Chapter Eight
Undangan yang Tidak Bisa Ditolak
POV: Cleo
Perangkap yang bagus tidak terlihat seperti perangkap. Perangkap yang bagus terlihat seperti makan-makan gratis.
Selasa, aku melakukan percobaan pertama. Di sela stand-up, dengan nada seringan mungkin: “Pak, dinner Jumat gimana kalau diganti makan siang aja? Biar yang rumahnya jauh nggak kemaleman.”
“Kerja bagus kok dirayainnya setengah-setengah.” Pak Bram tertawa ke arah seisi ruangan, merekrut penonton. “Malam lah! Santai, nggak keburu-buru. Betul nggak, guys?”
“BETUL,” jawab lantai tujuh serempak, karena makan malam gratis di restoran pilihan VP secara aritmetika lebih mahal daripada makan siang gratis. Aku tersenyum kadar sedang dan mundur. Melawan makanan gratis di kantor startup itu bunuh diri politik.
Rabu, lokasi diumumkan di channel: restoran Jepang di Senopati. Aku menatap nama itu dua detik lebih lama dari perlunya. Restoran yang sama yang dia sebut di ruang Cipularang tiga minggu lalu. Tenang tempatnya, cocok buat mikir strategis. Rupanya undangannya tidak pernah dibatalkan. Cuma dibungkus ulang, dan kali ini bungkusnya adalah kalian semua.
Tapi kubuka daftar konfirmasi: sembilan orang. Sembilan. Aku menghela napas dan menertawakan diriku sendiri. Sembilan orang itu rombongan. Rombongan itu aman. Mungkin firasatku kali ini cuma kelelahan yang menyamar.
Aku lupa satu hukum dasar: perangkap yang bagus memang selalu membiarkanmu menertawakan firasatmu dulu.
Jumat, pukul 14.00, domino pertama jatuh. Gofar muncul di sebelah mejaku dengan wajah kusut sungguhan. “Mbak, aku cabut dari dinner ya. Anakku demam dari subuh, istriku udah SOS.” Aku menyuruhnya pulang saat itu juga — ini domino yang asli, dan justru karena asli, tidak bisa diganggu gugat.
Pukul 15.10, domino kedua dan ketiga jatuh sekaligus, dan yang ini bunyinya lain. Tami dan anak frontend menerima tugas dadakan dari Pak Bram: regression test menyeluruh malam ini juga, “critical, direksi minta hasilnya Senin pagi.”
“Regression apa?” tanyaku pada Tami, betul-betul tidak paham. “Rilisnya udah stabil empat hari.”
Tami mengangkat bahu dengan wajah datarnya yang biasa, tapi matanya menatapku sepersekian detik lebih lama. “Nggak tau, Mbak. Kata Pak Bram, biar extra safe.” Jeda kecil. “Padahal biasanya beliau nggak tau regression itu apa.”
Anak QA itu dua puluh empat tahun dan melihat semuanya. Aku pura-pura sibuk dengan tabletku supaya tidak perlu menjawab tatapan itu.
Pukul 15.40, aku mengecek siapa yang on-call monitoring akhir pekan — dan menemukan jadwalnya sudah diubah hari Rabu: seluruh backend standby di kantor Jumat malam, “antisipasi post-release.” Diubah oleh siapa, tertulis jelas di log: B. Adikara.
Seluruh backend. Termasuk meja sembilan puluh sentimeter di sebelahku, yang sepanjang hari ini kosong karena pemiliknya keliling ke titik sortir bersama tim ops, mengejar 0,4 persen yang bocor itu.
Pukul 16.30, Radit — konfirmasi paling kupegang, sahabat yang kehadirannya membuat meja mana pun jadi ramai — mengirim pesan yang dalam situasi lain akan lucu:
“CLEO. GUE OTW TAPI BAN MOBIL GUE DISKENARIOKAN SEMESTA. Kena paku dua ban. DUA. Siapa yang nebar paku di Kemang?? Gue nunggu tambal tapi kayaknya nggak kekejar 😭 SUMPAH GUE UDAH NIAT DATENG”
Pukul 16.45, anak finance menyusul: pacarnya ulang tahun, dia lupa, dia baru diingatkan dengan cara yang membahayakan hubungannya. Sasha? Sasha sejak awal izin kondangan.
Aku duduk memandangi daftar itu selagi dia menyusut di depan mataku dari sembilan menjadi dua, dan merasakan sesuatu yang dingin merambat naik. Bukan karena tiap dominonya mencurigakan — anak Gofar sungguh demam, ban Radit sungguh bocor. Tapi domino yang jatuh sendiri dan domino yang dijatuhkan bercampur jadi satu barisan rapi, dan yang menyusun barisannya sejak Rabu bukan semesta.
Pukul 16.50, aku melakukan usaha terakhir seorang perempuan yang melihat perangkap dan masih mencoba profesional: mencari sekutu. Aku berjalan ke meja Tami.
“Tam. Regression-nya berapa lama sih? Kalau kelar jam delapan, nyusul ke Senopati aja, makanannya kubungkuskan yang belum habis—”
“Scope-nya semua modul, Mbak.” Tami menatapku, dan di wajah datar itu ada sesuatu yang mendekati minta maaf. “Ditambahin tadi jam tiga. Sama beliau langsung.”
Ditambahin jam tiga. Tepat setelah aku terlihat mengobrol dengan Tami soal regression yang janggal. Aku mengucapkan semangat dengan suara normal dan berjalan kembali ke mejaku dengan pikiran yang tidak normal sama sekali. Perangkap ini bukan cuma dipasang. Perangkap ini dipantau.
Dalam perjalanan, aku melewati area backend yang senja itu sudah menyalakan lampu-lampunya. Meja sembilan puluh sentimeter dari mejaku masih kosong — pemiliknya masih di jalan dari titik sortir, mengejar 0,4 persen yang bocor, dan sebentar malam akan kembali ke sini untuk on-call yang jadwalnya diubah hari Rabu oleh tangan yang sama yang memasang semua domino ini. Aku menatap meja rapi itu — monitor lurus, kabel terikat, satu botol minum — lebih lama dari yang bisa kupertanggungjawabkan, lalu duduk di mejaku sendiri dan menghadap jendela.
Jakarta jam lima sore berwarna oranye dan tidak peduli.
Pukul 17.00, ketika aku sedang menimbang cara membatalkan yang tidak meledak, Pak Bram menyelesaikan permainannya — di tengah lantai, dengan volume yang menjangkau semua kubikel:
“Yang lain pada tumbang ya? Yaudah nggak apa-apa, yang penting acaranya jalan! Cleo, kamu jangan ikut-ikutan batal lho ya. Kamu bintangnya minggu ini — Sentosa, crisis handling — masa yang dirayain nggak datang? Nanti aku dianggap VP yang nggak menghargai timnya sendiri, dong?” Dia tertawa, dan beberapa kepala di kubikel ikut tertawa sopan, dan tawa-tawa sopan itu mengunci pintunya.
Menolak sekarang, di depan semua orang, sesudah kalimat itu? Besok ceritanya bukan Pak Bram mengatur dinner berdua. Besok ceritanya Mbak Cleo mendadak batal setelah tahu cuma berdua — dan dalam cerita versi itu, yang terlihat menganggap ini kencan justru aku. Dia sudah memegang narasinya dari dua sisi. Aku bisa melihat seluruh arsitekturnya sekarang, terang benderang, dan terlambat.
“Tentu, Pak,” kata mulutku, kadar sedang, profesional. “Kan sudah janji.”
Di kepalaku, aturan-aturanku menyala merah semua. Ini masih acara tim, kataku pada mereka. Di atas kertas. Kertasnya saja yang tinggal selembar, dan namaku sendirian di situ dengan namanya.
Pukul 18.50, di dalam taksi menuju Senopati, aku mengerjakan hal-hal yang bisa kukerjakan: mengirim pesan ke Radit menanyakan bengkel, mengecek grup CS terakhir kali, menyusun jadwal keluar — jam sembilan, alasan sudah disiapkan, ada panggilan pagi dengan tim ops, itu bahkan bukan bohong. Perempuan sepertiku tidak bisa menolak semua perangkap. Yang bisa kami lakukan cuma masuk dengan peta jalan keluar yang sudah dihafal.
Aku juga melakukan inventarisasi zirah: duduk menghadap pintu kalau bisa. Ponsel di atas meja, layar ke atas, jam terlihat. Pesan makanan yang cepat selesai. Tidak ada alkohol — “besok pagi ada call, Pak” — dan air putih yang selalu penuh, karena gelas kosong itu undangan untuk diisi orang lain, dan malam ini aku tidak menerima apa pun yang dituangkan siapa pun. Delapan tahun bekerja mengajariku daftar ini. Tidak pernah tertulis. Diwariskan antar-perempuan seperti resep keluarga.
Ponselku bergetar. Pak Bram.
“Udah otw kan? Aku udah di resto. Oh iya, hard copy addendum Sentosa ketinggalan di meja aku — biar aku foto buat dikirim ke Bu Ratna malam ini juga, keliatan gercep kita. Udah aku minta anak yang on-call di kantor buat nganterin sekalian 👍”
Anak yang on-call.
Malam ini yang on-call seluruh backend, kata jadwal yang diubah hari Rabu. Dan dari seluruh backend, yang paling pasti disuruh mengantar dokumen VP adalah yang paling tidak bisa menolak, yang paling tidak banyak bertanya, yang selalu menjawab siap lalu mengerjakan—
Perutku mendingin tanpa bertanya izin dulu ke otakku.
Taksi berbelok masuk Senopati. Di balik kaca restoran yang hangat keemasan, kulihat meja panjang untuk sepuluh orang dengan dua gelas terisi, dan satu lengan melambai ke arahku.
Aku merapikan rahang, memasang senyum kadar sedang, dan masuk.
Di kepalaku, tinggal satu doa yang bahkan tidak berbentuk doa: siapa pun yang disuruh mengantar dokumen itu — semoga bukan dia. Semoga malam ini, dari semua malam, hantu lantai tujuh sedang sibuk di tempat lain.
- 1 Sprint Planning dan Dewi Lantai Tujuh
- 2 Nama Pak Slamet
- 3 Aturan Nomor Satu
- 4 Sticky Note Kuning
- 5 Tangga Darurat
- 6 Tidak Terjadi Apa-Apa
- 7 Satu-Satu
- 8 Undangan yang Tidak Bisa Ditolak reading
- 9 Kaca Restoran
- 10 Dua Menit di Toilet
- 11 Jarak yang Sopan
- 12 Menurut Data
- 13 Sabtu yang Dibungkus Rapi
- 14 Foto di #random
- 15 Yang Tertawa di Foto Itu
- 16 Bukan Urusan Saya
- 17 Wajah Itu
- 18 Penolakan
- 19 Operasi Pendekatan v1.0
- 20 Dua Gelas Kopi
- 21 Vy
- 22 Belajar SQL
- 23 Radit Tahu Duluan
- 24 Wingman Paling Berisik
- 25 Error Margin
- 26 Gerimis
- 27 Kabar Angin
- 28 Daftar
- 29 Lega
- 30 Sebagai Product Owner
- 31 Malam Sebelum Demo
- 32 Log Jam Tiga Pagi
- 33 Keputusan CEO
- 34 Yang Diselamatkan
- 35 Kamu Cantik, Vy
- 36 Kata Siapa Nol Persen?