Chapter Twenty Three
Radit Tahu Duluan
POV: Cleo
Warung Soto Pak Kumis di belakang kampus adalah tempat kami menua.
Sebelas tahun lalu, Radit dan aku menemukannya di minggu kedua ospek — dua anak baru yang tersesat mencari fotokopian dan menemukan soto terenak di Jakarta Timur. Sejak itu, warung ini jadi kantor pusat persahabatan kami: tempat mengulang ujian dari buku pinjaman, tempat dia menangis waktu ayahnya sakit, tempat aku bersembunyi seminggu penuh waktu foto lomba modeling kampusku disebar dengan komentar-komentar yang membuatku hampir berhenti kuliah. Pak Kumis sendiri sudah hafal kami melebihi hafalannya pada resep sendiri; beliau tidak pernah bertanya apa-apa, cuma menambah kerupuk diam-diam di hari-hari yang wajah kami jelek. Meja pojok, dekat kipas angin yang bunyinya seperti orang mengeluh. Bangku kami.
Jumat sore, Radit mengirim satu pesan: “Soto. Jam 6. Yang lama.”
Tanpa huruf kapital berlebihan. Tanpa emoji. Radit yang mengirim pesan tanpa emoji adalah Radit yang perlu ditanggapi serius, jadi jam enam aku sudah duduk di bangku kami, dan jam enam lewat lima dia datang, memesan dua soto dan dua es teh tanpa bertanya, karena pesanan kami tidak pernah berubah sejak zaman harga sotonya masih delapan ribu.
Dia makan setengah mangkuk dalam diam. Radit. Diam. Kipas angin mengeluh di pojok, dan aku menunggu, karena sebelas tahun mengajariku bahwa Radit yang diam sedang menyusun sesuatu, dan menyusun bukan keahliannya, jadi butuh waktu. Aku menghitung mundur di kepala semua kemungkinan topik — kantor, keluarganya, kesehatan — dan menyingkirkan satu per satu berdasarkan caranya memegang sendok, sampai tersisa satu kemungkinan yang membuat sotoku kehilangan rasa jauh sebelum dia membuka mulut.
Akhirnya dia meletakkan sendok.
“Lo suka Mas Jaka.”
Bukan pertanyaan. Kalimatnya diletakkan di tengah meja seperti kunci yang selama ini dia simpan, dan sekarang dikembalikan pada pemiliknya.
Aku bisa mengelak. Setengah lusin kalimat pengalih tersedia di laci, teruji, siap pakai. Tapi ini Radit, di bangku kami, dengan soto yang sudah setengah dingin, dan dia sudah melepas semua kekonyolannya sebelum duduk — datang tanpa zirah. Membalasnya dengan zirah adalah penghinaan.
“Iya.”
Dia mengangguk. Sekali. Seperti orang mencocokkan jawaban dengan kunci yang sudah dia pegang lama.
“Sejak kapan?”
“Aku nggak tahu persis.” Dan itu jujur. “Kalau ditanya kapan sadarnya — beberapa minggu. Kalau ditanya kapan mulainya... mungkin jauh sebelum itu. Mulainya nggak kerasa. Kayak lampu yang redup pelan-pelan; taunya pas udah gelap.”
“Terang,” koreksinya pelan. “Kalau suka harusnya terang pelan-pelan.”
“Iya,” kataku. “Itu.”
Dia menatap gelas es tehnya. Mengaduk-aduk es yang sudah tidak perlu diaduk. Di wajahnya, yang sebelas tahun kuhafal dalam semua mode — mode konyol, mode panik deadline, mode menangisi ayahnya — sedang berjalan mode yang belum pernah kulihat: mode orang yang sedang merapikan sesuatu di dalam, hati-hati, supaya tidak ada yang pecah saat dipindahkan.
“Gue mau cerita bentar,” katanya. “Sekali doang. Abis ini nggak akan gue ungkit lagi, jadi dengerin yang bener.”
Aku meletakkan sendokku.
“Sebelas tahun gue jadi orang paling berisik di sebelah lo. Lo pikir itu bawaan lahir?” Dia tersenyum kecil, bukan senyum yang biasa. “Tahun kedua kuliah, gue udah tahu. Gue mau ngomong pas wisuda — udah gue susun, sumpah, ada draftnya di notes HP gue, kebawa-bawa sampai tiga kali ganti HP. Terus lo cerita soal foto lomba itu, soal komentar-komentarnya, soal gimana rasanya jadi barang yang diomongin. Lo bilang — lo inget nggak — lo bilang, ‘untung ada lo, Dit. Satu-satunya cowok yang nggak pernah bikin gue was-was.’”
Kipas angin mengeluh. Aku ingat. Tentu saja aku ingat.
“Nah.” Dia membuka kedua tangannya pelan, seperti menunjukkan isi yang kosong. “Itu dia. Jabatan gue. Satu-satunya yang nggak bikin lo was-was. Gue pikir: oke, gue jaga dulu jabatannya, nanti nyari waktu yang lebih bener. Terus ‘nanti’ itu gue perpanjang tiap tahun kayak STNK. Sebelas kali perpanjangan, Vy. Sebelas. Dan tiap gue hampir berani, gue liat cara lo capek diliatin orang, dan gue mikir: kalau gue nembak terus lo nolak, lo kehilangan satu-satunya tempat yang aman. Kalau lo nerima karena nggak enak — itu lebih parah lagi. Jadi gue bercanda aja terus. Bercanda itu... bisa dibatalin. Serius nggak bisa.”
Dia menarik napas, panjang, dan menghembuskannya ke arah gelas.
“Terus minggu lalu, di quarterly, lo berdiri. Gue nonton lo dari pojok. Dan pas lo selesai ngomong, mata lo nyari sesuatu — refleks banget, setengah detik doang — ke kursi deket pintu. Kursi kosong.” Dia menatapku. “Sebelas tahun gue merhatiin lo, Vy. Gue tahu semua jenis lirikan lo. Yang itu belum pernah gue dapet. Sekali pun. Dan anehnya—” suaranya turun, hampir hilang, “—yang bikin sakit bukan itu. Yang bikin sakit tuh pas gue sadar gue lega. Lega karena orangnya dia. Karena kalau harus kalah, gue nggak keberatan kalahnya sama orang yang betulin printer gudang tiga jam tanpa cerita ke siapa-siapa. Sakit dan lega itu ternyata bisa barengan. Nggak ada yang pernah ngasih tau gue.”
Mataku panas. Aku tidak menangis — menangis di momen ini akan memaksa dia menghibur, dan malam ini bukan giliranku dihibur. Tapi mataku panas dan aku membiarkannya terlihat, karena dia berhak melihat harganya.
“Dit—”
“Jangan minta maaf.” Cepat, tegas, tangan terangkat. “Lo nggak ngambil apa-apa dari gue. Nggak ada yang salah di sini. Gue telat, itu doang, dan telatnya gue itu keputusan gue sendiri, sebelas kali.” Dia mengambil sendoknya lagi, menatap sotonya yang dingin, dan meletakkannya lagi. “Gue cuma butuh... bentar. Seminggu, dua minggu. Abis itu gue balik jadi orang paling berisik di pihak lo. Bedanya sekarang berisiknya buat dorong-dorong. Dan Vy — gue kasih tau ya, sebagai orang pertama yang tahu: itu cowok nggak akan gerak sendiri. Nggak akan. Dia udah nutup semua pintunya dari dalem, rapi banget, pakai dokumentasi. Lo butuh gue.”
“Aku butuh kamu,” kataku, “dari dulu. Bukan buat itu doang.”
“Iya.” Dia mengangguk, dan untuk sedetik senyum lamanya kembali, yang asli, yang dari zaman soto delapan ribu. “Gue tahu.”
Kami menghabiskan soto dingin itu sampai tandas, karena di warung Pak Kumis tidak ada soto yang boleh bersisa, itu hukum kami. Lalu dia berdiri, mengambil nota, dan berjalan ke kasir sebelum aku sempat protes — melanggar konstitusi bagi-dua yang sudah berlaku sebelas tahun tanpa amandemen.
“Sekali ini gue yang bayar,” katanya dari kasir, tanpa menoleh. “Anggep... biaya perpanjangan terakhir.”
Dia pulang duluan, membonceng ojek, melambai konyol seperti biasa — dan aku duduk sendirian sebentar di bangku kami, di depan dua mangkuk kosong, mendengarkan kipas angin mengeluh.
Sebelas tahun, laki-laki itu menjaga satu-satunya pintu yang tidak membuatku was-was, dan menutup pintunya sendiri supaya pintuku tetap terbuka.
Aku pulang naik ojek juga, dan sepanjang jalan yang basah bekas hujan sore, aku memikirkan draf yang katanya terbawa tiga kali ganti HP. Sebelas tahun draf itu ikut ke mana-mana — di saku yang sama dengan foto-fotoku yang dia bela di grup angkatan, di HP yang sama yang mengetik “SOTO. JAM 6” ratusan kali, dan tidak sekali pun dikirim. Ada orang yang mencintai dengan mengirim. Ada yang mencintai dengan tidak pernah mengirim. Malam ini aku belajar bahwa yang kedua bukan cinta yang lebih kecil; cuma cinta yang memilih tagihannya ditanggung sendiri.
Di lampu merah, aku mengetik pesan, menghapusnya, mengetik lagi, dan akhirnya mengirim yang paling sederhana: “Nyampe rumah kabarin.”
Balasannya datang cepat, dan untuk pertama kalinya malam itu formatnya kembali normal — huruf kapital berlebihan, tiga emoji, satu lelucon tentang abang ojeknya yang membawa motor “kayak lagi dikejar deadline”. Aku tersenyum membacanya, dan membiarkan diriku percaya, sedikit saja dulu, bahwa kami akan baik-baik saja.
Dunia tidak adil dengan cara yang aneh: kadang dia memberimu dua laki-laki terbaik sekaligus, dan hanya mengizinkanmu pulang lewat satu.
- 1 Sprint Planning dan Dewi Lantai Tujuh
- 2 Nama Pak Slamet
- 3 Aturan Nomor Satu
- 4 Sticky Note Kuning
- 5 Tangga Darurat
- 6 Tidak Terjadi Apa-Apa
- 7 Satu-Satu
- 8 Undangan yang Tidak Bisa Ditolak
- 9 Kaca Restoran
- 10 Dua Menit di Toilet
- 11 Jarak yang Sopan
- 12 Menurut Data
- 13 Sabtu yang Dibungkus Rapi
- 14 Foto di #random
- 15 Yang Tertawa di Foto Itu
- 16 Bukan Urusan Saya
- 17 Wajah Itu
- 18 Penolakan
- 19 Operasi Pendekatan v1.0
- 20 Dua Gelas Kopi
- 21 Vy
- 22 Belajar SQL
- 23 Radit Tahu Duluan reading
- 24 Wingman Paling Berisik
- 25 Error Margin
- 26 Gerimis
- 27 Kabar Angin
- 28 Daftar
- 29 Lega
- 30 Sebagai Product Owner
- 31 Malam Sebelum Demo
- 32 Log Jam Tiga Pagi
- 33 Keputusan CEO
- 34 Yang Diselamatkan
- 35 Kamu Cantik, Vy
- 36 Kata Siapa Nol Persen?