Chapter Thirty Five
Kamu Cantik, Vy
POV: Jaka
Sabtu malam, Antarra merayakan dirinya sendiri di rooftop sebuah hotel di Sudirman — syukuran pendanaan, dibayar penuh perusahaan, dress code “bebas rapi” yang ditafsirkan setiap orang sesuai kepribadiannya: Gofar datang memakai batik lengan pendek kebanggaan yang menurut pengakuannya “batik closing-an”, Tami memakai hitam-hitam seperti hendak menghadiri dua acara sekaligus, Radit memakai jas di atas kaos band dengan kepercayaan diri yang tidak bisa dibeli, dan aku memakai kemeja paling baik dari tiga kemeja baikku, yang menurut Radit “kelihatan kayak kondangan pertama lo, Jek” dan menurutku berfungsi sesuai spesifikasi.
Vy datang jam tujuh lewat sepuluh.
Aku tahu persis jamnya karena rooftop itu — penuh musik dan obrolan dan gelas-gelas — melakukan hal yang selalu dilakukan setiap ruangan yang dia masuki: berubah tekanan udaranya. Kepala-kepala menoleh. Obrolan melambat setengah ketukan. Dia memakai gaun sederhana warna hijau botol, rambut digerai, dan berjalan masuk dengan senyum kadar sedang yang sudah kupelajari cara kerjanya: senyum itu zirah, dan malam ini zirahnya tipis, karena malam ini dia tahu di rooftop ini tidak ada lagi yang perlu ditangkis.
Dan pujian datang seperti hujan tropis. “Mbak Cleo cantik banget!” dari anak-anak marketing. “GILA. VALUASI KITA NAIK LAGI MALEM INI,” dari Radit, yang kini melontarkan pujian-pujiannya dengan kebebasan penuh seorang sahabat yang sudah selesai dengan dirinya. “Bu, minta tolong berdiri dekat banner terus ya malam ini, buat branding,” dari Sasha. Dia menerima semuanya dengan takaran yang pas, tertawa di tempat yang tepat, membalas di kadar yang benar — profesional bahkan dalam menerima cinta satu kantor.
Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku berdiri di dekat meja minum memegang jus jambu, dan mencatat.
Mencatat bahwa hijau botol itu membuat kulitnya seperti menyimpan sisa cahaya sore. Bahwa rambut yang digerai itu, tiap kali angin rooftop lewat, bergerak dengan cara yang membuat tanganku mengeratkan pegangan pada gelas jus yang tidak bersalah. Bahwa ketika dia tertawa pada lelucon Gofar — tawa lewat hidung dulu, tawa berantakan, tawa asli — ada dua anak magang di sebelahku yang berbisik “cantik banget ya Mbak Cleo kalau ketawa” dan aku harus menahan diri untuk tidak menoleh dan berkata kalian belum lihat apa-apa; kalian belum lihat dia jam tiga pagi menang perang; kalian belum lihat dia makan mi cup di tangga.
Dua tahun aku mencatat semua ini dengan denda. Malam ini pencatatannya legal, dan legalitas, ternyata, tidak membuat detaknya lebih pelan.
Dia menemukanku dua kali sepanjang acara — sekali untuk menyerahkan piring kecil berisi makanan “biar kamu nggak cuma minum jus dari tadi, aku liat loh”, sekali untuk berdiri di sebelahku selama sepuluh menit tanpa membicarakan apa-apa sementara pesta berjalan di sekeliling kami, dan sepuluh menit diam bersama di tengah keramaian itu, kalau mau jujur, adalah bagian terbaik dari seluruh acara sampai titik itu. Sampai titik itu.
Acara memuncak dan surut seperti semua acara kantor: pidato Pak Dhimas yang mengutip “perilaku jam dua pagi”, toast, foto-foto (aku berhasil menghindari tiga dari empat), dan sesi karaoke dadakan yang dibuka Radit dengan satu lagu di mikrofon — lagu cinta tahun dua ribuan, dinyanyikan dengan penghayatan penuh dan nada yang berkunjung ke semua tangga nada kecuali yang benar, direkam Tami dari awal sampai habis “buat arsip pemerasan”, dan ditutup Radit dengan membungkuk dalam-dalam ke arah kerumunan yang bertepuk karena lega lagunya selesai. Di sela-sela itu, kudengar Sasha berbisik-bisik strategis di pojok soal “Dana Abadi season dua, regulasi baru, Senin launching” — dan menangkap mataku menatapnya, dan membalas dengan wajah paling profesional yang pernah dipakai untuk merencanakan pasar taruhan ilegal.
“Jek.” Gofar mendarat di sebelahku dengan piring penuh, batik closing-annya sudah kancing atas terbuka. “Malem ini gue mau ngomong sesuatu yang dari dulu gue tahan.” Dia mengunyah dulu, khidmat. “Server lu udah sehat sekarang. Gue liat dari grafiknya. Semua grafiknya.” Dia menepuk bahuku sekali, mengangkat piringnya seperti mengangkat gelas toast, dan pergi sebelum aku memutuskan mengaku atau tidak — karena kepada DevOps, ternyata, tidak ada yang perlu diakui; mereka membaca semuanya dari monitoring.
Jam sepuluh, orang-orang mulai turun. Jam setengah sebelas, rooftop tinggal berisi petugas hotel yang membereskan gelas, kerlip Sudirman, dan dua orang yang sama-sama melambatkan pulangnya tanpa membicarakannya.
Kami berdiri di pagar kaca, di tempat musik tadi berdiri, yang sekarang hanya menyisakan angin.
“Malam ini kamu diem banget,” katanya. Bukan protes; observasi. “Dari jam tujuh.”
“Aku ngomong sama Gofar. Sama Pak Dhimas juga.”
“Sama aku nggak.”
“Sama kamu...” Aku menatap gelas jusku yang sudah kosong dari tadi dan masih kupegang seperti pelampung. “Lagi nyusun.”
“Nyusun apa?”
Dan di sinilah dia: momen yang sudah kubawa dua tahun, yang formatnya sudah ratusan kali kususun dan hapus di kepala — di KRL, di tangga, di lantai enam jam malam. Aku pernah menyusun versi panjangnya: tentang katalog, tentang siklus sembilan puluh detik rambutnya, tentang bagaimana setiap Senin pagi selama dua tahun aku melakukan kesalahan yang sama di detik dia keluar lift. Semua versi panjang itu gugur satu-satu, karena semua versi panjang adalah cara bersembunyi di balik kata-kata, dan malam ini aku sudah tidak punya tempat sembunyi dan tidak ingin punya.
Yang tersisa adalah versi yang paling pendek dan paling mahal. Tiga kata. Dua tahun.
Aku meletakkan gelas di meja terdekat. Menoleh padanya. Dan mengucapkannya sebagaimana aku mengucapkan semua hal yang kupercaya benar — datar, jelas, tanpa hiasan, seperti membacakan hasil pengukuran yang sudah diverifikasi ratusan kali:
“Kamu cantik, Vy.”
Tidak ada gombalan yang mengiringinya. Tidak ada perbandingan dengan bulan, tidak ada lanjutan yang menyelamatkan suasana. Cuma tiga kata itu, diletakkan di antara kami seperti sticky note kuning: pendek, jujur, dan ditandatangani seluruh hidupku.
Dan aku menyaksikan tiga kata datar itu bekerja.
Perempuan yang malam ini menerima seratus pujian dengan takaran sempurna — yang zirahnya teruji delapan tahun, yang senyum kadar sedangnya tidak pernah gagal — berdiri diam di depanku dengan bibir yang terbuka tanpa suara, dan mata yang pelan-pelan penuh, dan tangan yang naik setengah jalan ke mulutnya lalu berhenti, tidak tahu mau ke mana. Seratus pujian tadi mantul semua di zirahnya. Yang ini masuk. Aku bisa melihat detik masuknya.
“Dua tahun,” katanya akhirnya, dan suaranya pecah di tengah, “kamu nggak pernah— sekali pun— semua orang di gedung itu bilang aku cantik tiap hari dan kamu nggak pernah—”
“Karena semua orang udah bilang.” Aku mengangkat bahu, sedikit. “Data yang udah dikonfirmasi seratus sumber nggak butuh sumber ke seratus satu. Kupikir gitu. Dua tahun kupikir gitu.” Aku menatapnya, dan membiarkan dia melihat semua yang selama ini kusimpan di balik pantulan monitor. “Aku salah. Ada data yang harus tetap disampaikan walaupun semua orang udah tahu — karena yang penting bukan datanya. Yang penting siapa yang akhirnya berani lapor.”
Dia tertawa dan menangis dalam satu gerakan yang sama — tawa lewat hidung, air mata ikut, berantakan total, cantik dengan cara yang tidak akan pernah masuk katalog mana pun — lalu memukul lenganku pelan, sekali, dua kali, “kamu— nyebelin— dua tahun—”, dan aku menerima pukulan-pukulan kecil itu seperti menerima medali. Di bawah sana Sudirman berkerlip tidak peduli, angin rooftop lewat membawa sisa musik dari lantai bawah, dan aku berdiri di titik tertinggi malam itu dalam semua pengertian yang tersedia.
“Vy,” kataku — lancar, tanpa tersangkut, nama itu sekarang keluar seperti sudah selalu di sana. “Senin. Ada satu hal lagi yang mau kukasih. Yang ini nggak bisa malam ini.”
“Kenapa nggak bisa malam ini?”
“Karena tempatnya salah.” Aku memandang rooftop hotel yang mewah dan berkerlip dan bukan milik kami. “Yang ini harus di tempat yang bener.”
Dia menatapku dengan mata yang masih basah dan mulai menghitung — aku bisa melihat mesin analisisnya bekerja, menebak, menyusun daftar tempat — dan aku, untuk pertama kalinya dalam sejarah kami, menjadi pihak yang memegang informasi dan menikmatinya.
“Senin,” kataku lagi. “Sabar. Itu spesialisasiku.”
- 1 Sprint Planning dan Dewi Lantai Tujuh
- 2 Nama Pak Slamet
- 3 Aturan Nomor Satu
- 4 Sticky Note Kuning
- 5 Tangga Darurat
- 6 Tidak Terjadi Apa-Apa
- 7 Satu-Satu
- 8 Undangan yang Tidak Bisa Ditolak
- 9 Kaca Restoran
- 10 Dua Menit di Toilet
- 11 Jarak yang Sopan
- 12 Menurut Data
- 13 Sabtu yang Dibungkus Rapi
- 14 Foto di #random
- 15 Yang Tertawa di Foto Itu
- 16 Bukan Urusan Saya
- 17 Wajah Itu
- 18 Penolakan
- 19 Operasi Pendekatan v1.0
- 20 Dua Gelas Kopi
- 21 Vy
- 22 Belajar SQL
- 23 Radit Tahu Duluan
- 24 Wingman Paling Berisik
- 25 Error Margin
- 26 Gerimis
- 27 Kabar Angin
- 28 Daftar
- 29 Lega
- 30 Sebagai Product Owner
- 31 Malam Sebelum Demo
- 32 Log Jam Tiga Pagi
- 33 Keputusan CEO
- 34 Yang Diselamatkan
- 35 Kamu Cantik, Vy reading
- 36 Kata Siapa Nol Persen?