← Nol Persen

Chapter Six

Tidak Terjadi Apa-Apa

POV: Jaka

Ada protokol yang tidak tertulis di mana pun tapi kupegang seperti kontrak: apa yang kamu lihat di tangga darurat, tinggal di tangga darurat.

Kemarin malam aku turun mau isi botol di lantai enam karena galon lantai tujuh habis — dan menemukan pemandangan yang tidak dirancang untuk ditemukan siapa pun. Ivy Cleopatra, Product Owner yang tadi paginya kudengar menaklukkan ruang direksi, sedang jongkok di anak tangga dengan mi cup dan wajah yang sudah selesai berperang.

Sistem di kepalaku waktu itu memproses cepat dan hasilnya satu baris: orang ini memilih satu-satunya tempat di gedung ini yang tidak ada penontonnya. Jangan jadi penonton.

Jadi aku lewat. Wajah netral itu bukan bakat; itu kerja keras. Lalu di lantai enam, sambil botolku terisi, sistemku memuat satu data lain: dia belum minum apa-apa sejak entah kapan, orang menangis kehilangan cairan, dan pantry punya teh. Sisanya cuma eksekusi: seduh, taruh dua anak tangga di atasnya biar dia tidak perlu bicara, pulang lewat lift seperti manusia normal.

Selesai. Ditutup. Cache dikosongkan.

Masalahnya, Jumat pagi ini, cache tersebut menolak dikosongkan — karena orangnya berjalan ke arah mejaku jam 09.20 dengan ekspresi yang belum pernah kulihat dia pakai: ragu.

Ivy Cleopatra tidak pernah ragu. Ragu tidak masuk spesifikasinya.

“Mas Jaka.”

“Mbak.” Aku sudah tahu ke mana ini menuju, dan aku sudah menyiapkan pertahanannya sejak jam tujuh pagi. “Pas banget. Angka SLA yang dikomit kemarin — 97,5 kuartal ini — udah aku breakdown jadi target per komponen.” Kuputar layarku ke arahnya sebelum dia sempat menyusun kalimat. “Tiga area serah-terima yang Mbak sebut ke Sentosa, ini datanya per titik. Yang merah ini yang bikin kita bocor 0,4 persen sendirian. Kalau mau, minggu depan aku kasih proposal perbaikannya sekalian.”

Dia berdiri di situ memegang tabletnya, mulutnya sempat terbuka untuk kalimat yang sudah dia bawa dari rumah — aku bisa melihatnya, kalimat itu, mengantre di belakang matanya — lalu pelan-pelan kalimat itu mundur, digantikan mode kerja.

“...Kamu breakdown ini kapan?”

“Tadi pagi. Kereta lagi kosong.”

“Kamu ngerjain ini di KRL.”

“Sinyalnya bagus, Mbak.”

Dia menatapku dengan cara yang tidak bisa ku-parse — sudah kubilang, parser-ku selalu gagal di wajah ini — lalu menarik napas kecil dan menyerah pada agenda: kami membahas angka dua puluh menit. Profesional. Bersih. Di akhir, dia berdiri, dan sebelum pergi, mencoba sekali lagi lewat pintu samping:

“Mas. Semalam—”

“Deploy-nya aman kok, Mbak,” kataku pada layarku. “Semalam nggak terjadi apa-apa.”

Jeda dua detik. Kuhitung, seperti biasa.

“...Iya,” katanya akhirnya. Ada sesuatu di suaranya yang tidak cocok dengan kata iya, tapi dia sudah berjalan pergi sebelum aku sempat menganalisisnya, dan menganalisisnya bukan hakku.

Gofar, dari mejanya, menonton kepergian itu lalu menoleh padaku. “Kalian berantem?”

“Bahas SLA.”

“Suasananya kayak bukan SLA.”

“Semua suasana di kantor ini SLA, Far. Cuma beda service level-nya.”

Begini logikaku, biar tercatat: perempuan itu membangun benteng bertahun-tahun supaya tidak ada yang melihatnya jatuh. Kemarin bentengnya bocor satu malam, dan kebetulan yang lewat adalah aku. Kalau aku mengizinkan dia berterima kasih, malam itu resmi jadi peristiwa — sesuatu yang terjadi, diakui dua pihak, tersimpan permanen. Tapi kalau aku menolaknya dengan benar, malam itu tetap berstatus draft. Bisa dia hapus kapan saja. Itu hadiah yang lebih berguna daripada didengar.

Nol persen tidak butuh ucapan terima kasih. Nol persen cuma butuh dia bisa makan mi dengan tenang di gedung ini.

Jam 11.00, lantai tujuh kedatangan bencana alam kecil dari lantai enam: Raditya Pane.

Radit itu Product Designer, sahabat Mbak Cleo sejak kuliah — informasi yang diketahui seisi kantor karena Radit memastikannya diketahui seisi kantor. Kalau Pak Bram itu parfum yang datang duluan, Radit itu speaker yang datang duluan.

“MBAK CLEO!” Suaranya membelah area backend. “Blazer baru?! JUARA. Kayak COO perusahaan Fortune 500 yang mau nolak akuisisi. Sumpah, kalau tadi ada investor papasan sama lo di lobi, valuasi kita naik sendiri.”

Dan Mbak Cleo tertawa.

Empat puluh detik. Itu waktu yang Radit butuhkan dari keluar lift sampai tawa pertama. Aku tahu karena aku mengukurnya, dan aku mengukurnya karena — oke, tidak ada pembelaan yang bagus untuk ini. Sebut saja observasi. Observasi yang membuat dadaku melakukan hal-hal yang tidak ada di dokumentasi.

Mereka mengobrol di dekat meja Tami, tentang teman kuliah yang mau nikah, tentang kucing Radit yang bernama Figma, dan tawanya Mbak Cleo yang versi ini — versi teman lama — berbeda frekuensinya dengan versi rapat. Lebih rendah. Lebih asli. Aku kembali ke layar dan mengetik kode yang baru kusadari lima menit kemudian tidak melakukan apa-apa.

Jam 14.06, keadilan semesta bekerja dengan cara yang misterius.

Notifikasi Slack #random berbunyi serempak di seluruh lantai, dan di layar semua orang muncul pesan dari Raditya Pane:

OPERASI JUMAT BERKAH — CHECKLIST (JANGAN SAMPE KEBACA ORANG)

  1. Puji outfit. NATURAL. Jangan kayak minggu lalu (evaluasi: terlalu ngegas)
  2. Bawa martabak keju — C sukanya yang kejunya sampe pinggir
  3. JANGAN bahas kerjaan lebih dari 5 menit
  4. Tanya kabar tante (namanya Tante Rina, JANGAN sampe salah lagi)
  5. Timing: sebelum makan siang, mood orang paling bagus

Lantai tujuh mengalami tiga detik keheningan total — jenis hening sebelum server down — lalu meledak.

Gofar tertawa sampai tersedak kopinya sendiri. Sasha muncul dari arah HR dengan kecepatan yang melanggar kebijakan keselamatan kerja, ponsel sudah di tangan. Radit sendiri berdiri di tengah lantai seperti orang yang baru menyadari granatnya tidak dilempar keluar.

“ITU BUAT RISET UX,” teriaknya. “ITU PERSONA. ITU USER JOURNEY.”

“User-nya siapa?” tanya Tami, tanpa mengangkat kepala dari test case-nya.

“USER... UMUM.”

“Inisialnya C,” kata Gofar, menyeka air mata. “Journey-nya ke martabak.”

Aku menoleh — pelanggaran protokol, tapi seisi lantai juga menoleh jadi aku terkamuflase — dan melihat Mbak Cleo di mejanya, menutup mulut dengan punggung tangan, bahunya naik-turun. Berusaha keras tidak tertawa dan kalah telak.

Bahkan momen paling memalukan Radit berhasil membuatnya tertawa. Aku mencatat data ini ke tempat semua data sejenis kucatat, di lemari yang labelnya bukti pendukung: nol persen, dan kembali ke layar.

Jam 16.00, terjadi anomali di pantry.

“Woy.” Gofar kembali dari mengisi botol dengan wajah orang yang menemukan jejak alien. “Ada yang borong teh. Lemari pantry isinya teh semua. Tiga kotak. Yang ada gambar bunganya, yang mahal itu loh — sekotaknya bisa buat beli teh biasa lima.”

“Terus kenapa,” kataku.

“Ya aneh aja. Kotak sarannya nggak pernah ada yang minta teh. Orang sini kan sekte kopi semua.” Gofar menyipitkan mata ke arah lemari seperti menginterogasinya. “Sasha bilang bukan dari GA. Jadi ini teh ilegal.”

“Teh-nya salah apa.”

“Bukan salah, Jek. Misterius. Beda.” Dia duduk lagi, masih menoleh curiga ke pantry. “Kantor ini makin banyak hantunya.”

Aku tidak menanggapi, karena hantu bukan domain backend, dan karena teh bukan topik yang mau kupikirkan panjang-panjang. Ada teh yang lebih murah di lemari itu, teh celup biasa yang kupakai kemarin malam — masih ada dua kotak, posisi kotaknya sedikit bergeser dari terakhir kali kulihat. Yang berarti tidak ada apa-apa. Orang mengambil teh dari lemari teh. Itu fungsi lemari.

Aku kembali ke layar dan tidak memikirkannya. Dua kali. Tiga kali. Berhenti menghitung.

Sore, jam 17.30, Mbak Cleo mengirim pesan ke channel tim:

Reminder: Senin kita rilis multi-drop manual ke semua user. Have a good weekend semuanya, istirahat yang cukup 🙂

“Rilis Senin,” kata Gofar sambil membereskan tasnya. “Fitur udah stabil di staging dua minggu. Santai lah. Apa yang bisa salah?”

Aku berhenti mengetik.

“Far.”

“Apa?”

“Jangan pernah,” kataku, “ucapkan kalimat itu.”

Gofar tertawa dan pulang. Aku tinggal sebentar lagi, mematikan monitor terakhir, dan dalam perjalanan ke lift melewati pantry yang lemarinya kini penuh teh misterius bergambar bunga. Kantor ini makin banyak hantunya, kata Gofar tadi.

Dia tidak tahu betapa benarnya dia. Dan kalau hantunya lebih dari satu — itu juga bukan urusanku untuk dianalisis.