Chapter Thirty Six
Kata Siapa Nol Persen?
POV: Cleo
Senin pagi, Antarra bangun sebagai kantor yang baru.
Bukan baru gedungnya — gedungnya sama, AC Anyer–Panarukan masih menetes di kursi ketiga, mesin fotokopi lantai enam alias Pak Kopi masih menyala sendiri kalau merasa kesepian. Yang baru udaranya. Empat puluh dua nama yang dua minggu lalu menghitung tabungan kini menghitung backlog; Gofar memasang foto anaknya di meja dengan bingkai baru; Tami membuka kembali test case-nya dari folder pribadi ke folder tim, yang dalam bahasa Tami artinya aku memutuskan menetap. Slack #random pulih ke volume normalnya, senandung dangdut Pak Slamet kembali mengisi lorong pagi, dan posisi VP Product diisi sementara oleh Bu Winda sambil perusahaan mencari orang yang, kata Pak Dhimas di rapat, “jago presentasi dan jujur — susah, tapi katanya kombinasi itu ada.” Dan proyek data infra resmi selesai — pagi ini, satu dus kecil berisi laptop, monitor kedua, dan botol minum naik dari lantai enam, dan meja sembilan puluh sentimeter di sebelahku terisi lagi, dan pemiliknya mengangguk sopan seperti dulu, dan tidak ada satu pun yang sama seperti dulu.
Jam sepuluh, Slack #random mengeluarkan pengumuman yang ditunggu publik:
Sasha: “Dengan regulasi baru, transparan, dan diawasi HR (aku HR-nya, jadi aman), DANA ABADI DIBUKA KEMBALI. Pasar: [disensor demi profesionalisme]. Odds menyusul. Salam integritas. 📊”
Balasan mengalir — emoji, protes, tuntutan odds — selama tepat sebelas menit. Karena di menit kesebelas, Tami mengirim satu gambar tanpa satu kata pengantar, dan gambar itu menutup pasar untuk selamanya.
Screenshot spreadsheet. Dana Abadi versi awal, dari berbulan-bulan lalu — dengan satu kolom yang tidak pernah ditampilkan di layar mana pun: Kolom C. Isinya satu baris, satu nama, satu angka, dan satu stempel waktu yang lebih tua dari dinner Senopati, lebih tua dari foto weekend warriors, lebih tua dari hampir segalanya:
T. — all in — J. Wirawan — [tanggal yang membuat seisi kantor menghitung mundur dengan jari]
Lantai tujuh meledak. Gofar berdiri dari kursinya sambil memegangi kepala: “KOLOM C?! DARI KAPAN ADA KOLOM C?!” Sasha menuntut audit. Radit tertawa paling keras sekantor sambil memukul-mukul meja, lalu berdiri, menyalami Tami dengan dua tangan seperti menyalami juara dunia. Dan Tami, di tengah kekacauan yang dia ciptakan, hanya mengetik satu kalimat penutup, datar seperti semua kalimatnya:
“Udah kubilang dari dulu. Oddsnya salah semua.”
Aku menutup mulut dengan punggung tangan dan tertawa sampai mataku basah, dan di meja sebelah, sembilan puluh sentimeter dari sikuku, seorang engineer menatap layarnya dengan kedua telinga menyala dan wajah yang berusaha keras profesional, dan gagal, dan aku mencintai kegagalannya.
Jam dua belas kurang, dalam perjalanan ke pantry, aku bertemu Pak Slamet yang sedang mengganti galon — dan beliau menegakkan badan, memandangku, lalu memandang ke arah area backend, lalu tersenyum dengan cara orang yang sudah menonton film ini sejak adegan pertama.
“Mbak Cleo,” katanya. “Saya boleh cerita satu hal? Udah lama saya simpan.”
“Boleh, Pak.”
“Dua tahun lalu, ada engineer baru. Minggu keduanya kerja, sore-sore, dia nyamperin saya di lobi. Nanya nama saya.” Beliau tertawa kecil, mengelap tangan di lap pinggangnya. “Saya kaget. Dua puluh tahun lebih saya kerja gedung-gedungan, yang nanya nama saya bisa dihitung jari. Terus dia bilang — saya inget persis — ‘tadi ada yang manggil Bapak pakai nama. Saya malu belum tahu.’” Pak Slamet menatapku. “Yang manggil saya sore itu Mbak. Jadi sebenernya, dari dua tahun lalu, saya udah tahu duluan dari semua orang. Kolom C-nya Neng Tami itu telat. Kolom saya lebih dulu — cuma nggak pernah saya tulis. Saya simpan di sini aja.” Beliau mengetuk pelipisnya, mengangkat galon kosong, dan berlalu sambil bersenandung dangdut lawas yang akhirnya kembali — lalu berhenti sebentar di ujung pantry, menoleh: “Titip ya, Mbak. Yang rajin nanya nama orang itu barangnya langka.”
Aku berdiri di pantry lama sekali, memegang gelas kosong, dengan dada yang penuh oleh dua tahun yang ternyata disaksikan lebih banyak mata baik daripada yang pernah kami berdua tahu.
Jam tujuh malam, lantai tujuh sudah kosong, dan pesan itu masuk:
“Tangga darurat. Antara lantai 7 dan 6. Bawa selera makan.”
Dia sudah di sana ketika aku membuka pintu — duduk di anak tangga ketiga, tempat yang sama persis, dengan dua mi cup rasa ayam bawang yang masih mengepul, dua garpu plastik, dan dua teh hangat dalam gelas kertas pantry, disusun rapi di anak tangga seperti meja restoran paling mahal di dunia.
“Tempat yang bener,” kataku, dan tenggorokanku sudah hangat sebelum tehnya kusentuh.
“Tempat yang bener,” katanya. “Semua yang penting dimulai dari sini. Kupikir yang ini juga harus.”
Kami makan mi cup di tangga darurat — aku di anak tangga ketiga, dia di anak tangga yang sama, bahu ke bahu, dan kali ini tidak ada yang jongkok sendirian dan tidak ada yang pergi supaya tidak perlu diterimakasihi. Dia bercerita bahwa dia sempat menimbang membeli mi rasa lain “biar ada variasi”, lalu membatalkannya karena “data historis kita rasa ayam bawang, dan momen bersejarah jangan pakai variabel baru” — dan aku tertawa dengan mulut penuh mi, tidak anggun sama sekali, di depan satu-satunya orang di dunia yang justru karena itu matanya makin hangat. Di suapan terakhir, dia meletakkan garpunya, mengelap tangan dengan tisu yang tentu saja sudah dia siapkan, dan mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya.
Sticky note. Kuning. Dilipat sekali. Ujungnya sedikit lecek, seperti sudah berhari-hari keluar-masuk saku, menunggu pemiliknya cukup berani — atau menunggu tempatnya benar.
“Yang mau kukasih,” katanya, dan menyerahkannya dengan dua tangan, seperti menyerahkan dokumen resmi.
Aku membukanya dengan jari yang tidak stabil. Tulisan tangan yang rapinya seperti font, format yang kukenal dari pagi paling menentukan dalam karierku:
Slide terakhir: aku suka kamu. Sumber: data produksi, dua tahun, diverifikasi tiap hari. Bukan kebalik ketik. — J
Aku membacanya dua kali. Tiga kali. Lalu menatapnya — laki-laki yang menyatakan cinta lewat medium yang sama dengan yang dulu dia pakai menyelamatkan angka retensiku, karena bagi dia keduanya memang pekerjaan yang sama: memastikan aku tidak jatuh di depan siapa pun — dan sesuatu di dadaku yang sudah dua tahun menunggu akhirnya berdiri. Sticky note itu akan pindah ke tempat sticky note pertamanya menetap: saku dalam tasku, arsip paling kecil dan paling penting yang pernah dimiliki seorang kurator museum dirinya sendiri.
“Jawabanku juga udah dua tahun,” kataku. “Kamu mau formatnya apa? Tiket? Prioritas highest?”
“Formatnya,” katanya, dan suaranya turun jadi pelan, dan matanya turun sebentar ke bibirku lalu naik lagi meminta izin dengan cara paling dia, “...terserah kamu.”
Aku memilih format tanpa kata.
Ciuman itu singkat — hangat, sedikit rasa ayam bawang, sama sekali tidak sempurna dan karena itu sempurna — di tangga darurat yang dingin, di bawah lampu putih pucat, di tempat paling jujur satu gedung. Ketika kami berpisah, dahinya menempel di dahiku, dan dia tertawa — tawa kecil yang belum pernah kudengar, tawa orang yang seluruh perhitungannya baru saja dibatalkan oleh kenyataan dan tidak keberatan sama sekali.
“Aku pernah ngitung,” katanya, dahi masih menempel, suara hampir bisik. “Dua tahun, tiap malem, berkali-kali. Semua metode. Hasilnya konsisten terus. Aku sampai nulis error margin-nya pake pensil biar bisa dihapus. Padahal dari awal, dari malam KRL itu, harusnya aku—”
Aku menarik wajahku sedikit, cukup untuk menatap matanya — mata engineer paling teliti segedung, yang dua tahun salah baca satu-satunya data yang paling penting — dan menghentikan seluruh audit terakhir itu dengan pertanyaan yang sudah kusiapkan sejak jam tiga pagi di Pantura — sejak dia menyebut angka itu pertama kali, sejak aku memutuskan bahwa suatu hari nanti, di tempat yang benar, di tangga paling jujur satu gedung, angka itu akan kuhapus dengan tanganku sendiri:
“Kata siapa nol persen?”
- 1 Sprint Planning dan Dewi Lantai Tujuh
- 2 Nama Pak Slamet
- 3 Aturan Nomor Satu
- 4 Sticky Note Kuning
- 5 Tangga Darurat
- 6 Tidak Terjadi Apa-Apa
- 7 Satu-Satu
- 8 Undangan yang Tidak Bisa Ditolak
- 9 Kaca Restoran
- 10 Dua Menit di Toilet
- 11 Jarak yang Sopan
- 12 Menurut Data
- 13 Sabtu yang Dibungkus Rapi
- 14 Foto di #random
- 15 Yang Tertawa di Foto Itu
- 16 Bukan Urusan Saya
- 17 Wajah Itu
- 18 Penolakan
- 19 Operasi Pendekatan v1.0
- 20 Dua Gelas Kopi
- 21 Vy
- 22 Belajar SQL
- 23 Radit Tahu Duluan
- 24 Wingman Paling Berisik
- 25 Error Margin
- 26 Gerimis
- 27 Kabar Angin
- 28 Daftar
- 29 Lega
- 30 Sebagai Product Owner
- 31 Malam Sebelum Demo
- 32 Log Jam Tiga Pagi
- 33 Keputusan CEO
- 34 Yang Diselamatkan
- 35 Kamu Cantik, Vy
- 36 Kata Siapa Nol Persen? reading