiga detik. Pelanggaran dicatat. Denda menyusul, seperti biasa, nanti malam.

“Ada yang bisa dibantu, Mbak?”

“Temuan dari Cikarang.” Dia melangkah mendekat, membuka tabletnya. “Tiga hal soal struktur data serah-terima. Ini nyangkut ke skema yang kamu revamp — timestamp serah-terimanya ternyata dicatat beda antara sistem kita dan sistem Sentosa, terus ada field yang—”

Dan dia menjelaskan, dan penjelasannya bagus — tentu saja bagus, temuannya tajam, dia selalu tajam — dan selama sembilan puluh detik aku mendengarkan sambil merasakan dua proses berjalan paralel di dalam: satu proses mencatat substansi (temuannya valid, dua di antaranya bahkan mengubah asumsi desainku), dan satu proses lagi — proses tua, proses yang tidak pernah lolos review — mencatat bahwa dia turun ke sini, ke lantai dingin ini, berdiri di mejaku, dan untuk pertama kalinya dalam tiga minggu aku mendengar suaranya menyebut lebih dari sembilan detik kalimat.

Proses kedua itulah alasannya. Persis proses itu. Karena aku tahu ke mana dia mengarah kalau dibiarkan: sembilan puluh detik jadi kebiasaan, kebiasaan jadi alasan, alasan jadi harapan, dan harapan — untuk orang dengan dataku — adalah bug yang sudah dua kali hampir membuat sistemnya tumbang.

Dan ada satu lagi. Yang ini bahkan bukan tentang aku.

Perempuan di foto itu — yang berdiri di sebelah VP dengan seratus dua puluh reaksi — sedang dibicarakan seisi kantor dengan berbagai versi cerita. Aku tahu karena Slack #random tidak punya rahasia dan Sasha tidak punya rem. Yang terakhir dibutuhkan perempuan itu sekarang adalah versi cerita tambahan: kok Mbak Cleo sering ke lantai enam ya. Nyari siapa ya. Berduaan ya di lantai kosong. Gedung ini tidak butuh kejadian untuk membuat cerita. Gedung ini cuma butuh bahan.

Aku bisa jadi banyak hal untuknya. Bahan gosip bukan salah satunya.

Maka ketika penjelasannya selesai dan dia menutup dengan, “—jadi mungkin kita perlu sesi rutin ya, seminggu sekali gitu, biar temuan product langsung nyambung ke desain datamu. Gimana?” — dengan nada yang naik sedikit di akhir, dengan tablet didekap seperti perisai, dengan sesuatu di wajahnya yang parser-ku, sialnya, untuk sekali ini hampir berhasil membaca—

—aku mengucapkan kalimat yang sudah kusiapkan sejak bunyi ting tadi:

“Temuannya kupakai, Mbak. Dua yang pertama malah ngubah desainku, makasih.” Jeda. Napas. Eksekusi. “Ke depannya bisa lewat tiket aja, Mbak. Biar tercatat, dan biar Mbak nggak perlu turun-turun ke sini. Dingin soalnya.”

Sunyi. Server mendengung di nada B.

Aku menghadap monitor sepanjang kalimat itu, jadi aku tidak melihat wajahnya. Itu memang desainnya: kalimat itu dirancang untuk diucapkan tanpa melihat, karena melihat adalah dependensi yang membuat seluruh fungsi gagal jalan.

Dua detik. Kuhitung. Selalu kuhitung.

“...Oke.” Suaranya rata. Rata yang dikerjakan. “Makasih, Mas. Tiketnya kubikin hari ini.”

Langkah itu menjauh — tempo yang sama, jeda kecil di keramik dekat pilar — lalu bunyi ting, lalu pintu lift menutup, dan lantai enam mengembalikan sunyinya padaku dalam kondisi rusak. Sunyi yang sama, dengungan yang sama, dan sekarang semuanya terdengar seperti ruangan setelah seseorang membanting pintu, padahal tidak ada pintu yang dibanting, padahal semua orang sopan, padahal aku baru saja melakukan hal yang benar.

Kalimat itu benar. Tercatat itu baik. Melindunginya dari gosip itu baik. Semua premisnya lolos uji.

Lalu kenapa rasanya seperti baru saja menulis DROP TABLE di production.

Aku bekerja sampai malam dengan fokus yang bolong-bolong, dan jam sembilan lewat, notifikasi sistem tiket berbunyi.

Tiket #4127Sinkronisasi timestamp serah-terima & penyesuaian field (temuan Cikarang)
Pembuat: Ivy Cleopatra
Prioritas: Medium
Deskripsi: tiga temuan, ditulis lengkap, terstruktur, profesional sempurna. Tidak ada satu kata pun yang bukan kerja.

Dibuat: 21.43.

Aku menatap stempel waktu itu lama sekali. Jam 21.43 artinya dia mengerjakan tiket ini malam hari, dari rumah, jauh setelah jam kerja — duduk entah di mana, menyusun tiga temuan ke dalam format yang kuminta, mematuhi pintu yang kututup dengan kesopanan yang sama seperti aku menutupnya.

Biar tercatat, kataku tadi siang.

Tercatat, jawab tiket #4127, jam 21.43.

Aku melarang diriku menghitung arti angka itu. Larangan dicatat sistem, distempel, diarsipkan — lalu dilanggar sepanjang perjalanan pulang.

Di kosan, jam sebelas, aku membuka laptop lagi. Bukan untuk kerja. Sungguh bukan — lalu jariku membuka tiket #4127, membaca ulang tiga temuannya, dan tanganku mulai mengetik balasan karena temuan bagus pantas dijawab dengan serius, dan karena bahasa tiket adalah satu-satunya bahasa yang masih legal di antara kami.

Kutulis analisis untuk ketiga temuannya. Lengkap. Temuan satu: valid, akan kuubah skemanya, ini rancangannya. Temuan dua: valid dan lebih dalam dari dugaannya — ternyata menyeret masalah zona waktu di tiga sistem, kulampirkan diagramnya. Temuan tiga: perlu data tambahan, ini query yang bisa dijalankan tim product untuk mengambilnya. Kubaca ulang. Profesional sempurna. Tidak ada satu kata pun yang bukan kerja.

Lalu, di baris paling bawah, sebelum tombol kirim, jariku mengetik satu kalimat tambahan — kalimat ekstra, spesies yang sudah kupunahkan tiga minggu — dan menatapnya lama:

Temuan yang kedua itu jeli banget. Dua tim ops Sentosa aja nggak sadar datanya geser.

Hapus? Sistem menimbang. Kalimat itu murni apresiasi kerja. Auditor mana pun akan meloloskannya. Tapi aku tahu persis kalimat itu bukan apresiasi kerja; kalimat itu penyelundup dengan dokumen palsu yang rapi.

Kubiarkan. Satu. Satu penyelundup per tiket. Sistem yang terlalu ketat akhirnya jebol sekaligus; sistem yang baik menyisakan katup.

Kirim. 23.51.

Dua lantai dan satu sistem tiket di antara kami sekarang. Format resmi, prioritas medium, stempel waktu tengah malam dari dua arah. Kalau ada arkeolog masa depan menggali server Antarra, mereka akan menemukan korespondensi kami dan menyimpulkan dua pegawai yang sangat berdedikasi.

Dedikasi. Ya. Mari pakai kata itu di laporan.